Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
95. Baikan.


__ADS_3

"Gue minta maaf ke Lo Ger" ucap Ardi tulus, mereka duduk bersebelahan di bawah pohon di depan rumah sakit.


"Kapan lo nikahin dia?" tanya Gery to the point.


"Dua bulan lalu, di Jogja"


"Apa lo tau dia cewek yang gue ceritain?"


"Nggak! Lo kan nggak pernah kasih liat wajah dia ataupun namanya ke gue" jawab Ardi datar karena kenyataanya Ardi tidak tahu.


"Hah, haha" jawab Gery menertawai dirinya sendiri, takdir seakan mempermainkan mereka.


"Gimana lo bisa kenal Alya?" tanya Gery lagi.


"Gue kenal dia dengan nama belakangnya dari satpam megayu. Lo ingat, waktu gue telpon lo tanya Dokter Lian? Itu awal gue kenal dia? Gue nggak tahu kalau nyokap gue nyuruh dia nempatin apartemen gue "


"Kenapa gue baru sadar nama Alya, Berlian ya?" ucap Gery mengingat - ingat.


"Dia anak temen nyokap gue. Nyokap gue yang bawa dia kesini. Dia tinggal di apartemen gue. Nyokap gue juga yang pengen gue nikahin dia"


"Lo mau bilang lo dijodohin?"


"Nggak, gue emang tertarik sama dia sejak awal, selera kita sama Bro"


"Kenapa lo nggak cerita ke gue sama Farid. Dan Lo ngilang gitu aja?"


"Gue nglindungin Alya dari Intan. Gue juga sibuk gantiin bokap gue. Bentar lagi juga peresmian gue jadi pewaris Gunawijaya setelah rapat para pemilik saham"


"Oke gue paham. Selamat Ar, Alya jadi milik Lo. Gue titip dia, lo tau gimana perasaan gue ke dia. Gue minta maaf udah salah paham ke lo" ucap Gery dewasa. Gery menyadari kehidupan memang tidak selalu seperti yang dia mau.


"Lo percaya kan sama gue?" tanya Ardi lagi.


"Apa yang terjadi antara lo sama Riko si artis itu?" tanya Gery penasaran.


"Urusan bisnis Ger, dia temen gue waktu di Australia. Tapi gue nggak ada hubungan apapun sama dia. Yang bener aja lah, itu gosip kerjaan Lila. Lo tau gue kan?"


"Apapun masalah lo. Lo selesein urusan lo, Alya sangat terpukul liat berita itu. Kasian dia dan bayinya. Oh ya. Selamat ya, lo udah mau jadi bapak"


"Thanks Bro, lo emang sahabat gue" tutur Ardi merangkul Gery. Gerypun tersenyum ikhlas memaafkan sahabatnya dan ikut bahagia dengan kehamilan Alya.


"Gue percaya sama lo. Kalau sampai lo sakitin Alya lagi, gue nggak segan buat tonjok lo lagi" ucap Gery hangat.


"Makasih lo percaya sama gue. Gue mau minta tolong"


"Apa?"


"Farid"


"Kenapa?"


"Farid juga suka sama Alya".


"What?" tanya Gery kaget, menyadari kegokilan ketiga sahabat itu. "Woah. Gila lo, kok bisa?"


"Alya ngajar di panti nyokap gue bareng Farid, gue tahu setelah gue kenal Alya" tutur Ardi menceritakan keegoisanya.


"Terus lo sembunyiin juga?"


"Gue nyuruh Alya buat bohong. Gue masih bingung nyampeinya ke Farid"


"Lo bener-bener gila ya. Lo bener-bener taik tau nggak?"


"Gue tau gue salah, gue egois. Gue fikir Farid mau dijodohin sama orang tuanya. Rencanaya gue nunggu dia tunangan biar gue nggak nyakitin dia. Tapi Alya keburu hamil"


"Tetep aja lo salah, lo anggap kita sahabat nggak sih? Kasian Alya juga, lo harus kasih tau Farid. Itu PR lo sama dia" jawab Gery menasehati Ardi.


"Secepatnya, gue minta lo jaga dulu tentang ini"


"Berarti kalau gue nggak liat lo anter Alya, lo juga bakal sembunyiin dari gue?"


"Gue salah Ger, gue tau. Makanya gue minta maaf, gue ajak lo kesini buat itu, gue sadar gue salah"


"Berengsek lo emang, selama ini lo tinggal bareng Alya?" jawab Gery lagi mengatai sahabatnya terus terang, tapi tanpa dendam.

__ADS_1


"Iyalah, masa iya gue udah punya istri tinggal sendiri"


"Gue nyariin Alya, ternyata lo umpetin. Gue nggak nyangka lo bener-bener brengsek Ar. Kenapa gue jadi kaya orang bodoh?" ujar Gery sambil tertawa merutuki kebodohanya tapi sudah tidak marah lagi.


"Gue berdoa lo secepatnya dapet jodoh Bro. Buruan nikah. Oh ya, gue makasih ya lo udah jaga Alya selama ini" ujar Ardi menepuk tangan sahabatnya.


"Gue sekarang anggep dia adek gue. Ya udah gue mau kerja. Selesein urusan lo sama Farid. Jangan bilang tentang gue. Malu gue. Kaya nggak ada cewek lain" ucap Gery merasa konyol. Dan sekarang malu karena sudah mengejar perempuan yang sama dengan kedua sahabatnya.


"Oke" jawab Ardi membiarkan sahabatnya melanjutkan kerjanya.


Gery pun berdiri dan menuju ruang operasi. Dan Ardi menemui anak buahnya setelah itu mengurus Alya yang pindah ke ruang rawat.


****


Ruang Rawat.


"Gue kok sekarang jadi ragu ya Al berita di tivi itu bener?" ucap Anya sambil menyuapi sarapan ke Alya.


"Nggak usah bahas dia" jawab Alya masih jengkel ke suaminya.


"Dia itu nangis terus tau pas nungguin lo. Gue baru loat segitu frustasinya dia khawatirin lo, lo beruntung tau punya suami setampan dan sekaya dia. Maafin gue yah udah ngata-ngatain suami lo **y"


Alya menelan makananya, dan diam sejenak.


"Nggak ada yang tahu Nya, kenyataanya gimana. Aku juga belum kenal siapa suamiku" jawab Alya dengan pandangan kosong.


"Tapi lo hamil anaknya Al. Lo harus tau siapa suami lo sekarang. Dan nggak boleh diam aja! Emang lo tidur sama dia nggak ada perasaan apa-apa? Lo serahin diri lo gitu aja? Nggak kan? Dalam hati lo, lo juga pengen dia jadi milik lo kan makanya lo mau tidur sama dia? makanya jangan diam! Gerak!" Anya mulai dengan sifatnya yang cerewet dan siap menjadi mentor dadakan buat Alya.


"Maksud nya diam aja?"


"Ya lo pastiin berita itu bener apa enggak? Jangan main kabur kaya anak kecil. Lo udah mau jadi ibu. Lo harus berfikir dewasa. Jangan rugiin diri lo sendiri. Makanya lo nggak usah sok-sokan main rahasia ma gue, jadi salah langkah kan lo? Kalau ada gangguan lo kepret mereka!" omel Anya lagi.


"Kamu nggak rasain jadi aku sih?"


"Lo udah cinta belum sih sama suami lo?" tanya Anya mau menceramahi Alya lagi.


Alya diam hendak menjawab. Tapi ucapanya terhenti melihat suaminya masuk.


Alya hanya diam karena masih ngambek. Sementara Anya jadi merasa canggung berada di antara suami istri yang sedang berseteru. Anya menggaruk rambutnya dan memutuskan untuk pulang.


"Sarapanya diabisin sama suami lo ya, gue pulang dulu. Baik-baik yah" ucap Anya menepuk tangan Alya.


"Kok pulang sih Nya?" tanya Alya merasa tidak rela ditinggal sahabatnya.


"Kasian Dokter Anya sayang, kan sekarang udah ada Mas. Biar Dokter Anya istirahat" sahut Ardi yang memang ingin berduaan dengan istrinya.


Anyapun mengangguk dan tersenyum, matanya memberi kode ke Alya untuk menyelesaikan masalahnya.


"Saya pamit Kak" ucap Anya pamit ke Ardi.


"Terima kasih Dokter Anya sudah menampung dan merawat istri saya. Maaf merepotkan" jawab Ardi mengangguk. Lalu Ardi duduk di sebelah istrinya.


Dan kini di ruangan tinggal pasangan suami istri yang sedang salah paham. Ardi merasa sangat lega karena setelah di USG bayinya selamat. Tapi Alya harus istirahat total di atas tempat tidur sampai perdarahanya berhenti dan tubuhnya fit lagi.


Ardi bertekad menebus kesalahanya terhadap istrinya. Semua pekerjaanya diserahkan ke Dino. Ardi ingin fokus merawat istrinya. Ardi juga menugaskan anak buahnya menyelesaikan masalahnya.


"Sayang" panggil Ardi sambil memegang tangan Alya.


"Nggak usah pegang- pegang" jawab Alya merajuk menepis tangan Ardi.


"Mas seneng banget, denger kamu hamil, Mas minta maaf yah" ucap Ardi berusaha mengelus perut Alya. Kali ini Alya membiarkan suaminya mengelus perutnya yang masih rata.


"Maafin ayah ya dhedhe, ayah pergi-pergi terus, mommymu jadi ngambek" ucap Ardi berusaha merayu istrinya.


"Siapa Riko?" celetuk Alya sambil cemberut.


Ardi paham istrinya sedang cemburu termakan gosip buatan Lila. Ardi beralih memangku wajah dengan kedua tanganya, tersenyum memandangi istrinya yang sedang merajuk. Lalu Ardi mengambil tangan istrinya dan menciuminya.


Sementara Alya ditatap hangat suaminya yang tampan menjadi gelagapan dan salah tingkah. Sebenarnya Alya juga rindu dekapan suaminya.


"Mas minta maaf sayang, dengerin apa kata mas. Riko itu temenya mas pas di Australi, kamu itu Nyonya Ardi Gunawijaya. Kalau mau anak kita punya orang tua lengkap dan tumbuh sehat. Jangan mudah percaya dengan gosip receh begitu, kamu jadi begini kan? Jadi sakit, nggak kasian sama anak kita?"


"Hah? Gosip receh kata mas? Mas!" jawab Alya tidak terima kalau sikapnya disalahkan padahal Alya benar-benar merasa sakit hati dan merasa terzolimi.

__ADS_1


"Cup" Ardi mencium kening istrinya yang sedang marah dengan lembut.


"Besok mas ajak Riko kesini" jawab Ardi tau kalau istrinya masih termakan gosip dan Ardi ingin biar Riko yang ceritakan kejadianya.


"Hah? Nggak! Nggak sudi aku ketemu sama selingkuhan suamiku. Jijik" jawab Alya menghardik mengungkapkan perasaanya.


"Besok mas bawain rekaman cctv yang utuh dari hotel. Biar kamu lihat yang sebenarnya. Kamu harus berterima kasih sama Riko, karena berkat dia suamimu ini selamat dari terkaman macan betina, percayalah mas itu laki-laki tulen dan setia. Buktinya ada dhedhe di perut kamu, si junior itu cuma buat kamu"


"Apa maksudnya?"


"Mas minta maaf karena sudah banyak buat istri mas ini sedih, mas minta maaf juga udah kasar, jadi nyakitin kamu. Masih sakit nggak?" tanya Ardi lembut berusaha memegang pipi dan bibir istrinya. Alya hanya diam menerima perlakuan hangat suaminya.


"Mas udah minta maaf ke Dokter Gery?" tanya Alya tidak menjawab suaminya tentang lukanya.


"Udah, mas udah baikan sama dia"


"Suka banget sih main kasar"


"Laki-laki biasa tonjok-tonjokan. Gery juga kan pernah nonjok mas. Maafin mas udah cemburu nggak jelas. Mas kangen banget sama istri mas ini"


"Kangen apaan kasih kabar aja enggak" jawab Alya menyindir.


"Mas kemarin sibuk belum ketemu Risa"


"Siapa lagi Risha?"


"Ya ampun. Ternyata istri mas ini curigaan banget. Risa itu pacar Dino, sekertaris mas. Dia yang mas suruh beli hp. Mas kemarin nggak pegang hp. Semuanya di handle Dino"


"Salah siapa?" gerutu Alya lirih.


"Salah mas sayang. Sayang kenapa nggak kasih tau mas kalau udah ada dhedhe di sini? Ini kan buah cintanya mas dan kehebatan si junior"


"Mas aja nggak pengin tau, udah sana kerja aja terus!"


"Cup" Ardi mencium bibir istrinya spontan. Tau kalau istrinya sedang mode on dan hanya bisa dibungkam dengan bibirnya.


"Ibu hamil nggak boleh ngambek terus, nggak baik buat anak kita. Mas janji temenin istri mas terus. Yang penting anak istri mas, maafin mas"


"Huft! Nemeninya nunggu istrinya sakit"


"Mas kerja sayang. Mas minta maaf, mulai sekarang setiap saat mas kasih kabar ke sayangku ini. Kalau perlu istri mas ikut mas kerja ke kantor, biar di sisi mas terus"


"Lebay. Jemput aja nyuruh orang!"


"Sayang. Mas itu nyuruh mereka cari kamu. Mereka mastiin nemuin kamu pagi pas udah liat kamu? Nyatanya mas langsung jemput kamu"


"Kenapa nyuruh orang nyarinya?"


"Ya mas kan bagi rejeki dan kasih pekerjaan ke orang banyak. Baik kan mas?"


"Ishh"


"Sekarang kan mas yang udah jemput kamu sayang, mas udah disini bareng kamu. Nggak usah ngambek pergi-pergi lagi"


"Hmm. Jemput tapi datang-datang, marah-marah nggak jelas. Sukanya nuduh-nuduh orang! Dirinya nggak koreksi diri"


"Iya mas tau. Mas udah ngobrol sama Gery. Ini tuh bukti kalau mas cinta banget sama istri mas"


"Ck. Apaan?" jawab Alya berdecak manja.


"Udah mas mau mandi dulu, baikan yah, kasian dhedhe di perut kalau papa mamanya nggak akur. Oh ya sarapanya mau diabisin nggak?"


"Udah kenyang"


"Ya udah mas mandi dulu yah. Nanti makan lagi"


Tbc


*****


*Buat Kakak-kakak pembaca.


Author ucapin terimakasih sudah mau membaca karya author. Ini novel pertamaku. Mohon maaf atas segala kekurangan. Mohon do'anya ya biar author bisa nulis lagi dengan lebih baik dan seru. Semoga terhibur. Terima kasih juga atas dukunganya*.

__ADS_1


__ADS_2