Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
220. Curiga ke Fitri


__ADS_3

"Kenapa Papah memberlakukan aturan baru gitu ya Mas?" tanya Alya di mobil dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.


"Ya bener kan Sayang, kalau di kerjaan kan gitu juga? Kita jadi aman?" jawab Ardi.


"Kan itu hanya ada di drama kerajaan. Bukan era sekarang. Emang di rumah nggak aman ya?" tanya Alya polos.


"Plethak" Ardi menyentil kening Kia untuk kesekian kalinya.


"Iiih, hoby banget sih nyakitin istri"


"Kan kamu sendiri Sayang, yang cerita sama Mas, ada yang neror. Terus semalam kamu jatuh, terus yang di resepsi Gery, perempuan berhoodi itu. Mobil mas jatuh lho. Menurut kamu kita aman nggak? Katanya istri mas cerdas, tapi kok masih lemot aja sih"


"Iiih Mas, ngatain Lian lemot? Ya udah Lian nanti tidur sama Ibu" jawab Alya tersinggung dan ngancem suaminya lagi.


"Haissshh bukan, bukan gitu!"


"Mas sukanya hina Lian terus ih!"


"Nggak sayang nggak, istri Mas tu cerdas banget"


"Bohong!"


"Nggak bohong, cuma istri Mas itu terlalu berfikir baik, nggak waspada. Jadi nanti mudah di bohongi"


"Tuh kan, intinya sama Mas ngatai Lian lagi"


"Nggak sayang, sebenernya istri Mas cerdas baik, cantik lagi"


"Bohong" jawab Alya cemberut.


"Bener Sayang, apalagi kalau nanti malam ajari mas kreasi posisi baru lagi" rayu Ardi dengan tatapan nakalnya mengalihkan pembicaraan dari pembahasan lemot.


"Isshh ada maunya ternyata! Dasar" Alya balas mencubit paha Ardi.


"Auuwwh sakit"


"Sukurin!" ucap Alya centil.


Lalu Ardi meraih bahu Alya agar merapat ke arahnya dan diciumnya istri manis yang sekarang tambah berisi.


Sesaat Alya menyandarkan tubuhnya pada bahu kokoh Ardi, meski sering mengesalkan, bersandar pada Ardi itu sangat nyaman. Alya menikmati perjalanan pagi itu.


"Papah hanya ingin lebih waspada, Sayang. Papah mau kita semua baik-baik aja" tutur Ardi pelan melanjutkan topik awal, sambil merangkul istrinya.


"Apa itu artinya, Papah curiga sama orang rumah Mas?" tanya Alya.


"Entahlah, mungkin begitu, tapi siapa ya? Pelayan di rumah kan orang lama, selama ini mereka selalu setia" jawab Ardi ikut berfikir.


"Bener kan Mas kata Lian? TF itu bukan Mba Intan Mas? Feeling Lian Mba Intan beneran udah baik"


"Tetep aja sayang, bisa saja TF dia. Intan kan kenal sama pelayan Mas. Dia kan dulu juga sering datang ke rumah, bisa aja salah satu pelayan kita bekerja sama" jawab Ardi.


Mendengar cerita Intan ke rumah otak kotor Alya datang menyalakan api cemburu.


"Oh jadi Mba Intan dulu sering ke rumah? Iya? Ngapain aja ke rumah? Ih bete banget sih!" tanya Alya.


"Aih cemburu lagi. Kan udah pernah cerita. Kalau dia ke rumah, mas nggak di rumah. Cinta Mas itu cuma buat kamu Sayang. Nih pegang kalau nggak percaya" jawab Ardi membawa tangan Alya ke atas junior kesayanganya yang dari tadi sudah on ikut mendengarkan mereka ngobrol. Jika di dekat Alya Si Jun emang suka bangun.


"Iiih malu Mas, ada Pak Arlan" ucap Alya menarik tanganya. Kenapa Ardi selalu mengarahkan setiap pembahasan ke situ.


"Ya abis kamu gitu. Cemburuan terus udah tau si Jun maunya kamu, masih cemburu aja!"


"Udah stop bahas itu!"


"Hmmm"


"Mas, kalau anak Mba Intan kan TEF, bukan TF. TF bisa aja Tito Fans Mas! Atau Tito Fitri? Iya nggak sih?" celetuk Alya berfikir.


"Uhuk.. uhuk" Pak Arlan yang sedang menyetir mobil terbatuk mendengar perkataan Alya.


Ardi dan Alya terdiam. Mereka baru sadar, kan Pak Arlan yang membawa Fitri ke Ardi. Kalau Fitri orang jahat berarti Pak Arlan juga kena.


"Kok kamu bisa nebak gitu sih Yang?"


"Ya semenjak baca teroran itu Alya selalu berfikiri siapa TF mas?"


"Maaf Tuan Nyonya. Saya rasa Fitri bukan seperti itu, dia juga bukan berasal dari Jakarta, Fitri nggak kenal Tuan Tito, Nyonya, saya bisa pastikan itu" jawab Pak Arlan membela Fitri.


"Maaf Pak, kita hanya menebak" jawab Alya merasa tidak enak.


"Pak Arlan, apa Fitri punya kerabat di Jakarta yang sedang sakit?" tanya Ardi menelisik mencari kebenaran alasan Fitri hari kemarin tidak berangkat.


"Punya Tuan" jawab Pak Arlan.


"Boleh tau alamatnya dan namanya"


"Boleh Tuan, nanti saya catatkan"


"Antar saya ke melihatnya Pak"


"Baik Tuan"


"Untuk apa Mas?" tanya Alya nimbrung.


"Memastikan apa yang dibicarakan dia benar, kenapa dia ijin hari kemarin" jawab Ardi


"Oh, jadi Mas juga curiga ke Fitri?"


"Memastikan kan nggak ada salahnya. Iya nggak Pak?" tanya Ardi ke Pak Arlan


"Iya Tuan"

__ADS_1


"Jangan tersinggung ya Pak, saya hanya ingin buktikan Fitri jujur" turur Ardi


"Saya mengerti Tuan. Nanti saya antar".


"Siip Pak"


"Emang Mas nggak kerja?" tanya Lian.


"Bisa diatur"


"Hemmm"


"Ingat pesan Mas ya, kerja yang bener nggak usah pergi tanpa Mas" tutur Ardi menasehati.


"Iya, kita USG sama Dokter Siska, apa di rumah sakit Kak Gery Mas?"


"Rumah Sakit Gery aja sekalian jenguk Gery dan yang lain" ucap Ardi berniat menjenguk anak buahnya dan kawanya.


"Berarti pulang kerja ya!"


"Ya nanti mas jemput" jawab Ardi.


"Baiklah"


Tidak begitu lama mereka sampai di rumah sakit tempat Alya magang. Pak Arlan mengemudi sampai ke depan IGD.


Alya turun mencium tangan suaminya, dan Ardi mencium kening istrinya sebagai bentuk pamitan. Setelah itu Alya melambaikan tanganya menunggu mobil suaminya hilang dari pandangan.


Lalu Alya masuk ke ruangannya mengganti gamisnya dengan pakaia scriub ruangan dan memakai jas putih kebanggaanya.


Alya bersiap bergabung dengan tim IGD. Dengan segala perlengkapan perangnya bersiap menjadi pendekar penyelamat.


****


Istana Tuan Aryo.


Karena para suami dan anaknya pergi, dua perempuan paruh baya itu menikmati waktunya bercengkerama di rumah. Merawat tanaman hias koleksi Bu Rita.


Menyiram dengan air, memberinya pupuk, menggunting ranting dan daun yang mulai menguning, mengganti media tanam dan memberinya pupuk. Itulah kegiatan rutin Bu Rita.


Tidak heran semuan tanamanya tampak sehat dan menawan. Selain anugerah Tuhan, semua karena sentuhan tangan dingin Bu Rita.


"Kamu nggak berubah ya Jeng, masih suka bunga" puji Bu Mirna.


"Iya. Kamu juga to? Di rumahmu banyak tanaman"


"Iya, untuk sampai berbunga butuh berapa lama anggrek bula ini Jeng?" tanya Bu Mirna menyentuh Anggrek Bulan warna kuning totol merah


"Lama itu, tapi kalau udah bunga juga tahan lama, mekar bisa 2 bulanan" jawab Bu Rita.


"Cantik ya"


"Tidak usah. Aku nanem cabe aja sama terong"


"Ah kamu ini nanem bunga kan juga bikin seneng"


"Nggak bisa rawat bunga mahal aku"


Kedua besan itu tampak akrah mengobrol. Setelah selesai mereka duduk di gazebo menikmat teha hangat.


"oh ya Jeng, kamu nggak pernah cerita, apa boleh aku tau siapa dan seperti apa mendiang kakek calon cucuku nanti?" tanya Bu Rita tiba-tiba ingin tahu kehidupan besanya.


Bu Mirna terdiam, pernikahanya dengan Tuan Satria ayah Alya, memang sedikit orang yang tahu, termasuk sahabatnya ini.


"Maaf kalau aku menyinggungmu, kalau kau tidak mau cerita aku tidak memaksamu Jeng" tutur Bu Rita melihat Bu Mirna terdiam.


"Akan aku ceritakan Jeng" jawab Bu Mirna.


"Bapak Alya bernama Satria. Dia meninggal di usia Alya yang masih 7 tahun"


"Nama yang bagus. Kalau cucu kita laki-laki berinama itu saja" sambung Bu Rita.


"Ah biarlah Nak Ardi yang memberi nama anaknya sendiri Jeng, kalau minta tolong ke kita, baru kita kasih" jawab Bu Mirna.


"Iya sih, anakku itu pasti tidak mau menerima saranku, oh iya apa Ardi dan Alya udah diajak ke makam suamimu?"


"Pernah, 3 hari setelah akad, putramu mengunjungiku, dan merenovasi gubukku, aku berterimakasih padamu Jeng. Kamu sudah melahirkan anak yang begitu baik dan berbakti padaku"


"Tidak perlu begitu. Ardi kan merenovasi rumahmu buat dirinya sendiri. Dia sudah mengambil anakmu dari mu. Aku juga berterima kasih kau memberikanku menantu yang begitu manis dan lembut"


"Benarkah Alya lembut? Dia sangat manja dan kekanakan seperti bapaknya" tanya Bu Mirna sambil mengenang kenakalan Alya kecil.


"Ardiku juga sangat keras kepala dan posesif seperti ayahnya hehe. Kalau boleh tau kakek cucuku orang mana? Seperti apa dia?" sambung Bu Rita lagi.


"Dia orang sini Jeng. Dia asli Jakarta" jawab Bu Mirna.


"Oh iya?"


"Iya, kakek Alya punya perusahaan garmen di daerah kota x, tapi pernikahan kami tidak direstui sehingga kami kabur ke kampung, dan keluar dari keluarga itu"


"Garmen kota x? Siapa namanya? Apa nama perusahaanya, suamiku banyak rekan di daerah situ, siapa tahu kenal"


"Sudahlah tidak usah diingat, itu kenanagan buruk"


"Tapi kamu bisa kan menemuinya? Mereka kan saudara Alya dan saudara cucuku Jeng, mereka berhak bertemu"


"Mendiang suamiku berpesan agar kami tidak mendekati mereka"


"Oh begitu? Baiklah, kalau itu pesenya, jangan dilanggar!" tanya Bu Rita mengangguk.


"Aku titip Alya dan anaknya ya" tutur Bu Mirna merendah.

__ADS_1


"Kok titip? Alya itu anakku tanggung jawabku juga! Dia perempuan yang dicintai putraku. Putraku menjaganya dengan segenap hatinya. Kamu tidak lihat bagaiman Ardiku mencintainya? Anak Alya juga darah dagingku. Aku menyayanginya dengan hidupku" jawab Bu Rita panjang.


"Iya, terima kasih kalian mencintai putriku dengan baik"


"Aku yang berterima kasih Jeng. Putrimu mmebuat anakku bahagia. Membuat keluargaku hangat"


"Syukurlah..."


Kedua perempuan itu berebut terima kasih. Lalu mereka menyeruput teh yang tersaji.


"Abis ini kita ke Panti ya!" ajak Bu Rita.


"Iya" jawab Bu Mirna ikut saja.


*****


Di dalam rumah


Jam dinding di tembok menunjuk pada pukul 11 siang. Hampir semua pekerjaan rumah di istana itu selesai. Waktu itu adalah waktu emas para pekerja meluruskan kaki dan bercengkerama.


"Denger-denger semalam Non Alya hampir jatuh terpeleset di tangga" tutur Ida memulai.


"Untung Non Alya selamat ya" jawab Mia.


"Iya Alhamdulillah, Non Alya baik banget ke kita, aku nggak tega kalau sampai dia celaka, semoga bayi dan dirinya selalu dilindungi sama Alloh" tutur Tina.


"Aku nggak sabar buat ngasuk Tuan kecil dari mereka, pasti lucu" sambung Ida.


"Iya, tapi perut Non Alya belum keliatan, masih harus bersabar kitq" jawab Ati.


"Eh tau nggak? Yang pagi-pagi kemarin Non Alya obrak abrik sampah? Aneh nggak sih?" tanya Tina


"Iya tau. Non Alya nyari kaya potongan kertas gitu" jawab Ida.


"Itu tuh, ternyata ada yang neror Tuan besar. Makanya Tuan Aryo tadi pagi kumpulan kita dan berkata begitu" jawab Ati.


"Jahat banget ya yang neror keluarga ini dan mau jahatin. Padahal kan mereka baik" sahut Tina


"Pantes Tuan besar sekarang buat aturan, kalau menyajikan makanan apapun, harus mencicipi dulu" jawab Ida lagi.


"Iya kah? Saya sih percaya sama Pak Yang" jawab Mia.


"Kita juga semua percaya yang kerja di sini orang baik. Eh tapi apa iya di antara kita ada yang mau jahat sama Non Alya?" sambung Ida.


"Nggak lah" jawab Ati.


"Siapa tahu si anak baru itu?" ucap Mia bermaksud menyinggung Fitri.


"Tapi dia baik kok dia penurut juga" sanggah Ati.


"Ah entahlah. Yang penting kita juga harus lindungi Non Alya" jawab Mia lagi.


"Iya setuju. Kalau yang jahatin Non Alya ketemu sama aku, aku kepreett" sahut Ida.


Mereka kemudian berhenti bergosip saat Fitri dan Bu Siti datang setelah membersihkan kamar mandi dan taman. Fitri memang belum dekat dengan teman kerjanya, karena Fitri mempunyai tugas berbeda.


*****


Rumah Tahanan.


Setelah pemberitaan tentang Tito dan Ardi Gunawijaya mereda. Lila berani keluar dari kandang persembunyianya.


Dengan menggunakan masker dan hoody warna abu, Lila pergi menjenguk kakaknya yang mendekam di tempat tinggal ekskusif. Tempat yang hanya di tempati orang-orang hebat yang tidak takut Tuhan dan mati rasa.


"Kakak, sudah berakhir Lila. Kalian tidah usah repot-repot sewa pengacara untuk bantu Kakak. Hukuman mati lebih baik buat kakak dari pada harus menanggung malu dan kekalahan" tutur Tito depresi dan frustasi


"Kakak nggak boleh gitu. Kita belum berakhir Kak, Lila dan Papah masih akan terus berjuang" ucap Lila menyemangati.


"Apa yang harus diperjuangkn Lila?"


"Jangan mati sebelum melihat keluarga Gunawijaya hancur Kak"


"Bagaimana caranya kita menghancurkanya? Sementara kita sudah tidak berdaya"


"Apa kakak ingat Ciko?"


"Ingat, Ciko anaknya Vicky? Kenapa dia?"


"Dia datang nemuin Lila. Saudara Ciko yang hilang ternyata selama ini di tampung Si Aryo itu. Dia kerja di rumah besar itu. Dia bisa jadi jalan buat kita" tutur Lila memberi harapan ke Tito.


"Benarkah?"


"Lila sedang susun rencana. 1 minggu lagi mereka akan punya acara. Jangan menyerah Kak. Lila akan berusaha agar kakak tidak dihukum mati. Bertahanlah"


"Baiklah. Aku tunggu kabar itu"


Ucap Tito menggenggam tangan adiknya.


"Lila akan habisi mereka dengan tangan Lila Kak"


"Berhati-hatilah" ucap Tito memberi pesan jahat ke adiknya.


"Iya" jawab Lila balas menggenggam tangan Kakaknya.


Di belakang merela sipir penjara berdiri dan memberi peringatan.


"Waktu besuk habis Nona! Silahkan keluar Nona" ucap sipir.


Mau tidak mau Tito dan Lila harus berpisah lagi.


"Ya Pak" jawab Lila kesal ke sipir penjara. Lalu Lila pergi meninggalkan kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2