
Beningnya embun pagi yang menempel manja pada dedaunan, dan beraneka macam warna tanamanan di taman kota pagi itu, membuat Bu Mirna bersemangat dan seperti mendapatkan dunia baru.
Sebenarnya keasrian di kampungnya jauh lebih menenangkan. Tapi entah kenapa suasana kota yang jauh lebih ramai dengan beraneka ragam penghuninya, membuatnya menjadi lebih bergairah terhadap kehidupan dunia.
“Kok lama Jeng?” tanya Bu Rita saat mereka bertemu di temlat janjian tadi. Bu Rita dan Tuan Aryo sudah keringetan dan berhasil lari satu putaran.
“Iya, tadi ketemu sama temen lama” jawab Bu Mirna.
“Temen?” tanya Bu Rita kaget.
Bu Mirna punya temen di Jakarta? Kok baru cerita. Bu Rita hanya tau kehidupan Bu Mirna selama sekolah SMA di Jogja. Setelahnya Bu Rita tidak tahu. Tentang ayah Alya pun Bu Rita tidak tahu.
“Iyah... temen suamiku dulu, aku juga nggak nyangka bisa ketemu di sini” jawab Bu Mirna semangat.
“Oh.., laki- laki?” tanya Bu Rita.
“Iya”
“Ooh hehe ayok lari lagi yuk” ajak Bu Rita lagi melihat Tuan Aryo sudah jauh di depan.
Bu Mirna mengangguk lalu mereka lari kecil tapi kemudian banyak jalanya, mungkin karena usianya sudah setengah abad, tenaga mereka tak sekuat dulu.
Setelah berjalan berputar 5 putaran, mereka bertiga kemudian berhenti, istirahat, minum air putih dan kemudian pulang.
Ya begitulah rutinitas Bu Rita dan Tuan Aryo kenapa mereka awet muda dan selalu sehat. Selain menjaga pola makan dan perasaan tetap bahagia, mereka rutin olahraga.
Sesampainya di rumah, anak dan mantu mereka malah tampak asik berpacaran di depan tv. Alya tampak tiduran manja di paha Ardi.
Ardi memang sudah segar dengan kemeja dan dasinya, tapi Alya masih memakai baju daster kesayanganya, bahkan tidak memakai jilbab, tapi sudah memakai make up dan sudah wangi.
“Waah bar pulang Mah?” tanya Alya ke mertuanya, lalu Alya bagun dari rebahanya.
Bu Rita masuk ke rumah lebih dulu, karena Tuan Aryo memarkirkan mobil, dan Bu Mirna cuci tangan dan kaki dulu.
“Iyah, kamu kok masih berdaster?” tanyq Bu Rita mengira Alya jaga pagi.
“He... iya Mah, Lian jaga sore malam, kita jadi ke butik kan?” tanya Alya nyengir.
“Jadi dong, ya udah mamah mandi dulu ya!” jawab Bu Rita berpamitan mau naik ke lantai tiga.
“Ya Mah” jawab Alya
“Papah mana Mah?” tanya Ardi menunda langkah Bu Rita.
“Papah ke parkiran dulu” jawab Bu Rita menoleh ke Ardi dan berhenti, kemudian Bu Mirna menyusul masuk.
Ardi dan Alya terkesima melihat Bu Mirna pagi itu.
Bu Mirna memakai stelan pakaian olahraga muslim bahan spandek merek n*ke, karena Bu Mirna pekerja keras, tanpa diet pun tubuhnya masih ramping. Jika dilihat dari belakang tanpa melihat wajahnya bodynya seperti gadis.
Meski Bu Mirna sempat sakit karena terlalu berfikir keras memikirkan Alya yang menikah mendadak, kurang tidur dan tenaganya terforsir untuk jualan, hari ini tampak segar dan berbinar.
Apalagi karena krim yang diberi Bu Rita, meski belum memberikan perubahan yang berarti, Bu Mirna tampak lebih glowing dan tidak kusam. Tinggal sedikit flek hitam yang perlu rutin disamarkan.
”Ibu?” pekik Alya tidak suka.
“Dhalem Nduk!” jawab Bu Mirna masuk.
__ADS_1
“Ibu pakai baju siapa? Kok seksi gitu?” tanya Alya tidak terima ibunya cantik dan muda lagi, malahan Alya kini tubuhnya mulai melar karena ulah suaminya.
Bu Mirna menatap Bu Rita malu, merasa sungkan dan tidak punya harga diri, karena semuanya berkat besan sosialitanya itu.
“Kemarin Mamah ajakin ibumu shopping, Sayang. Nggaklah nggak seksi, semua baju olahraga muslim kan emang begitu, mau yang model rok ribet kasian udah tua” jawab Bu Rita berhenti sejenak mendengar pertanyaan Alya.
Bu Rita membela Bu Mirna yang tampak malu. Menurut Bu Rita, semakin tua, justru harus lebih ekstra menjaga penampilan dan tubuh agar tetap muda.
Alya diam sejenak.
Kalau Bu Rita seksi sih Alya udah tidak heran, karena memang fashion Bu Rita jauh lebih bagus daripada Alya. Bahkan Bu Rita masih sering memakai dress ala- ala princess atau gaun yang seksi sehingga membuat Bu Rita 10 tahun lebih muda.
“Tapi Alya ngrasa aneh ibu pakai celana begitu” ucap Alya sambil menunduk.
“Plethak” Ardi menyentil kening Alya untuk yang kesekian kalinya entah hitungan yang keberapa.
“Sakit Mas, kebiasaan banget sih” gerutu Alya tidak terima.
“Tuh ibu jadi malu gara- gara kamu, biarin ibu di sini sehat, awet muda dan bahagia nggak usah dikata- katain. Kamu mau ibu sakit lagi?” tanya Ardi memarahi Alya. Kenapa Alya selalu menyudutkan perubahan Bu Mirna.
“Nggak sih, Lian juga pengen ibu awet muda dan sehat terus” jawab Alya.
“Ibu suntuk di rumah jadi ibu ikut mertuamu, nggak apa-apa kan? Boleh kan?” jawab Bu Mirna akhirnya.
“Tadi ibumu katanya ketemu temen lama lho!” ucap Bu Rita memberitahu. Maksudnya Bu Rita ingin Alya mengerti kalau ibunya juga punya komunitas dan harapan hidup bersosialisasi di Jakarta.
“Oh iya? Ibu punya temen di sini?” tanya Alya antusias.
Setelah memberitahu Alya. Bu Rita berlalu ke kamarnya, tidak tertarik untuk ngobrol lagi. Bu Rita harus cepat-cepat mandi dan menyiapkan keperluan kerja suaminya.
Bu Mirna mengangguk dan duduk bergabung dengan Ardi dan Alya.
“Siapa namanya Bu? Orang mana?” tanya Alya.
“Katanya dia tinggal di perumahan dekat taman kota. Bapakmu dan teman- temanya sering memanggilnya cungkring karena dulu dia tinggi kurus, hidungnya sangat mancung. Tapi sekarang dia sudah lebih berisi kok nggak cungkring, malah lebih gagah sekarang, sampai ibu nggak tau nama aslinya. Orangnya sangat baik” tutur Bu Mirna berapi- api yang secara tidak langsung memuji kawan lamanya itu.
“Ehm” Ardi berdehem ekspresi Bu Mirna seperti anak remaja yang lagi curhat.
Sementara Alya cemberut dan menatap ibunya dengan tatapan menelisik sambil menggigit bibirnya bahkan matanya mendelik. Alya baru pertama kali melihat ekspresi ibunya sebahagia itu membahas fisik laki-laki.
Ditatap anaknya aneh seperti itu Bu Mirna menelan ludahnya salah tingkah. Dan menghentikan ceritanya.
“Tapi masih gagah bapak Alya kan Bu?” tanya Alya dengan ekspresi sangat tidak suka.
“Sayang kamu apa- apaan sih, bapak udah tenang di alamnya nggak usah dibandingin” sahut Ardi.
“Bapakmu tidak tertandingi, Nak” jawab Bu Mirna.
“Hemmm, Alya nggak suka ibu muji- muji orang selain bapak” jawab Alya malah cemburu. Lalu Ardi mencubit pinggang Alya.
“Iiih apa sih?” gerutu Alya.
“Ibu nggak muji orang lain Nduk, ibu lagi cerita temen ibu, ya ibu kan Cuma cerita setelah 30 tahun lebih nggak ketemu, ibu juga tidak menyangka dia masih mengenali ibu? Ibu senang rasanya teman ibu masih ingat ibu“ jawab Bu Mirna dengan mata berbinar lagi.
“Hemm yaya” jawab Alya semakin cemburu, kenapa ibunya terus bercerita baik tentang temanya itu.
“Dia sendirian Bu? Apa sama istrinya” tanya Ardi malah semakin memancing.
__ADS_1
“Ibu kurang tahu, ibu ketemu di kamar mandi, ya sendiri, mungkin sama istrinya tapi nggak dikenalin ke ibu. Ya sudahlah itu cuma kebetulan dan cuma sebentar, ibu mandi dulu ya” jawab Bu Mirna berpamitan.
“Ya” jawab Alya dan Ardi.
Bu Mirna kemudian pergi.
“Kamu apa- apaan sih Yang? Sinis banget sama ibu?” tanya Ardi menegur istrinya.
“Ibu jadi kecentilan begitu, Lian risih mas liatnya. Ibu kaya bukan ibu” jawab Alya cemberut.
“Ck. Mas lebih suka ibu yang sekarang, jadi ada semangat hidup, jauh lebih segar daripada pas di Jogja” bela Ardi.
“Ya nggak apa- apa kalau lebih sehat dan bahagianya, tapi kalau berpenampilan begitu, centil- centil bgitu? Untuk apa coba?” bantah Alya berbeda pendapat dengan Ardi.
“Ibu memang masih cantik kok. Nggak apa- apalah, malah Mas pengen ibu nikah lagi, biar kamu nggak ribut mikirin ibu. Tadi kamu bahas ibu kan?” ucap Ardi mengingatkan tema pembahasan mereka tadi.
Sebelum Bu Mirna dan Bu Rita pulang, Alya menyampaikan unek- unek Bu Mirna kalau Bu Mirna tidak nyaman numpang di rumah besanya. Merasa tidak punya harga diri kalau lama- lama tinggal di situ.
Bu Mirna ingin tinggal di panti sampai Alya resepsi dan pengajian 4 bulanan. Bahkan mau lebih lama sampai ada guru masak baru. Setelah itu kembali ke Jogja.
Mendengar itu Ardi melarang keras. Ardi tidak tega mendengar mertuanya tinggal di panti. Di panti kamarnya sederhana, di sana juga pasti akan capek mengurusi anak- anak panti. Ardi mau mertuanya tinggal di tempat yang nyaman sama seperti mereka.
Tapi Alya juga tidak mau kalau ibunya cepat kembali ke Jogja. Alya tau bagaimana perasaan ibunya juga jika terus di rumah mertuanya itu.
Lalu Ardi dan Alya berdebat dan berselisih paham, sampai Bu Rita datang dan membuat mereka berhenti berdebat.
“Maksud Mas liat ibu nikah lagi?” tanya Alya ke Ardi masih bahas Bu Mirna.
“Ya seperti yang udah kita bahas, menurut mas, yang terbaik ibu nikah lagi. Kalau perlu kita carikan jodoh buat ibu di sini, biar ibu nggak Jogja dan sendirian lagi. Mas juga pusing kalau kamu ngeributin ibu, nanti dikit- dikit ngambek ngadu ke ibu, kalau ibu di Jogja minta pulang ke ibu, mas nggak mau itu. Mas berdoa ibu nikah lagi, jadi kamu fokus ke Mas” tutur Ardi mengungkapkan pendapatnya.
Ardi tidak mau Alya memikirkan ibunya, apalagi menjadi tempat kabur Alya saat marahan.
“Lhoh ya terserah ibu dong Mas. Kita nggak bisa intervensi ibu” jawab Alya membantah lagi.
“Tapi kamu waktu itu setuju ibu nikah lagi?”
“Setuju sih Mas? Tapi masalahnya siapa? Ibu udah tua. Tidak mudah menerima dan jatuh cinta. Lalu menjalin hubungan dengan orang lain di usianya. Geli juga Lian bayangin punya bapak tiri” jawab Alya
“Kalau kamu nggak setuju. Ya udah kamu rayu ibu biar ibu nyaman di sini, anggap ini rumah ibu sendiri, mas nggak mau ibu tinggal di panti”
“Hemm, ya” jawab Alya diam.
Di saat Alya dan Ardi ngobrol Tuan Aryo masuk. Lalu Ardi berdiri menghampiri papahnya.
“Pah Ardi mau ngobrol” tutur Ardi ke ayahnya.
“Ya. Ada apa?” jawab Tuan Aryo dingin
“Tentang Mia, Pah!”
“Ke ruang kerja sekarang!” perintah Tuan Aryo tegas. Tuan Aryo mau jika membahas hal-hal penting, berbau pekerjaan dan masalah kekerasan dibahas privasi tanpa istri.
“Siap Pah!” jawab Ardi. Lalu Ardi mengkode Alya untuk menunggu di kamar saja.
****
maaf baru up.
__ADS_1
dukung author terua yaa biar idenya ngalir. hehe