
"Hiks... hiks" Alya menangis sepanjang jalan tidak peduli dr. Gery mengikutinya atau tidak.
Sesampainya di apartemen. Alya langsung menuju kamar mandi. Membersihkan dirinya dan meredam emosinya. Lalu merebahkan diri di sofa depan televisi.
"Apa yang akan aku lakukan tanpa handphone? Bahkan aku belum hafal nomer Bu Rita? Bagaimana ini? Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan ibu di Jogja? Dasar dokter sialan, dokter gilaa dokter cabul"
"Hrrhhhggg" Alya menendang - nendang kakinya ke udara di atas sofa seperti anak kecil. Lalu Alya menangis lagi.
"Aku benar-benar hidup sendirian sekarang, semua karena dokter gila itu. Rasanya aku ingin pulang saja ke Jogja huu..huu." Alya menangis lebih keras lagi Malam itu Alya menangis sendirian semalaman sampai tertidur.
*****
Club Malam
"Gua ada operasi mendadak, 1 jam lagi gua meluncur" tutur Dokter Gery ke temanya di telepon.
"Oke. Kita udah di tempat biasa" jawab Ardi sudah duduk berdua dengan Farid.
Setelah pulang dari kantor Ardi langsung ke rumah, karena dia belum punya pacar dia hanya menghabiskan waktunya di kamar. Karena bosan akhirnya dia memilih janjian bertemu dengan 3 sahabat jomblo tuanya.
"Nyokap gue nyuruh gue yang survey ke danau besok" ucap Ardi duduk memegang rokok di tanganya.
"Iya, desain tempat udah jadi kok. Secepatnya dibangun" jawab Farid menyeruput kopi.
"Makasih Bro" Ardi menepuk bahu Farid.
"Ini semua berkat lo juga kan? Gue tau ini impian Lo"
"Gue nggak pernah ngapa-ngapain kok" jawab Ardi menunduk.
"Gue bangga sama keputusan Lo" ucap Farid yang tahu Ardi sudah kembali ke kantor.
"Gue nggak ada pilihan lain, gue anak tunggal, kalau boleh milih gue sih pengen ambil profesi lain" jawab Ardi pasrah terhadap nasibnya sebagai pewaris tunggal Gunawijaya Grup.
"Gue yakin, lo bisa jalanin hidup lo dengan bahagia Bro" tutut Farid menyemangati Ardi.
"Oh iya, gimana dengan cewek yang lo ceritain?" tanya Ardi mengalihkan pembicaraan.
"Entahlah, dia seperti sesuatu yang tidak mudah gua jangkau. Dua hari ini gua nggak ketemu dia, gua nggak ke panti soalnya"
"Sebenernya gue juga penasaran, sesayang itu nyokap gue ke dia, siapa dia?" tutur Ardi lebih antusias dari kemarin.
"Emang lo beneran belum ketemu dia? Bukanya dia tinggal di rumah lo?" tanya Farid.
"Nggak lah, lo kaya nggak kenal keluarga gue? Mana ada bokap gue ijinin orang luar tinggal di rumah" jawab Ardi menyanggah. Ardi belum tahu kalau sebenarnya Mamahnya sangat ingin Alya tinggal di rumah.
"Tapi kemarin Tante Rita ajakin dia tidur di kamarnya, siapa dia sebenernya, kenapa baru sekarang?" tanya Farid penasaran.
"Ya kenapa lo nggak tanya langsung"
"Nyokap lo cuma bilang kalau dia anaknya, gue juga pengen dia cerita sendiri ke gue"
"Kalau lo pengen dia cerita ke lo, ya udah lo tanyanya ke dialah, kenapa lo nyuruh-nyuruh gue buat tolongin lo"
"Tuan Ardi Gunawijaya Putra, gue minta tolong lo buat dapetin nomer handphone Alya".
"Astaga" Ardi menepuk jidat,
"Gue nggak salah denger kaan? Come on broo, lo udah kepala 3 kapan lo mau nikah? Kalau sama calon istri lo aja, lo nggak berani minta no hp" Ardi mengejek Farid.
"Lo nggak pernah ngrasain jatuh cinta siih, jantung gue serasa mau berhenti tiap bareng sama dia. Gue cuma pengen liatin dia terus sampai gue lupa mau ngapain"
"Yah elah, kalau elo cuma ngeliatin doang nggak bergerak ya udah selamanya lo juga bakal cuma liatin dia, masa harus gue ajarin sih"
__ADS_1
"Dia beda, dia nggak kaya perempuan lain. Bahkan kesempatan gue bisa berdua aja susah banget"
"Datanglah ke rumahnya"
"Nahhh itu dia, setau gue dia cuma nempel sama Tante Rita, gue nggak tahu rumahnya".
"Gue jadi penasaran, perempuan kaya apa yang bisa buat lo mati kutu gini" jawab Ardi jadi penasaran terhadap Alya
"Tanyain Tante Rita dong!" pinta Farid berharap Ardi bisa bantu pede kate.
"Oke gue tanyain, gue temuin, kalau jatuh cintanya ke gue gimana?" ledek Ardi memanas-manasi Farid agar usaha sendiri.
"Tega lo sama gue?" jawab Farid mau menoyor Ardi.
"Santai Bro, perempuan nggak cuma satu, nggak gue rebut kok" jawab Ardi sombong.
"Sory nunggu" sapa Gery yang baru datang.
Ardi dan Farid pun menyalami Gery dengan salaman persahabatan mereka. Gery langsung duduk dan menyalakan rokoknya.
"Muka lo kusut banget Dok?" tanya Farid berusaha mengurai benang kusut di wajah Gery.
Ardi menoleh ke sahabatnya yang tampak murung. Gery yang ditatap kedua sahabatnya melanjutkan menghisap rokok tanpa menjawab. Lalu Gery memanggil pelayan. Gery memesan 1 botol alkohol. Gery menuangkan alkoholnya ke dalam gelas lalu meminumnya.
"Glek" lalu Gery mengambil lagi dengan rakus "Glek glek glek".
Farid dan Ardi yang menyadari kalau sudah lama mereka bertiga menghindari Alkohol paham, bahwa sahabatnya sedang dalam keadaan tidak baik.
"Bro.... " panggil Ardi memegang tangan Gery menghentikan Gery meneguk alkohol lagi.
Gery yang merasa hendak dicegah, langsung membanting gelas itu. Lalu Gery minum alkohol dengan botolnya langsung. Ardi pun tidak berhenti menghalangi.
"Lo kenapa?" tanya Ardi meraih alkohol Gery.
"Hah masalah perempuan lagi?" tanya Ardi menggaruk-garuk kepala.
"Baru kali ini gue ngrasa sakit di sini" Gery memukul-mukul dadanya. "Dia mengacuhkanku, dia membenciku, aku membuatnya menangis" Gery meracau mengingat kejadian beberapa jam lalu.
Farid dan Ardi yang belum pernah patah hati terbengong melihat sahabatnya itu meracau tidak jelas. Bahkan setau mereka berdua, sewaktu SMA dan kuliah Gery lah yang selalu mempermainkan perempuan dan membuatnya menangis.
"Apa yang terjadi Bro?" tanya Farid.
"Perempuan berkerudung itu selalu datang ke mimpiku, tapi ketika gue temui dia tidak mau menatapku. Eughhh" Gery menjelaskan sambil bersendawa karena banyak meminum alkohol.
"Ambilah cuti Ger, kamu terlalu sibuk bekerja" ucap Ardi menepuk bahu sahabatnya yang mulai tertidur.
Baru kemarin dengan lantang Gery menyatakan dirinya ingin menikahi seorang perempuan, sekarang datang dengan wajah kacau karena perempuan yang sama. Mungkin ini karma bagi Gery, dulu mengacuhkan perempuan, sekarang diacuhkan.
"Sepertinya dia mabuk" ucap Farid.
"Bodoh, dia memang mabuk!" jawab Ardi.
Lalu mereka berdua membiarkan Gery tertidur di meja. Ardi dan Farid menghabiskan kopinya. Setelah melihat jam tangan mahalnya menunjuk di angka 2. Ardi pun bangkit.
"Gery biar ikut gue ke rumah" ucap Ardi.
"Nggak ke apartemen gue aja?" tawar Farid berfikir di apartemen lebih bebas.
"Lo sibukan?" tanya Ardi ke Farid
Ardi tau kegiatan sahabatnya sibuk ngajar di kampus. Sementara dia pewaris perusahaan bebas berangkat jam berapapun. Jadi Ardi merasa lebih baik dia yang membawa Gery.
"Iya sih. Ya udah sini gue bantu"
__ADS_1
Merekapun memapah Gery yang mabuk ke mobil Ardi. Ardi melajukan mobil menuju ke rumah.
******
Kediaman Tuan Aryo.
"Ardi! Who is he?" tanya Mama Rita kaget melihat anaknya memapah seorang pria. Mendengar mobil anaknya pulang. Mama Rita langsung bangun dan turun ke lantai 1.
"Gery Mah" jawab Ardi memberitahu sahabatnya mabuk.
"Ya Tuhan, bahkan dia seorang dokter masih saja mabuk" ucap Mama Rita kesal tidak ingin anaknya dekat-dekat alkohol.
"Mah" ucap Ardi mengisyaratkan mamahnya untuk tidak mengomel.
"Ke kamar tamu aja!" pinta Mama Rita.
"Dia teman Ardi Mah" Ardi menolak membawa Gery ke ruang tamu. Lalu Ardi membawa Gery naik lewat lift ke kamarnya. Mama Rita hanya berdecak khawatir melihat anak dan temanya.
****
"Mama dari mana?" tanya Tuan Aryo bangun mendengar langkah Mama Rita.
"Mamah khawatir pah sama Ardi"
"Kenapa lagi?" tanya Tuan Aryo kembali memejamkan mata. Tapi masih bisa mendengar.
"Papa tau nggak ini jam berapa?"
"Ehhm, hoam" Tuan Aryo berdehem mengantuk.
"Papah jawab!" Mama Rita membangunkan suaminya manja, dia ingin ditemani mencurahkan hatinya.
Tuan Aryo yang sangat menyayangi istrinya pun bangun setengah duduk menyandarkan bahunya ke bantal. Lalu tanganya memijat pelipis matanya agar bisa tersadar dengan benar.
"Mamah ini sudah lewat dini hari, kenapa masih terjaga?" tanya Tuan Aryo.
"Ardi baru pulang Pah, mamah nggak suka!"
"Dia sudah dewasa, biarlah" jawab Tuan Aryo santai memberi kebebasan terhadap anaknya.
"Bahkan dia baru dua hari di rumah tapi selalu pulang malam" jawab Bu Rita merajuk. "Dia membawa temanya dalam keadaan mabuk Pah" lanjut Mama Rita memberikan alasan kenapa dia khawatir.
"Dia sudah dewasa Mah, biarkan saja. Apa mamah ingin Ardi pergi lagi? "
"Ih Papah! Bukan begitu maksud mamah"
"Lalu apa?" tanya Tuan Aryo lembut lalu mendekat ke istrinya yang duduk di tepi ranjang.
"Papah ingat waktu papa masih muda?" tanya Bu Rita melunak.
Tuan Aryo tersenyum, lalu melingkarkan tanganya ke perut istrinya. "Tentu saja ingat sayang?" jawab Tuan Aryo menciumi rambut istrinya yang mulai beruban tapi tetap wangi.
"Apa papa seperti Ardi suka pulang malam?"
"Tentu saja iya, kami laki-laki"
"Apa yang buat papah berhenti pulang malam? Dan betah di rumah? "
"Setelah menikah denganmu, ada kamu di rumah" jawab Tuan Aryo menarik istrinya untuk merebahkan badan.
"Apa papah tidak ingin memikirkan pernikahan Ardi?" tanya Mama Rita yang kini berbaring miring di pelukan Tuan Aryo.
"Papa ngantuk Mah, kita bahas besok, nanti keriput mamah tambah lho kalau kurang tidur, ayo tidur" Tuan Aryo merapatkan pelukanya mengajak mama Rita tidur. Menghindari pembahasan panjang mengenai jodoh anaknya.
__ADS_1
"Issshhh" Bu Rita mendesis kesal karena suaminya selalu menghindar saat diajak bicara mengenai pernikahan anaknya.