
Sudah 3 hari Farid disibukan dengan kegiatan mengajar di kampus dan proyek pembuatan kafe panti. Sudah 3 hari pula Farid tidak bertemu dengan Alya.
Hari ini Farid berniat ke panti lebih awal, Farid juga berniat mengajak Alya untuk ikut ke danau, meninjau lokasi pembuatan kafe bersama Farid. Farid juga ingin memperlihatkan ke Ardi seberapa cantik wanita yang dia taksir.
Selesai mengajar Farid segera melajukan mobilnya ke panti, dengan hati yang bahagia berharap bertemu gadis impianya. Setelah sampai dia bergegas menuju ke ruanganya. Karena anak-anak panti masih sekolah di luar, asrama menjadi sepi. Farid meraih ponselnya membuang kebosanan.
"Ar, pertemuan ke danau bisa diundur waktunya nggak?" ketik Farid ke Ardi
"Kenapa Bro? Bukanya lo selalu ontime?"
"Gue pengen ngajak Alya, nungguin dia selesai ngajar"
"Gue juga disuruh jemput nyokap di klinik kecantikan" Jawab Ardi membalas pesan Farid.
"Syukurlah, kebetulan banget biar Alya bisa ngobrol sama mama lo"
"Siip, mau jam berapa? Lo kasih tau arsiteknya"
"Siap Tuan Ardi, jam 16.30 ya"
Farid mengakhiri percakapan selulernya dengan Ardi. Melihat jam masih di angka 1 Farid memilih memejamkan matanya untuk beristirahat. Badan Farid terasa sangat lelah setelah semalam menghabiskan waktu bersama ketiga kawanya sampai dini hari dan pagi-pagi sudah harus ke kampus untuk mengajar.
*****
"Ini seperti mobil Kak Farid" gumam Sinta melihat mobil Farid terparkir di depan Asrama. Lalu Sinta mencari pembenaran hendak bertanya dengan Bu Asrama.
"Siang Bu" sapa Sinta.
"Eh non Sinta, ada apa Non?"
"Kak Farid kesini ya?"
"Sepertinya iya, tapi saya ketok-ketok pintunya nggak dijawab, mungkin sedang tidur" jawab Bu Asrama bercerita.
"Ibu ketok-ketok pintu Kak Farid, ngapain?" tanya Sinta kepo.
"Iya Non, kemarin Us Alya pamitan, katanya udah nggak kesini lagi, udah dapet kerja bilangnya" jawab Bu Asrama bercerita dengan kecewa.
Hati Sinta lega mendengar cerita Bu Asrama. Mengira keinginan mengusir Alya dari yayasan berhasil. Sinta berharap hanya dia yang di dekat Farid dan mempunyai jasa di panti. "Yes, gadis benalu itu mudah sekali aku singkirkan" gumam Sinta dalam hati.
"Sayang banget ya kalau Us Alya pergi. Padahal anak-anak panti sudah nyaman dan sayang lo sama dia" imbuh Bu Asrama.
"He, mungkin dia lebih menyukai pekerjaanya di luar Bu" jawab Sinta datar.
"Tapi kan bisa kesini sore, kaya Non Sinta dan Pak Farid" jawab Bu Asrama.
"Ya sudahlah, Us Zahra kan bentar lagi masuk. Oh ya bu, kalau Kak Farid udah bangun kasih tau saya" ucap Sinta sambil memberikan tanda suruh telp.
"Iya Non siap"
Sinta pun berlalu meninggalkan asrama menuju ke kantin.
*****
Klinik Kecantikan
"Kamu ikut di facial ya, nggak lama kok" pinta Mama Rita ke Alya.
"Iya Mah" jawab Alya patuh.
__ADS_1
Siang itu mereka berdua melakukan perawatan wajah. Mama Rita juga memesankan krim perawatan wajah untuk Alya. Mama Rita tau meskipun wajah Alya tampak bersih, tapi wajah Alya sangat polos, jerawat kecil terlihat di sekitar bibir. Terlihat kalau Alya memang hanya memakai krim dari toko.
Sekitar 3 jam mereka habiskan di dalam klinik. Sekarang waktu sudah sore. Waktu yang dinantikan Mama Rita agar Ardi bertemu dengan Alya. Berharap mereka saling jatuh cinta tanpa dipaksa.
"Kan, kamu jadi terlihat lebih fresh, Sayang" kata Mama Rita setelah selesai membayar.
"Makasih Mah"
"Punya wajah cantik harus dirawat, biar cantiknya terjaga dan tidak memudar"
"Iya Mah. Alya juga pengen kaya Mamah masih kaya ABG meski sudah kepala 5"
"Iya dong, Om Aryo harus dijaga biar tetap cinta sama Mamah. Oh iya Alya sendiri sudah punya pacar belum?" tanya Mama Rita.
Alya tersenyum kikuk membetulkan jilbabnya.
"Alya nggak pengen pacaran Mah. Oh iya, habis ini mama mau balik ke apartemen atau pulang?" tanya Alya mengalihkan pembicaraan.
"Mamah mau ke danau ketemu sama arsitek Yayasan Gunawijaya. Janjian sore ini" jawab Mama Rita dalam hati bersyukur Alya menjaga hatinya tidak pacaran.
"Oh." jawab Alya lesu.
Alya sebenernya tertarik sekali mendengar kata Yayasan Gunawijaya, dia juga penasaran akan jadi seperti apa kafe buatan Kak Farid. Tapi kemudian rasa penasaran Alya segera dia buang, tugas Alya di rumah sakit lebih penting dan Alya harus segera kembali ke Jogja. Lupakan panti, begitu tekad Alya setiap hari.
"Kamu mau ikut?" tanya Mama Rita.
"Nggak Mah, Alya nanti malam kerja, Alya mau istirahat dulu sebelum begadang" jawab Alya menyembunyikan keinginanya.
"Ooh ya sudah, lain kali saja kalau libur"
"Mah, Alya mau ngomong"
"Iya sayang ngomong aja"
"Kenapa? Bukanya kamu suka?"
"Alya sibuk Mah, sebentar lagi juga Us Zahra kembali bekerja kan?" jawab Alya mencari alasan. Padahal Alya hanya ingin tidak berurusan dengan Sinta. Orang yang membuat Alya patah hati, dikagumi ternyata menyakiti.
"Ya sudah terserah kamu saja, kalau kamu mau ke panti ya datanglah. Kalau sibuk jangan dipaksakan" jawab Mama Rita bijak mencoba mengerti.
"Mah Alya pesan taxi ya" pamit Alya.
"Tante dijemput sayang, tungguin tante dijemput ya!" pinta Mama Rita berharap Alya bertemu Ardi.
"Maaf Maa, apa jemputan mama masih lama?" tanya Alya khawatir.
"Mama telp dulu ya".
Mama Rita meraih ponsel segera menelpon Ardi tapi tidak diangkat-angkat. Lalu Mama Rita mengirim pesan.
"Naak, kamu ingat jemput mamah kaan?"
"Ingat mah"
"Kenapa belum sampai?"
"Ardi masih di Kantor, nyelesein kerjaan"
"Kamu nggak jadi ketemu Farid?"
__ADS_1
"Farid udah berangkat duluan Mah"
"Terus Mamah gimana?"
"Mamah tunggu Ardi 1 jam lagi atau minta jemput pak Rudi!"
Mama Rita menarik nafas menahan kesal membaca pesan anaknya. Mama Rita menatap Alya yang terlihat khawatir.
"Gimana Mah? Masih lama?" tanya Alya seperti menahan sesuatu.
"1 jaman lagi Nak"
Alya menelan salivanya mendengar jawaban Mama Rita.
"Mah, Alya minta maaf, apa Alya boleh pulang ke apartemen duluan. Alya sedang datang bulan, perut Alya mules, sepertinya sudah penuh, celana Alya juga sudah mulai basah, Alya tidak bawa celana ganti" ucap Alya malu-malu.
Mama Rita tampak kaget dan merasa bersalah karena membuat Alya tidak nyaman.
"Aduh, maafkan Mamah sayang. Ya sudah kamu pulang duluan sana!"
"Oh iya Mah, Alya minta nomer hp mamah yah. Nanti Alya telp pake nomer baru Alya"
"Iya sayang, segera telfon ya." Mama Rita menunjukan ponselnya.
"Maafin Alya ya Mah, nggak nungguin jemputan Mamah, Alya pulang dulu ya Mah" Lalu Alya pamit meninggalkan Mama Rita.
"Iya nggak apa-apa, hati-hati di jalan Sayang" Mama Rita melepaskan Alya pergi.
Mama Rita sangat kesal rencana gagal, karena tidak sabar menunggu Ardi, Mama Rita memilih dijemput Pak Rudi.
******
Karena tidak jadi menjemput mamahnya, setelah pekerjaan kantor selesai Ardi langsung menuju ke danau.
Sesampainya di danau, Ardi langsung menuju sebuah lebuah lahan di pinggir jalan menghadap ke danau. Letak yang sangat strategis untuk membuat tempat makan, berpemandangan alam.
Sebenarnya di tepian danau sudah banyak pedangan kaki lima berjualan. Tapi tempat duduk nya terbatas. Yayasan Gunawijaya ingin menyediakan tempat yang lebih luas menjangkau banyak orang dan pengunjungnya bisa berswa foto sambil menikmati hidangan kreasi anak panti.
"Sore Pak Ardi" tanya Pak Arsitek menyambut kedatangan Ardi.
"Sore Pak" jawab Ardi mengulurkan tangan menyapa koleganya. Termasuk Farid yang terlihat sangat lesu memegang kertas rancangan pembangunan kafe.
Setelah bersalam-salaman, mereka membahas apa yang ada di kertas Farid beberapa waktu, sampai mencapai kata sepakat dan Pak Arsitek pamit.
Kini tinggal Farid dan Ardi duduk di tepi danau.
"Lo nggak jadi ajak cwe itu?" tanya Ardi melihat sahabatnya diam.
"Nggak!" jawab Farid lesu.
"Padahal gue penasaran. Kenapa nggak jadi?"
"Dia dapet kerjaan katanya, dia nggak ngajar di panti lagi?"
"Kerja dimana?"
"Gue nggak tau, gue cuma dapet kabar dari Bu Asrama"
"Sabar ya Bro" Ardi menepuk bahu Farid. "Apa perlu gue tanyain ke nyokap gue?" Ardi menawarkan.
__ADS_1
"Makasih Bro, besok gue tanya sendiri ke nyokap lo, gue mau konsen ke kafe dulu. Kalau jodoh nggak kemana!" jawab Farid bijak.
Lalu mereka berdua bergegas pulang ke rumah masing-masing.