
Pagi memang selalu menyimpan daya pikatnya. Deruan motor bersahut-sahutan menjadi senandung pagi ibu kota, senandung candu bagi para manusia. Tapi juga menjadi sesuatu yang dibenci kedatanganya.
Begitu juga Alya, satu minggu di Jakarta memaksa dia memahami suasana kota. Pagi di desa yang terasa sejuk, kini berubah rona menjadi pagi yang selalu padat dan ramai. Tapi tetap dinantikan kedatanganya. Alya menikmati perjalanan macetnya menuju rumah sakit tempatnya menunaikan tugasnya.
"Hai Al" sapa Anya di depan gerbang rumah sakit.
"Pagi Anya" jawab Alya ke Anya. Mereka bersalaman lalu berjalan bersama.
"Al gue mau tanya sama Luh" tanya Anya ragu-ragu.
"Tanya aja, kenapa?" ucap Alya menatap sahabatnya.
"Hem nggak jadi deh!"
"Ishhh nyebelin banget siih!"
"Lo dah siap buat presentasi nanti?" lanjut Anya bertanya.
"Siap dong Nya? jawab Alya percaya diri.
"Lo nggak takut?" tanya Anya lagi.
"Kok kamu tanyanya gitu sih? Kita kan sampai sini sudah menempuh pendidikan luama. Udah wisuda juga. Presentasi bukan hal yang baru kan? Biasa aja lah, kita hadapi dengan senyuman" jawab Alya lebih percaya diri.
"Bukan itu maksud gue"
"Terus? "
"Dokter pengujinya itu kan Dokter Mira, dari kemarin nyariin elu" jawab Anya bercerita.
"Hah? Nyarin aku?" tanya Alya heran dirinya dicari dokter senior? Untuk apa?
"Iyaa"
"Emang Dokter Mira yang orangnya kaya apa sih?" tanya Alya benar-benar tidak mengerti.
"Emang kamu nggak kenal?"
"Yaa kan kamu tau, kita masuk ke rumah sakit ini untuk pertama kali di waktu yang sama di hari sama, kerja juga di ruang yang sama, yang aku kenal ya cuma kalian dan teman-teman ruang bayi" jawab Alya panjang kali lebar.
"Masa? Yang kamu kenal cuma kita?" tanya Anya nggak percaya dengan tatapan penuh curiga.
Alya menelan ludah, ditatap Anya penuh selidik.
"Kenapa liatnya kek gitu sih?" tanya Alya salah tingkah.
"Nggak mungkin dong, Dokter Mira nyariin kamu kalau nggak ada apa-apa" jawab Anya menyindir.
"Aku beneran nggak tau! Astaghfirulloh" jawab Alya kesal. Alya benar-benar tidak tahu, sudah dijelasin tapi Anya tetap curiga.
Anya diam tidak menanggapi lagi, menggerak-gerakan bibir ke salah satu sisi dan berdecak tidak percaya.
Mereka masuk ke aula. Tempat presentasi sudah siap, beberapa dokter magang yang lain juga sudah berkumpul. Alya memilih duduk dipojok belakang bersama Anya dan Dinda. Setelah beberapa saat menunggu, semua peserta sudah datang termasuk dokter senior yang akan menguji. Siapa lagi kalau bukan dokter spesialis muda.
Mata Alya terbelalak melihat pria bersneli duduk di meja penguji.
"Hah dokter gila itu jadi penguji? Mampuslah aku?" Lalu Alya menundukan kepala berharap tidak beradu pandang dengan dr. Gery.
Karena peserta presentasi sedikit dan Aula yang besar, sangat mudah dr. Gery menemukan Alya. Dokter Gery menatap Alya dengan kerinduan. Berfikir dan ingin memastikan apa Alya sudah benar-benar sehat?
"Al " panggil Anya menyenggol siku Alya.
"Apa?" jawab Alya berbisik.
"Tuh Dokter Mira"ucap Anya memberitahu siapa Dokter Mira. Alyapun mengangkat wajahnya melihat dokter cantik yang baru datang. Sangat cantik seperti model, duduk di kursi dekat dengan Dokter Gery.
"Cantik banget ya Nya. Kaya model, badanya tinggi. Hidungnya kaya prosotan, dia blesteran ya?" tanya Alya menggunjing seniornya di depan.
"Mana aku tau, dia nyariin kamu kemarin" jawab Anya bercerita.
__ADS_1
"Masa? Dia nyariin aku?" tanya Alya masih tidak mengerti
"Dokter Gery juga ganteng banget. Dia kok kaya ngliatin ke arah kita terus sih? Jujur sama gue deh Al, lo ada hubungan apa?" bisik Anya.
Alya pun menoleh ke Dokter Gery. Benar saja Gery sedang memperhatikan Alya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Alya dan Gery pun beradu pandang. Lalu Alya kembali menundukan pandangan.
"Maksudmu apa sih Nyaa?" bisik Alya lagi.
"Ya Alloh, Dokter Gila itu kenapa menatapku begitu? Anya kan jadi salah paham" gumam Alya mengalihkan pandangan.
Presentasi pun dimulai. Semua tampak antusias mendengarkan. Sang Penguji pun antusias memberikan masukan dan ilmu baru ke rekan juniornya. Termasuk dokter Gery yang sudah menempuh pendidikan spesialis, dr. Gery menjelaskan secara detail dan rinci setiap ada kekurangan pada juniornya.
Alya ikut mendengarkan pelajaran dari Dokter Gery dengan takjub. Meskipun sedikit gila ternyata di luar dia pintar dan keren. Alya mendapatkan banyak ilmu dari penjelasan Dokter Gery.
Kelompok Alya mendapat giliran no 4, jam dinding menunjukan pukul 09.35. Kelompok 3 masih menjelaskan materinya. Dokter Gery tampak gelisah dan tidak fokus. Dia mengetuk-ngetuk buku sesekali menatap Alya. Dokter Gery membaca pesan di ponselnya. Dokter Gery tampak membalas pesan dari seseorang, lalu bangkit meninggalkan ruang presentasi dengan raut kecewa entah kenapa.
"Dokter Gila itu pergi, syukurlah" ucap Alya mengelus dada.
Setelah sesi tanya jawab kelompok 3, sekarang giliran kelompok Alya. Alya maju dengan percaya diri, mempresentasikan pasien kelolaanya dengan baik dan tegas. Teman-teman Alya memperhatikan dengan antusias.
Selesai materi Alya melakukan sesi tanya jawab. Alya menjawab pertanyaan teman-temanya dengan sangat baik. Tiba-tiba Dokter Mira mengangkat tangan.
"Dokter Alya"
"Iya Dokter Mira. Silahkan"
"Anda mempresentasikan pasien ini dengan sangat baik, tapi bukankah saya dengar anda tidak masuk kerja selama 5 hari, saya dengar anda dirawat 2 hari dan ijin 3 hari, sementara pasien ini baru selesai dirawat 1 hari lalu, benar?" tanya dr. Mira membuat peserta presentasi terbelalak.
Alya menelan ludah, lalu melirik ke kedua temanya. "Benar Dokter?" jawab Alya berusaha tenang.
"Lalu? Siapa yang melakukan pengkajian pasien setiap jaganya" tanya dr. Mira sinis
"Bukankah ini pekerjaan kelompok Dokter, teman-temn saya yang melakukannya?" jawab Dokter Alya membela diri.
"Tetap saja, ada waktu dimana pengkajian dan tindakan itu banyak yang tidak kalian lakukan, itu berarti kamu tidak melakukan tindakan medis seperti yang kamu sampaikan sepenuhnya" jawab dr. Mira menuduh.
Alya berkeringat di depan tidak bisa menjawab.
Alya dan teman kelompoknya memicingkan matanya kaget. "What? Tugas?" pekik Dinda.
"Buat tiga makalah tentang diagnosa penyakit pasien ini, dan cari 3 pasien dengan diagnosa yang sama, bawa laporannya ke ruanganku" Dokter Mira memberikan perintah.
Alya yang sudah pucat di depan mengangguk tanda setuju. "Baik Dok"
"Silahkan duduk" ucap dr. Mira. Alya kembali ke tempat duduknya.
Presentasi hari ini selesai, para peserta meninggalkan ruangan. Beberapa teman Alya memandang iba ke Alya, beberapa lagi memandang sinis.
Alya, Anya dan Dinda ikut pergi meninggalkan aula dengan wajah ditekuk. Mereka memilih ke kantin melepas dahaganya dan melampiaskan kekesalanya.
"Aahh menyebalkan" gerutu Dinda menepuk meja.
"Benar kan ada yang tidak beres dengan Dokter Mira," ucap Anya kesal menatap ke Alya
Alya memilih diam meletakan kepalanya di meja kantin. "Maafkan aku" ucap Alya lirih.
"Bahkan Dokter Mira tidak berperikemanusiaan" timpal Dinda kesal "Juniornya sakit pun jadi masalah"
"Sepertinya dia tidak membiarkan kita istirahat" gerutu Alya.
"Kita sudah bukan mahasiswa lagi, kenapa masih dihukum dengan tugas tugas sih?" Anya mengucap sebal. "Pertanyaanku ada masalah apa kamu sama mereka sih Al? Kenapa menyusahkan begini?"
Alya memandang Anya dengan wajah memelas dan menggelengkan kepalanya. "Aku sungguh tidak tahu, bahkan aku tidak mengenal mereka"
Lalu mereka bertiga menundukan kepala merenungi nasibnya. Tidak disadari di samping Alya duduk laki-laki bersedekap melihat Alya dengan senyum-senyum sendiri.
Anya dan Dinda yang duduk di seberang Alya meneguk salivanya karena kaget. Anya berusaha memberi kode Alya untuk bangun dan menoleh ke samping. Tapi Alya tidak juga mengerti dan masih meletakan kepalanya di meja merutuki nasibnya.
"Ibu, pesan jus mangga 4" ucap Dokter Gery membuat Alya kaget.
__ADS_1
"Kau!" pekik Alya, dr. Gerypun tersenyum.
"Tidak baik bermuka masam begitu pada senior, duduklah yang baik aku akan mentraktir kalian" jawab dr. Gery membuat junior mereka terheran-heran.
"Terima kasih Dok, tapi saya bisa bayar sendiri" jawab Aly hendak bangun. Tapi dr. Gery meraih tanganya meminta Alya duduk kembali.
"Lepas nggak!" bentak dr. Alya melepaskan cengkeraman dr. Gery
"Jangan galak-galak ini tempat umum, malu dilihat orang" jawab dr. Gery memberitahu agar Alya bersikap ramah.
Anya dan Dinda memilih diam melihat adegan di depan matanya itu.
"Dokter Anya, Dokter Dinda, kalian lapar nggak?" tanya dr. Gery ke kedua teman Alya.
"Laper Dok" jawab mereka bersamaan.
"Dengar kan Dokter Alya, kasian kan teman kalian, makanlah dulu pesan makanan yang kalian suka!" ucap dr. Gery tersenyum ke Alya.
"Baik Dook" jawab Anya Dinda sambil memilih menu makan siang. Alya akhirnya menyerah ikut pesan makanan daripada berdebat akan membuat kekacauan di kantin dan membuat mereka malu.
Mereka menikmati santapan makan siang bersama Dokter Gery. Sesekali dr. Gery melirik dan menatap wajah imut Alya. Anya dan Dinda tampak bahagia, tapi Alya tampak bingung dan risih. "Ishhhh, kenapa Dokter Gila ini tiba-tiba baik padaku?" gumam Alya melirik pria di sampingnya.
"Dok... ada jadwal operasi jam 1 siang" Dokter Gery melirik ponsel dan membaca pesan yang masuk. Lalu dia segera bangkit membayar makanan pesenan di kantin lalu pergi meninggalkan ketiga juniornya.
"Ada jadwal operasi, duluan ya, sudah kubayar" Dokter Gery pamit.
"Terima kasih Dok" ucap Anya dan Dinda.
"Gantengnyaa" ucap Dinda menatap kepergian dokter idolanya.
Lalu mereka bertiga pergi bersama meninggalkan kantin menuju ke parkiran.
"Ternyata gosip itu bener ya Al? Aku masih tidak menyangka, bahkan aku ditraktir makan siang" tanya Dinda sambil senyum-senyum sendiri.
"Gosip apa?" tanya Alya kaget.
"Sejak kapan lo jadian sama dr. Gery?" tanya Anya menimpali
"Apa kamu bilang Nyaa? Jadian? Yang benar saja!" jawab Alya tidak mengerti ada gosip menyebar tentang dirinya.
"Kok malah kamu yang kaget sih? Yang kaget itu kita. Jelas-jelas kita lihat sendiri" jawab Dinda yakin kalau gosip itu benar.
"Semua orang tau Al. Kamu tuh pacarnya Dokter Gery, makanya Dokter Mira penasaran sama kamu dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana Dokter Gery menatapmu dan memperlakukanmu, tapi bahkan kamu masih tidak mengakuinya?" gerutu Anya menuduh Alya berbohong.
"Astaghfirulloh. Kapan kamu dengar itu? Siapa yang bilang, bahkan aku tidak tahu menahu?" tanya Alya mengelak karena Alya tidak merasa berpacaran.
"Perawat, pas kamu sakit" jawab Dinda tegas.
"Wahhh kacau itu semua nggak bener, aku bisa jelasin ke kalian" ucap Alya menepuk jidat, membuat kedua temannya heran.
"Sungguh kamu nggak jadian?" tanya Anya mengintimidasi.
Alya mengangguk mengangkat dua tanganya.
"Suer! bahkan nomer hp nya saja aku nggak punya, jadian darimananya?" jawab Alya meyakinkan.
"Kalau permasalahanya ketika aku sakit. Nanti aku ceritain deh ceritanya bagaimana, kenal aja baru, sungguh!" imbuh Alya lagi menekankan mereka baru kenal.
"Sungguh?" tanya Dinda.
"Sungguh Dinda" jawab Alya menekankan kembali.
Anya dan Dinda tersenyum mendengar pengakuan Alya.
"Kok kalian malah senyum-senyum gitu?" tanya Alya menatap heran ke kedua temannya.
"Hehehe berarti masih ada kesempatan buat aku dekatin dia. Yes" ceplos Dinda membuat Alya dan Anya melongo.
"Iiiisssh???" Alya berdecak heran menatap temanya.
__ADS_1
Lalu mereka sepakat pergi ke mall untuk jalan dan melepas kekesalan. Mereka pergi menggunakan mobil Dinda.