Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
177. Pembunuh Jack


__ADS_3

"Silahkan Tuan" ucap anak buah Ardi mempersilahkan Ardi dan Gery masuk ke sebuah ruangan di dalam gedung kosong.


Ardi dan Gery diikuti beberapa laki-laki berbaju hitam. Sebagian dari mereka berjaga-jaga di luar. Sebagian lagi mengantar Ardi.


Karena menunggu hasil dari po***i cenderung memakan waktu yang cukup lama, Ardi turun tangan sendiri. Memberi perintah ke orang kepercayaan Ardi membawa si tukang rental mobil.


Awalnya si tukang rental tidak pernah ada di rumah. Bahkan usahanya ditutup. Pihak yang mengawasi cenderung mentok dan penyelidikan mandheg.


Untung, selesai praktek Gery iseng. Berniat mencari tahu siapa Tito. Gery mendatangi rumah besar itu. Gery melihat ada mobil keluar dari rumah gedong itu. Gery mengikutinya.


Yang keluar bukan Tito ataupun Lila atau ayahnya. Melainkan beberapa laki-laki berpenampilan serba hitam. Gery membuntuti mereka, mereka tampak berhenti di sebuah rumah kecil. Gery merekam orang-orang itu.


Orang-orang berpenampilan seram itu tampak membentak dan mengancam seseorang. Kemudian memberi uang ke orang itu. Dan tidak lama orang itu membawa tas besar mengajak anak dan istrinya pergi.


Gery langsung menghubungi Ardi, mengirim videonya. Ardi merespon cepat dan meminta Gery menghentikan laki-laki itu pergi. Anak buah Ardi kemudian menyusul Gery dan berhasil menahan tukang rental itu.


Dan kini tukang rental aman berada di markas Ardi. Ardi ingin tukang rental menjadi saksi dan memberi petunjuk. Siapa pengemudi mobil yang digunakan untuk membunuh Jack pagi itu.


"Selamat malam Pak" sapa Ardi ke tukang rental itu.


"Selamat malam Tuan" jawab tukang rental gemetar.


"Anda kenal siapa saya?" tanya Ardi dingin menatap tukang rental, Ardi diikuti Gery dan dua anak buahnya.


"Tidak Tuan" jawab tukang rental gemataran.


Ardi mengeluarkan kartu namanya. Ardi memberitahu kalau Ardi adalah Ardi Gunawijaya, pewaris Gunawijaya Grup. Perusahaan raksasa yang sudah tersohor kesuksesan dan kebaikanya.


"Tuan Ardi?" tanya tukang rental gugup.


Ardi memang mempunyai sifat berbeda dengan Tuan Aryo. Ardi sangat menghindari wartawan atau media. Ardi juga tidak suka pergi diikuti pengawal kecuali penting. Ardi juga jarang menghadiri perkumpulan pengusaha yang melibatkan media, jadi sedikit orang yang bisa mengenali Ardi.


"Berapa uang yang anak buah Tuan Wira beri? Saya akan bayar 3 kali lipatnya" ucap Ardi tenang ke tukang rental.


"Maafkan saya Tuan"


"Anda pilih sekarang, berpihak pada saya atau Tuan Wira. Anda tahu siapa Tuan Wira?"


"Maaf Tuan tidak tahu apa-apa, saya ingin berpihak panda anda, tap tap tapi"


"Tidak masalah jika anda tidak mau memihak kepada kami. Plat nomer mobil anda sudah menjadi bukti di kantor polisi. Kalau bukan anda yang jadi tersangka, ya dia yang menyewa mobilmu yang akan jadi tersangka, itu pilihanya" tutur Ardi ringan memancing si tukang rental.


"Ampun Tuan. Saya tidak mau dipenjara, saya tidak tau apa-apa, kasihani anak dan istri saya"


"Katakan siapa yang meminjam mobilmu"


"Saya tidak mau dibunuh Tuan, saya ingin anak dan istri saya selamat, saya tidak tahu"


"Apa anda mengenal saya?" tanya Ardi lagi seakan memberitahu kalau dirinya mempunyai kekuatan seharusnya tukang rental mempercayainya.


"Iya Tuan?"

__ADS_1


"Saya akan bantu anda agar tetap aman, katakn saja siapa yang meminjam mobil anda"


"Bukankah Tuan Ardi sudah tau?"


"Katakan bukan pada saya. Tapi katakan pada polisi. Semua tentangmun saya rahasiakan, anda akan aman"


"Apa jaminan keselamatan bagi saya dan keluarga saya?"


"Tinggalah di tempat yang sudah saya sediakan sampai pembunuhan Jack terungkap. Saya akan beri anda uang, terserah anda mau apa setelahnya"


"Baik Tuan"


"Sekarang katakan, jelaskan dengan rinci, siapa yang meminjam mobil mu?" tanya Ardi lagi.


"Dia bernama Vicky Tuan. Dia salah satu anak buah Tuan Wira. Dia dulu mantan preman di kampung kami" tutur tukang rental memberitahu.


"Sekarang dia tinggal dimana?"


"Dia tinggal di kampung Seroja Tuan"


"Selain preman apalagi yang anda tahu tentang Vicky"


"Vicky mantan narapidana Tuan"


"Narapidana?"


"Iya Tuan"


"Kasus apa?"


"Baiklah. Catat alamat rumah Vicky berikan padaku"


"Baik Tuan" jawab tukang rental mengangguk.


Kemudian Ardi menoleh ke anak buanya.


"Ron, beri dia kertas dan ballpoint" ucap Ardi memberi perintah ke anak buahnya. Sementara Gery duduk bersedekap menunggu Ardi dan tukang rental.


Tukang Rental kemudian menuliskan alamat rumah Vicky. 90 persen, Ardi yakin Vickylah pembunuh Jack. Ardi dan Gery berniat menangkap Vicky malam itu juga.


Ardi juga harus membuat Vicky mengakui siapa yang menyuruhnya dan membayarnya. Meskipun Gery dan Ardi yakin itu Tito. Tapi Ardi Gery ingin Tito tertangkap basah dan benar-benar terbukti.


"Ron" panggil Ardi ke Roni anak buahnya.


"Siap Tuan"


"Antarkan dia dan istrinya ke apartemenku. Beri mereka uang. Pastikan mereka aman sampai si brengsek membusuk"


"Siap Tuan" jawab Roni. Lalu Roni mengajak tukang rental.


"Pak, ikutlah denganya kalian akan aman" tutur Ardi ke tukang rental.

__ADS_1


"Terima kasih Tuan, terima kasih atas kemurahan hati Tuan Ardi" ucap tukang rental mobil.


Ardi mengangguk tersenyum.


Ardi melirik ke sudut ruangan, tampak istri tukang rental memeluk anaknya yang berusia balita dan tertidur di pangkuanya.


Ardi tahu tukang rental ini tidak salah apapun. Tapi mereka harus terlibat dan menjadi tidak aman.


Atas kemurahan hatinya Ardi ingin mereka tinggal nyaman dan terjami di salah satu apartemenya.


"Ayo Ger" ajak Ardi ke Gery.


Gery, Ardi dan anak buah Ardi beranjak dari gedung kosong itu. Ardi membawa 4 anak buahnya yang pandai beladiri.


Sebenarnya biasanya Ardi tidak pernah ikut terjun ke lapangan. Tapi kali ini Ardi gemas sendiri. Karena ternyata musuh dia adalah orang yang akan memperalat Mira.


Ditambah Gery sang rival Tito. Gery menjadi sangat geram. Dengan nafas yang memburu, dengan darah yang mendidih dan semangat 45, Gery memasang badan membantu Ardi. Gery bersedia turun langsung.


Seperti apapun halangan dan rintanganya. Gery harus buktikan ke orang tua Mira siapa Tito. Gery harus ambil hati orang tua Mira.


Tidak lama mereka masuk ke pemukiman padat penduduk. Bahkan mobil Ardi tidak bisa masuk. Ardi kemudian memarkirkan mobilnya dipinggir jalan.


Ardi dan Gery mengajak dua anak buahnya turun dan dua anak buahnya menunggu di mobil. Gery , Ardi dan dua anak buahnya berjalan melewati jalan setapak yang diapit tembok. Kemudian melewati jalan kecil melewati rumah kumuh.


Dan sampailah mereka di nomer rumah yang mereka tuju. Rumah kecil bercat ijo, sofa bekas dengan kulit yang mengelupas tampak terpajang diteras. Kaca dan pintu rumahnya penuh dengan stiker.


Di depan rumah itu tampak dua balita yang terlihat kumal dan kecil, mereka sedang bermain mobil-mobilan. Gambaran yang menyedihkan di mata Ardi. Ardi yakin Vicky orang miskin yang tidak punya pekerjaan.


"Permisi Dhek" sapa karyawan Ardi


Kedua anak kecil itu mendongak kaget.


"Apa benar ini rumah Pak Vicky?" tanya anak buah Ardi.


"Iya benar" jawab anak balita itu.


"Apa dia bapakmu?" tanya Ardi maju.


"Dia bukan bapakku, tapi dia menikah dengan ibuku" jawab anak itu polos.


"Apa dia di rumah?"


"Tidak, dia baru saja pergi"


"Pergi?"


"Iya"


"Kemana?"


"Tidak tahu" jawab anak kecil itu.

__ADS_1


Mendengar jawaban anak kecik itu, Ardi menoleh ke anak buahnya.


"Periksa rumahnya!" perintah Ardi ke anak buahnya.


__ADS_2