Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
261. Astaghfirulloh


__ADS_3

Jika ada pepatah air susu dibalas dengan air tuba. Itu tidak berlaku untuk seorang Ardi Gunawijaya dan istrinya. Mereka penganut paham siapa yang menabur dia yang menuai.


Dan mereka selalu percaya, di dunia ini tidak ada orang jahat tanpa alasan, dan tidak ada orang baik yang luput dari kesalahan. Yang penting adalah menjaga diri agar selalu menjadi orang baik.


Alya selalu berfikir saat dirinya menanamkan kebaikan dengan cinta dan mengharap ridzo Tuhanya, meski bukan dari orang yang sama. Alloh akan menggantinya, melipat gandakan balasan kebaikan padanya. 


Tidak peduli rencana indahnya, tidur seharian dengan nyaman setelah lelah bekerja lembur 17 jam. Saat mendapatkan kabar terjadi sesuatu hal yang menyakitkan pada Mia, mereka tidak pulang ke rumah.


Mereka segera bergegas ke rumah sakit tempat Mia dilarikan. Tanpa menunda tanpa beralasan. Langsung cuss.


“Kabarin papah mamah nggak Mas?” tanya Alya lembut ke suaminya yang sedang menyetir dengan fokus. 


“Nanti saja Sayang, kita pastikan dulu keadaan Mia ya!” jawab Ardi dan menatap ke depan karena Ardi ngebut dan jalanan sepi.


Dari kecil, meski Tuan Aryo selalu berusaha mempekerjakan pengawal untuk melindungi Ardi. Ardi memang tidak suka hidupnya diperlakukan seperti Tuan Muda.


Bahkan Ardi pernah kabur dari rumah saking jengkelnya ke papahnya karena hidupnya di batasi. Tentu saja kaburnya ke Farid dan Gery.


Sampai Ardi sebelum nikahpun sebenarnya Ardi dibuntuti. Tapi seperti janji Tuan Aryo, Tuan Aryo akan membebaskan Ardi jika dia sudah menikah.


Jadi jangan tanya kenapa seorang Ardi Gunawijaya hari itu nyetir sendirian, dan mau tidur di lantai yang sempit menguntit istrinya yang bekerja. 


Buat Ardi mau tidur di manapun pun asal sama Alya, itu membuat Alya bahagia dan menempel padanya, akan dia lakukan. Ya meskipun setelah itu Ardi akan berusaha memaksa Alya dengan banyak peraturan agar tidak melakukanya lagi. 


Ardi memang tidak seperti Tuan Muda pada umumya. Apalagi Alya, jika tidak mengenalnya tidak ada yang menyangka dia istri dari konglongmerat. 


“Emang katanya gimana Mas?” tanya Alya lagi. 


“Mas juga nggak paham Sayang, kata polisi Mia ditemukan tergeletak , lalu dibawa ke rumah sakit” jawab Ardi. 


“Astaghfirulloh, kok bisa? Terus gimana?” 


“Ya kita berdoa semua baik-baik aja dan Mia selamat, yah!” 


“Aamiin, mas waktu nahan dia di markas papah, nggak aniaya dia kan?” tanya Alya khawatir Mia sakit karena suaminya.


“Nggak Sayang, keluarga kita nggak sejahat itu kok! Kita cuma bawa Mia ke tempat yang gelap bau, sempit dan nggak kasih makan minum” jawab Ardi menjelaskan. 


“Hemm ada ya? Hukuman begitu?”


“Udah nggak usah komen, nggak usah kepo! Mau mas kasih liat? Ayok kalau mau survey! Lagian orang dia jahat sama kita juga” 


“Nggak! Nggak! Lian percaya, Lian nggak mau dateng-dateng ke tempat begituan. Lian cuma mau liat suami Lian yang ganteng aja! Hehe” 


“Hu dasar!” jawab Ardi tersenyum dan mengusap kepala Alya. Kebetulan mereka menemui lampu merah.


“Sayang!” panggil Ardi lagi. 


“Kenapa Baba?” tanya Alya dengan nada manjanya.


“Kamu nggak capek ikut Mas, Mas anter pulang aja ya, biar kamu istirahat! Kan abis jaga.” tutur Ardi perhatian ke Alya.


“Nggak, Lian mau ikut Mas aja!” jawab Alya merasa dirinya sehat.


“Kamu nggak ngantuk apa?” 

__ADS_1


“Nggak!” 


“Prinscessnya Baba ngambek nggak nanti, kqn harusnya kamu istirahat?” tanya Ardi mengelus perut Alya yang mulai mengembang.


“Maas, emang udah tau laki atau perempuan? Janganlah dulu dipanggil princess, kalau anak kita laki- laki kasian lho!” tegur Alya tidak terima, Alya ingin anak pertama cowok.


“Tapi mas yakin cewek, Sayang” 


“Tapi kan belum ada yang buktiin perempuan, pamali! Nggak, nanti aja kasih panggilan khususnya kalau udah lahir”


“Yaya, anak Baba, kasian nggak? Ngambek nggak, tuh kalau Bubunya ikut Baba?” 


“Dia manut kok, kedutnya masih teratur. Sehat pinter kok. Iya kan sayangnya ibuk” ucap Alya sambil mengelus perutnyan juga.


Hamil Alya memang tidak merepotkan. Sebenarnya bukan karena Alya tidak ada keluhan. Tapi Alya tau beberapa keluhan fisiologis dan Alya tidak mau mengeluhkan itu. Alya juga tau cara menanganinya.


Lalu Ardi mengelus kepala Alya dengan lembut merasa kagum dengan istrinya. Alya memang setangguh itu menjadi perempuan, meski sering bawel tapi di mandiri.


“Sayang udah nggak kram- kram lagi kaan?” tanya Ardi lagi. 


“Alhamdulillah enggak!” jawab Alya lembut. 


Ardi mengembangkan senyumnya sambil bersiul. “Yes” jawab Ardi menyetir dengan gembira karena lampu sudah menyala hijau.


Alya kemudian menoleh ke Ardi dengan tatapan heran. 


“Kenapa yes?” tanya Alya. 


“Nanti malam libur? Apa kerja lagi?” tanya Ardi. 


“Libur” 


“Ishh” Alya hanya mendesis malu, lalu melempar senyum melihat ke jalanan. 


Dasar Ardi di saat panik begini masih sempat berfikir begitu. Padahal entah apa yang akan terjadi nanti apa mereka sempat tidur berdua dan menjalani malam yang hangat dan indah. Atau akan sebaliknya.


****


45 menit sudah Bu Rita dan Bu Mirna menggerakan tulang- tulang, otot dan sendinya. Mengikuti irama musik dan gerakan yang ditampilkan di video senamnya.


Buliran keringat mengucur deras, membasahi punggung dan bagian tubuh belakang mereka, sampai pakaian yang mereka kenakan basah. Begitu juga kening mereka, basah akan keringat.  Membuang segala racun yang tidak dibutuhkan tubuh.


Bu Mirna pun merasakan tubuhnya seakan ringan dn kencang. Tidurnya sekarang juga semakin nyenyak dan nafasnya menjadi longgar. 


Setelah melakukan teknik pernafasan dan gerakan pendinginan, Bu Rita mematikan videonya. Lalu mereka duduk di gazebo taman, menikmati minuman teh herbal dari bunga telang dan lemon segar. Sementara Tuan Aryo masih aktif berenang. 


“Alya dan Ardi kok ndak keliatan ya?” tanya Bu Mirna. 


“Ardi ikut Alya kerja” jawab Bu Rita. 


“Maksudnya?” 


“Ya Ardi, ikut nginep di rumah sakit” 


“Oalah, lha orang kerja kok ditungguin?” tanya Bu Mirna merasa Ardi kurang kerjaan.

__ADS_1


“Ya begitulah anakku! Kalau nggak ribut ya gitu”  


"Maaf ya kalau mereka di sini sering ribut. Anakku memang kekanakan. Kalau memang Ardi ingin Alya nggak kerja aku akan bicarakan pelan-pelan"


“Sudah biarkan saja mereka yang putuskan sendiri. Ardi dan Alya memang begitu. Tapi nanti baik lagi kok!”


"Syukurlah!"


"Oh iya. Aku kok kepikiran pembantuku. Aku tidak bisa memaafkanya. Tapi kenapa aku kepikiran untuk menemuinya di penjara ya?"


"Temuilah dan maafkan dia. Toh dia sudah dihukum. Bencimu hanya akan menyesakan dadamu. Lepaskan dan ikhlaskan. Toh Alloh udah selamatin anak dan cucu kita. Meski nggak sengaja yang makan Pak Adi. Ingat itu rencana Alloh" tutur Bu Mirna menasehati.


"Kalau gitu nanti temani aku ya!"


“Ya. Ya sudah saya tak mandi dulu ya Jeng” tutur Bu Mirna pamitan. 


“Ya” jawab Bu Rita. 


Dua besan itu seperti saudaraan, kakak adik. Bu Mirna masuk ke kamarnya sementara Bu Rita mendekati suaminya.


Bu Rita menyapa suaminya dengan hangat, menjadi goal couple. Meski sudah tua cinta mereka selalu terjaga, Bu Rita kemudian ikut berenang dan bermain air dengan Tuan Aryo. 


Bahkan tidak segan mereka bermesraan, ya seperti itulah mereka berdua, usia tidak menyurutkan cinta mereka. Itu juga yang mereka inginkan pada Ardi dan Alya. Menjaga rumah tangganya tetap awet dan harmonis sampai jannahNya. 


Dari atas kamar, saat Bu Mirna membuka tirai. Bu Mirna pun melihat saat Tuan Aryo memeluk Bu Rita di pinggir kolam. Bu Mirna tersenyum tenang. 


“Alhamdulillah anakku di tempatkan di lingkungan keluarga yang harmonis, semoga cucu- cucuku akan hidup dan tumbuh dengan baik, penuh cinta dan bahagia” batinya.


Bu Mirna kemudian melihat kalender, waktu resepsi tinggal beberapa hari lagi. Itu artinya Bu Mirna harus segera menentukan, tinggal di panti atau pulang ke Jogja.


Bu Mirna tidak mau menjadi benalu di keluarga besanya yang hanya numpang makan dan tidur. Bu Mirna merasa harus melakukan sesuatu, dan melakukan aktivitas yang mandiri dan berharga. 


Setelah merasa cukup, Bu Rita dan Tuan Aryo menyudahi renangnya. Mereka berdua segera mandi, Tuan Aryo bersiap ke kantor. 


Setelah mereka siap mereka berkumpul bersama untuk menyatap sarapan. Pak Yang sudah kembali dari cutinya, kini mereka sudah makan dengan leluasa lagi. 


Saat mereka sedang menyantap makanan. Telepon berbunyi keras. Tuan Aryo bangun dan mengangkat teleponya. 


“Halo” jawab Tuan Aryo. 


“Kok nggak telepon ke nomer hp, malah ke sini teleponya Nak? Ada apa?” 


“Oh ya, papah baru selesai mandi” 


“Innalillahi, ya Papah segera kesana!” jawab Tuan Aryo mengakhiri telepon. 


Bu Rita dan Bu Mirna yang hanya mendengar perkataan Tuan Aryo langsung menoleh. 


“Ada apa Pah?” tanya Bu Rita khawatir.


“Mia Mah!” 


“Mia kenapa lagi?” 


“Baru saja, Mia menghembuskan nafas terakhirnya” 

__ADS_1


“Astaghfirulloh, innalillahi” 


Bu Mirna dan Bu Rita langsung syok. Dan melemas, apalagi Bu Rita, Bu Rita belum sempat bertemu dengan Mia. 


__ADS_2