
Embun pagi masih menempel manja di daun-daun yang hijau. Kabut hitam perlahan menghilang dan matahari mulai menyapa.
Sesuai dengan kesepakatan, Bu Mirna sudah bersiap-siap, dia segera mandi setelah sholat subuh.
Seperti sudah diatur sama Tuhan, meski Bu Mirna tidak sengaja, kedatangan Bu Mirna bertepatan dengan hari lamaran Farid dan Anya. Jadi Bu Mirna bisa datang ke hari bahagia dua manusia yang menurutnya sangat baik.
"Ibu pakai baju warna apa ya?" tanya Bu Mirna meminta pendapat ke putrinya.
"Ibu cantik pakai baju apa aja Bu" jawab Alya.
"Bagus yang biru atau yang abu?" tanya Bu Mirna lagi menunjukan dua gamis brukat yang disediakan Bu Rita. Karena Bu Mirna tidak membawa baju formal.
"Yang abu aja Bu" jawab Alya memberi saran, Bu Mirna kemudian mengikuti saran anaknya, memakai gamis brukat warna abu.
"Alya dandanin ibu ya!" tutur Alya menawarkan.
"Ahh. Dandan-dandan segala udah tua juga" jawab Bu Mirna sambil menggulung merapihkan rambutnya yang mulai timbul uban.
"Mamah Rita aja masih cantik dan dandan, ibu juga ya, biar ibu juga cantik" jawab Alya bermaksud memotivasi ibunya sambil duduk di meja rias.
"Mertuamu kan kaya Nduk. Nggak boleh badingin ibu, mertuamu memang harus terawat, wong masih punya suami juga" jawab Bu Mirna membela diri merasa sudah tidak perlu dandan.
"Maaf Bu, Alya nggak bermaksud bandingin, tapi nggak ada salahnya kan merawat diri" jawab Alya lagi.
"Lah ibuk buat apa dandan. Wong udah tua kok! Buat siapa juga dandan" jawab Bu Mirna lagi lalu mengambil kerudungnya.
"Ya nggak apa-apa Bu. Biar Mas Ardi juga seneng, ibu mertuanya cantik. Apa cantik harus nunggu punya suami nggak harus kan? Oh iya, Apa ibu mau nikah lagi?" tanya Alya meledek.
"Ishh kamu, nggak, ibu nggak mau nikah lagi, bapakmu yang terbaik. Nggak ada yang bisa gantiin bapakmu Nduk" jawab Bu Mirna lalu duduk sejenak di sisi Alya.
"Kalau Alloh berkehendak, masih kasih ibu jodoh gimana coba?" tanya Alya.
"Kamu itu kalau ngomong sukanya asal"
"Lah ibu, ikut ke Jakarta kan nggak mau, kalau dipikir-pikir, daripada sendirian, ibu nikah lagi aja, biar ibu ada temenya" tutur Alya memberi ide.
"Ngawur kamu" jawab Bu Mirna tersipu.
"Ya kan bener Bu. Biar ibu punya temen ngobrol, sayang sama ibu, lindungi Ibu. Alya bentar lagi punya anak, Alya khawatir, apa Alya bisa berbagi waktu mengurus ibu dan keluarga Alya"
"Naak. Kalau kamu nggak bisa ngrawat ibu. Ibu bisa ngrawat diri ibu sendiri. Kamu nggak usah khawatir"
"Tapi Alya kasihan, ibu kesepian, Alya juga kepikiran. Alya bingung harus milih ibu apa suami Alya"
"Sudah, kamu fokus ke keluargamu aja. Jangan pikirkan ibu"
"Tapi menurut Alya, menikah itu tidak buruk Bu!"
"Kamu pikir nikah di usia ibu mudah Nak? Ibu sudah tua, belum tentu suami ibu akan sebaik bapakmu. Kalau galak? Jahat? Gimana? Ibu sudah tidak bisa melayani suami dengan baik" jawab Bu Mirna lagi.
"Ya milihnya yang baik Bu, kan jodoh cerminana diri katanya" tutur Alya masih terus memotivasi ibunya.
"Nggak, nggak! Kalau mau nikah, ibu nikah dari dulu! Ibu mau sendiri aja. Bapakmu satu-satunya" jawab Bu Mirna tegas.
"Hemmm" Alya hanya bisa berdehem mendengar kegigihan niat menjanda ibunya.
"Ibu mending urus anakmu daripada harus urusin suami lagi" sambung Bu Mirna lalu melanjutkan memakai kerudung.
"Bener ibu mau ikut Alya, dan urus anak Alya?"
"Ya kalau kamu punya rumah sendiri Ibu mau ikut kamu, tapi kalau di sini, ibu berkunjung sesekali aja. Ibu nggak enak sama mertuamu" jawab Bu Mirna.
"Hemmm, Papa Mamah pengenya kita tinggal di sini Bu. Alya ikut suami aja" jawab Alya lemes.
"Ya udah nggak usah mikirin ibu. Temen-temen pengajian ibu juga banyak kok. Ibu nggak kesepian"
"Hemmm. Alya pengen ibu ada temenya, kalau nikah lagi kan ibu ada temenya"
"Wes wes. Ibu udah rapih belum jilbabnya?" jawab Bu Mirna tidak mau membahas nikah terus.
Alya meneliti ibunya sebentar, menyuruhnya berputar.
__ADS_1
"Pake bedak dan lisptik dikit ya?" ucap Alya.
"Ibu udah tua Nduuk, nggak usah, begini cukup" jawab Bu Mirna ingin polosan saja.
"Udah ibuk diam aja, Alya dandanin!" tutur Alya ngotot dandani ibunya.
Lalu Alya memakaikan krim, pelembab dan bedak ke ibunya tipis-tipis. Setelah itu memoleskan lipstik sedikit-sedikit agar ibunya tidak pucat.
Jika dulu sewaktu kecil Alya yang didandani, kini gantian Alya yang mendandani ibunya. Alya dengan telaten membuat ibunya kembali memancarkan kecantikanya.
Bu Mirna menurut saja akhirnya. Sambil memandangi wajah Alya yang semakin kesini, Alya semakin cantik. Ada rasa haru di hati Bu Mirna.
Takaran rejeki dan nasib Tuhan memang sudah dijamin. Apa yang dulu pernah Bu Mirna lepaskan dengan ikhlas. Meski Bu Mirna harus menempuh waktu yang lama bertahan dalam kepedihan. Kini semua kembali, kesedihan itu terbayar lunas.
Putrinya sudah kini bahagia, menjadi Nyonya Ardi Gunawijaya. Seorang pewaris dari perusahaan besar. Lebih besar dari perusahaan kakeknya. Bahkan Alya sangat amay dimanja. Menyentuh sapu saja Ardi akan marah.
Kemana-mana maunya menempel. Alya selalu pergi memakai kendaraan mewah dan nyaman. Hidup Alya terjamin dan dihormati.
Bu Rita dan Tuan Aryo juga sangat menyayanginya. Alya mendapatkan lebih dari apa yang seharusnya dia miliki dari kakeknya.
Bahkan kini Bu Mirna ikut merasakan. Rumah Alya bak istana dengan banyak pelayan. Bahkan lebih baik dari hotel. Fasilitasnya pun sangat lengkap.
Teman-teman Alya juga sangat baik dan menyayanginya. Tanpa Bu Mirna sadari, air mata Bu Mirna turun dan membuat bedaknya berantakan.
"Aiiih, ibu nangis? Ibu nangis kenapa?" tanya Alya ke ibunya.
"Nggak apa-apa Nduk!" jawab Bu Mirna menggelengkan kepalanya tapi tetap meneteskan air mata.
"Tuh kan bedaknya luntur" ucap Alya cemberut.
Lalu Bu Mirna langsung memeluk Alya tanpa berkata-kata. Alya jadi bingung, tersentuh, kemudian balas memeluk dan menepuk bahu ibunya pelan.
Alya menjadi ikut-ikutan menangis meski tidak tahu apa sebabnya. Rasanya dipeluk seperti itu sama ibunya sangat nyaman.
"Ibu harus tetep sehat ya Bu" tutur Alya pelan.
"Iya"
"Iya"
"Maafin semymua salah Alya ya Bu, maaf belum bisa bahagiain ibu"
"Nggak perlu minta maaf Nduk. Nggak ada yang salah"
"Ibu pengen apa? Katakan? Alya akan berusaha ujudkan asal ibu bahagia"
"Ibu mau kamu bahagia Nak, itu lebih dari apapun, kamu bahagianya ibuk"
"Makasih ya Bu, udah sih nanti telat buruan dandannya" jawab Alya menyeka airmatanya.
Bu Mirna kemudian merapihkan bedaknya. Lalu mereka bangun.
Jam dinding menunjukan pukul 5.15 jadi Alya belum siap- siap ke rumah sakit. Alya kemudian mengantar Bu Mirna keluar menunggu Bu Rita dan Tuan Aryo.
"Alya panggil mamah dan papah ya Bu!" tutur Alya memberi ide ke Bu Rita.
"Nggak usah, dikira ngeburu-buru. Kita tunggu dulu saja ya" jawab Bu Mirna.
"Takutnya masih tidur Bu, kita kan juga nggak tau papah pulang jam berapa semalam"
"Oh iya yah?" jawab Bu Mirna mengangguk.
"Ya udah Alya telpon Mamah!" jawab Alya.
Alya pun segera menelpon mertuanya. Dan benar saja Bu Rita dan Tuan Aryo bangun kesiangan. Lalu sambil menunggu besanya Bu Mirna berniat menghirup udara segar. Keluar rumah dan melihat halaman.
Sementara Alya menelpon Dinda dan memberi tahu alamatnya. Agar Dinda bisa ikut rombongan orang tuanya menghadiri acara tunangan Anya dan Farid.
"Oke gue otewe ke rumah lo ya" ucap Dinda.
"Iya naik apa?" tanya Alya
__ADS_1
"Taxi onlen aja. Biar pulangnya dijemput Papah"
"Oke hati-hati ya!"
"Oh iya. Gimana udah dapet nomer Dika belum?" tanya Dinda menagih janji.
"Hee. Kamu ke sini dulu aja ya, nanti ada yang mau aku sampaiin" jawab Alya nyengir.
Sampai sekrang belum dapet nomer Dika. Alya malah dimarahi suaminya. Jadi Alya harus cerita empat mata dengan Dinda.
"Ya. Jangan berita yang buat gue patah hati lho!" jawab Dinda berfikir macam- macam, karena Alya meminta bertemu.
"Iya enggak!"
"Yes!"
"Udah buruan kesini. Ibuku udah siap!"
"Yaaa" jawab Dinda mengakhiri telepon.
Belum Alya menutup telepon. Bu Mirna dari luar rumah datang membawa bingkisan kado.
"Nak ada yang ninggalin ini di depan pintu" tutur Bu Mirna menyerahkan bingkisan kotak berbalut kertas kado.
"Apa Bu?" tanya Alya.
"Nggak tahu, nggak ada nama dan alamatnya, Nduk" jawab Bu Mirna.
Alya mengambilnya dan memeriksanya dengan baik. Bingkisan itu tanpa nama, ini pertama kalinya ada hal seperti ini di rumah itu.
Bahkan paket beli online saja tidak sampai masuk ke ruang tamu, hanya sampai di pos satpam. Penjagaan di rumah Tuan Aryo ketat.
"Siapa ya yang naruh?" tanya Alya berfikir.
"Ada apa Al?" tanya Tuan Aryo dengan setelan batik mahalnya lewat.
"Ini Pah. Ada kado di depan pintu, tapi nggak ada namanya untuk siapa dan dari siapa" jawab Alya menunjukan kado misterius itu ke mertuanya.
Tuan Aryo berekspresi dingin seperti biasanya. Mengulum lidahnya sambil berfikir dan segera membuka kado itu sendiri.
Alya dan Bu Mirna tidak berani bertanya atau melihat. Alya dan Bu Mirna tau diri, kekuasaan tertinggi adalaha Tuan Aryo dan Ardi, mereka tidak mau lancang.
Mata Tuan Aryo mendelik melihat isi kotak kado itu. Ternyata isinya foto, yang entah foto apa. Dan Tuan Aryo langsung meremas, menyobek-nyobek foto itu dan memasukan ke tempat sampah, dengan ekspresi kesal tanpa berkata apa-apa.
"Ehm" Alya berdehem ingin bertanya, tapi Alya tidak begitu berani, mertuanya tampak dingin.
Dan Tuan Aryo hanya berlalu keluar rumah. Seperti hendak memastikan kesiapan mobil.
"Apa isi kotak itu? Kenapa papah terlihat marah?" pikir Alya melirik ke tempat sampah penasaran.
"Sudah tidak usah ikut campur urusan mertuamu. Kalau menurut mertuamu kamu tidak perlu tau tidak usah ikut campur" tutur Bu Mirna menasehati.
Alya mengangguk tanda setuju. Tidak lama Bu Rita turun sudah dengan dandanan cantiknya memakai kebaya.
"Udah siap to Jeng? Maaf ya nunggu lama" tutur Bu Rita ramah.
"Nggak apa-apa" jawab Bu Mirna.
Alya hanya tersenyum, otaknya masih tertuju ke tempat sampah. Alya juga tidak berani bercerita ke Bu Rita.
"Temenmu gimana sayang?" tanya Bu Rita.
"Sedang dalam perjalanan Mah"
"Oh ya udah sarapan dulu yuk. Papahmu kemana?"
"Papah tadi keluar Mah"
"Ya udah sarapan dulu, biar mamah panggil papah dulu"
"Ya Mah"
__ADS_1