Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
67. 1 detik 1 juta


__ADS_3

"Ck" Ardi berdecak melihat istri galaknya.


"Seharusnya Dino telpon 30 menit lebih akhir, pasti gue udah dapetin yang gue mau, masa gue harus perkosa istri gue sendiri sih, tambah sebel lagi dia sama gue" gumam Ardi mengacak- acak rambutnya lalu bangun mengambil kunci yang dia sembunyikan.


"Tutup matanya" perintah Ardi ke Berlian yang duduk menantikan kunci lemari dan kunci kamar.


"Kenapa harus tutup mata segala sih?" tanya Alya heran.


"Biar kamu nggak liat!" jawab Ardi jutek.


"Ish.... lagian mau dikasihkan ke aku juga. Dasar aneh! Buat apaa gitu, lemari dikunci- kunci segala" cibir Alya kesal dengan kelakuan suaminya.


"Soalnya istriku nggak pernah nurut" jawab Ardi lagi masih berdiri di dekat lemari belum ambil kunci.


"Emang aku nggak nurut? Nurut kok" tanya Alya kesal.


"Emang menurut kamu, kamu udah nurut sama aku?" jawab Ardi.


"Yaa. Dikiit. Pada dasarnya aku penurut kok" jawab Alya tidak sabar dapatin kunci.


"Janji? Nurut dan patuh sama suami?" tanya Ardi lagi ingin membuat kesepakatan.


"Tergantung" jawab Alya menelan salivanya dan mengurungkan niat berbaikan dengan suaminya. "Enak aja, kalau aku harus patuh semuanya. Kalau tiba-tiba minta itu? Oh tidak bisa!" gumam Alya dalam hati tidak mau dibodohi Ardi.


"Nurut apanya? Begitu kok bilangnya nurut? Dosa lho suka ngelawan suami" cibir Ardi sambil mengambil kunci di saku jaket.


"Terus, emang mas nggak dosa, bertindak semena-mena sama istri? Apa-apa maksa? Sampe ngebiarin istri keluar nemuin laki-laki lain pake baju begini?" jawab Alya memojokan Ardi dan memperhatikan langkah Ardi mengambil kunci.


"Ternyata disakuin di jaket, pantes aku obrak abrik seluruh kamar nggak ketemu, dasaaaarrr dasar, suami gila" gerutu Alya melihat Ardi mengambil kunci dari saku jaket yang dibawa pergi.


"Nih kuncinya" tutur Ardi menunjukan kunci tidak memperdulikan omelan Alya.


Mata Alya berbinar dan segera bangun dari duduknya hendak mengambil kunci


"Eits, nanti dulu" jawab Ardi menarik lagi kuncinya ke dalam genggaman tanganya.


"Hufft... dasar" Alya melotot ke Ardi sebal.


"Cium dulu..." perintah Ardi menunjuk pipi kanannya.

__ADS_1


"Nggak!" jawab Alya tegas lalu duduk lagi. "Ish Pede banget minta cium"


"Mana katanya jadi istri penurut? Ya udah. Pake aja baju itu terus nggak boleh keluar kamar!" jawab Ardi lagi.


"Haishh. Ya ampun!" jawab Alya geram ke suaminya ingin mencakar mukanya.


"Mas itu bau alkohol, mana mungkin aku cium kamu. Bahas-bahas dosa, minum alkohol itu dosa! Tau nggak? Udah terserahlah, dikunci ya situ, aku keluar aja sekarang dari apartemen sekalian" jawab Alya ngambek mengancam Ardi.


"Iya ya maaf" sahut Ardi mencegah Alya pergi.


"Seandainya kamu tahu Berlian, gue juga nggak suka minum alkohol, seandainya lo tau, pengen ceritain semuanya, aku sungguh ingin membangun rumah tangga yang bahagia bersamamu" batin Ardi menatap Alya menghentikan langkahnya.


"Sungguh mas minta maaf?" tanya Alya lagi.


"Iya, duduk dulu sini mas mau ngomong" pinta Ardi lembut menyuruh Alya duduk di dekat Ardi.


"Ya Ampun mas, mau ngomong apa sih? Katanya ngantuk banget, kalau ngomong terus keburu subuh nggak tidur" jawab Alya menolak permintaan Ardi.


Setiap Ardi berbicara lembut jantung Alya selalu berdebar tidak karuan. Bayangan peristiwa sebelum Ardi pergi masih selalu datang ke Alya. Bahkan rasa setiap sentuhan Ardi masih teringat jelas. Mungkin karena itu adalah yang pertama kali seumur hidup Alya.


"Mas, mau bahas tentang panti" jawab Ardi meminta pengertian ke Alya untuk mau diajak ngobrol.


"Udah besok pagi ya, sekarang tidur dulu" jawab Alya tetap menolak mengobrol dan berharap Ardi segera pergi.


"Bahkan mau ngobrol sama istri aja susah bener sih!" gerutu Ardi lalu pergi tidur di depan TV.


****


"Huh, lupa naruh? Bilang aja sengaja. Kenapa dia cerdas banget sih buat ngerjain aku? Kenapa juga aku selalu tidak bisa nolak perbuatanya, ya ampun, bahkan dia sudah melihat pa******ku, memegangnya" gumam Alya menutup mukanya malu di bawah selimut, jantungnya tiba-tiba berdegub kencang, rasa panas dan di tubuh Alya masih terasa. Alya mencoba memejamkan matanya dan melupakan semuanya.


"Ya Tuhan, dia sungguh suamiku? Apa aku jahat menyuruhnya tidur di luar? Bahkan apartemen ini miliknya" pikir Alya lagi membuka matanya.


"Salah dia sendiri. Kenapa ninggalin aku, dan pulang bau alkohol, entah darimana dan dengan siapa dia pergi?" Lalu Alya kembali menutupi tubuhnya dengan selimut dan berusaha memejamkan matanya lagi. Tapi tetap saja bayangan Ardi mencumbunya, membuka kancing piyamanya dan seterusnya masih terasa di benak Alya.


"Hah.... kenapa begini sih? Aku harus tanya ke Dinda dan Anya besok"


Alya memeluk dirinya sendiri, menyadari kini tubuhnya sudah dijamah suaminya. Iya kini Alya sudah menjadi istri. Jika saja, Dino tidak menelfon Ardi, entah apa selanjutnya yang terjadi.


"Seharusnya aku bersyukur, Mas Ardi pergi, aku tetap masih perawan. Tapi kenapa rasanya aku kesal sekali, sebenarnya dia pergi kemana? Dengan siapa? Kenapa hanya dia yang bau alkohol, bahkan asistenya itu tetap wangi" Alya membuka matanya lagi dan membuka selimutnya lagi.

__ADS_1


"Apa yang mau dia obrolin ya? Bahas panti? Kenapa dia selalu ingin menciumku? Kenapa dia nekat menikahiku? Padahal dia terlihat marah saat mengetahui namaku Alya?"


Alya lalu bangun dari tidurnya, Alya duduk bersandar bantal, dilihat jam dinding sudah melewati pukul 3 malam. Alya berniat melihat suaminya. Entah apa yang akan Alya lakukan, Alya hanya ingin memastikan suaminya baik-baik saja. Alya membuka pintu kamar pelan-pelan lalu diintipnya seseorang yang berada di ruang tengah.


"Ish, ternyata asistenya belum pulang, kasian sekali, dari wajahnya terlihat seperti orang pintar, sopan. Laki-laki ganteng seperti dia, mau-maunya bekerja pada orang sinting kaya suamiku"


"Ish ngapain juga aku di sini, dan peduli, tidur tidur Alya" Alya menoyor kepalanya sendiri lalu menutup pintu kamar dan kembali berbaring


"Tidak, tidak, dia tidak mencintaiku, sadar Alya! Dia hanya laki-laki gila, mesum dan bujang tua obsesi, aku tidak boleh tergoda lagi"


Alya mematikan lampu, berbaring di bawah selimut dan memejamkan matanya lagi.


******


"Harus dengan cara apa sih gue bisa buat dia paham" gumam Ardi berbaring miring di depan TV mainan ponsel. Lalu dia mengubah posisinya terlentang melihat langit-langit. Ardi mengingat apa yang dia lakukan terhadap istrinya sebelum pergi, Ardi mengira istrinya sudah berubah dan mulai menerima Ardi. Tapi endingnya berakhir sama.


"Gue udah lama nggak ketemu Farid dan Gery, apa gue tanya ke mereka? Ah Tidak, tidak. Mereka sama saja, mereka kan jomblo dan pria patah hati? Gue juga nggak mungkin cerita ke Farid sekarang, apa kata Farid kalau tau Alyanua gue nikahin" Ardi masih mengobrol dengan dirinya sendiri dan hilang ngantuknya.


Ardi mencoba memejamkan mata. Berbaring ke kanan, ke kiri, tetap tidak bisa tidur. Lalu Ardi memutuskan untuk menelfon Dino dan menemaninya tidur di ruang tengah. Tidak selang berapa lama Dino tiba di apartemen Ardi.


"Maaf Tuan" sapa Dino.


"Kenapa kamu tidak pulang?" tanya Ardi ke Dino, ternyata asistenya benar-benar patuh.


"Bukankah Tuan yang bilang saya malam ini tidur di mobil?"


"Tapi kan kamu bisa kabur"


"Ehm" Dino berdehem mendengar jawaban bosnya yang susah dimengerti, dia sendiri yang menyuruh tapi dia sendiri yang memberi ide untuk melawan.


"Aku tau, jam segini udah nggak ada taxi di sini. Tidurlah di sofa depan" jawab Ardi lagi sedikit perhatian ke Dino.


"Baik Tuan" jawab Dino lega ternyata Tuanya memikirkanya.


"Di sini kamarnya hanya satu, jadi tidurlah di sofa. Kamu boleh bawa mobilku kalau Arlan sudah datang"


"Baik Tuan"


"Ingat kalau istriku keluar jangan menatap! Berani melihat istriku gajimu kupotong, setiap detiknya 1 juta"

__ADS_1


"Baik Tuan" jawab Dino patuh lalu pergi ke ruang tamu dan membaringkan tubuhnya di sofa.


"Tuan Ardi aneh sekali, istrinya memang cantik dan imut sekali, tapi memangnya bisa tidak menatap seseorang jika berhadapan? Salah siapa dibangunin diam saja"


__ADS_2