
"Bagaimanan keadaan anak saya Dok?" tanya seorang ibu pasien ke Alya.
"Alhamdulillah, anak ibu sudah stabil kok Bu, perdarahanya sudah berhenti, lukanya sudah dijahit, sudah kita beri injeksi pengurang rasa sakit dan antibiotik. Sebentar lagi akan dipindah ruang perawatan" jawab Alya sopan menjelaskan keadaan pasien kecelakaan ke ibunya.
Setelah keluarga pasien mengerti dan pergi, Alya kembali menyelesaikan tugas melengkapi rekam medis pasien. Alya melirik jam yang menggantung dinding. Lima menit lagi waktu jaga sorenya selesai. Tidak berapa lama rekan sesama dokter magang jaga malam datang. Bersama tim lain Alya melakukan operan jaga.
"Alhamdulillah selesai juga, capeknya badanku" ucap Alya siap- siap pulang.
Alya mencuci tanganya, Alya melakukan peregangan agar badanya sedikit rileks. Alya menggelengkan kepala, dan meregangkan tanganya di kamar mandi dan menepuk-nepuk punggungnya, berharap lelahnya sedikit berkurang.
Keluar dari kamar mandi Alya duduk sebentar. Mengambil tas dan menghidupkan ponselnya yang dinon aktifkan.
"Ya ampun dia cerewet sekali ternyata" gumam Alya membaca pesan dari suaminya.
Dari siang Ardi, mengirim pesan ke Alya banyak sekali. Mulai menanyakan sedang apa, sudah makan apa belum, makan apa, dengan siapa, pulang jam berapa sampai Ardi mengatakan akan menjemputnya.
"Dia benar-benar gila. Bisa-bisanya berniat menjemputku, apartemenya saja terlihat dari halaman rumah sakit" gumam Alya segera keluar dari rumah sakit setelah membaca pesan Ardi.
Malam ini bahkan Alya tidak sempat mandi seperti sebelum-sebelumnya. Dan ternyata benar Ardi sudah menunggu Alya di samping pintu IGD.
"Mas" pekik Alya mendapati Ardi duduk di bangku tunggu keluarga pasien IGD.
"Hai sayang" jawab Ardi tersenyum melihat istrinya.
Alya celingak- celinguk mengedarkan matanya berkeliling takut temanya ada yang melihat.
"Ngapain ke sini?" tanya Alya heran melihat Ardi nekat nyamperin Alya ke rumah sakit.
Alya langsung menarik tangang Ardi, menggandengnya dan segera mengajaknya keluar dari area rumah sakit.
Ardi tersenyum bahagia, mendapat perlakuan Alya. Ardi mengikuti Alya keluar rumah sakit dengan buru-buru. Setelah keluar dari parkiran rumah sakit Alya melepaskan tangan suaminya.
"Kenapa dilepas, aku mau terus digandheng" tutur Ardi menggoda Alya ingin jalan bergandengan lagi.
"Apa si mas? Kenapa kamu kesini? Udah diam di apartemen aja!" jawab Alya cemberut merasa suaminya sedikit berlebihan.
"Aku hanya ingin melihat istriku bekerja, sesibuk apa sih, mengabaikan telponku" jawab Ardi sambil berjalan.
"Astaga! Jadi karena itu mas nekat datang ke IGD? Lain kali nggak boleh gitu! Aku tuh kerja nggak megang Hp, pake handscoon! Malu tau kalau ada yang tau." jawab Alya sewot lalu berjalan lebih cepat mendahului Ardi.
"Kenapa?" tanya Ardi sambil meraih tangan Alya. Dan menghentikan langkahnya. Mereka berhenti di bawah pohon di pinggir jalan depan rumah sakit.
"Kenapa malu, Lian?" tanya Ardi mengencangkan genggaman tangan Alya.
"Aku malu kalau sampai teman- temanku tau" jawab Alya cemberut. Alya berdiri menatap suaminya yang menggenggam tanganya. Alya tidak mengerti suaminya seposesif ini.
"Kenapa harus malu?" tanya Ardi lagi, menatap Alya dan mendekatkan tubuhnya ke hadapan Alya.
"Karena, karena, karena ini berlebihan" jawab Alya gelagapan di tatap Ardi begitu intens.
Ardi mengenggam tangan Alya lebih kencang, mendekatkan wajahnya dan memegang tengkuk Alya. Alya gelagapan, mendapat perlakuan suaminya. Alya ingin menepis tangan Ardi. Tapi tidak sempat Alya menepisnya. Ardi mendaratkan bibirnya di bibir Alya.
Alya gugup dan pasrah, tangan Ardi begitu kuat, mencengkeram dagu Alya. Kini Ardi tidak hanya memberi kecupan seperti malam kemarin. Ardi seperti pemangsa yang kelaparan. Bahkan melakukanya di pinggir jalan di bawah lampu temaram. Ardi menggigit bibir bawah Alya, lalu ********** dengan rakus.
Alya merasakan gelora panas yang menyeruak dari dalam tubuhnya. Rasa yang tidak pernah Alya rasakan sebelumnya. Jantungnya berdegup kencang. Nafasnya terengah-engah karena Ardi melakukanya dengan kasar. Kemudian Alya sadar kalau mereka di pinggir jalan. Alya langsung mendorong Ardi dan melepaskan ciumanya.
Alya menunduk, kemudian menoleh ke samping kanan dan kiri takut ada yang melihat. Rupanya jalanan sepi. Mereka berdua saling diam sejenak. Alya mengatur nafasnya. Seluruh badanya masih merasakan panas seperti ada sengatan menjalar. Suaminya benar-benar nekad, bahkan menciumnya di pinggir jalan.
"Aku suamimu, cepat atau lambat meraka akan tau. Tidak perlu malu" tutur Ardi tidak ingin Alya merahasiakan statusnya di hadapan temanya.
"Ayo pulang" ajak Ardi meraih tangan Alya dan mengajaknya masuk apartemen. Selama berjalan Alya diam mengikuti Ardi.
Alya ingin marah dan menolaknya, tapi mulut Alya terkunci, jantungnya masih berdegub kencang. Alya sadar kalau pria di depanya memang sudah menjadi suaminya. Seorang yang memang berhak melakukanya. Alya juga merasakan sesuatu yang berbeda. Tubuh Alya merespon baik meski berlainan dengan akalnya.
__ADS_1
Alya juga mulai terbiasa dengan keberadaan Ardi di dekatnya. Bahkan ini sudah yang kedua kalinya, atau mungkin lebih tanpa Alya tau.
"Mandilah, aku sudah menyiapkan pakaian dan air hangat untukmu" tutur Ardi setelah masuk apartemen
Alya terperanjak, dan tidak mengira. Bahkan Ardi sudah menyiapkan air untuk mandi?
"Kenapa diam? Nanti keburu dingin airnya. Pakai baju yang kusiapkan tidak boleh menolak!" jawab Ardi posesif lalu merebahkan tubuhnya ke kasur
"Kenapa semuanya harus sesuai maumu sih mas?" tanya Alya memberanikan diri.
"Hemmm" Ardi tidak menjawab pertanyaan Alya.
Lalu Alya masuk ke kamar mandi. Dan benar saja, Ardi sudah menyiapkan air, handuk dan pakaian tidur. Ardi memilih piyama pendek yang dipakainya pada malam pertama Alya dan Ardi bertemu.
Alya tidak terima dengan piyama pilihan Ardi. Alya hendak membuka lemarinya dan mencari baju yang lain. Di luar dugaan Alya, Ardi mengunci lemarinya.
"Ck. benar-benar, manusia macam apa dia? Bahkan lemari dikunci" gumam Alya melirik suaminya yang sedang memainkan ponsel di atas kasur.
Karena sudah sangat lelah dan malas berdebat Alya langsung masuk ke kamar mandi. Setelah selesai mandi Alya keluar menggunakan baju lengkap sesuai pilihan Ardi.
"Sudah selesai rupanya?" tanya Ardi melihat Alya berjalan menggosok-gosok rambut nya yang basah.
"Udah tau nanya" jawab Alya ketus lalu duduk di depan meja rias.
"Aku bantu keringkan rambutmu ya?" tanya Ardi bangun dari rebahan.
"Nggak! Aku bisa sendiri" jawab Alya tegas langsung menolak.
"Hemm, tidak baik terlalu ketus sama suami, dosa lho!" goda Ardi melihat Alya tampak cemberut.
"Aku capek mas, tolong jangan bikin aku kesal"
"Aku tidak membuatmu kesal, aku hanya ingin membantumu?" .
"Apa kamu tidak suka dengan baju yang kupilihkan?"
"Tentu saja tidak. Kamu selalu mengambil keuntungan, dasar!"
"Ini kan bajumu, bahkan malam itu kamu memakaianya sendiri, kupikir baju ini memang favoritmu. Dan menurutku bagus juga! Apa aku salah?" jawab Ardi menatap Alya penuh Arti.
Piyama Alya adalah piyama pendek setelan, dengan atasan kancing dan celana pendek menampakan separuh paha Alya.
"Ck. Dasar mesum!" jawab Alya berdecak. "Terus kenapa harus dikunci lemarinya?" tanya Alya meletakan handuk di keranjang pakaian kotor.
"Karena aku tau, kamu pasti akan mengambil baju pengajianmu itu" jawab Ardi terus terang.
"Itu kan haknya aku. Kenapa diatur-atur" jawab Alya mengambil bantal dan selimut.
"Mau kemana kamu?"
"Aku mau tidur di sofa depan"
"Oh kamu mau tidur di sofa depan? Bagus sepertinya menarik?"
"Kok menarik?" jawab Alya heran melihat reaksi Ardi.
"Kamu memang cerdas membuat suasana romantis" jawab Ardi dengan tersenyum menyeringai ikut bangun dari kasur.
"Kenapa ikut bangun? Udah di situ aja!" tanya Alya melotot menghentikan Ardi.
"Lhoh katamu sendiri kan? Kamu ingin kita tidur di sofa depan TV, jadi kita bisa berpelukan sepanjang malam sambil liat TV, semakin sempit tempatnya semakin bagus untuk kita"
"Haissh, ide gila darimana itu? Aku tidak berfikir begitu. Kamu tidur di sini aku di sana. Nggak ada kita bersama. Enak aja!" jawab Alya berdiri mendekap selimut dan bantal
__ADS_1
"Berlian, Berlian, sadar sayang, kita sudah menikah. Mana ada kamusnya, orang menikah tidur sendiri-sendiri, gimana? Mau tidur di sini? Atau depan TV?"
Alya diam dan tampak berfikir. Percuma Alya menolak dan berdebat. Ardi mempunyai seribu cara mengambil kesempatan. Alya pun harus cerdas bila ingin mempertahankan mahkotanya.
"Ya sudah tidur di kamar saja, tapi" jawab Alya memutuskan.
"Tapi apa?"
"Mana kunci kamarnya?" jawab Alya berencana membiarkan Ardi tidur lebih dulu dan mengunci Ardi dari luar.
Alya tidak mau bangun-bangun dengan keadaan memeluk Ardi seperti kemarin. Dan entah apa yang sudah dilakukanya selama Alya tidur.
Ardi tersenyum mendengar pertanyaan Alya. Lalu Ardi turun dari tempat tidur.
"Yes" Alya bersyukur dalam hati mengira Ardi turun untuk mengambil kunci.
Ardi turun dari tempat tidur, berjalan mendekati Alya.
"Kenapa dia mendekatiku? Bukanya dia mau ambil kunci?" gumam Alya memundurkan langkah karena Ardi berjalan mendekatinya.
Semakin Alya memundurkan langkah semakin Ardi maju mendekati Alya. Sehinga langkah Alya mentok ke lemari. Ardi pun mengunci Alya bersandar pada lemari.
Alya tampak gugup. Alya memeluk bantal dan selimutnya dengan erat sementara Ardi tersenyum melihat ekspresi Alya.
"Kenapa kamu terlihat sangat imut jika begini Lian?" gumam Ardi dalam hati
"Mas" panggil Alya pelan merasa gugup, mengalihkan wajahnya ke samping, karena jaraknya sangat dekat dengan wajah Ardi.
"Sebenarnya aku tidak suka memaksa, tapi kamu tidak pernah patuh pada suamimu" tutur Ardi membelai rambut Alya.
"Kamu mau apa?" jawab Alya menelan salivanya.
"Kamu masih hutang satu" jawab Ardi meraih pipi Alya dan memajukan dagunya.
Ardi kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Alya. Alya memejamkan matanya pasrah. Melihat tidak ada penolakan Ardi meneruskan ciumanya. Kali ini Ardi tidak lagi kasar, Ardi ******* bibir Alya dengan lembut, lalu Ardi menjulurkan lidahnya ke dalam mulut Alya.
Alya pun tampak menikmati setiap gerakan lidah Ardi, dan meresponya dengan baik. Sesaat Ardi melepaskan bibirnya dan menatap Alya, membiarkan Alya bernafas dan menelan ludah. Tangan Ardi mengambil selimut dan bantal di tangan Alya dan melemparnya. Ardi tidak ingin ada penghalang.
"Sedikit menurut lebih baik" bisik Ardi lembut ke telinga Alya.
Ardi kembali melanjutkan aktivitasnya. Setelah tiga kali, Alya mulai menerima dan menikmatinya. Bahkan tangan Alya berpindah merangkul leher Ardi. Ardi tidak menyia-nyiakan kesempatan dan melanjutkan ke tempat lain.
"Mmmm Mas" Alya mendorong Ardi karena kehabisan nafas.
Ardi mengikuti Alya, memberikan kesempatan Alya mengambil nafas. Ardi menuntun Alya dan merebahkanya di kasur. Kini Alya berada di bawah kungkungan Ardi dengan nafas terengal-engal. Ardi benar-benar membawa Alya memasuki ke dunia yang tidak pernah Alya rasakan sebelumnya.
Ardi merasa bersyukur dan senang, haknya sebagai suami akan segera dia dapatkan. Bahkan Alya menerimanya tanpa paksaan.
Ardi melanjutkan aksinya. Meskipun ini sama-sama pertama kali dan sedikit gugup, Ardi memberanikan diri membuka kancing piyama Alya, Alya pasrah dengan apa yang Ardi lakukan.
"Kriiing Kriiing" tiba-tiba ponsel Ardi berdering.
"Shit" umpat Ardi saat hendak melakukan yang lebih.
"Mas" panggil Alya mendengar ponsel Ardi terus berbunyi. Mendengar panggilan Alya, Ardi berhenti.
"Diangkat dulu siapa tahu penting" ucap Alya menangkupkan kembali piyamanya yang terbuka.
"Sebentar yah" jawab Ardi bangun lalu mengangkat teleponnya.
"Iya Din? Ada apa?" jawab Ardi lalu berjalan keluar kamar dan berbincang dengan Dino asistenya.
Alya mengatur nafasnya dengan baik. Membetulkan kembali kancing bajunya yang terlepas. Alya duduk di kasur dan mengusap wajahnya.
__ADS_1
"Ya Tuhan. Apa ini artinya Aku sudah benar-benar menjadi istri? Kenapa secepat ini aku menyerah? Tapi bukankan ini memang kewajibanku? Apa ini artinya sebentar lagi juga?"