Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
56. Jadi Suami - Istri


__ADS_3

Setelah akad selesai, Bu Mirna, Alya, Ardi dan kedua orang tuanya melakukan makan bersama. Kini Alya sudah resmi menjadi keluarga Gunawijaya. Meski menikah dengan cara yang aneh, dan membuat kandas cita-cita Bu Mirna untuk menikmati hari tua di Jogja bersama Alya. Tapi Alya patut bersyukur, kedua mertuanya sangat menyayanginya.


"Alya...." panggil Bu Rita.


"Iya Mah" jawab Alya menatap ke Bu Rita.


"Liburmu berapa hari lagi?"


"1 hari lagi Mah"


Bu Rita mengangguk, tanda mengerti.


"Sayang sekali ya, hanya satu hari lagi?" tutur Bu Rita ingin menyarankan anak dan menantunya berlibur.


"Yes" ceplos Ardi membuat Alya dan yang lain menoleh.


"Kamu kenapa Ar?" tanya Bu Rita heran melihat kelakuan anaknya.


"Nggak apa-apa Mah" jawab Ardi menyembunyikan rasa bahagia karena masih punya waktu libur sehari.


"Alya mau mampir ke kontrakan ibu Mah, apa Mamah Papah jadi mampir?" tanya Alya sopan.


"Maafin Papah Mamah, sore ini harus sudah di Jakarta lagi, nanti sama Ardi dan Arlan saja ya" Bu Rita menjawab sambil menoleh ke Bu Mirna.


"Nggak apa-apa Jeng, lagian kontrakanku sempit, malah capek nanti" jawab Bu Mirna.


"Maafkan kami Besan, lain kali kami akan berkunjung" Tuan Aryo menimpali.


"Ya sudah, biar nggak kesorean. Ayo berkemas dan siap-siap" jawab Bu Mirna memutuskan.


"Lhoh berkemas kemana Bu?" tanya Ardi.


"Dasar sontoloyo, tidak mendengarkan!" jawab Bu Mirna geram dari tadi Ardi nggak mudheng.


"Kita pulang ke rumah ibu Mas" jawab Alya menyela


"Kita berdua kan masih tinggal di hotel sampai besok" jawab Ardi percaya diri membuat semua menoleh gemas ke Ardi.


"Mas...." Alya menoleh Ardi sambil mencubit pinggang Ardi.


"Auw, sakit sayang" jawab Ardi lembut menatap istrinya. Ketiga orang tuanya hanya menatap mereka sambil geleng-geleng kepala. "Ini kan malam pertama kita, biar Arlan yang antar ibu, kita di hotel saja" jawab Ardi melanjutkan.


"Dasar Sontoloyo" umpat Bu Mirna. "Nggak ada malam pertama malam pertama. Bukanya kamu sendiri yang bilang, kamu sudah melakukanya?" jawab Bu Mirna, membuat Ardi menciut, sementara Alya dan lain tersenyum malu.


"Rasain lu, syukuriin" cibir Alya tersenyum puas.

__ADS_1


"Makanya kalau pingin malam pertama, kemarin-kemarin ditahan dulu" goda Bu Rita. "Sekarang malam pertamanya di rumah mertua, sana siap-siap antar ibu mertuamu"


"Ck" Ardi berdecak mengusap tengkuk "Ya Mah".


"Oke baik, bahkan setelah berhasil menikahinya, aku harus bersabar dan berjuang, sabar ya juniorku sayang ada waktunya cita-citamu jadi kenyataan" gumam Ardi melirik ke Alya karena kenyataanya mencium saja belum pernah Ardi lakukan.


"Titip anak saya ya Jeng" ucap Bu Rita ke Bu Mirna.


"Saya serahkan putraku ke Bu Mirna. Sekarang dia putramu juga" imbuh Tuan Aryo memberi kode kalau Bu Mirna boleh memarahi anaknya yang kurang ajar.


"Siap Jeng" jawab Bu Mirna mantap siap memarahi Ardi kalau kurang ajar.


"Hemmm" Ardi berdehem melihat ketiga orang tuanya, seakan dirinya anak sekolah yang diserahkan orang tuanya pada bu guru (gue kan udah tua)


"Nak Alya. Papa Mama pamit ke Jakarta duluan. Papa terima kasih, kamu sudah bersedia menikah dengan anak nakal papah" tutur Tuan Aryo bijak, hanya Tuan Aryo yang yakin 100% Ardi hanya mengarang cerita.


"Iya Om, Pah" jawab Alya gerogi, tidak tahu keputusanya menikah tepat atau tidak.


"Kenapa terima kasih segala si Pah, Lian bersyukur dapat suami tampan dan kaya sepertiku" timpal Ardi seolah melupakan kejadian kemarin. Lalu semua melihat Ardi geram lagi.


"Auww" pekik Ardi lagi melotot ke Alya. "Sakit Sayang" keluh Ardi merasakan kakinya diinjak istrinya.


Bu Rita dan Pak Aryo tersenyum melihat kemesraan pengantin baru itu. Mereka bersiap-siap ke Jakarta. Sepertinya menikahkan Alya dan Ardi adalah keputusan yang tepat. Apapun yang terjadi di apartemen, menurut Bu Rita, Alya dan Ardi tampak mesra dan serasi. Bu Rita yakin, Alya dan Ardi akan saling mencintai.


*****


"Pertigaan depan, belok kiri, rumah yang di ujung jalan Pak" tutur Alya memberitahu ke sopir suaminya kalau kontrakan Bu Mirna sudah dekat.


Ardi yang di samping Alya tertergun melihat pemandangan sekeliling. Ternyata dia menikahi gadis dari desa terpencil, bahkan mertuanya itu hanya ngontrak.


"Rumahmu pelosok sekali Lian?" tanya Ardi yang lebih suka memanggil nama Alya dengan nama belakang.


"Hemm" Bu Mirna yang duduk di samping Arlan berdehem mendengar Ardi.


"Kenapa? Menyesal menikah denganku?" tanya Alya ketus.


"Nggak siapa yang bilang begitu?"


"Berhenti Pak, ini rumahnya" ucap Alya melihat kontrakan ibunya.


Arlan dan Ardi sedikit kaget melihat rumah kecil semi permanen berukuran 6x9. Halamanya di penuhi tanaman bunga dan pohon cabai. Arlan segera turun dan membuka pintu mobil. Ardi menatap Alya, lalu menggenggam tangan Alya. Ardi tidak menyangka gadis cantik yang berprofesi sebagai dokter berasal dari keluarga sesederhana itu. Ardi menjadi kasian dengan Alya.


Sesaat Alya merasakan kehangatan dan menikmatinya. Untuk pertama kalinya tangan Alya digenggam suami dadakanya itu. Tapi mengingat kekesalanya kemarin Alya langsung melepaskan tangan Ardi.


"Apa sih mas? Ayo turun!" jawab Alya mengajak Ardi turun.

__ADS_1


Ardi mengkori Alya. Sementara Arlan berjalan di belakang membawa koper dari bagasi.


"Duduk dulu Mas, Lian buatin minum, kamarnya juga belum Lian bersihkan" tutur Alya mempersilahkan suaminya duduk di kursi kayu.


"Temani aku dulu?" jawab Ardi ketus merasa diabaikan.


"Apa maksudmu? Kamu tidak kasian sama Pak Arlan? Dia menyetir jauh, dia butuh tempat istirahat, mungkin haus juga, "


"Kamu perhatian dengan Arlan? Sementara suamimu kamu abaikan?" gerutu Ardi manja.


"Apa? Suami? Ishhh, dasar! Mengobrolah dengan Pak Arlan, aku juga menyiapkan untukmu" cibir Alya lalu mempersilahkan Pak Arlan masuk dan meletakan kopernya di kamar. Alya masuk menyusul ibunya.


"Sudah mulai petang Nak, sholat dulu, suamimu dan sopirnya juga, buatkan air hangat buat mandi, kasian, biar ibuk yang masak"


Meskipun Bu Mirna ketus dan kesal pada Ardi tapi Bu Mirna tetap mertua yang perhatian.


"Nggak Bu, istirahat saja. Dia suami Alya. Biar Alya yang siapin semuanya"


Meski lelah, Alya menyiapkan segala keperluan Ardi. Tetangga Bu Mirna memang tidak banyak tahu tentang pernikahan Alya. Bu Mirna sendiri juga hanya mengontrak. Jadi tidak ada penyambutan atau keluarga yang datang ke rumah Bu Mirna.


Malam itu untuk pertama kalinya Ardi memasuki dunia yang berbeda. Berteduh di rumah yang sempit dan kecil di desa. Makan berempat bersama sopir dan keluarga barunya di satu meja kecil berbahan kayu. Tidak ada gemerlap lampu dan desain interior yang mahal. Tidak ada pelayan ataupun banyak menu. Bahkan malam itu Alya hanya memasak mi instan rebus dan telur.


"Ini kamarnya mas" tutur Lian menunjukan kamar Lian.


Ardi tersenyum mengikuti istrinya, masuk ke kamar ukuran 3x3. Kamar yang jauh lebih sempit dari kamar nya di Jakarta. Ardi melihat sekeliling, hanya ada satu kasur kecil, lemari kayu dan meja belajar. "Lebih sempit kasur akan lebih baik buatku" gumam Ardi tersenyum membayangkan kegiatan indah bersama istrinya.


"Nggak boleh protes, di sini nggak ada AC, aku harap kamu bisa tidur nyenyak di sini" tutur Alya ke Ardi.


Ardi mengangguk dan tersenyum, Ardi mendekati Alya dan merangkul pundaknya yang masih tertutup jilbab.


"Apa sih Mas?" tolak Alya menepis tangan Ardi.


"Kenapa memangnya?" tanya Ardi tidak terima diabaikan lagi. "Kamu kan istriku? Bukankah malam ini kita akan bersama dan memulainya?"


"Memulai apa?" tanya Alya bete.


"Memulai itu?" jawab Ardi memberi kode.


"Hishh, ck, jangan harap" jawab Alya ketus, lalu mengambil selimut.


"Kamu mau kemana?" tanya Ardi heran.


"Aku akan tidur bersama ibu, kamu sama Pak Arlan. kasian dia kalau tidur di kursi kayu" jawab Alya lalu keluar kamar menuju kamar Bu Mirna. Alya memberi tahu Pak Arlan untuk tidur bersama Ardi di kamarnya.


Ardi hanya bisa menggaruk kepalanya melihat Alya pergi.

__ADS_1


"Sial, gue harus merenovasi rumah ini agar banyak kamar, sabar ya junior kita akan berusaha lagi di Jakarta nanti"


Malam itu Ardi tidur bersama Arlan dan Alya bersama Bu Mirna. Karena rumah kontrakan Bu Mirna hanya ada dua kamar, Bu Mirna juga tidak punya sofa.


__ADS_2