Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
131. Terima Kasih


__ADS_3

Sebagai usaha menjaga kesehatan. Berusaha agar tubuh memproduksi hormon melatonin dengan baik. Berharap organ-organ tubuh istirahat maksimal, agar hari besok kembali fit, dan mengurangi depresi. Alya mematikan lampu di kamarnya sebelum tidur.


Suara lantunan ayat Al_Qur'an menjelang waktu subuh terdengar dari masjid sebrang. Alam bawah sadar Alya membuatnya bangun dari tidurnya. Alya tersadar, membuka matanya perlahan dan menggeliat. Karena lampu belum dinyalakan Alya tidak bisa melihat dengan jelas sekelilingnya.


Saat Alya menggeliat Alya kaget, tubuhnya terkunci. Ada kaki besar yang mengapit tubuhnya. Di dalam kaos Alya ada tangan masuk, mencengkeram satu dari dua benda yang menjadi aset berharganya.


"Huaaa siapa kamu! Jangan kurang ajar ya!" teriak Alya bangun.


Alya spontan melempar tangan dan kaki itu. Alya turun dari tempat tidur segera lari ke saklar menyalakan lampu. Alya kaget melihat laki-laki itu.


"Mas Ardi?" pekik Alya kesal dan kaget ke suaminya.


"Hah.. hah" Lalu Alya bersandar di tembok membuang nafas menetralkan dheg-dhegan nya. Ternyata ini alasan melarang Anya tidur di kamarnya. "Huft dasar!"


"Apa sih yang? Teriak, teriak" tanya Ardi santai masih di posisi berbaring di tempat tidur.


Alya menatap kesal ke suaminya. Sebenarnya Alya tau kebiaasan suaminya jika berdekatan denganya. Pasti tanganya akan bergerilya kemana-mana. Tapi, bukankah seharusnya dia sekarang di rumah sakit. Bisa-bisanya tiba-tiba ada di kamarnya. Tidak bertanggung jawab sekali.


"Mas kok di sini? Ibu gimana? Mas ninggalin ibu? Nggak bertanggung jawab banget sih?" Alya mulai keluar cerewetnya dan menyerbu suaminya dengan pertanyaan.


Sementara Ardi santai menghadapi Alya. Dan masih tetap di posisi tidur nyamanya. Ardi memegang kunci rumah dari awal membeli pintu sebelum rumah itu selesaibdi bangun. Jadi Ardi bisa masuk dan pergi kapan saja.


"Nggak usah marah-marah dulu yang, sini duduk sini" jawab Ardi menepuk-nepuk kasur sambil menguap.


"Jawab dulu, kok mas pulang? Mas tega banget sih ninggalin ibu, ibu sama siapa di rumah sakit Mas?" tanya Alya khawatir dengan nada tinggi.


"Ck" Ardi berdecak mengerjapkan matanya lalu duduk bersandar pada bantal.


"Mas udah pamit ke ibu, malah ibu yang nyuruh mas pulang dulu" jawab Ardi menjelaskan dengan sabar dan pelan.


"Emang mas kapan pulang? Terus keadan ibu gimana?"


"Mas baru aja nyampe. Ibu udah baikan, udah bisa ke kamar mandi tinggal tangan kirinya yang susah digerakin. Ibu udah wudhu, lagi ngaji, nunggu subuh. Mas dingin banget sayang, sini sih" jawab Ardi merentangkan tangan ingin memeluk Alya.


"Bener?" tanya Alya masih berdiri.


"Bener yang, suer! Mas kan nggak bawa baju. Baju mas di sini. Mas pulang sekalian mandi sholat, mas juga kangen kamu"


"Heemm. Bener ya ibu udah baikan?" tanya Alya melunak dan mendekat ke suaminya


"Iyah, udah sini. Tiduran lagi, bentar aja!" jawab Ardi menarik Alya naik ke kasur lagi.


Alya mengikuti suaminya. Merebahkan tubuhnya lagi, dengan posisi miring membelakangi Ardi. Ardi pun memeluk istrinya, menenggelamkan wajahnya ke rambut Alya.


"Bentar lagi subuh lho Mas" ucap Lian memperingatkan, agar suaminya tidak tidur lagi.


"Iya tau" jawab Ardi mengeratkan tubuhnya. Karena di larang tidur, tangan Ardi kembali beraksi. Masuk ke kaos Alya dan mencari benda kesayanganya.


"Ih geli mas" ucap Lian menahan tangan suaminya.


"Mas dingin banget, mas ke sini naik ojek, biar gini dulu, begini kan hangat" jawab Ardi tidak terima tanganya ditepis. Ardi merasa istrinya miliknya jadi bebas ngapain aja.


"Mas, Lian belum periksa lagi. Pesen Dokter Siska sampai sini Lian harus kontrol ke dokter kandungan" jawab Alya memperingatkan suaminya agar tidak kebablasan dan hati-hati.


"Ya nanti priksa. Tapi kamu baik-baik aja kan naik kereta sampai sini? Nggak pusing kan? Nggak mual kan? Nggak flek lagi kan?"


"Alhamdulillah nggak mas"


"Siip. Mas yakin, anak kita kuat. Dia akan baik-baik aja. Dia cuma pengen ayah ibunya baikan terus. Kemarin dia protes. Emaknya pundungan kabur-kaburan, kaya anak kecil" jawab Ardi meledek istrinya.


"Ish" jawab Alya mendesis.


"Semoga nanti dokter nya baik hati" bisik Ardi ke telinga Alya


"Emang ada dokter yang nggak baik?"


"Ada"


"Siapa?"


"Kamu"


"Enak aja. Lian ke pasien baik kok. Mas kan bukan pasien Lian"


"Nggak, kamu tega biarin si junior mas kesakitan nahan terus. Padahal kamu tau cuma kamu yang bisa obatin. Semoga nanti dokternya baik, kasih tau kamu biar ga nyiksa junior mas lagi" jawab Ardi nakal.


"Hemm" gumam Lian memegang tangan suaminya, mengeluarkanya dan memegangnya erat. Lian membalikan badanya sehingga mereka berhadapan dan tangan Ardi tidak berkutik. Lian pun menatap suaminya dengan manyun.


"Dengerin Lian Mas! Sabaar! Lian khawatir, Lian nggak mau nyesel, dia masih 7 minggu" tutur Lian memberi pengertian ke suaminya.


"Tapi mas baca-baca di internet boleh sayang, mas juga udah tanya-tanya ke Arlan, ke Pak Rudi juga" jawab Ardi lagi.


"Itu kan kalau sehat Mas, Lian juga tahu. Tapi Lian kan kemarin sakit" tutur Lian memahamkan suaminya.

__ADS_1


"Ya sekarang kan kamu sehat. Buktinya kamu perjalanan sampai sini sehat, baik-baik aja. Lagian kamu nggak pengen apa ucapin terima kasih ke mas. Apa bikin mas seneng gitu?"


"Terima kasih?" tanya Alya dengan tatapan memikirkan sesuatu.


"Ehm. Ehm, kasurnya sekarang jadi empuk deh kayaknya. Lega juga" tutur Ardi memancing dan menyindir Lian.


Ardi mengira Lian seperti perempuan lain, saat tahu rumahnya direnovasi Ardi berharap Lian akan bahagia, mengucapkan terima kasih, memeluknya dengan manja, menghujani Ardi dengan ciuman dan menjadi istri yang patuh.


"Oh, masalah kasur?" jawab Lian justru bertanya balik dan Lian tersenyum licik ingin meledek suaminya.


Ardi pun melihat ekspresi Lian kesal tidak menyangka. Jauh dari yang dibayangkan dan diharapkan. Bisa-bisanya tidak ada ekspresi bahagia atau terima kasih dan terharu.


"Iya, kamu nggak mau terima kasih gitu? Mas udah renovasi rumah ibu? Udah bikin gini?" tanya Ardi terus terang tidak sabar lagi.


Mendengar hal itu, apalagi liat ekspresi wajah suaminya. Lian semakin ingin mengerjai suaminya. Bahkan dalam hatinya ingin tertawa. Sebenarnga Lian juga terharu, tapi melihat Ardi yang bertindak semaunya Lian juga ingin mengerjainya.


"Perlu nggak ya, terima kasih?" jawab Alya dengan ekspresi meledek.


Alya mau membalas ke Ardi. Merasakan kesal seperti dulu Alya juga dibuat kelu oleh rasa penasaran kemana suaminya pergi. Sampai Akya dibuat berfikir jauh. Tapi Ardi tidak pernah cerita. Bahkan saat Alya menanyakan di kemudian hari.


"Emang kamu nggak seneng, mas renovasi rumah ini?" tanya Ardi lagi tambah kesal.


"Seneng" jawab Alya datar dan dingin, tidak sesuai dengan ekspresi layaknya orang senang. Benar-benar di luar ekspekstasi Ardi.


"Ck. Seneng, bilangnya gitu. Terima kasih gitu, apa bilang i love you mas. Apa gimana gitu" jawab Ardi lagi.


"Oke. terima kasih Mas" jawab Alya masih meledek Ardi dan menirukan omongan Ardi.


"Ah telat" jawab Ardi kesal. Lalu memencet hidung Alya kesal.


"Auuw sakit, Mas. Kan Lian udah makasih" jawab Alya menepis tangan suaminya.


"Terima kasih masa diminta" jawab Ardi kesal, ekspektsi membuat kejutan yang menyenangkan istrinya tidak sesuai realita.


"Hehehehe" Lian tertawa puas melihat ekspresi kesal suaminya.


"Malah ketawa?"


"Lian nggak terima kasih ada alasanya. Sekarang jawab pertanyaan Lian. Benar atau tidak" tanya Alya cerdas masih merasa senang melihat suaminya kesal.


"Hemmm" Ardi mendehem gemas.


"Mas, renovasi rumah, karena mas nggak mau tidur di kamar sempit Lian kan? Karena pas malam abis nikah mas nggak nyaman?"


"Iya bener"


"Iya bener"


"Ck, dasar"


"Lhoh kok gitu? Ya kan bener yang mas lakuin. Mas pengen yang terbaik buat kita"


"Buat kita apa buat Mas? Dari pertanyaanku yang tadi yang merasa butuh siapa? Yang nggak nyaman siapa?"


"Mas"


"Berarti buat kesenangan mas kan? Ya ngapain Lian terima kasih" jawab Lian menang.


"Haiisshh" jawab Ardi gemas ingin meremas pipi Lian.


"Susah banget sih buat kamu seneng dan bilang terima kasih ke Mas" lanjut Ardi kesal ke istrinya di depanya itu.


"Mas malu juga kan kalau mertua mas terlihat menderita?"


"Nggak sayang. Kalau itu nggak bener. Mas beneran! Sungguhan, pengen kasih yang terbaik buat ibu dan kamu, Mas pingin ibu bahagia" jawab Ardi bersungguh berusaha Lian percaya lalu berterima kasih dengan benar.


"Sungguh?"


"Sungguh sayang, mas tuh beneran sayang sama kamu"


"Yaya. Tapi point 1, dan 2 bener kan?" tanya Lian lagi meledek Ardi lagi.


"Iya bener. Tapi kan itu buat kamu juga. Kamu kan seneng juga"


"Yaya. Tapi mas, rumah ini terlalu besar untuk ibu yang tinggal sendirian. Kasian ibu ngurusnya. Ibu pasti capek tiap hari bersihin rumah sebesar ini"


"Haish salah lagi, salah lagi, salah terus mas" jawab Ardi tambah frustasi mendengar perkataan Lian. Rasanya ucapan terima kasih dan pujian Lian sangat berharga bagi Ardi.


"Bukan salah Maas. Tapi lain kali kalau mau nglakuin sesuatu itu, bilang dulu. Rundingin dulu" tutur Lian lembut ingin mengakhiri mengerjai suaminya.


"Ya gimana mau rundingan. Kamunya kerjaanya marah terus. Galak banget sama mas. Mas juga niatnya bikin kejutan, biar kamu tuh seneng. Jadi baik ke mas? Bilang cinta yang banyak ke Mas"


"Emang aku galak?" tanya Lian tersinggung

__ADS_1


"Banget! Cerewet juga, pundungan juga"


"Ish, masa sih?"


"Beneran! Bisa ya nggak nyadar jeleknya banyak banget gitu" tutur Ardi menyentil kening Alya.


"Iya ya maaf. Tapi sekarang nggak kan?"


"Masih dikiit, eh banyak ding" balik Ardi meledek.


"Hemm, ya Lian janji mulai sekarang Lian nggak galak lagi"


"Beneran?"


"Iya, tapi ada syaratnya"


"Apa?"


"Ya, kita berdua harus kooperatif dalam segala hal"


"Kooperatif maksudnya?"


"Ya kita jadi parter hidup. Kerja sama bareng, saling gitu. Mas nikahin Lian mau Lian jadi teman hidup mas, atau pelayan Mas?"


"Ko pelayan? Mas kan cinta sama kamu, mas sayang kamu, mas mau kita bareng terus sampai akhir hayat"


"Ya udah kalau gitu, ya kita harus kooperatif, berpartner, kerja sama, mas sebagai suami aku sebagai istri. Nggak boleh ada yang mendominasi salah satu. Semuanya didiskusikan bareng, sesuai peran kita. Mas harus jujur dan terbuka juga sama Lian. Begitu juga Lian"


"Yaya siip. Tapi kamu janji nggak galak dan marah-marah lagi. Bener?"


"Tergantunglah, kalau mas salah ya Lian marah. Masa Lian biarin suami Lian salah. Yang pasti Lian janji akan lebih baik lagi jadi istri mas. Mas juga!"


"Oke? Tapi, ngomong-ngomong kamu suka kan kejutan dari mas? Suka kan rumah ibu direnovasi?" tanya Ardi masih berjuang mendapatkan terima kasih yang tulus dan melihat ekspresi bahagianya Lian.


Lian pun tersenyum tulus tidak mengerjai lagi.


"Iyah. Lian seneng. Seneeeng banget" jawab Lian jujur.


"Sungguhan, seneng beneran"


"Emem, makasih juga"


"Mana buktinya?"


"Kok bukti?"


"Cup" Ardi mencium bibir Lian. Kali ini Ardi yang menang.


"Ish" Alya mendesis karena suaminya mencium tanpa permisi.


"Gantian" tutur Ardi menunjuk bibirnya. Lian tersenyum lalu mengikuti kemauan suaminya.


Ardipun merasa menang dan menyambut ciuman Alya dengan sangat baik. Ardi juga tidak menyia-nyiakan kesempatan menyadari respon Lian. Ardi berusaha mendapatkan apa yang dia mau sampai Lian sendiri terpancing.


Di subuh yang dingin, sepasang suami istri itu melakukan kegiatan panasnya. Ardi juga berusaha menyelesaikannya dengan baik.


"Mas" pekik Alya kembali khawatir saat menyadari suaminya benar-benar kebablasan dan masuk ke area rawannya.


"Udah santai aja. Nggak usah takut, mas hati-hati kok. Anak kita kuat dan sehat" bisik Ardi lembut beristirahat dari aktivitasnya sebentar, kemudian melanjutkan hajatnya sampai selesai.


Ardi mengakhiri aktivitasnya dengan tersenyum senang. Sementara Lian terkulai lemas dengan nafas memburu. Lian masih merasa panik, was-was dan menyesal, kenapa mudah terpancing suaminya.


"Keluar darah nggak?" tanya Lian panik.


"Nggak sayang, kamu santai aja"


"Tapi Lian takut, beneran nggak ada bercak merah kan?"


"Enggak, bersih kok. Mas yakin kamu sehat, anak kita juga sehat, positif thingking"


"Tapi nanti harus periksa lho"


"Iya, iya nanti periksa" jawab Ardi menenangkan istrinya sambil memeluknya.


Lalu Ardi mencium kepala Lian. "Makasih sayang" bisik Ardi lembut.


"Huuuft" Alya menghela nafasnya memegang selimut yang menutupi tubuh polosnya.


Sebenarnya Lian juga tau, kemarin Lian stress berlebihan. Hormonya juga tidak stabil. Lian kelelahan juga tidak menjaga pola makan sehingga sakit.


Lian juga tahu berhubungan di saat hamil itu dibolehkan asal ibu sehat. Tapi tetap saja, Lian merasa sangat khawatir, dan trauma. Lian bisa sabar tapi suaminya tidak.


"Udah yuk mandi. Segera sholat! Keburu siang, subuhnya udah mau abis tuh" ajak Ardi melepaskan pelukanya.

__ADS_1


__ADS_2