
"Shit! Bajuku kotor dan bau" umpat Ardi menyadari kemeja mahalnya kotor.
"Salah sendiri" gerutu Alya yang sedang merapihkan ember dan alat pel.
"Tanggung jawab!" bentak Ardi ke Alya.
"Enak aja! Di sini aku yang dirugikan!" jawab Alya.
"Dirugikan bagaimana? Bajuku kotor, aku jadi terlambat ke kantor, kamu masih bilang kamu yang dirugikan?"
"Ya iyalah. Lenganku sakit, aku harus ngepel lagi"
"Kamu tau keterlambatanku itu bernilai milyaran!"
"Sombong sekali!"
"Jam 08.00 seharusnya aku ada meeting, tapi ak masih di sini!" jawab Ardi melirik jam rolexnya menunjukan pukul setengah delapan.
"Ya udah sana kamu pergi" jawab Alya.
"Nggak mungkinlah aku pergi dengan baju bau dan kotor begini" jawab Ardi.
"Katanya orang kaya, belilah di...." omongan Alya terputus.
"Kamu benar-benar ya? Tidak tahu diri. Kamu haru tanggung jawab!" bentak Ardi menghentikan omongan Alya.
"Tanggung jawab gimana? Kamu yang salah!" jawab Alya membantah.
"Cuci bajuku! Belikan aku baju baru!" jawab Ardi mulai membuka kancing baju Ardi.
"Stop! Jangan dibuka!" teriak Alya kaget Ardi hendak membuka baju.
"Aku pakai kaos dalam, nggak usah lebay. Keluarlah carikan aku kemeja!"
"Aku harus cari dimana?" tanya Alya.
"Terserah kamu. Aku nggak mau tau!"
"Ya sudah aku mandi dulu" jawab Alya.
"Ya cepat mandi, bau sekali kamu ini!"
"Ishhhh" Alya tidak terima diejek lalu membuktikan dengan mencium keteknya sendiri, ternyata memang bau.
"Pakai deodoran" timpal Ardi melihat Alya mencium keteknya.
"Aku kan emang abis kringetan. Wajarlah bau!" jawab Alya membela diri.
Alya pergi ke kamar mengambil pakaiandan petalatan mandi. Lalu Ardi mengambil ponsel dan menghubungi asistennya.
"Din, Cancel jadwal meetingku" ucap Ardi.
"Maaf Tuan, Tuan Aryo sudah berangkat mengambil alih tugas Tuan Ardi?" jawab Dino
"Apa? Papah yang berangkat?" jawab Ardi kaget.
"Iya Tuan"
"Apa dia menanyakanku?"
"Tidak Tuan, beliau sendiri yang mengatakan kalau meeting pagi Tuan Ardi terlambat"
"Dia marah nggak?"
"Tidak Tuan"
"Oke".
Ardi menutup telepon selulernga lalu menggerakan matanya tampak berfikir. "Papah tau gue telat? Papa gantiin aku? Ah syukurlah aku tidak perlu tergesa-gesa. Lalu Ardi tersenyum.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Alya membawa handuk dan pakaian menuju ke kamar mandi dapur.
__ADS_1
"Kepo" jawab Ardi datar
"Issshhh, katanya telat dan rugi milyaran, bahkan kamu tidak panik dan bersedih"
"Terserah akulah!"
"Paling juga bohong" jawab Alya berlalu.
"Aku nggak bohong. Aku tersenyum karena papah udah berangkat gantiin aku!" teriak Ardi melihat Alya masuk ke kamar mandi.
Lalu Ardi melepas kemeja, dasi dan celananya. Kini Ardi hanya memakai kaos singlet dan celana boxer. Dada bidang Ardi sedikit terekspos. Meski tetap terlihat gagah dan keren. Aura dingin dan kejamnya kini lenyap. Ardi berubah tampilan menjadi santai.
Sambil menunggu Alya mandi Ardi merebahkan tubuhnya di sofa dan mendengarkan acara berita di televisi. 30 menit berlalu Alya keluar kamar mandi, memakai gamis berwarna dongker dan jilbab berwarna Abu. Wajah Alya tampak bersih dan segar meski belum bermake_up. Melihat perubahan penampilan Alya Ardi kaget.
"Hahahaha, kenapa kamu menutup tubuhmu pakai pakaian itu?" tanya Ardi mengejek.
"Terserah akulah" jawab Alya cemberut.
"Bahkan aku sudah melihatmu, rambutmu" jawab Ardi lagi.
"Itu kan salahmu, masuk tanpa pencet Bel"
"Munafik sekali, sok sokan pake kerudung" ejek Ardi lagi.
Lalu Alya menelan salivanya menahan kesal mendengar omongan Ardi.
"Oke siang ini aku akan cari kos-kosan! dan secepatnya aku kemasi barangku!" jawab Alya marah.
"Galak amat" jawab Ardi lagi. "Kenapa gadis ini terlihat keibuan dan anggun sekali? Apa dia perempuan yang Farid ceritakan?" gumam Ardi berfikir.
"Mana uangnya! katanya suruh beli kemeja" bentak Alya membuyarkan lamunan Ardi.
"Apa kamu menemukan dompetku?"
"Tentu saja. Dasar ceroboh!" jawab Alya.
"Ambilkan dompetku" perintah Ardi.
"Punya kaki, ambil aja sendiri" jawab Alya.
"Gak Mau!"
"Ambilkan!" Perintah Ardi sekali lagi dan berdiri mendekat ke Alya yang sedang memegang handuk.
Alya menelan salivanya, tiba-tibanya dadanya dheg-dhean melihat Ardi berdiri mendekat.
"Ambilkan nggak!" perintah Ardi menatap lekat wajah Alya semakin dekat.
Alya menundukan kepalanya menghindari wajah Ardi. "Iya ya!" jawal Alya, lalu beranjak ke kamar. Ardi tersenyum melihat Alya ketakutan.
"Huuufft, kenapa aku jadi dheg-dhegan begini sih, dia jauh berbeda dengan Kak Farid tapi kenapa aku lebih dheg-dhegan" Alya duduk sebentar di kasur mengatur nafasnya yang dheg-dhegan.
"Sepertinya aku memang harus cari kos-kosan, tapi apa Tante Rita mengijinkan?"
"Lama sekali!" bentak Ardi menyusul Alya ke kamar. Alya yang duduk melamun langsung kaget dan menoleh ke Ardi.
"Kenapa nggak ambil sendiri sih, tuh kamu bisa jalan kesini" gerutu Alya.
"Itung - itung balas budimu aku beri tumpangan kamu di sini" jawab Ardi.
"Secepatnya aku pergi dari sini".
"Kenapa?" jawab Ardi setengah ingin berkata jangan.
"Daripada harus berhutang budi denganmu"
"Nyatanya kan kamu sudah tinggal di sini. Sini dompetku!" jawab Ardi mengalihkan pembicaraan.
"Nih" Alya melemparkan dompet ke Ardi yang duduk di pojok kasur berseberangan dengan Alya. Alya dipojok timur laut, Ardi dipojok barat daya.
"Lain kali jangan ceroboh" ucap Alya mengingatkan.
__ADS_1
Ardi mengambil dompetnya dan membukanya, Ardi memberikan 10 lembar uang seratus ribuan
"Belikan aku kemeja dan celana. Tidak jauh dari sini ada swalayan, di pojok pertigaan jalan"
"Iya aku tau!" jawab Alya.
"Ya sudah sana berangkat"
"Masih terlalu pagi, bukanya jam 9. Aku mau sarapan dulu" jawab Alya lalu berdiri dan berjalan ke dapur. Ardipun mengikutinya.
"Kamu tidak mengajakku sarapan?" tanya Ardi.
"Bukanya di rumah Mama Rita banyak sekali makanan? " tanya Alya sambil jalan.
"Aku bahkan pergi ke sini pagi-pagi sekali. Apa kamu tidak tahu? atau kasian padaku?" tanya Ardi.
"Hmmmm" jawab Alya cuek lalu duduk di meja makan.
Sementara Ardi hanya berdiri mengekori Alya. Wajah galak dan berwibanya Ardi hilang.
"Kenapa berdiri katanya mau makan? Duduklah" ucap Alya merasa tidak nyaman makan ditunggui.
Lalu Ardi duduk berhadapan dengan Alya.
"Aku ambikan piring sebentar" Alya berdiri mengambil piring. Karena Alya sendirian Alya hanya menyiapkan satu piring. Alyapun menyiapkan piring makan beserta nasinya ke depan Ardi. Lalu membuka tudung saji dan mempersilahkan Ardi makan.
"Nggak boleh protes" ucap Alya.
"Hemmm" jawab Ardi. Lalu mengambil udang. "sayur apa ini?" tanya Ardi.
"Doyan dimakan nggak doyan ya udah, nggak usah banyak tanya" jawab Alya ketus.
Karena penasaran Ardi mengambil tumis kangkung. Mereka pun mulai menikmati sarapan bersama.
"Enak juga masakan dia?" gumam Ardi melirik ke Alya.
"Kenapa liat-liat?" tanya Alya yang sadar dilirik sama Ardi.
"Sial dia melihatku menatapnya" gumam Ardi.
"Apa ini masakanmu?" tanya Ardi.
"Tentu saja! Sudah kubilang jangan protes, doyan dimakan gak doyan ya udah" jawab Alya ketus.
Ardipun mati kutu tidak menjawab Alya lagi, lalu melanjutkan makanya.
"Aku haus, kenapa tidak kau sediakan gelas" tanya Ardi.
"Aku kan bukan pelayanmu, ambil aja sendiri!"
"Hemmmm" Ardi berdehem memundurkan kursinya dan bangkit.
"Eits tunggu"
"Apa?" tanya Ardi.
"Tuh piringnya sekalian dicuci!"
"Enak aja, kamulah yang cuci"
"Udah dikasih makan juga, ingat ya, aku bukan pelayanmu! Cuci nggak?" Alya menatap galak ke Ardi.
"Aku nggak bisa cuci piring" jawab Ardi mencari alasan.
"Ya udah aku ajari!" jawab Alya tidak mau kalah.
"Iya...ya, gue mau minum dulu".
"Nih perhatikan!" ucap Alya memegang piring kotor di wastafel. "Bersihkan dulu sisa kotoran ke tempat sampah, siram air dikit, terus bersihkan pakai sabun, bilas! selesai, mengerti?" tanya Alya.
Ardi mengangguk "Ya"
__ADS_1
"Siit Siit" suara tangan Alya menyentuh piring "Kalau kesat begini artinya sudah bersih".
"Yaya" jawab Ardi. Lalu Ardi mencuci piringnya sendiri untuk pertama kali.