
Karena berfikir istrinya sudah kelelahan dan ingin segera pulang. Ardi mengajak Faisal segera turun, begitu juga ke Alya. Ardi mengulurkan tanganya mengajak Alya bangun dan pulang.
Kalau biasanya Alya menyambut tangan Ardi dengan senyum cantiknya. Hari ini Alya bangun meraih tasnya dan berjalan mendahului Ardi tanpa kata.
Ardi melipat tanganya lagi, rasanya sakit diacuhkan istrinya. Ardi kemudian diam sejenak , mengulum bibirnya dan memperhatikan istrinya yang bentuk tubuhnya mulai mengembang.
“Gue salah apa ya? Begitukah emosi orang hamil? Tadi sangat manja, kenapa sekarang begitu? Hah sudahlah, yang penting kamu baik- baik aja Sayangku” batin Ardi lalu menyusul istrinya turun.
Alya berjalan cepat dan langsung masuk mobil. Sementara Faisal merasa orang asing, memilih mengekori Ardi.
“Ini buat adek- adekmu ya!” tutur Ardi memberikan bungkusan makanan.
“Terima kasih Tuan" jawab Faisal menerima.
"Aku yang terima kasih, kamu memberiku kesempatan melakukan ini, setelah ini ikut aku ya!” tutur Ardi sambil jalan menuju ke mobil.
Setelah sampai di mobil Alya sudah duduk menatap ke jendela, Alya juga mengenakan alat pendengar musik di telinganya, itu di luar kebiasaan Alya. Karena kebiasaan Alya di mobil adalah tidur.
“Yang!” panggil Ardi ke Alya sambil menyentuh keningnya dikira sakit.
“Apa sih?” ucap Alya cemberut menepis tangan suaminya.
“Kamu sakit?” tanya Ardi
“Nggak?” jawab Alya ketus, dalam hati, iya sakit, sakit hati.
“Kalau sakit, kasih hadiahnya besok aja, sekarang langsung ke rumah?” tanya Ardi lagi.
“Nggak usah ditunda- tunda! Sekarang aja!” jawab Alya keras.
“Hmmm galak banget sih Yang! Kok ngomong sama suami gitu?” ucap Ardi merasa tersinggung karena Alya ketus, ditambah ada Faisal dan Pak Arlan.
Sebagai laki-laki Ardi merasa terhina dibentak istri di depan orang lain. Kemudian Ardi berfikir alasan Alya marah. Apa iya kalau Alya tidak setuju Ardi memberi hadiah untuk Faisal.
“Ehm. Maaf” ucap Alya masih mau mengatakan kata maaf meski hatinya sangat dongkol.
Itu semua karena Alya menyadari ada orang lain, prinsip Alya kan menghukum Ardi, tanpa orang lain tau, tapi Ardi merasakan akibat kesalahanya dan berhenti mengulanginya. Karena sekesal apapun, aib rumah tangga harus dijaga.
“Kita ngobrol dulu deh!” ucap Ardi merasa perlu diskusi tentang hadiah ke Faisal.
“Ngobrol apa?”
“Keluar dulu!” ajak Ardi.
“Ya!” jawab Alya malas.
“Pak tunggu bentar ya?” tutur Ardi.
Alya dan Ardi kemudian duduk di bawah pohon depan restoran itu.
“Mas berniat mau pensiunin Mang Adi, Sayang. Itu sebabnya Mas pengin kasih mobil ke Faisal, apa kamu marah gara- gara itu? Mas perhatiin kamu kaya hindari mas semenjak di sini” tanya Ardi salah paham.
Alya menggigit bibirnya kesal. “Kenapa bahas Mang Adi dan Faisal, dasarrr, masalahnya bukan itu!!” batin Alya.
Alya kan kesel karena Ardi ditempel- tempel perempuan lain, Alya saja hanya Ardi seorang yang bisa dan diperbolehkan menyentuhnya. Jangankan menyentuh berkomunikasi aja, Alya sangat dibatasi.
“Kamu bisa ngerti kan?” tanya Ardi lagi menegaskan masih salah paham terhadap sikap Alya.
“Ehm” Alya mengambil nafas dan membuang rasa gemasya. Lalu Alya menoleh ke Ardi dengan tampang gemas kesal tapi ditahan.
“Mas Ardi, Lian sangat setuju kok, Lian sama sekali nggak mempermasalahkan hal itu” jawab Alya
“Terus kenapa kamu hindari mas? Dan cemberut gitu?”
“Ya masa Lian harus tersenyum terus begini? Kan garing” jawab Alya masih kesal memperagakan senyum.
__ADS_1
“Ya nggak, mas ngrasanya beda aja! Kamu juga bicara sama Mas dengan nada ketus, di depan orang lain lagi! Mas suami kamu lho!” tutur Ardi lagi belum tahu sebab Alya ketus.
Ardi sudah merasa tersinggung, meski Alya baru sekali bernada ketus.
Di kepala Ardi juga sudah penuh dengan rencana penyelesaian mengejar Lila dan membereskan Mia. Ardi tidak berfikir sama sekali kalau dirinya sudah membuat hati Alya hangus terbakar cemburu. Alya juga gengsi mengungkapkanya.
Alya menelan ludahnya ingin nangis, saking keselnya tapi malu sama Faisal dan Pak Arlan, hari ini juga sudah banyak menangis. Jadi harus ditahan.
“Ya. Lian minta maaf” ucap Alya berfikir mengalah dulu yang penting cepat pergi selesaiakan urusanya.
“Ya udah , nanti kamu yang pilihin mobil buat Mang Adi ya!”
“Aku?” tanya Alya kaget. Alya kan tidak paham mobil.
“Iya, kamu kan yang udah bikin masalah sama Mang Adi jadi motornya mas sita”
“Hemmm ya” jawab Alya jawab asal.
Alya masih malas bicara dengan Ardi apalagi berdebat lama. Pokoknya Alya ingin semuanya cepet selesi, cepet pulang dan mau mengurung diri di kamar Bu Mirna, nggak mau liat Ardi.
“Ya udah ayuk berangkat” ajak Ardi.
Lalu mereka kembali ke mobil.
“Kemana lagi Tuan?” tanya Pak Arlan.
“Ke sorumnya Alex, Pak!” tutur Ardi memberi perintah.
Pak Arlan yang sudah jadi sopir Ardi lama paham. Pak Arlan pun menyalaan stater mobil dan melaju ke sorum.
Mendengar sorum Faisal dheg- dhegan. Ardi mengatakan akan memberi hadiah dan mengajaknya pergi ke suatu tempat, apa iya mau dibelikan sesuatu ke sorum? Ah tapi masa iya ada orang mau kasih mobil gitu aja? Tapi sebelumnya Ardi sempat bertanya apa Faisal bisa nyetir.
“Jangan – jangan bener aku mau dikasih mobil” batin Faisal duduk belingsatan tidak nyaman.
Sekitar 5 menit mereka sampai di sorum mobil Alex. Dia adalah sahabat Ardi sejak kuliah, pengusaha muda yang terbilang sukses dan masuk ke dalam komunitas Ardi. Dia juga yang sering menawarkan mobil- mobil meeah sebagai koleksi Ardi.
Alya, dan Faisal berdiri di belakang Ardi memperhatikan. Pak Arlan dengan setia menunggu di mobil.
Alex pun yang terakhir kali bertemu Ardi sebelum berangkat ke Australia, agak keheranan melihat Ardi datang membawa perempuan berjilbab yang tampak manis dan polos.
“Gue belum pernah liat yang ini? Selera lo ganti? Sejak kapan lo milih yang berjilbab?” tanya Alex asal ngejeplak.
Karena Alex benar- benar tidak tahu siapa Alya. Dan sangat tidak tahu juga kalau Alya sedang cemburu.
Mendengar pertanyaan Alex yang sebenarnya bercanda biasa saja, tapi karena sedang sensitif, api Alya tambah berkobar.
“Jadi aku bukan tipe Mas Ardi? Emang siapa ajaa yang udah Mas Ardi bawa ke sini? Mang cewek seperti apa?” batin Alya menggigit bibirnya dengan tatapan cekungnya.
“Kenalin, dia istriku!” ucap Ardi merangkul Alya dengan bangga.
“Wooh, kapan nikah? Nggak nyangka gue, yang lo jadikan istri yang begini? Di luar ekspektasi, lo emang out of the box. Kok nggak undang?” ucap Alex lagi sambil memperhatikan Alya yang menundukan kepala.
Meski Ardi sudah percaya diri mengenalkan Alya, tetap aja perkataan Alex menyinggung Alya.
“Istriku yang paling cantik, nggak usah liatin istri gue. Gue colok mata lo!” ucap Ardi bangga terhadap istrinya.
“Yaya, selamat ya Bro, selamat ya ukhti, kenalin gue Alex, temen dugemnya Ardi” ucap Alex lagi bercanda mengulurkan tangan.
Alya diam , lalu menangkupkan tanganya, memberi hormat dan menarik bibirnya ke kanan dan ke kiri. Alex pun menarik tanganya, kecelik. Alya benar- benar berbeda dari wanita teman- teman mereka.
“Akhir pekan kita resepsi, dateng ya!” ucap Farid.
“Oke siap! Lo kesini nyari barag kaan? Yuk ke belakag banyak barang baru!” ucap Alex mengira Ardi mau mencari mobil mewah ataupun tuker tambah.
“Bukan buat gue, tapi buat dia” ucap Ardi menunjuk ke Faisal .
__ADS_1
Faisal yang dari tadi mengekor dan masih belum sepenuhnya sadar menjalani kenyataan di depanya, bingung. Semua orang di depanya menatap ke arahnya.
“Ehm” Faisal berdehem tidak nyaman, di dalam dadanya seperti ada banyak orang sedang berlatih dram tapi belum pintar. Asal menabuh kencang tapi tidak jelas iramanya.
“Oh” jawab Alex manggut- manggut. Lalu mendekati Faisal.
Faisal semakin dheg-dhegan.
“Mau mobil apa Mas?” tanya Alex merangkul bahu Faisal.
“Ini beneran kan? Ini nggak mimpi kan?” batin Faisal, tubuh Faisal mematung seperti seketika waktu berhenti. Faisal bingung mau jawab apa.
“Ma-ma-maksdunya? A- apa ya? Tuan?” tanya Faisal terbata.
“Gue kan udah bilang sama Lo, gue mau ucapin terima kasih dan kasih hadiah ke Lo dan bapak Lo” tutur Ardi.
“Jadi?” tanya Faisal dengan mulut tercekat.
“Lo mau mobil apa? Katakan aku bayar kontan sekarang untukmu?” tutur Ardi mantap.
Mendengar perkataan Ardi, reflek air mata Faisal turun karena terharu. Faisal langsung bersimpuh meraih kaki Ardi dan berterimakasih.
“Terima kasih Tuan, terima kasih” ucap Faisal.
Ardi meraih bahu Faisal dan mengajaknya bangun.
“Kau tidak perlu terima kasih, anakku dan istriku segalanya buatku. Bapakmu dan dirimu sudah selamatkan istri dan anakku” ucap Ardi lagi.
“Anak?” Alex yang menyimak jadi bertanya.
“Istri gue lagi hamil” jawab Ardi.
“Oh yaya. Selamat Bro, bangga gue, kelelakian lo bisa diakui” ucap Alex lagi bercanda memecahkan suasana.
“Emang lo jomblo aja. Kawin iya nikah kagak!” jawab Ardi menoyor Alex.
Lalu mereka pun memilih, karena Alya tidak paham mobil, Alya tidak jadi memilih. Alya memutuskan untuk duduk di kursi tunggu saja. Biarkan para lelaki yang mengurusnya.
Akhirnya setelah melihat- lihat. Alex memilihkan mobil terios untuk Faisal. Karena yang diutamakan dari Faisal adalah kegunaanya.
Sore itu juga jual beli dilakukan. Ardi langsung mentransfer Alex, sebesar 259 juta. Dan saat itu juga Alex menyerahkan kuncinya ke Faisal.
“Surat- surat dan lain sebagainya menyusul. Kalau mau langsun dinaiki tunggu dulu biar kita siapkan, kalau tidak kita antar” ucap Alex memberi pilihan.
“Lansung ajalah” jawab Ardi memberi saran.
Faisal hanya mengangguk saja. Faisal seperti mimpi, tidak pernah terbayang di hidupnya. Jangan kan mobil terios, mobil avanssa second aja, Faisal tidak berani mimpi. Kini di tanganya kunci mobil terios baru.
Air mata Faisal masih mengalir. Faisal benar- benar masih mengira ini mimpi. Dia juga sangat berdosa berfikir buruk tentang keluarga Gunawijaya.
Saat Alex mundur ke belakang untuk memeriksa mobil dan menyiapkanya. Ardi duduk dan merangkul bahu Faisal.
“Apa yang membuatmu menangis? Kamu kan laki- laki?” tanya Ardi.
“Saya menyesal, sudah berfikir buruk tentang Tuan” jawab Faisal jujur.
“Satu hal yang mau gue pesen ke Lo. Apapun kenyataan pahit yang akan lo hadapi, jangan lihat dengan emosi, pikirkan pakai kepala dingin"
"Laki- laki punya perasaan, tapi berfikirlah dengan otak kita. Laki- laki harus punya prinsip yang benar. Tidak semua yang terjadi seperti yang kita lihat. Dan tidak semua perjalanan kita mulus. Dalaam hidup akan ada banyak kejutan yang mungkin menyakitkan, tapi banyak juga menyenangkan” tutur Ardi menasehati.
Sambil mengelap air matanya. Faisal mendengar dan mencerna omongan Ardi.
“Lo pulang pakai mobil Lo, jaga bapak Lo baik- baik, bahagiakaan dia di masa tuanya. Gue akan bilang ke bokap gue, usia Mang Adi memang sudah waktunya istirahatt"
"Besok pagi jam 7 gue tunggu di rumah. Ambil motor bapak, dan gue masih punya kejutan buat lo” tutur Ardi berbahasa santai.
__ADS_1
“Baik Tuan” jawab Faisal.
“Ya udah istri gue nunggu, gue cabut dulu”