
"Aaaaaakh, siall, b"ng*at, be*e*bah" umpat seorang perempuan di ruang kerjanya sambil menghisap rokok.
"Percuma kamu mengumpat seperti itu! Pikirkan bagaimana caranya kita menyelamatkan Tito" tutur Sang ayah menasehati.
"Lila udah pusing dengan urusan Lila Pah!" jawab Lila frustasi.
"Bukankah kasusm sudah beres?" tanya Tuan Wira.
"Lila takut Pah! Lila takut dia buka mulut kalau disuruh Lila, Lila nggak mau dipenjara Pah. Lila nggak mau kaya kakak" ucap Lila sambil menangis tertekan sendiri oleh kejahatanya.
"Tenang, hukum sudah diproses, kasus pencemaran nama baik juga tidak berat. Ayo kita temui Kakakmu. Kita harus selamatkan kakakmu"
"Lila nggak bisa mikir lagi Pah! Gimana caranya selametin Kakak. Lila nggak mau ikutan dipenjara juga" ucap Lila masih menangis.
Lila ketakutan tertekan dan tidak berani keluar rumah. Bahkan mereka sekarang bersembunyi di salah satu villa keluarga Tuan Wira di dekat gunung.
"Lila!!" bentak Tuan Wira.
"Ini semua karena kamu, kamu yang memulai berurusan dengan keluarga Gunawijaya. Sekarang pikirkan Kakakmu, Tito bisa dihukum mati!" tutur Tuan Wira.
"Papah bisa kan sewa pengacara yang handal dan hebat Pah" ucap Lila lagi.
"Bukti semuanya memberatkan ke Tito. Pengacara juga hanya bisa pasrah, ayo kita jenguk Tito"
"Lila takut Pah! Wartawan pasti akan kejar kita. Sudah biarkan kakak ada yang mengurusi" jawab Lila lagi
"Plakk" spontan Tuan Wira menampar Lila.
"Papah!" ucap Lila sambil memegang pipinya.
"Dia kakakmu"
"Pah, kalau kita nekat keluar dan mendatangi kakak. Kita itu bunuh diri Pah. Kita nggak akan bisa tolong Kakak. Lila berfikir secara rasional. Lila juga sayang Pah sama Kakak!" ucap Lila membela diri dan mengeluarkan pendapatnya.
Tuan Wira diam, memikirkan apa yang dikatakan putrinya. Lila benar, bahkan kediaman Tuan Wira di kota diserbu wartawan, namanya juga muncul di berbagai media dan surat kabar.
Tuan Wira juga mendapat undangan teguran dari partai tempatnya melebarkan sayap. Kini reputasi, karir dan nasih usaha Tuan Wira hampir tamat.
Akhirnya Tuan Wira mengalah, dengan gerak yang lelah Tuan Wira duduk. Menghela nafas memikirkan anak laki-laki kebanggaanya berada di ujung tanduk.
Cara menyelamatkanya adalah dengan membawanya kabur. Chanel Tuan Wira adalah Tuan Bayu, tapi kini bahkan Tuan Bayu sudah mengirimkan pesan pembatalan dan kekecewaanya.
"Heehhhaaah" Tuan Wira menghela nafasnya panjang.
"Beri papa satu gelas!" ucap Tuan Wira meminta wine yang sedang Lila nikmati.
"Kita harus tunggu suasana tenang baru memikirkan cara menolong Kakak Pah" ucap Lila lagi.
"Ya!" jawab Tuan Wira.
Lila kemudian menuangkan wine mahal untuk ayahnya. Ayah dan anak itu kemudian menenangkan pikiranya dengan minuman yang katanya haram dan dilarang itu.
__ADS_1
****
Dengan malu-malu Anya mengikuti Farid. Alya ikut mengantarkan dan mengenalkan sahabatnya ke mertuanya, meninggalkan suaminya barang sebentar. Setelah itu balik menemani suaminya.
"Aduh maafkan Tante ya, sepertinya besok nggak jadi ikut ke acara kalian" tutur Bu Rita ramah ke Farid dan Anya.
Padahal seharusnya Bu Rita ikut ke Bogor sebagai pengiring Farid. Hubungan Bu Rita, Farid dan orang tuanya kan sudah sangat dekat, harusnya Bu Rita hadir di moment penting Farid. Apalagi kesetiaan Farid terhadap panti Gunawijaya.
"Nggak apa-apa Tante. Doa tante yang terpenting buat kami, ya kan Neng" jawab Farid menatap Anya.
Anya mengangguk tersenyum
"Iya Tante, Om" jawab Anya.
"Terus ke Bogor kapan?" tanya Tuan Aryo.
"Rencana nanti sore Om. Biar Papah Mamah bisa istirahat sebelum acara" jawab Farid lagi.
"Kalian hati-hati ya. Namanya juga musibah. Ck. Ardi itu memang gegabah kalau ngelakuin sesuatu. Jadi gini kan, jadi nggak bisa dateng ke acara kalian" tutur Bu Rita kesal ke Ardi.
"Maaah" tegur Tuan Aryo. "Anak kita selamat itu udah yang terpenting"
"Iya Tante, kita nggak apa-apa kok Tan, Kak Ardi mau dateng kok" ucap Anya.
"Hah, Ardi mau dateng! Bocah itu mau ikut ke Bogor? Memang sudah sehat?" tanya Bu Rita kaget.
"Bilangnya begitu Tan" jawab Farid.
Tuan Aryo, Farid dan Anya malah hanya tersenyum. Ardi mah udah setelanya begitu. Bu Rita juga terlampau menyayangi anaknya.
"Ardi udah dewasa Mah, Mamah khawatirin dia mamah sakit sendiri, orangnya malah sehat dan biasa aja gitu" tutur Tuan Aryo menasehati.
"Tapi kasian Alya juga, Alya apa ikut juga?" tanyq Bu Rita.
"Kurang tahu Tan!" jawab Farid
"Hhhh... ya sudahlah biarin semaunya dia. Tapi mamah nggak ijinin Alya ikut. Maaf ya Nak Anya" ucap Bu Rita ke Anya.
"Iya Tan" jawab Anya mengangguk saja. Padahal dalam hatinya.
"Kalau nggak Alya gue mati kutu dong. Please Tuhan kenapa jadi begini" batin Anya sambil menunduk
"Ya udah Om, Tan, kita mau jenguk Gery" pamit Farid ke Bu Rita dan Tuan Aryo.
"Ya" jawab mereka. Bu Rita dan Tuan Aryo, Farid dan Anya belum ada yang tahu tentang rencana pernikahan Gery.
Farid dan Anya berjalan bersama menuju ke ruang Gery yang berada di beda gedung dengan ruangan Ardi dan Bu Rita. Meski jalan berdua tapi jarak Anya dan Farid berjauhan, tidak terlihat seperti seharusnya orang yang hendak tunangan. Anya masih enggan dekat-dekat dengan Farid.
"Kamu capek apa Neng?" tanya Farid Anya melihat Anya berjalan jauh di belakang.
"Nggak, kenapa?"
__ADS_1
"Sini buahnya Aa yang bawa" jawab Farid merasa khawatir Anya berjalan pelan karena bawa barang.
"Nggak usah. Anya bisa bawa sendiri" jawab Anya ketus.
"Apa Aa jalanya kecepetan?"
"Nggak!"
"Terus kenapa Neng jalanya selalu tertinggal?" tanya lagi
Anya menelan salivanya, melihat ke kanan dan ke kiri celingukan.
"Anya malu"
"Malu sama siapa?"
"Aa kenal Dokter Gery? Kok nggak kasih tau?"
"Oh itu? Hehe, jadi, Aa, Ardi sama Gery tuh kita udah kenal sejak SMA, kita dulu ngeband bareng, kita udah kaya saudara" cerita Farid lagi.
"Oh gitu? Kok bisa sih?"
"Bisa gimana?"
"Kalian suka sama orang yang sama" ucap Anya masih berfikir Farid suka sama Alya.
Alasan Anya masih gengsi dengan Farid juga karena setau Anya Farid masih sayang ke Alya. Soalnya awal mereka dijodohkan mereka sepakat menolak perjodohan dengan alasan mengejar cintanya masing-masing. Meskipun kenyataanya cinta mereka sama-sama bertepuk sebelah tangan.
"Maksudnya?" tanya Farid yang belum tau kalau Gery juga sempat suka ke Alya.
"Ya kok bisa kalian suka sama Alya semua"
"Kita? Semua? Emang Gery juga suka sama Alya?" tanya Farid memastikan tapi malu sendiri.
"Aa nggak tahu?"
"Nggak! Gery cuma pernah cerita di temlat kerjanya ada dokter baru berhijab, cantik dan menantang, tapi kan itu bukan Alya banget"
"Hemmm"
"Alya kan lembut, keibuan, dan juga ramah" ucap Farid menyebutkan kelebihan Alya di mata Farid yang membuat Anya cemburu.
"Ehm Ehm"
"Neng kenapa? Ya bener kan yang Aa bilang? Emang Gery pernah suka Alya juga!"
"Tauk!"
"Neng gimana sih tadi cerita sekarang jawab gitu?" tanya Farid tidak peka Anya cemburu.
Anya kemudian berjalan cepat meninggalkan Farid.
__ADS_1