Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
24. Berdamai


__ADS_3

*****


Apartemen Megayu.


"Bahkan tabunganku menipis, dan aku belum gajian". Dokter Alya tampak murung dan merenung di atas sofa merenungi nasibnya. Matanya masih sembab karena menangis semalaman.


"Kenapa, panti dan rumah sakit semua terasa menyebalkan?" gumam Alya merasa semua yang dia alami tidak sesuai ekspektasinya.


"Aku ingin pulang...hiks hiks" Alya menangis lagi. Tidak lama diusap air matanya. Lalu dia bangun menuju ke dapur untuk membuat makanan.


"Dinda dan Anya nggak bisa menghubungiku. Aku harus ke rumah sakit sekarang, aku harus segera mengumpulkan tugas ke dr. Mira" gumam Alya berfikir tidak mau larut dalam kesedihan.


Setelah sarapan, Alya membersihkan diri dan bersiap ke rumah sakit.


*****


Kediaman Tuan Aryo


"Gue heran sama lo Ger" ucap Ardi setelah mendengar cerita sahabatnya Gery. Sahabat yang kini duduk merokok di bangku balkon kamarnya.


"Apa gue nyerah aja?" tanya Gery meminta pertimbangan Ardi.


"Hahaha" Ardi tertawa mendengar pertanyaan sahabatnya.


"Kenapa lo ketawa?" tanya Gery tersinggung.


"Baru kali ini gue liat lo ditolak sama cewek dan gue denger lo mau nyerah"


"Nggak tahu kenapa, liat dia nangis gue ikutan sakit, wajahnya lembut, tapi mulutnya pedes banget"


"Hemm" Ardi diam sejenak.


"Gue harus beliin dia hp" ucap Gery lagi.


"Sekalian aja lo ngomong baik-baik, minta maaf ke dia, gue yakin dia bakal maafin lo"


"Tapi gue ragu, apa dia mau ketemu gue Ar?"


"Yah, belum bertindak aja lo ragu, gimana mau dapet hasilnya?" Ardi menasehati agar Gery tetap semangat.


"Ya gue akan coba"


"Kemungkinan cewek tetap nolak dideketin itu karena dia udah punya pacar, jangan-jangan udah punya pacar tuh cewek"


"Menurutku si belum" jawab Gery mengingat peristiwa Alya dirawat, tidak ada satupun keluarga atau kerabat menghubunginya apalagi menjenguknya.


"Kenapa menyimpulkan begitu?"


"Waktu itu dia sakit, dia bilang mau dijemput tapi nyatanya nggak ada, bahkan dia dirawat, tidak ada satupun keluarga yang menjenguk, aneh nggak?"


"Aneh sih"


"Tapi kata temenya, dia pernah dianter pake mobil mewah merek ****** ke rumah sakit" jawab Gery.


"What? Menarik sekali ceritamu? Seingat gue waktu bokap gue beli mobil itu, di Jakarta cuma ada 3, tapi gue nggak yakin siapa yang punya" Ardi menjawab, tidak menyadari bahwa mobil yang dimaksud dr. Dinda mobil koleksi Tuan Aryo.


"Gue harus ke rumah sakit pagi ini" ucap Gery lalu bangun dari duduknya.


Ardi melirik jam tanganya sudah menunjukan pukul 08.00.

__ADS_1


"Gue juga ada meeting, gue ke bawah dulu. Lo nyusul ya!" Jawab Ardi yang sudah mandi dulu.


"Baju gue di lemari, masih ada yang baru kok!" ucap Ardi memberi tahu Gery untuk berganti memakai kemejanya.


"Siap Bro!" jawab Gery lalu menuju ke kamar mandi.


*****


Ruang Makan


"Pagi Maah" sapa Ardi ke Bu Rita.


Mama Rita diam, melirik ke Ardi tanda tidak suka. Ardi yang menyadari tatapan benci mamahnya hanya diam. Lalu dia duduk dan mengambil air putih di depannya.


"Ehm..." Mama Rita ingin direspon kekesalanya. Tapi Ardi tetap cuek dan membiarkan mamahnya kesal sendiri.


"Ehmm... "Mama Rita kembali berdehem. Ardipun menyerah.


"Ayolah Mah! Jangan seperti anak kecil" ucap Ardi paham kalau mamahnya sedang kesal terhadapnya gara-gara Gery mabuk.


"Ardi mama nggak suka ya kamu mabuk-mabukan, dan kamu tau sekarang jam berapa? Bahkan papamu sudah berangkat 30 menit yang lalu" Mama Rita mengomel.


Ardi diam. Menarik nafas dalam.


"Ardi nggak mabuk Mah, Ardi hanya membantu teman, bahkan mamah sudah sangat mengenal Gery, ya sudah mamah milih Ardi terlambat ke kantor atau Ardi nggak usah ke kantor?" jawab Ardi membuat Bu Rita diam.


Mendengar perkataan anaknya, Mama Rita menelan salivanya. Melanjutkan perdebatan atau mengalah, mengingat ini hari baru hari ketiga anaknya di rumah Mama Rita memilih mengalah. Mama Rita bangun dari kursinya.


"Pagi Tante" sapa Gery sopan dan menunduk ke Mama Rita.


"Pagi" Tante Rita menjawab dengan senyum datar tidak seperti biasanya.


Lalu mereka berdua menyantap sarapan bersama.


"Gue jadi ngga enak sama lo" ucap Gery merasa tidak nyaman merepotkan temanya.


"Makanya kalau patah hati nggak usah mabok!"


"Iya gue salah. Gue naik taxi aja ya nanti!" tutur Gery karena mobilnya ditinggal parkiran klub malam.


"Kenapa?"


"Lo kan juga mau kerja, gue juga udah banyak ngrepotin lo Ar"


"Gery Gery, berapa tahun sih kita bareng? Patah hati bikin lo jadi sensi ya?" ledek Ardi.


Gery hanya menatap senyum ke sahabatnya.


"Gue bukan sensi, pendidikan profesi gue jadiin gue lebih bertanggung jawab sama waktu" Gery menjelaskan dengan sisi berbeda dari Gery yang dikenal kawanya.


"Waah hebat lo Ger, lo bener- bener udah berubah" jawab Ardi masih meledek ke sahabatnya. Gery yang diledek hanya diam saja.


"Gue kan kerja di kantor bokap gue sendiri, nggak akan ada yang marah mau gue berangkat jam berapapun, lagian jadwal gue meeting masih nanti jam satu" Ardi menjelaskan ke Gery agar Gery mau diantar.


"Oke oke Pak Bos, gue ikut mobil lo" jawab Gery mengalah.


"Ya udah yuk berangkat!" ajak Ardi ke Gery.


Mereka berdua bergegas menuju ke parkiran. Kali ini Ardi berniat ke kantor dengan pakaian casual karena sebelum ke kantor dia menemani Gery dulu. Ardi juga memilih mobil sport yang pernah digunakan Pak Rudi untuk mengantar Alya.

__ADS_1


Ardi yang belum tahu tentang proses sekolah kedokteran mengira kalau sahabatnya itu kerja di rumah sakit keluarganya bukan Rumah Sakit Pemerintah di dekat apartemennya.


"Oh ya, katanya lo mau gantiin hp, buat cewe inceran lu? Nyari dulu dong?"ucap Ardi sambil nyetir.


"Oh iya lupa gue, makasih udah ingetin" jawab Gery merasa terima kasih.


"Masa lo lupa sih?" tanya Ardi sambil menggaruk kening.


Lalu Ardi melajukan mobilnya ke mall arah rumah sakit keluarga Gery.


"Kok kesini Ar? "


"Lah emang kemana?"


"Puter balik, puter balik!" perintah Gery menyadari jalan Ardi menjauhi RSUD tempatnya menyelesaikan tugas pengabdianya.


"Bukanya rumah sakit ****** bentar lagi nyampe?"


"Gua bukan di rumah sakit bokap gue tapi di RSUD ***".


"Oooh, deket apartemen gue dong" jawab Ardi conect.


"Lo punya apartemen di situ?" tanya Gery lupa.


"Gue tinggalin waktu gue kuliah doang, rencana mau gue jual tapi sayang" jawab Ardi mengingatkan. Lalu mereka melajukan mobilnya ke mall untuk membeli hp.


****


Rumah Sakit


"Ya ampun Alyaa! Mata lo kenapa?" tanya dr. Anya melihat mata dr. Alya sembab.


"Nggak apa-apa" jawab Alya lesu.


"Kenapa sih Al, lo nggak pernah mau terbuka sama kita, dua kali loh lo nangis sembab kaya gini tapi lo diam aja?" ungkap Dinda kesal Alya terlalu tertutup.


"Hp aku jatuh, sekarang aku nggak punya hp" jawab Alya meneteskan air mata sedih merasa hidupnya sial.


"Ya ampun kasian banget, peluk- peluk sini peluuk" jawab dr. Anya memeluk dr. Alya.


Lalu mereka bertiga bersiap ke ruangan dr. Mira menyerahkan laporan tugasnya.


"Semoga setelah ini nggak ada tugas-tugas lagi, kita kan bukan mahasiswa" tutur dr. Anya dengan penuh harap.


"Aaamiiin" jawab dr. Dinda sambil jalan. Sementara Alya diam saja sambil mendekap makalahnya.


"Oh iya Al, gimana caranya ya lo jelasin ke Dokter Mira kalau lo nggak ada hubungan apa-apa sama DokterbGery, biar kita nggak dibebani tugas lagi" ucap dr. Dinda mengingatkan Alya.


"What?" pekik Anya terheran mendengar pernyataan dr. Dinda. "Kita dikerjain?" tanya dr. Anya kaget.


Dokter Dinda mengangguk, sementara dr. Alya tampak merencanakan sesuatu.


"Nggak profesional banget sih tu dokter, masa gara-gara cemburu ngerjain juniornya, apa untungnya?" cibir Dinda mengingat ulah Dokter Mira.


"Kalian tenang aja! Ini urusanku! " jawab dr. Alya mantap.


Meski dr. Alya dari luar terlihat pendiam dan wajahnya lembut tapi sebenernya dr.Alya sesosok yang sangat pemberani. Dokter Alya pun berniat mengatakan to the point dengan 4 mata ke dr. Mira. Alya ingin berdamai. Alya ingin meluruskan dan memberitahu ke Dokter Mira, kalau yang dilakukan Dokter Mira salah.


Cukup Sinta yang berhasil menyakiti Alya, selain itu akan Alya lawan. Lagi pula Alya sudah bertekad tidak akan tertarik pada lawan jenis di Jakarta apalagi bersaing dengan para nenek lampir. Tujuan Alya segera menyelesaikan magang dan bekerja di Jogja.

__ADS_1


__ADS_2