Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
236. Tidak ketemu


__ADS_3

Seperti niat dan saran dari ayahnya. Intan mau menemui Alya, bahkan siang itu Intan membawakan buah tangan parcel buah sebagai ucapan terimakasih untuk Alya.


Setelah melihat jam jaga siang dimulai Intan datang IGD.


"Permisi, apa Dokter Alya sudah datang?" tanya Intan lembut.


"Dokter Alya hari ini tidak jaga Bu" jawab perawat.


"Tapi kata Dokter Anya tadi pagi, hari ini Dokter Alya jaga sore" jawab Intan


"Tapi hari ini tidak jaga. Dokter IGD sore ini Dokter Tio dan Dokter Dinda" jawab Perawat lagi menerangkan


Intan Diam. Apa iya Anya membohonginya. Tapi Anya terlihat baik dan ramah. Tidak mungkin dia berbohong. Intan akhirnya menelan ludahnya kecewa.


"Oh ya sudah, terima kasih" jawab Intan hendak berbalik.


Dinda yang baru datang mendengar namanya disebut mendekat, lalu bertanya ke perawat.


"Ada apa Sus?" tanya Dinda.


"Itu ada yang nyariin Dokter Alya" jawab perawat.


"Siapa?"


"Perempuan berambut panjang, itu yang memakai dress biru" tunjuk perawat ke Intan yang belum jauh dari IGD.


Dinda kemudian mengejar Intan.


"Ibu mencari Dokter Alya?" tanya Dinda.


Intan berhenti dan mengangguk.


"Ah iya, kata Dokter Anya, Dokter Alya hari ini jaga sore, jadi saya ingin menemuinya" jawab Intan.


"Oh iya, hehehe, dia sebenarnya hari ini jaga sore. Tapi dia berhalangan hadir jadi saya menggantikanya. Apa ada janji denganya? Atau sesuatu yang perlu saya sampaikan?" tanya Dinda ramah.


"Saya anak dari pasien atas nama Didi Satrio" jawab Intan


"Oh Pak Didi, yaya, gimana keadaan bapak? Sudah baikan" tanya Dinda ramah.


"Alhamdulillah sudah, saya mau menyampaikan terima kasih ke Dokter Alya. Saya juga mau menitipkan ini untuknya dan teman-teman jaga sore" jawab Intan akhirnya memberikan bingkisan itu dan tidak jadi negatif thingking ke Anya.


"Oh iya. Terima kasih sekali, tapi mohon maaf Bu. Di rumah sakit kami ada aturan untuk tidak boleh menerima bingkisan dari pasien. Karena itu melanggar pakta integritas kami" tolak Dinda dengan lembut menjelaskan kalau pelayan masyarakat memang harus menunjukan kinerja bebas suap.


"Oh, gitu. Maaf" jawab Intan menarik lagi bingkisanya.


"Kalau boleh tau. Siapa nama Ibu? Kebetulan sore ini saya mau menjenguknya, biar saya sampaikan" tutur Dinda lagi.


"Jenguk?" tanya Intan kaget dan khawatir.


"Iyah, Alya tidak berangkat karena dia sedang dalam keadaan tidak baik" jawab Dinda lagi.


Intan menghela nafasnya lagi. "Ada dengan Alya?" batinya. Kini Intan jadi peduli dengan Alya.


"Titip salam, dari saya. Nama saya Intan. Tapi tolong katakan saat tidak ada suaminya" pesan Intan.


"Tidak ada suaminya? Maksudnya? Apa anda mengenal Alya sebelumnya?" tanya Dinda menelisik kenapa harus saat tidak ada Ardi.


"Iya. Katakan saja begitu, dia akan paham" jawab Intan tidak mau memberitahu siapa dia.


"Oh iya" jawab Dinda manggut-manggut.


"Terimakasih atas bantuanya saya permisi" tutur Intan pamit. Dinda pun mengangguk tersenyum.


"Anak Pak Didi cantik, seperti orang terpelajar. Ternyata teman Alya. Pantes" gumam Dinda kembali bekerja.


Lalu Intan segera menemui ayahnya di ruang rawatnya.


"Bagaimana apa kau sudah bertemu dengan Dokter Alya, Nak?" tanya Pak Didi ke Intan. Pak Didi ingin sekali Alya tau siapa dirinya.

__ADS_1


"Belum Pah!" jawab Intan lesu.


"Papah sore ini kan pulang, berarti kita tidak bisa bertemu di sini. Kita temui di rumahnya saja" tutur Pak Didi.


"Tapi Intan ragu Pah. Apa Ardi akan ijinin kita datang ke rumahnya?" jawab Intan mencegah Pak Didi.


"Niat kita baik, untuk berterima kasih. Jangan putus asa dulu, kita harus kesana" jawab Pak Didi kekeh.


"Tapi Pah. Papah tau kan Ardi benci Intan"


"Kalau gitu Papah aja yang datang ke sana"


"Papah masih sakit, Intan juga nggak mau kalau kita dianggap kita memohon belas kasihan ke mereka, sudahlah besok Intan temui Alya di sini saja" ucap Intan lagi.


"Tidak. Pokoknya Papah sendiri yang akan sampaikan. Papah cuma mau terima kasih. Papah tetep akan menemuinya papah akan ke rumah Aryo. Dia sangat baik dan ramah kok, dia tidak akan kasar ke papah" jawab Pak Didi masih kekeh dengan pendapatnya.


"Ya sudahlah terserah papah" jawab Intan pasrah.


Lalu Intan mengurus kepulangan papahnya. Meski normalnya seharusnya Pak Didi dirawat satu hari lagi, tapi Intan meminta obat lanjutan di rumah aja.


Intan tidak mau biaya rumah sakit tambah banyak yang berarti hutang ke Alya semakin banyak. Lalu sore itu mereka pulang.


****


Jika ada yang bilang, siapa yang menanam maka dia yang akan menuai. Mungkin itu pas untuk Bu Mirna. Kebaikan dan ketulusan dia selama ini, kini dia memanenya.


Bu Mirna merasakan dunia yang tak pernah dibayangkan. Seperti sosialita yang lain, Bu Mirna mulai bersikap menyesuaikan diri dengan Bu Rita. Tidak canggung dan menikmati pelayanan Spa.


Setelah selesai Bu Rita hendak mengajak Bu Mirna pergi ke mall lalu ke butik menanyakan baju untik resepsi.


Bu Rita menuju kemudian ke resepsionist untuk membayar. Saat di resepsionit Bu Rita bertemu dengan teman sosialitanya.


"Jeng Rita" sapa temanya.


"Eh Jeng Ika" jawab Bu Rita ramah. Mereka kemudian cipika cipiki ala sosialita.


"Udah mau pulang?"


"Eh Jeng. Anak Jeng Rita ada masalah ya? Saya liat anak Jeng Rita di kantor polisi. Dia memeluk perempuan berjilbab. Apa itu mantu Jeng Rita? Saya mau nyamperin tanya tapi nggak enak" tanya teman Bu Rita membuat Bu Rita dan Bu Mirna terhenyak.


"Kantor polisi?" tanya Bu Rita mendadak pucat. Bu Mirna yang mendengarnya ikut kaget. "Ehm" Bu Mirna berdehem tidak nyaman.


"Iya" jawab temen Bu Rita.


Kemudian Bu Rita menoleh ke Bu Mirna dan mengajaknya segera pulang. Tapi Bu Rita mendadak ingin ke kamar mandi.


"Jeng saya ke kamar mandi kamu ke mobil dulu, Mang Diman ada di sana kok" tutur Bu Rita.


"Iya Jeng" jawab Bu Mirna.


Karena terburu-terburu. Saat berjalan di parkiran. Bu Mirna menyenggol seseorang. Tapi pikiran Bu Mirna tertuju pada anaknya sehingga Bu Mirna hanya menunduk dan mengucapkan kata maaf langsung pergi.


"Mirna!" gumam orang itu.


Orang itu memperhatikan Bu Mirna merasa kenal. Tapi karena Bu Mirna segera pergi orang itu pun menepisnya dan sama-sama berlalu.


****


Dengan penuh kelembutan dan kehangatan. Ardi menggendong Alya. Sebenarnya Alya risih tapi ya sudahlah digendong juga nyaman. Alya pun ikut aja.


"Tenang ya. Semua akan baik-baik saja" bisik Ardi ke Alya dengan lembut. Ardi tau istrinya terguncang. Mukanya terlihat sangat kacau.


Kemudian Farid pamitan. Mereka pun berpisah.


Ardi berniat membawa Alya ke apartemen. Ardi yakin Alya masih trauma jika pulang ke rumah. Yang penting Alya tenang dulu.


"Lian nggak mau pulang ke rumah" rengek Alya persis seperti dugaan Ardi. Ardi tersenyum lembut ke Alya.


"Iya Sayang, iya kita ke apartemen ya" jawab Ardi merangkul pundak Alya.

__ADS_1


"Kenapa ya Mas, Mia nglakuin itu? Kenapa dia tega? Apa alasanya" tanya Alya lagi


"Segera akan kita ketahui Sayang, Mia diurus sama orang kita, kamu nggak usah mikirin dia ya. Sekarang kita tau dia orang jahat" tutur Ardi membelai Alya.


"Tapi dia tidak terlihat seperti orang jahat Mas. Lian ngrasain itu. Pasti ada alasanya" jawab Lian lagi.


"Sayang, Mas tau kamu susah menerimanya. Mungkin mamah papah juga akan lebih syok mengetahuinya. Mereka dulu yang memungut Mia di jalanan. Menyekolahkan dan merawatnya. Tapi inilah kehidupan, inilah dunia. Nggak selamanya yang terlihat baik itu baik. Dan yang terlihat buruk itu buruk" tutur Ardi dewasa menasehati Alya.


"Hiks.. hiks" air mata Alya jatuh lagi.


"Ini cukup jadi pelajaran. Yang penting anak kita sehat. Kamu sehat. Mas janji Mas ambil libur sampai resepsi kita" tutur Ardi lagi.


"Tapi Lian ngrasa Mia kayak disuruh orang deh Mas" jawab Alya lagi masih memikirkan Mia.


"Iya Sayang. Dia nggak mungkin kerja sendirian. Dia juga nggak tau mesin apalagi obat-obatan begitu, pasti diajarin. Mia hanya alat dari seseorang, Mas akan tangani ini"


"Tapi jangan sakiti dia sebelum tau alasanya ya Mas. Lian yakin Mia sebenernya nggak jahat. Lian sayang sama Mia" ucap Alya lagi sambil terisak.


Entah bagaimana sifat Alya. Meski tau Mia pelakunya. Alya tidak bisa membenci Mia. Alya justru merasa sakit, merasa iba kenapa Mia sampai melakukan hal itu.


"Iya ya! Maafin Mas kalau mas udah kasar" jawab Ardi mengangguk lalu mencium Alya lembut. Ardi tau meski Alya pundungan tapi hati istrinya selembut salju.


"Cup" Ardi mengecup kepala Alya untuk kesekian kalinya.


Lalu Alya menoleh ke Ardi. Ardi pun tidak menyiakan kesempatan, saat Alya mendongak mengecup bibir Alya yang tampak menebal karena menangis.


Tidak lama mereka berciuman. Tapi setidaknya hal itu bisa menenangkan Alya. Sebagai bukti betapa Ardi sangat menyayangi istrinya. Ciuman mereka bukan disertai na*su tapi perasaan yanh tulus dan dalam.


"Kita jenguk Mang Adi ya Mas" ucap Alya setelah Ardi melepaskan bibirnya.


"Oh iya ya. Mas belum liat keadaanya, Mas harus ngomong sama Mang Adi" jawab Ardi.


"Lian juga belum" ucap Alya lirih. Alya kan diusir Faisal.


"Kok belum?" tanya Ardi kaget. "Bukanya kamu yang bawa Mang Adi ke rumah sakit?" tanya Ardi lagi.


"Kan Lian udah cerita Mas, diam-diam Faisal anak Mang Adi itu benci sama Mas gara-gara motor itu? Dia benci keluarga kita. Dia usir Lian, Dia juga yang lapor ke polisi" tutut Lian bercerita.


"Waah kurang ajar. Tidak tahu terima kasih dia" gerutu Ardi mengepalkan tangan lagi.


"Mas jangan marah-marah menghadapinya. Minta maaflah masalah motor itu. Kembalikan motornya. Itu Lian yang salah. Lian yang maksa minjam Mas" ucap Alya lagi menjelaskan dan ingij merubah watak Ardi yang semaunya.


Ardi diam tidak mengiyakan permintaan Alya. Tapi juga tidak menyanggahnya. Ardi malah memikirkan hal lain.


"TF? Apa itu Faisal?" celetuk Ardi.


"Entahlah. Tapi kan teror foto itu, dan kecelakaan mas sebelum Lian pinjam motor, terus yang makan dan kena masa Mang Adi" jawab Alya.


"Iya ya? Ya udah yang penting Mia udah di tangan kita. Dia harus kasih tau secepatnya"


"Ingat pesan Lian. Nanti kalau ketemu Faisal jangan emosi ya Mas!" tutur Alya lagi.


"Selama, ada kamu mas bisa tahan emosi, tapi kalau ada yang nyakitin kamu. Jangan salahin Mas kalau Mas bunuh orang itu"


"Isshh. Ingat Lian lagi hamil. Mas nggak boleh gitu, latian nahan sabar Mas. Biar anak kita selalu dijaga sama Alloh"


"Iyah Sayang iya. Pak Kita ke rumah sakit" tutur Ardi ke Pak Arlan.


"Rumah sakit mana Tuan?" tanya Pak Arlan.


"Oh ya rumah sakit mana Yang?"


"Rumah sakit Citra Medika Pak"


"Siap Tuan" jawab Pak Arlan.


Lalu mereka bertiga menuju ke tempat Mang Adi dirawat.


****

__ADS_1


Oh iya kakak makasih udh setia dan sayang sama keluarga Alya ya.


Kalau author buat grup chat pada mau gabung nggak? hehehe.


__ADS_2