
"Nggak usah cemberut gitu mukanya" ucap Ardi ke Alya yang duduk cemberut.
Alya kemudian menutup pintu ruang rawat Ardi. Setelah itu membuka mukenah atas yang menutupi tubuhnya.
"Ya udah kasih tau Ida. Ambilkan ponsel Lian di atas nakas. Terus gamis Lian yang warna dongker sama pashmina abu di lemari ujung. Sama baju kerja Lian" tutur Lian mengikuti saran Ardi.
"Kerja? Kamu mau kerja?" tanya Ardi emosi lagi.
Alya menggigit bibir bawahnya tidak menjawab. Alya diam merasa takut dan sudah menebak dimarahi suaminya lagi.
"Udah sanalah pergi, istri macam apa? Suami sakit malah kerja" lanjut Ardi mengomel.
"Maaf, bukan gitu Mas" jawab Lian bingung lalu menggaruk atas hidungnya padahal tidak gatal.
"Seberapa gajinya kamu sampai dibela-belain mau kerja? Buat apa Mas kerja dapat uang banyak kalai istri Mas begini. Udahlah Mas nggak usah kerja aja, kamu aja yang kerja terus"
"Mas, keadaanya bukan seperti itu"
"Mas nggak mau denger"
"Anya kan mau ke Bogor, besok pagi kan acara lamaranya dia. Mas lupa. Dinda semalam jaga malam. Hari ini tersisa Lian mas dokter Magang yang jaga, Lian nggak enak" tutur Alya menjelaskan posisinya.
Maksud Alya bukan tentang uang, tapi resiko profesinya memang dituntut untuk bertanggung jawab. Jadi pasangan tenaga medis memang harus siap ditinggal. Alya mempunyai tanggung jawab kemanusiaan juga di tempat kerjanya.
"Nggak!" bentak Ardi tegas tidak mau tau.
Alya diam, tidak membantah, tapi hatinya menderu dan bingung. Bagiamana menjelaskanya.
Mimpi Alya dulu, Alya mempunyai pasangan yang mendukung profesinya. Bisa mengerti, mengalah, menerima saat Alya membagi waktunya dengan pekerjaanya. Alya merasa suaminya sudah baikan. Ada Papah Mamah Rita juga yang menemani.
Tapi sayang, impian Alya itu sepertinya sudah lenyap terbang bersama awan. Ardi tetaplah Ardi, berwatak keras, posesif dan tidak mau tahu. Meski Ardi sangat mencintai Alya. Ardi ingin Alya menjadi seperti yang dia mau.
"Pilih stop kerja atau ijin dengan segala resiko" sambung Ardi tegas.
Intiny dia ingin ditemani istrinya tidak peduli apapun juga.
"Iya Lian di sini, tapi" jawab Alya lirih karena takut terhadap ancaman suaminya.
Selama ini Alya tidak tahu dan peduli bagaimana pengaruh nama besar keluarga suaminya. Dalam hal pekerjaan Alya merasa tetap menjadi Alya yang dulu. Dokter magang yang harus profesional, disiplin dan tanggung jawab.
Alya tidak mau seenaknya atau diistimewakan karena status suaminya. Alya merasa bersalah jika meninggalkan tanggung jawabnya. Alya merasa kasian ke dokter umum seniornya bejaga bekerja keras sendirian di IGD.
Tapi di satu sisi, meski Ardi sudah membaik, sehat dan kembali galak dan cerewet, dia tetap suami yang harus dipatuhi. Ardi sangat otoriter, jika tidak dipatuhi yang ada Alya semakin terkekang.
"Nggak ada tapi tapian. Biar Dino yang urus ijinya, jangan tinggalkan ruang ini sejengkalpun tanpa ijin Mas!" lanjut Ardi lagi masih garang.
"Iya ya, Lian minta maaf Lian akan di sini terus" jawab Alya lagi.
"Nggak boleh cemberut kalau sama mas harus senyum"
__ADS_1
"Heee" Alya menampilkan senyuman terpaksanya ke suaminya. Kemudian kembalo mendesis.
"Issh dasar"
"Bantuin Mas"
"Emang mas mau apa?" tanya Lian.
"Bantuin Mas buang air"
"Mas udah bisa turun? Kakinya udah nggak sakit lagi?"
"Istri Mas kan sangat ingin bekerja, Mas nggak mau berbaring lama-lama. Jadi Mas harus paksain biar bisa jalan" sindir Ardi ke Alya.
"Kok gitu bilangnya. Lian bukan bernafsu kerja, tapi kasian ke dr. Ana"
"Sama aja"
"Ini kan Lian memilih tetap di sini"
"Ya udah cepetan bantu Mas jalan"
"Ya" jawab Alya lembut. Lalu memapah Ardi membantu Ardi agar cepat bisa pulih.
Dan Alhamdulillah Ardi bisa berdiri tegak. Hanya sedikit linu. Ardi memang rutin olahraga makan dan tidurnya teratur. Apalagi setelah menikah. Ardi sudah jarang keluar malam, jadi badanya kuat.
Sementara Gery, waktu dia sedikit. Jika bukan hari libur, Gery bisa dipanggil sewaktu-waktu untuk membantu proses operasi. Gery bahka laju bolak balik apartemen rumah sakit. Karena pola hidupnya ngacak, tidurnya kurang, daya tahan Gery berbeda dengan Ardi.
"Udah sayang" jawab Ardi sudah tidak galak lagi. Perubahan Ardi memang bisa sangat signifika kalau bersama Alya. Bisa meletup-letup seketika bisa langsung sangat lembutm
"Alhamdullillah" jawab Alya tetap berusaha sabar apapun mode Ardi.
Ardi kemudian terdiam, sebenarnya Ardi juga khawatir dan memikirkan Gery. Tapi sikap Alya yang menurutnya berlebihan membuatnya cemburu.
"Mas pingin jenguk Gery sayang" ucap Ardi tiba-tiba.
"Mas yakin udah enakan"
"Udah, emang gimana keadaanya?" tanya Ardi mulai stabil emosinya.
"Kata Dokter Nando operasinya berjalan lancar, Insya Alloh keadaan tubuhnya baik, tapi belum sadar" jawab Alya menjelaskan.
"Gery kuat, jangan khawatir. Dia akan baik-baik saja" ucap Ardi lembut.
"Mau jenguk sekarang?" tanya Alya mengingatkan tujuan Ardi.
"Ayo"
Lalu Alya mengambil kursi roda.
__ADS_1
****
Mira
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam Mira dan ayahnya sampai ke rumah sakit yang tertulis di media masa. Dengan langkah tegap dan cepat, Mira didampingi ayahnya menghampiri resepsionist rumah sakit.
"Permisi saya, saya mau tanya pasien" tanya Mira ke petugas.
"Ya, ada yang bisa saya bantu?" jawab petugas informasi rumah sakit.
"Pasien atas nama Gery, pasien dengan korban penganiyaan yang semalam dibawa ke sini?" tanya Mira lengkap menggambarkan deskripsi Gery.
"Oh yang semalam, yang bersama Tuan Ardi Gunawijaya?" tanya petugas ,mereka lebih mengenal dan mengingat nama Gunawijaya yang sudah terkenal.
"Iya benar"
"Mereka dijemput ambulance dari rumah sakit Healthiest Nona"
"Healthiest?" tanya Mira memastikan sambil berfikir.
"Iya"
"Baiklah terima kasih" jawah Mira lalu berbalik keluar dengan buru-buru.
Saat Mira dan ayahnya berjalan keluar, beberapa orang yang mengenal wajah ayah Mira malah menghentikan mereka, menyapa heboh dan berbosa basi.
"Kenapa lupa nggak pake masker si Pah?" gerutu Mira dalam hati kesal. Maklum Ayah Mira pejabat yang sering nongol di berita.
Lalu meski terkesan sebagai pejabat yang sombong Ayah Mira menangkupkan tangan ke orang yang menyapanya dan segera pergi.
"Healthiest? Oh iya itu kan rumah sakit keluarga Gery" gumam Mira sambil menyalakan stater mobil.
"Kamu bilang apa Nak?" tanya Ayah Mira.
"Mira nggak kepikiran Pah. Keluarga Gery kan punya rumah sakit sendiri" tutur Mira sambil mengemudikan mobil Gery dengan cepat.
"Maksud kamu, pacar kamu itu keluarga dari pemilih Rumah Sakit Healthiest?" tanya ayah Mira.
"Gery anaknya Pah" jawab Mira menerangkan.
"Gery anaknya Nando?" tanya Ayah Mira antusias.
"Papah kenal?" Mira balik tanya.
"Bukan hanya kenal!"
"Sungguh?"
"Bajin*an tengik itu, rupanya dia. Haha"
__ADS_1
"Maksud Papah?"