
Malam yang gelap mulai pudar. Sang surya mengurai langit hitam menjadi kuning keemasan. Hewan-hewan pun meninggalkan sarang peraduanya bersiap mencari makan demi keberlangsungan hidupnya.
Para manusia pun mengerjapkan matanya, bersiap memulai babak lembar baru dalam hidupnya. Dan sebelum memulai semua itu, bagi kaum muslim mereka menyempatkan waktu bersua pada Tuhanya, memohonkan bekal cinta, dan petunjuk dari rabbnya agar hari nya berjalan indah.
Alya dan Ardi pun selesai sholat subuh berjamaah bersama Papa, Mama dan Ibunya di mushola keluarga. Selesai sholat mereka pun bercengkerama.
"Gimana kabar ayahnya Baby El, Ar?" tanya Tuan Aryo.
Waktu berlalu cepat. Tanpa terasa, waktu resepsi Alya dan Ardi sudah berlalu seminggu yang lalu. Yogi sudah selesai dioperasi pengambilan peluru yang merobek organ dalamnya.
Sempat membuat pendarahan, dan syok. Tapi Yogi sudah mendapatkan donor darah dan perawatan yang tepat. 6 hari sudah Yogi dirawat di ruang icu. Dan hari ini evaluasinya, jika baik, Yogi akan dipindahkan ke rawat biasa.
Selama Yogi dirawat, Intan selalu setia mendampingi dan menjenguknya, menyadari Yogi terluka demi melindungiya, dia juga ayah dari bayinya. Apalagi Intan tau, Yogi bukan asli orang daerah, dia dari luar pulau. Dan saat Intan ke rumah sakit Alya selalu menjaga Baby El dengan baik.
Sementara untuk urusan biaya rumah sakit semua Ardi yang menanggungnya. Hubungan Ardi, Intan dan Yogi menjadi baik karena musibah ini.
"Hari ini keputusan dokter anestesi dan dalamnya Pah" jawab Ardi menjelaskan.
"Tapi kata dokter kemajuanya gimana?"
"Ardi sih nggak masuk buat tau langsung. Tapi kata Intan Yogi udah siuman kok. Dia udah sadar dan hanya tinggal nunggu stabil, semoga hari ini dipindah ke ruang rawat" jawab Ardi lagi.
"Oh baguslah kalau gitu, semoga sudah sembuh dan hari ini dipindah!" jawab Tuan Aryo diikuti aamiin oleh Bu Rita dan yang lain.
Setelah mendengar cerita Ardi, Bu Mirna tampak paling diam. Janjinya setelah Alya resepsi dan setelah Bu Rita mendapatkan guru masak, sebelum pulang ke Jogja, Bu Mirna akan memberikan jawaban lamaran Dokter Nando.
Dan Bu Rita kedatangan Guru masak itu hari ini. Dokter Nando tempo hari secara pribadi sudah mengutarakan niatnya pada Bu Rita dan Tuan Aryo. 5 hari terakhir ini juga Dokter Nando selalu mendatangi rumah Tuan Aryo untuk menemui Bu Mirna. Tapi Bu Mirna selalu menjawab istikhoroh dulu.
"Jeng Mirna..." panggil Bu Rita.
"Iya Besan, gimana?"
"Hari ini waktunya, kita juga sudah nemuin kokinya? Bagaimana jawabanmu atas lamaran Dokter Nando?" tanya Bu Rita lugas di depan suami dan anak serta menantunya.
Meski sudah diberi waktu seminggu, Bu Mirna masih tampak ragu. Bu Mirna diam sejenak menatap Alya yang perutnya sekarang sudah menbuncit dan mulai terlihat. Lalu memandang menantunya yang tersenyum santai dan terakhir memandang kedua besanya.
"Maaf bukan kami mengusirmu Besan. Tapi tidak nyaman rasanya memberi gantungan pada Nando. Dia sahabat saya!" tutur Tuan Aryo menimpali.
"Alya dukung ibu, Bu! Berumah tangga itu tidak jelek kok. Ibu jadi ada temanya, jadi ada yang jagain ibu. Alya jadi tenang juga!" sahut Alya akhirnya dengerin kata Ardi.
"Iya Bu. Gery dan Mira itu sahabat Ardi dari dulu. Kita udah jadi saudara. Ardi bisa jamin, mereka orang baik yang akan menghormati dan menyayangi Ibu. Apalagi ibu, ibunya Alya istriku!" imbuh Ardi merayu Bu Mirna.
Bu Mirna kemudian menghela nafas. Dan bersiap membuka mulut. Semua yang mendengarkan pun tampak dheg-dhegan mendengar jawabanya.
****
Di rumah besar, ketiga dokter spesialis itu sedang menikmati sarapan. Seorang laki-laki paruh baya yang duduk di kursi pemimpin tampak sayu memasukan makanan ke dalam mulutnya.
"Papah patah hati banget sih keliatanya?" tanya Mira melihat mertuanya lesu.
"Sampai sekarang Nurma belum memberi jawaban Nak"
"Hemmm sabar ya Pah! Yang penting Papah udah berusaha!" jawab Mira memberi semangat.
"Kalau Papa ditolak, tenang aja Gery akan lebih giat buatin cucu buat Papah. Biar Papah di rumah ada temanya, Gery dan Mira berangkat kerja dulu ya!" ucap Gery sembrono membuat Dokter Nando ingin memukulnya.
"Ya! Hari ini Papah akan datang ke rumah Aryo untuk meminta jawaban"
"Gery dan Mira temenin nggak Pah?" tanya Gery
"Nggak usah!"
"Beneran? Tapi Papah jangan lakuin hal yang aneh-aneh lho Pah!" ucap Gery lagi.
"Aneh-aneh gimana?" tanya Mira
"Sayang periksa di mobil Papah jangan sampai ada benda tajam, racun atau sianida!" jawab Gery ngebanyol lagi.
Dan kali ini Dokter Nando beneran ngegaplok Gery pakai centong nasi ke kepalanya
"Ouuuh sakit Pah"
"Kamu nggak ada bosan-bosannya ngatain Papah?"
__ADS_1
"Gery sayang sama Papah. Buktinya Gery dan Mira batalin tinggal di apartemen buat Papah, Gery khawatir sama Papah, sakit Pah emang ditolak tapi ya udahlah namanya jodoh itu udah diatur Pah!" ucap Gery menasehati Papanya.
"Sudahlah sana kalian berangkat!" usir Dokter Nando tidak mau diceramahi anaknya terus.
"Beneran ya Pah. Papah nggak perlu ditemani?"
"Nggak! Papah siap apapun jawaban Nurma!"
"Oke Pah! Gery dan Mira berangkat!"
Lalu Gery dan Mira berangkat ke RSUD X untuk jaga di minggu-minggu terakhirnya sebagai wkds. Setelah menempuh perjalanan beberapa saat mereka sampai di rumah sakit. Dan kebetulan di parkiran mereka bertemu Ardi yang sedang membukakan pintu mobil untuk istrinya yang sedang hamil.
"Weww calon adik. Umur panjang ketemu di sini!" sapa Gery.
"Sembarangan lo. Jangan panggil gue calon adik!" jawab Ardi tidak terima.
"Hai Al. Hai Ar? Sehat?" tanya Mira menyapa.
"Alhamdulillah sehat Kak!" jawab Alya.
"Kalian abis resepsi nggak honey moontkah?" tanya Mira.
"Kok tanya. Harusnya Alya yang tanya Dok. Nah Kak Mira dan Dokter Gery malah abis nikah, nggak honeymoont juga hayo? Alya mah udah hamil Kak. Udah banyak utang libur juga. Pantaslah nggak cuti. Dokter Mira dan Dokter Gery nih yang lagi anget, kenapa malah kerja?" tanya Alya.
"Tanggung bulan depan selesai WKDS kita. Tunggu lepas sambut, terus urus visa juga biar kita bisa lama liburanya!" jawab Gery
"Sama dong! Gue juga lagi urus visa dan nunggu hamil Alya gedean. Sekalian nunggu Farid dan Anya sah.Terus Dika dan Dinda sah juga!" jawab Ardi.
Alya yang tidak pernah tau Ardi sedang urus visa menatap Ardi keheranan. Begitu juga Gery dan Mira.
"Apa maksud lo, lo pengen kita ajak liburan bareng?" tanya Mira.
"Yoi... sekalian biar kita rombongan dan sewa bus travel. Gue punya temen tour guide ke sana. Gimana? Ke Turki. Cappacopedia?"
"Beneran Mas?" tanya Alya girang.
"Iya. Mas udah bilang ke Farid dan Dika kok!"jawab Ardi.
"Wah, gue setuju Ar! Gue pengen kesitu!" sambung Mira.
"Oh iya. Gimana jawaban nyokap Lo Al ke bokap gue? Kalau diterima biar gue suruh bokap gue urus visa juga! Seru kan tuh nanti mereka juga honey moonth!" tanya Gery.
Alya kemduian menatap suaminya. Dan Ardi menggerakan bibirnya memberi kode.
"Biar ibu yang jawab sendiri ke Om Nando ya! Kalian dengar jawaban ibu dari Om Nando, aku nggak mau lancang jawab pertanyaan ibu," jawab Alya bijak.
Gery dan Mira menghela nafasnya.
"Oke deh!" jawab Gery.
"Iya nggak apa-apa, apapun jawaban Nyokap Lo. Kita tetap sahabatan dan adek Kakak kaan?" ucap Dokter Mira
"Iya!" jawab Alya.
"Udah ya, gue ada meeting sana kalian kerja!" ucap Ardi mengakhiri.
"Yaya!"
Lalu semua bubar, Gery dan Mira ke ruangan masing-masing. Alya juga ke ruang IGD, tempat praktek terakhirnya karena bulan depan Alya akan pindah praktek di bangsal belakang bagian penyakit dalam.
Mereka semuapun melakukan aktivitasnya seperti biasa. Alya berkutat dengan pasien-pasein IGD. Gery dengan pasien operasi, dan Mira dengan pasien-pasien anak.
Kriiing.
Telpon IGD sambungan dari luar rumah sakit berbunyi nyaring. Petugas langsung sigap menerima. Ternyata merupakan telepon dari luar yang memberitahu ada kejadian luar biasa. Kecelakaan beruntun.
"Segera kirim tim medis dan ambulan ke sana. Angkut pasien yang butuh pertolongan segera!" ketua tim IGD memberi perintah.
Meski sedang hamil Alya sigap ikut tim yang datang ke lokasi. Bersama rekan kerja yang lain, Alya memerika setiap pasien yang mengalami kecelakaan. Ada 1 truk dan 3 mobil yang terlibat kecelakaan.
Alhamdulillah banyak pasien sadar yang hanya luka-luka ringan. Tapi ada dua pasien yang terluka parah dan satu pasien pingsan dengan luka dalam. Dan ada dua orang yang tak sadarkan diri. Kakinya terjepit bagian depan mobil dan kursi mobil. Tapi bagian tubuh atas masih normal. Kebetulan Alya yang menemuinya.
Alya tertegun melihat pasien itu.
__ADS_1
"Lila!" seru Alya sambil menelan ludahnya.
Saat penembakan di danau. Semua mengejar Lila dan Lila mentok nyemplung ke danau. Motor Lila berhasil ditemukan tapi jasadnya tidak. Sudah dilakukan pencarian, tapi tidak ketemu sehingga dinyatakan Lila meninggal dan hilang.
Dan kini di depan mata Alya. Lila datang sebagai pasien KLL, lebih tepatnya setelah diteliti melalui cctv jalan mobil Lilalah yang memicu kecelakaan.
Bersama tim lain. Alya mengangkut pasien ke rumah sakit. Satu persatu pasien ditolong berdasar urutan prioritas kegawatan. Termasuk Lila. Semua diuji narkobanya.
Dan Lila dinyatakan positif mengkonsumsi sabu. Lila masih hidup tapi mengalamai fraktur kedua kakinya, dan harus dioperasi karena ada luka terbuka.
Meski terpaksa, demi tugasnya Alya menangani Lila. Memasang infus pasanya. Menjahit lukanya dan sebagainya.
Tapi setiap tindakan yang dilakukan pada Lila didampingi polisi. Karena mulai detik itu. Lila dijadikan tersangka. Dan selesai operasi kakinya Lila harus menjalani sidang dan hukuman.
Lila dijatuhi hukuman sebagai penyebab kevelakaan beruntun yang menyebabkan 2 orang meninggal, dua cacat dan belasan yang luka-luka. Keluarga pasien menuntut hukuman maksimal pada Lila. Selain itu Lila juga positif memakai barang-barang terlarang. Dan Lila juga masuk dalam pencarian orang sebagai pembunuh.
"Kenapa kamu terus berbuat kerusakan Mbak Lila?" tanya Alya di ruang pemulihan pasca operasi saat Lila sadar.
Lila diam dengan ekspresi mengerikan.
"Seandainya sejak awal kamu berhenti dan mengalah dengan takdirmu. Kamu tidak akan melakukan kesalahan dan kerusakan sejauh ini Mbak"
"Diam kamu! Diaam!!" Lila malah histeris.
"Semoga dalam penjara dan sisa hidupmu kmu sadar Mbak. Terimalah hukumanmu dan takdirmu. Mas Ardi suamiku, sadarlah! Kami minta maaf atas segala kesalahan kami. Hiduplah dengan damai Mbak!" tutur Alya lagi.
"Dasar ja*ang. Diam! Mati kamu! Mati! B*engsek... kembalikan kakikuu!!" Lila malah teriak histeris seperti orang gila. Tapi tubuhnya tidak bisa digerakkan karena masih terbius.
Mendengar Lika teriak histeris. Perawat yang tau Lila seorang tersangka dan pernah ingin membunuh Alya langsung mendekat menolong Alya. Gerypun sebagai dokter yang membiusnya mendekat.
"Dia lebih mengerikan dari kakaknya! Hati-hati Al" ucap Gery mengingat perkelahianya dengan Tito.
Kebetulan waktu shitf berakhir. Mira yang sudah selesai prakteknya, mendengar cerita Gery langsung ganti dengan pakaian ruang bedah ikut masuk dan melihat keadaan Lila.
"Lilaa... apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu jadi seperti ini?" tanya Mira sebagai calon kakak yang gagal.
Mendengar suara Mira, Lila semakin marah san mengerikan.
"Se*an betinaa. Minggir kamu. Kamu penyebab kakakku hancur. Mati kaliaan semua. Kalian semua harus berakhir! Hahaha"
Lila malah meracau seperti orang gila.
"Lila, maafkan aku. Aku mencintai suamiku Gery. Kakakmu sendiri yang melakukan kesalahan. Sadarlah Lila. Kamu masih muda masih banyak waktu untuk kamu berubah!" ucap Mira tidak tega melihat keadaan Lila.
"Pergi kaliaan! Pergi!" teriak Lila lagi.
Mira pun jadi hilang simpati dan takut melihat Lila.
Lalu perawat mempersilahkan Gery dan yang lain pergi agar tidak gaduh. Mereka bertiga kemudian memilih pergi dan pulang. Ardi pun sudah siap menjemput Alya di depan.
"Apa Mas Ardi mau menemuinya?" tanya Alya setelah bercerita ke suami tercintanya.
"Mas akan liat dia di persidangan saja. Mas masih sakit mengingat Mia dan Yogi!" jawab Ardi.
"Oke. Oh iya gimana kabar Mas Yogi. Mas?"
"Alhamdulillah hari ini dia dipindah ke ruang rawat"
"Hoh syukurlah"
"Dan Intan sepertinya mulai menerimanya"
"Benarkah?"
"Huum, Mas berencana buka galeri pameran untuk dia. Dan masukin dia ke panti juga buay ngajar lukis"
"Iya Mas. Lian juga setuju. Makasih udah bantu saudara Lian. Lian sayang banget sama mas"
"Sayang doang?"
"Cinta juga!"
"Cium dong!"
__ADS_1
"Yaaa!"