Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
87. Bohong


__ADS_3

*****


Hotel Wiralila


Di sebuah kamar presiden suit yang berada di lantai 30 sebuah hotel. Jam 10 pagi Ardi masih terkapar di bawah selimut, tubuh bagian atasnya memang terbuka, tapi celananya masih utuh. Dia sendirian, tanpa Dino ataupun istrinya. Masih dengan kepala yang terasa berat. Ardi membuka matanya.


"Sayang" panggil Ardi merasa di rumah. Kebiasaan bangun paginya selama 2 bulan terakhir ini, saat bangun dia selalu melihat istri solekhahnya. Entah melihatnya menggunakan mukenah mengajak sholat, atau dengan rambut basah terurai sehabis keramas, atau masih bergelung di pelukanya.


Ardi celingukan tidak ada siapa-siapa. Pagi ini bukan ruangan hangat dan rapih yang dia lihat, dia melihat jas, dasi dan kemejanya tergeletak di lantai. Ruanganya pun tampak asing. Ada sebotol minuman berakohol, dua buah gelas dan sebungkus rokok di meja.


Seingat Ardi semalam, di pesta peluncuran hotel wiralila, Ardi bertemu dengan sahabat lamanya saat di Australia, dia seorang artis namanya Riko. Dia memang bergaya hidup kebarat-baratan. Dia juga bersama Dino dan beberapa rekan bisnisnya.


"Shit, gue dimana?" umpat Ardi segera bangun saat menyadari tidak ada istrinya di sampingnya. Ardi baru sadar kalau ponselnya diberikan ke Alya. Dan dia belum sempat membeli yang baru karena seharian Dino ataupun dirinya sangat sibuk. Ardi sudah menyuruh Risha untuk membelikan ponsel terbaru yang nyaman dipakai, tapi Ardi belum bertemu Risha.


Ardi bangun mengingat lagi dengan baik kejadian apa yang dia alami semalam. Ardi ingat Lila datang membawakan minum, tapi Ardi menolak dan memberikanya pada Dino. Dia menghabiskan waktunya bercengkerama bersama teman-teman bisnisnya. Mengimbangi teman -temanya Ardi minum alkohol, minuman yang sangat dibenci ibu dan istrinya. Setelah itu dia tidak sadar lagi.


"Dimana Dino sekarang? Haish brengsek!" Ardi mengepalkan tanganya memegang bajunya basah terdapat muntahan. Ardi bangun hanya memakai jas tanpa kemeja dan berusaha keluar kamar. Saat Ardi membuka pintu, di saat yang bersamaan dari luar kawan lamanya hendak masuk.


"Riko?" panggil Ardi sedikit heran sahabatnya juga masih ada di hotel


"Lo udah bangun Bro? Nih gue bawain baju" tanya Riko dengan wajah tidak bisa ditebak.


"Dimana Dino?"


"Di kamar samping"


"Kenapa gue bisa di sini?"


"Masuk dulu, gue ceritain lengkapnya! Lila bikin masalah lebih gedhe dari ini" ajak Riko masuk.


"Gue butuh Dino, Istri gue pasti nungguin gue, gue harus ngabarin istri" jawab Ardi ingin segera bertemu asistenya, Ardi tidak tahu kalau sekarang wajahnya sudah beredar dimana-mana.


"Lo punya istri?" tanya Riko terkejut.


Ardi mengangguk dan mengiyakan. Ardi meminta Riko menghubungi Dino.


"Sory Bro, niat gue nolongin Elo, malah Lo kebawa-bawa"


"Gue nggak paham maksud Lo, emang ada apa? Gue harus ketemu Dino sekarang" jawab Ardi masih belum tahu apa yang terjadi.


Riko pun mengajak Ardi masuk, menceritakan apa yang terjadi dan mencari jalan keluarnya.


****


Rumah Sakit


Dengan sigap dan cekatan. Mira dan Anya segera membawa Alya ke IGD, tempat Alya dan Anya praktek sekarang. Perawat IGD dan dokter senior kaget melihat Anya dan Mira mendorong brankar perempuan bersneli, padahal sepanjang hari Alya bekerja baik-baik saja tidak mengeluh.


Sebagai sahabat, Anya langsung memasang oksigen dan infus sendiri ke Alya. Anya juga yang langsung obatin Alya. Dokter Mira pun ikut mendampingi.


Setelah melakukan pemeriksaan, Dokter Anya dan Dokter Mira saling pandang. Mencari penyebab Alya pingsan. Karena berdasar laboratorium darah, Alya sehat tidak ada infeksi atau tanda-tanda sakit tertentu, tanda-tanda vital Alya juga normal. Lalu mereka berdua memutuskan menunggu Alya sadar untuk dianamnesa lebih lanjut.


Anya dan Mira harus memastikan kapan terakhir Alya menstruasi. Setelah itu Alya sebaiknya dirujuk ke spesialis kandungan untuk memastikan diagnosa Alya.


Mira diam dan semakin curiga terhadap Alya. Tapi Mira memilih menjadi penonton dan menemukan teka-tekinya sendiri. Sementara Anya syok dan tidak mengira kalau sampai diagnosa dan kecurigaanya benar.

__ADS_1


Kalau benar Alya hamil, hamil dengan siapa? Bahkan dalam hal ciuman saja Alya bertanya dengan Anya. Dan Anya sangat yakin Alya tidak mempunyai teman kencan atau pacar. Alya gadis alim yang rajin beribadah. Membuka jilbabnya saja sangat jarang.


"Sebaiknya kita hubungi keluarganya" ucap Mira ke Anya.


"Saya bingung Dok, saya nggak kenal keluarga Dokter Alya, Dokter Alya cuma cerita kalau dia tinggal di rumah tantenya. Ternyata tantenya Bu Rita Gunawijaya, saya mana punya koneksi ke sana".


"Oh gitu? Kalau gitu gue wa_in Dokter Gery aja" jawab Mira.


"Kok Dokter Gery sih Dok?" tanya Anya heran.


"Si Ardi, yang tadi kamu tanyain ke Alya, temenya Dokter Gery" Mira menjelaskan ke Anya.


"Ooh pantes. Berarti bener, laki-laki yang waktu itu anter hape Dokter Gery ke sini emang sepupunya Alya" celetuk Anya spontan.


"Jadi Alya dan Ardi sepupuan?" tanya Mira pura-pura ingin tahu.


"Waktu saya nginep di apartemen Alya. Si Lelaki **y itu juga nginep di sana" jawab Anya jujur.


"Hush! Itu baru gosip jangan ngata-ngatain orang sembarangan, hati-hati kalau ngomong!"


"Ya kan itu di tv juga foto-fotonya Si Ardi bareng si Riko, di hotel lagi. Si Riko kan emang terkenal kelainan, terus pas gue ketemu orangnya. Orangnya jaim banget. Gue sapa aja nggak liat muka gue" jawab Anya menggebu-gebu teringat dirinya dicueki Ardi. Anya sangat yakin gosip itu benar.


"Jadi kalian pernah nginep bareng?" tanya Mira memastikan.


"Iya, Alya bilang, Alya nggak enak kalau harus nginep berdua bareng sepupunya. Makanya minta ditemani aku Dok" lanjut Anya bercerita.


Mira mengangguk, mencoba menerka sendiri. "Kalau cerita Anya benar. Ardi parah, dia benar-benar laki-laki payah kalau begitu, menghamili Alya yang notabenya sepupunya, masih kena skandal juga"


"Ya udah, sambil nunggu Alya sadar gue telpon Gery dulu" ucap Dokter Mira keluar dari kamar Alya. Anya mengangguk mempersilahkan. Mira menelfon Gery. Untungnya Gery sudah selesai operasi dan hendak pulang.


"Mira, Dokter Anya!" seru Gery melihat mereka menunggu.


"Ger, syukurlah kamu sudah datang. Kamu punya nomer Ardi atau ibunya?" tanya Mira pelan.


"Untuk apa?"


"Tentu saja memberitahu mereka Alya sakit, sebaiknya keluarganya ada yang jemput!" jawab Mira menjelaskan


"Alya bilang dia tinggal di rumah tantenya, Tantenya itu Bu Rita Gunawijaya" imbuh Anya menjelaskan.


Gery mengangguk tanda mengerti apa yang dimau dari kedua perempuan di depanya. Tapi Gery menjadi sangat kaget mendengat ibu sahabatnya itu Tante dan keluarga Alya. Itu berarti Alya dan Ardi bersaudara, lalu pagi itu apa? Gery melihat dengan jelas, Ardi menarik Alya dan menciumnya.


"Udah buruan telfon!" ucap Mira lagi melihat Gery melamun.


Gery pun memencet nomer Ardi. Tapi sayang meskipun berdering Gery tidak mendapat jawaban, justru ponsel di saku Alya yang berdering dan bergetar. Alya pun terbangun. Gery, Anya dan Mira tersenyum lega melihat Alya membuka mata.


"Anya? Dokter Mira? Dokter Gery?" panggil Alya lemas, berusaha bangun.


"Udah tiduran aja" jawab Gery menatap kasian ke Alya.


"Kamu kenapa Say? Udah nggak pusing? Gue khawatir banget sama Lo" ucap Anya menggenggam tangan Alya.


"Makasih ya" jawab Alya tersenyum ke ketiga temenya.


"Al, Lo kapan terakhir mens? Lo nggak telat mens kan?" celethuk Anya spontan mencari tahu diagnosa Alya pingsan.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Anya. Alya menelan salivanya merasa tertampar dan dheg-dhegan. Alya juga seorang dokter paham arah pertanyaan Anya kemana.


Alya mencoba mengingat sendiri, 1 bulan ini memang tidak mens. Alya menstruasi sekitar 15 harian sebelum Ardi melakukan itu terhadapnya di bulan sebelumnya. Itu artinya malam dimana Ardi menyentuhnya adalah hari subur Alya, kemungkinan besar Alya memang hamil. Tapi Alya tidak mungkin jujur di saat pernikahanya saja diujung tanduk.


"Aku baru selesai mens kok!" jawab Alya terbata Alya terpaksa berbohong lagi.


"Hah....untunglah. Lega aku mendengarnya" jawab Anya spontan mengelus dada. Mira dan Gery ikut tersenyum.


"Kamu telat makan ya?" tanya Mira menebak.


"Dasar ceroboh, nggak berubah juga. Dokter kok nggak jaga kesehatan!" timpal Gery mencibir. Mira lalu menyenggol Gery untuk tidak menyalahkan.


Alya tersenyum melihat Gery sudah biasa saja. "Makasih ya udah pada nolongin aku" ucap Alya ramah. "Aku ngrepotin kalian terus"


"Gue antar pulang ya? Anya bilang Lo tinggal di rumah tante Rita?" tawar Gery ke Alya. Alya menatap Mira dan Anya. Anya memberi kode suruh mengiyakan.


"Alya dianter jemput sopir" jawab Alya menolak.


"Oke, syukurlah kalau ada yang jemput. Apa lo pingsan mikirin Ardi?" tanya Gery tiba-tiba.


Anya dan Mira kaget mendengarnya. Sementara Alya jadi gelagapan, saat Gery membahas Ardi.


"Meskipun gue masih benci sama dia. Gue yakin Ardi nggak begitu kok!" ucap Gery menepuk tangan Alya sambil tersenyum tipis.


Mira menatap Gery dengan kagum, meskipun Gery patah hati tetap membela temanya. Sementara Alya hanya diam mendengarkan penuturan Gery dengan Nanar. Tetap saja membayangkan Gery bermesraan dengan sesama laki-laki sangat menjijikan.


Berbeda dengan Anya yang tampak bingung, "Alya pingsan mikirin Ardi? Ngapain nggak penting banget!". Anya terlanjur memandang jelek ke Ardi karena waktu di apartemen dicueki. Ardi juga yang membuat Alya harus meninggalkan apartemen Megayu.


Setelah memastikan Alya baik-baik saya Gery pamitan, disusul Mira. Sekarang Alya tinggal berdua dengan Anya.


"Lo mikirin sepupu lo yang rese itu Al?" tanya Anya polos.


"Nggak, ngapain juga" jawab Alya bohong terus.


"Siip, nggak usah mikirin hidup saudara kek gitu, yang penting lo udah baik sama dia, dan Tante lo baik ke Lo!" tutur Anya sok menasehati.


Alya hanya tersenyum getir mengangguk ke Anya. Alya melihat ponselnya. Jam pulangnya masih 15 menit lagi. Alya masih berharap ada pesan atau telfon dari suaminya tapi ternyata nihil.


"Cabutin infusku dong Nya" pinta Alya ingin siap-siap pulang.


"Nantilah masih banyak, biar lo nggak lemes dihabiskan dulu, gue resepin obat pulang yaa, Lo jangan telat makan lagi!" omel Anya ke Alya.


"Kalau aku nginep di kosan kamu boleh?" tanya Alya tiba-tiba, membuat Anya sedikit heran.


"Kamu mau nginep di kosanku?"


"Lebih tepatnya aku pingun ikut tinggal" jawab Alya menekankan.


Anya tersenyum bahagia dan mengiyakan permintaan sahabatnya.


"Serius?" tanya Anya.


"Iya"


"Lo udah nggak sungkan dan nggak enak hati lagi sama tante Lo?"

__ADS_1


"Nggak! Aku udah lama pengen kos sendiri" jawab Alya mantap berniat menjauh dari Ardi.


__ADS_2