Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
130. Tidur sendiri


__ADS_3

****


Jakarta


Sebagaimana isi sumpah profesi mereka. Meskipun sedang berada di luar rumah sakit dan di luar jam kerja pada umumnya. Saat mendengar ada 5 nyawa terancam.


Ketiga dokter spesialis itu segera melajukan mobilnya ke rumah sakit. Gery, Mira dan Dokter Siska segera bersiap dan bekerja sama memperjuangkan kehidupan ibu dan bayi.


"Main yang mana dulu Dok?" tanya Gery ke Dokter Siska yang sudah berada di ruang operasi.


"Ruptur dulu" jawab Siska.


Gery mengangguk, sekilas melirik ke ruang resusitasi melihat Mira dan timnya sudah siap. Gery tau kasus seperti yang akan dihadapi ini biasanya berakhir tidak baik untuk si bayi. Pasti Mira sedang panik.


"Sudah siap Dokter Mira?" tanya Gery tiba-tiba di belakang Mira. Mira dan perawat lain kaget.


"Semangat yah!" ucap Gery memberi semangat.


Mira dan yang lain mengangguk. Gery dan Siska pun masuk menjalankan kewajibanya. Setelah beberapa saat, dan semua prosedur dilakukan, Siska berhasil mengeluarkan bayi. Dan benar saja, bayinya tidak dalam keadaan baik, bahkan seperti sudah tidak bernyawa. Perawat mengantarkan ke Mira dan tim. Dengan cekatan Mira melakukan pertolongan sesuapi prosedur.


"Heart rate masih ada. Resusitasi!" ucap Mira memberi komando ke dokter umum dan perawat setelah memastikan bayi masih hidup. Mira memimpin kerja, dokter umum dan perawat mengasisteninya.


"Huft" batin Mira dalam hati setelah berhasil mendengar rintihan si bayi, tapi keadaanya masih jelek. Perawat dengan cekatan membantu Mira memasangkan alat-alat.


"Rawat NICU, beritahu keluarga ya. Gue keluar setelah pasien kedua lahir!" tutur Mira memberikan perintah ke dokter umum, sembari mengisi rekam medis, terapi dan rencana tindak lanjut.


Mira dan yang lain masih di tempat yang sama, bersiap untuk pasien selanjutnya. Tidak butuh lama bayi selanjutnya lahir. Mira tersenyum senang karena dari awal dibawa perawat, anak pertama dari kehamilan kembar itu menangis meski sebentar dan tidak keras.


"Suction!" ucap Mira ke perawat.


Perawat dengan siap membantu. Dan Mira melakukan tugasnya. Belum selesai Mira mengerjakan, bayi selanjutnya lahir tapi dengan keadaan berbeda. Mira pun menyerahkan pasien pertama yang sudah stabil. Dan beralih ke pasien yang tidak baik.


"Denyut di umbilikalnya tidak teraba Dok" ucap Dokter umum setelah memeriksa. Mirapun ikut memeriksa, ternyata benar bayi kedua sudah meninggal. Tapi meskipun begitu, Mira berupaya untuk yang terakhir dan tetap saja hasilnya sama.


"Still birth untuk bayi yang kedua. Bayi yang pertama cukup rawat biasa, pasang oksigen ya" tutur Mira kecewa. Perawat pun mengangguk.


Perawat melanjutkan pekerjaanya sesuai perintah Mira. Mira pergi memebersihkan dan merapikan dirinya. Setelah itu melanjutkan pekerjaannya, melengkapi rekam medis dan memberikan edukasi ke orang tua bayi. Setelah selesai Mira bersiap pulang.


Saat berjalan Mira melihat jam dinding di angka 10. 15 menit. Lalu Mira mengambil ponselnya, ternyata Tito sudah menghubunginya sejak satu jam lalu. Karena Mira tidak kunjung melihat ponsel Tito pulang.


"Huuuft" Mira duduk di bangku depan rumah sakit, menghela nafas dan meniup rambutnya. Mira menyandarkan tubuhnya ke bangku melepas ketegangan dan lelah. Membuka layar ponsel hendak mencari taksi online.


"Thin... Thin" mobil Gery berhenti di depan Mira.


"Gery?" guman Mira menelan saliva. Gery pun membuka jendela.


"Calon suamimu jemput nggak?" tanya Gery bersikap biasa seperti sahabat.


Mira menunduk dan melihat pesan terakhirnya Tito. Dari sususan kalimatnya Tito seperti marah. Dan sudah pergi karena lama menunggu Mira.


"Dia tadi jemput, tapi udah pulang" jawab Mira lemas.


"Ya udah gue antar. Ayo masuk!" jawab Gery ramah.


"Gue naik taksi onlen aja!" Mira menolak ajakan Gery lembut.


"Udah malem Mir. Gue anter aja. Ayo buruan!" ajak Gery ramah.


Akhirnya Mira ikut. Gery berusaha menetralkan perasaanya dan bersikap seperti sahabat. Mereka berduapun sepanjang jalan mengobrol. Dan tidak terasa mereka sampai di depan rumah Mira.


"Makasih ya Ger" ucap Mira ramah hendak membuka pintu. Pada saat Mira hendak turun Gery menarik tangan Mira. Menyuruh Mira duduk kembali. Mira gelagapan jantungnya berdebar kencang.


"Lo yakin sama Tito?" tanya Gery tiba-tiba dengan mimik serius.


"Bukan urusan lo!" jawab Mira singkat


"Liat gue!" ucap Gery mendekatkan wajahnya ke Mira

__ADS_1


"Semudah itu lo lupain gue?" tanya Gery lebih serius. Mira menelan salivanya dheg-dhegan. Kemudian memberanikan diri menjawabnya.


"Terus maksud lo? Gue bakal ngejar-ngejar dan ngemis-ngemis cinta lo? Lo sendiri kan yang bilang sebaiknya gue ke psikiater? Lepas!" jawab Mira agak ketus , menghempaskan tangan Gery. Dengan segera membuka mobil dan berlari masuk ke rumah.


"Maafin gue Mir" ucap Gery lirih tidak ada yang mendengar. Kemudian Gery meljukan mobilnya menuju apartemen.


Dari balkon rumah Mira, Mama Mira ternyata memperhatikan Mira dan Gery.


****


Jogja


Dengan menahan haru dan rasa bersalah, Alya berkeliling rumah. Karena baru jadi, ruangan tampak sangat lega dan lengang.


Belum ada barang-barang, bangku ruang tamu masih sama dengan bangku yang dulu. Alya masuk dan meneliti ke kamar. Dua kamar baru masih kosong, hanya ada kasur busa tanpa dipan. Kamar ibu karena sudah ditempati lengkap.


Lalu Alya membuka kamarnya. Berbeda dengan ruang tamu, ternyata kamar Alya sudah sangat siap pakai bahkan dirombak total. Alya sampai terheran melihatnya.


Kamar Alya yang dulu sempit dengan dipan kecil. Sekarang sudah lega, kasurnya diubah menjadi dipan besar. Bahkan ada kamar mandi dalam. Dan juga tersedia lemari, nakas dan bunga kecil. Ada sofa, kursi lengkap dengan meja rias. Alya membuka lemarinya, ternyata juga sudah tersedia beberapa pakaian ganti.


"Wuaah hoh" Alya terbengong dan mengehela membuang nafasnya.


Kalau dipikir-pikir Ardi memang gila. Entah apa yang dipikiranya selalu di luar dugaan orang pada umumnya. Alya berterima kasih, tapi merasa ini sedikit berlebihan.


"Kenapa dia nggak bilang dari awal kalau waktu itu dia pergi ke Jogja?" gumam Alya dalam hati, Alya sampai berfikir Ardi pergi berkencan dan akan menceraikan dia.


"Ck. Dasar tega-teganya dia membiarkan aku tersiksa karena penasaran" gumam Alya lagi, tapi kemudian dia tersenyum. Itu berarti Ardi benar-benar cinta ke Alya.


Kemudian Alya duduk di kasurnya. Alya mengelus perutnya.


"Maafin ibu ya Nak. Ibu banyak berburuk sangka ke ayahmu, ibu janji berusaha jadi yang baik mulai sekarang" tutur Lian lembut sambil membayangkan anaknya nanti ketika sudah lahir.


"Gue tidur di mana nih?" tanya Anya tiba-tiba setelah selesai dari kamar mandi belakang. Alya pun menoleh ke Anya tersenyum.


"Sini aja!" jawab Lian menepuk kasurnya.


Mereka berduapun membersihkan badan, sholat, minim obat dan segera bersiap tidur.


"Nyaman juga tinggal di sini ya Al" ucap Anya sambil merebahkan badan.


"Kampung halaman kan memang selalu ter the best Nya"


"Kapan-kapan gantian lo nginep tempat gue ya!" jawab Anya merasa hutang budi.


"Siap. Besok kalau kamu nikah aku usahin ke Bogor. Lo nikah jangan kaya aku ya. Nikah yang meriah!" jawab Alya ramah.


"Apa sih lo? Bahas nikah mulu. Gue nikah masih lama!" jawab Anya ketus


"Ati-ati kalau ngomong Anya. Pengalaman aku, ketika aku bersikukuh belum pengen nikah. Malah Alloh kasih aku nikah buru-buru. Nggak ada yang tau takdir!" jawab Alya panjang.


"Au ah. Bete gue lo bahas nikah dan Farid terus. Gue mau tidur" ucap Anya membalikan tubuhnya membelakangi Alya.


"Ck" Alya berdecak manyun menatap punggung sahabatnya. "Seperti apa si Agung itu sih, bisa bikin kamu klepek-klepek begitu" tanya Alya meledek. Tapi Anya tidak menghiraukan.


Kemudian Alya menarik selimut, menyusul Anya tidur. Tiba-tiba ponselnya berdering.


"Mas Ardi?" gumam Alya melihat ponsel lalu memencet layar jawab panggilan video


"Assalamu'alaikum Mas" jawab Alya mengarahkan layar ponsel ke wajahnya.


"Waalaikum salam sayang. Ehm" jawab Ardi sambil berdehem, mengkode ingin mendengar ucapan terima kasih dan ungkapan cinta dari istrinya lagi.


"Kok dehem gitu? Ibu udah tidur? Dipindah ke ruang mana? Nomor berapa?" tanya Alya panjang kali lebar kali tinggi, tanpa membahas rumah.


Ardi pun manyun sampai menggaruk-garuk kepala kesal. Lalu menatap mertuanya yang sudah memejamkan mata. Bisa-bisa Alya malah tanya ibunya banyak dan tidak terkejut atau berespon romantis diberi kejutan sebesar itu.


"Kok manyun?" tanya lagi melihat suaminya manyun.

__ADS_1


"Udah!" jawab Ardi jengkel Alya tidak kunjung membahas tentang rumah barunya.


"Syukurlah, makasih ya udah jagain Ibu Lian" ucap Lian lembut.


"Ehm, gimana? Nyaman nggak tempat tidurnya" tanya Ardi memancing istrinya membahas rumah barunya.


"Nyaman. Lian mah dimana aja nyaman mas" jawab Alya lembut tapi tetap tidak sesuai harapan Ardi.


"Ehm ehm" Ardi berdehem lebih keras dengan ekspresi gemas dan bete. Sudah tidak sabar mendengar pujian Alya.


"Kenapa? Mas sakit? Ibu sekarang di ruang apa?" tanya Alya lagi tidak peka.


"Mas sehat. Ibu di ruang Vip 3. Nggak usah mikirin ibu. Ibu aman sama mas" jawab Ardi bete.


"Oh syukurlah, ya udah Lian tidur yah. Mas juga, daah" jawab Alya sedikit perhatian tapi tetap tidak menyenangkan Ardi. Ardi pengen Alya manja sambil berterima kasih dan bilang cinta lagi. Bukan selamat tidur.


"Jangan tidur dulu" sahut Ardi ketus.


"Kenapa? Udah jam 11 lho, Lian ngantuk Mas. Lian besok ke rumah sakit kita gantian nunggu ibu, yah" jawab Alya.


"Kamu tidur bareng siapa?" tanya Ardi mulai aneh.


"Kok tanya gitu, ya sama Anya lah Mas, kan Lian bareng Anya" jawab Alya masih lembut.


"Anya suruh pindah kamar baru yang di depan!" perintah Ardi tiba-tiba dengan gusar.


"Lah kok gitu? Kenapa?" tanya Alya merasa kasian ke Anya, karena Anya sudah hampir terlelap. Alya juga kasian jika Anya tidur sendirian, setelah memberikan kunci Lastri pamitan pulang ke rumahnya.


"Udah nggak usah protes, Anya suruh ke kamar tamu!" perintah Ardi nada memaksa.


"Tapi Anya udah tidur Mas, Lian nggak tega!" jawab Alya lagi berfikir rasional. Apa salahnya Lian tidur bareng Anya di saat suaminya tidak di rumah.


"Nurut nggak! Sekarang juga Anya bangunin suruh pindah jangan tidur di situ?" jawab Ardi lebih menekankan.


"Iya ya" jawab Alya lembut tapi tetap merasa suaminya aneh dan keterlaluan. "Tapi kenapa harus pindah?"


"Pokoknya Mas nggak suka dia tidur bareng kamu di situ! Suruh pindah sekarang!" jawab Ardi kekeh.


"Yaaa" jawab Alya singkat, menurut tapi tetap memendam pertanyaan. Lalu menutup telponya karena sambungan telponya terputus.


"Huuuft. Ck" Alya berdecak kesal menutup telpon. Rasanya masih ingin mendebat kesal ke suaminya. Tapi Alya tau ini sudah malam. Alya juga ingat pesan ibunya, hindari membantah dan bertengkar. Tapi tetap saja perintah Ardi susah diterima Alya.


"Kasian Anya sepertinya dia udah tidur" gumam Alya melirik ke Anya. Alya mengangkat kepalanya memastikan Anya tidur atau belum. Ternyata Anya masih mainan hp.


"Hemm" dengus Alya kesal. "Katanya tidur?" tanya Alya ke Anya.


"Lo sebut-sebut nama gue sama suami lo? Ada apa?" tanya Anya santuy


"Kamu denger?" tanya Alya merasa tidak enak.


"Dengerlah. Kita bersebelahan gini!" jawab Anya.


"Suamiku pengen aku tidur sendiri. Maaf yah! Kamu tidur di kamar depan nggak apa-apa kan?" tanya Alya dengan harap-harap cemas. Takut Anya tersinggung dan marah.


Tapi Anya justru tersenyum nakal. Dan bersemangat. Jauh dari ekspektasi Alya.


"Oke" jawab Anya.


Alya pun terkejut dan merasa aneh kok Anya malah bahagia diusir dari kamarnya.


"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Alya dengan tatapan aneh.


"Nggak. Gue nggak akan ganggu kok, selamat beribadah ya. Jangan malem-malem tidurnya kasian dhedhek bayi di perutmu" jawab Anya tersenyum centil sambil mengambil tas.


"Hah? Apa maksudnya?" tanya Alya polos. Tapi tidak dijawab karena Anya segera pergi dari kamar Alya.


Anya mengira Ardi mengusir Anya karena Ardi ingin bermesraan dengan istri halalnya. Melakukan hal yang bisa memenuhi hasratnya, seperti yang ada di bacaan dan film-film.

__ADS_1


Sementara Alya yang tidak pernah pacaran ataupun Ldr tidak dibuat pusing dengan kata-kata Anya. Alya tidak pernah terfikirkan hal semacam itu. Dan kenyataannya Alya juga langsung tidur begitu Anya pergi. Ardi juga tidak menelpon lagi.


__ADS_2