
Ardi turun dari mobilnya tanpa menghiraukan Alya yang baru terbangun. Alya melirik jam tangan sudah menunjukan pukul setengah 8 malam. Alya ikut turun dari mobil dan berusha mengejar suaminya masuk ke apartemen.
"Kenapa dia cuek banget sih, bahkan setelah menciumku masih saja menyebalkan, boro-boro gandeng aku, bilang merindukanku atau minta maaf atau bersikap baik kek" gumam Alya sedikit berlari agar tidak jauh tertinggal dari suaminya.
Alya berhasil mengejar Ardi di depan lift. "Cepet banget sih jalanya" gerutu Alya menatap Ardi.
Ardi tetap diam, memasukan tanganya ke saku celananya.
"Lian, Lian, kenapa nggak sadar juga, 1 minggu siang malam gue selalu bayangin Lo. Menahan kangen yang sangat menyiksa, gue cuma pengin lo bisa terima gue jadi suami Lo. Lo malah ngecewain gue, gue nggak bisa nahan diri lagi Lian" ujar Ardi dalam hati menunggu lift terbuka ingin segera sampai di apartemen.
Merasa dicueki suaminya Alya ikut-ikutan diam dan mengacuhkan Ardi. Tidak lama pintu lift terbuka Alya dan Ardi langsung keluar dan menuju ke apartemenya.
"Siapin air mandi, badanku lengket banget" ucap Ardi ke Alya melepaskan sepatunya.
"Memang yang lengket kamu doang, aku juga capek, bisa kan siapin sendiri" jawab Alya kesal suaminya main perintah.
Sebenarnya Alya bukan mau membantah perintah suami, tapi Alya merasa kecewa karena suaminya bertindak sesukanya. Marah-marah nggak jelas, tiba-tiba nyium Alya sesukanya, setelah itu mengacuhkanya.
"Bisa nggak sih jadi istri patuh sedikit, nglawan terus!" jawab Ardi kesal.
"Bisa nggak sih jadi suami, sopan sedikit, nggak jelas terus" timpal Alya lagi meletakan tas.
"Berlian" panggil Ardi merasa gemas dengan sifat istrinya.
"Kenapa kamu bisa ngomong lembut dan sopan ke Farid tapi nggak ke aku" jawab Ardi mendekat ke Alya yang sedang duduk di sofa depan TV.
"Ya mas ngaca lah. Mas pantes nggak dilembutin" jawab Alya lagi menelan salivanya, kali ini Alya tidak keras lagi, nyalinya menciut, karena Ardi tiba- tiba duduk didekatnya.
"Ya Tuhan, kenapa aku selalu menjadi lemah begini kalau dia mendekat, apa dia akan menciumku lagi, hobby banget sih cium-cium aku" gumam Alya dheg-dhegan karena Ardi tidak menjawab.
"Kenapa diam?" tanya Alya lirih.
Ardi tidak melanjutkan marahnya. Ardi justru menunduk mengusap wajahnya menahan sesuatu. Ardi mengeratkan rahangnya lalu duduk menghadap ke Alya, Ardi mengatur nafasnya dan menatap mata Alya baik-baik.
"Baiklah" Ardi menghela nafasnya.
"Apa aku harus meniru Farid dan mencontoh sikap Farid biar kamu bisa lembut ke aku, heh" tanya Ardi pelan merasa frustasi. Alya yang dia lihat bersama Farid sangat berbeda dengan Alya yang ada di depanya.
Alya menghela nafasnya dan menggigit bibirnya karena perubahan nada bicara Ardi justru membuat Alya semakin mati kutu.
"Kenapa bahas Kak Farid terus sih, Mas kan bisa lebih baik tanpa harus membandingkan siapapun".
"Ya jelaskan ke Mas, bagaimana mas harus bersikap baik seperti yang kamu mau dan kamu inginkan"
"Ya masa dijelasin sih. Ya mas kan udah dewasa, udah tua malah, masa nggak tahu cara bersikap baik ke perempuan"
"Ya kasih contohnya" jawab Ardi gemas menatap ke Alya.
"Contohnya.... " jawab Alya gelagapan karena Ardi menatap Alya sangat dekat. "Contohnya" Alya menelan salivanya.
"Contohnya mas jangan terlalu dekat begini, jantungku mau copot rasanya, jangan suka maksa" ceplos Alya spontan mendorong Ardi sedikit menjauh. Lalu menghela nafasnya.
Ardi justru tersenyum melihat pipi istrinya memerah seperti kepiting rebus. "Kenapa aku harus menjaga jarak darimu, Farid saja boleh dekat-dekat sama kamu"
"Kenapa bahas Farid lagi, Farid lagi. Mas nggak sebanding sama Kak Farid, mas udah cium aku, peluk aku, liat tubuhku, masih saja bandingin Kak Farid, kurang apa lagi coba" jawab Alya kesal ke suaminya.
"Kamu milikku! Tentu saja masih ada yang kurang" jawab Ardi semakin nakal kembali mendekat ke Alya. "Kamu belum kasih itu ke aku?" bisik Ardi ke Alya.
Alya diam tercekat. "Kenapa aku ngebahas ini, aduh mati aku? Aku cuma pengen bilang dan tanya ke dia, kenapa dia selalu menciumku tiba-tiba, kenapa aku bahas kesini?" gumam Alya meremas ujung jilbabnya.
"Aku mau sholat isya" jawab Alya mengalihkan pembicaraan. Berniat bangun dan kabur dari suaminya.
"Eits tunggu" Ardi meraih tangan Alya dan menyeretnya untuk duduk.
__ADS_1
"Suamimu belum selesai ngomong, tidak baik meninggalkan suami begitu saja"
"Ngapain sih, serah aku lah, aku mau sholat. Kenapa juga mas selalu bilang kalau mas suamiku tapi mas selalu maksa, selalu cuekin aku dan kasar sama aku, apa itu namanya suami?" ceplos Alya kesal.
"Jadi kamu merasa mas nyuekin kamu?" tanya Ardi mesra membuat Alya semakin tidak berkutik.
Alya diam tidak mau mengakui dan ingin Ardi sadar atas semua sikapnya. "Ya ampun, apa aku terlihat sedang mengharapkan perhatian darinya? Kenapa aku mengucapkan kata-kata itu sih?" gumam Alya merutuki dirinya sendiri.
"Kita sholat bareng!" ajak Ardi memutuskan mengakhiri perdebatanya, Ardi melihat istrinya seperti sedang merajuk.
Ardi tau istrinya marah, tapi dia sendiri bingung apa sebabnya dan sebaiknya bagaimana. Ardi berharap mengajak sholat bersama bisa mendinginkan dan menyadarkan Alya, kalau Ardi beneran selalu berusaha jadi suami yang baik.
"Emang bisa jadi imam?" jawab Alya ketus.
"Plethak" Ardi menyentil kening Alya. "Selain galak, pembangkang dan pemarah kamu juga suka menghina ya"
"Aku kan cuma tanya" dengus Alya memegang keningnya.
"Ayo wudzu" ajak Ardi lalu mereka sholat bersama.
Alya benar-benar tidak mengira kalau bacaan sholat Ardi sangat fasih, Ardi juga memimpin doa setelah sholat. Padahal beberapa waktu Alya tau Ardi melewatkan sholatnya. Apalagi dua kali Ardi pulang bau rokok dan alkohol, Alya mengira Ardi laki-laki metropolitan yang tidak mengenal agama.
Setelah selesai sholat Ardi mengulurkan tanganya, dengan ragu-ragu Alya mencium tangan suaminya. Lalu Ardi mencium kening Alya. Ini pertama kalinya mereka berdua so sweet dan akur.
"Kenapa Mas Ardi terlihat keren sekali kalau begini, tiba-tiba rasanya aku menjadi perempuan beruntung dinikahi dia?" gumam Alya tersenyum melihat imam gantengnya.
"Apa harus begini setiap hari biar kamu mau patuh dan menganggapku suami?" tanya Ardi tiba-tiba melihat istrinya bersikap sangat manis
Alya mengangguk malu dan tersenyum melihat suaminya.
"Ehm, apa kamu sekarang sudah menganggapku suamimu?"
"Tergantung" jawab Alya mode on lagi.
"Haish, mulai lagi" jawab Ardi mengusap kasar wajahnya.
"Ya silahkan tanya"
"Kenapa, Mas selalu bilang aku keganjenan, apa aku sungguh ganjen? Kenapa mas ninggalin Mama Rita, menolak pas mau dikenalin sama aku, dan kenapa tiba-tiba tiba mas nekat nikahin aku dengan cara berbohong?" tanya Alya mengeluarkan unek-uneknya.
Ardi menatap Alya sejenak. Lalu menghela nafas, dan memilih diam. Ardi melipat sajadahnya tanpa menjawab pertanyaan Alya.
"Kenapa nggak dijawab?" tanya Alya kecewa.
Ardi justru bangun dan melepas baju kokonya meninggalkan Alya.
"Aku janji aku menerima mas jadi suamiku, dan aku akan lakukan kewajibanku sebagai istri. Tapi jawab pertanyaanku" ucap Alya sedikit keras, melihat Ardi berjalan ke kamar mandi. Mendengar perkataan itu Ardi berhenti dan balik mendekati Alya.
"Benera malam ini kamu mau kasih itu ke mas?" tanya Ardi antusias dengan senyum dewasanya.
Alya menelan salivanya merasa terjebak dengan perkataanya sendiri. "Ehm, nggak jadi, aku tarik perkataanku"
Ardi tersenyum menang melihat istrinya. Lalu mencium kening istrinya. Ardi tahu dari respon Alya setiap mereka berciuman, dari sikap Alya saat Ardi pulang malam, sebenarnya Alya menunjukan penerimaan dirinya sebagai istri. Bahkan Alya merespon baik Ardi.
"Mandi bareng yuk" bisik Ardi ke Alya.
"Nggak mau" jawab Alya menggelengkan kepala.
"Nolak suami dosanya gedhe lho" bisik Ardi lagi pelan ke telinga Alya membuat Alya merinding dan tersipu. Melihat Alya tersipu dan wajahnya memerah, Ardi langsung mengangkat Alya paksa dan membawanya ke kasur.
"Mas" panggil Alya pelan merasa dheg-dhegan.
"Mas nggak bisa nahan lagi, boleh ya" ucap Ardi terus terang. Lalu membuka mukena Alya. Alya gelagapan, Alya sendiri yang memancing Ardi. Jadi Alya harus siap mempertanggung jawabkan semuanya.
__ADS_1
"Mas tapi" ucap Alya lirih, ucapanya langsung terhenti Ardi mendaratkan bibirnya ke bibir Alya.
Alya hanya pasrah dan menerimanya. Sesaat Alya pun membalas perlakuan Ardi. Ardi melepaskan bibirnya saat Alya sudah kehabisan nafas.
"Kamu menyukainya?" bisik Ardi ke Alya merasa mendapatkan balasan. Alya diam tersipu malu untuk mengakuinya. Tapi Ardi tau dan yakin betul Alya merespon dan menyukainya.
Ardi kembali melanjutkan perjalananya, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ardi berhasil membuat Alya mengeluarkan suara yang Ardi harapkan sebagai sinyal persetujuan. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Ardi menanggalkan semua pakaian mereka berdua.
Mata Alya terbelalak melihatnya. Sebagai seorang dokter yang mempelajari anatomi manusia, dan menghadapi pasien hidup. Alya sudah pernah melihatnya. Tapi pemandangan malam ini sangat berbeda, Alya menelan salivanya saat Ardi mendekat, dan bersiap melakukanya.
"Mas" panggil Alya pelan menyadari situasi mereka.
"Iya sayang, kamu udah siap?"
"Mas pelan ya, Lian takut"
"Iyah, tahan ya, mas juga baru pertama, katanya sakit" bisik Ardi mengucapkan doa pelan dan melanjutkan perjalananya menuju puncak.
"Aaaak" Alya meneteskan air mata dan menjambak rambut Ardi saat merasakan perih yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
"Maaf sayang," bisik Ardi berhenti sejenak, lalu melanjutkan bakat otodidaknya dan berusaha menyembuhkan sakitnya Alya.
40 menit berlalu, Ardi mengakhiri petualangan serunya.
"I love you" bisik Ardi pelan dengan nafas ngos-ngosan. Lalu berbaring memeluk Alya.
"Kamu belum jawab pertanyaanku mas" jawab Alya sambil terisak menyadari kini dirinya seutuhnya dimiliki Ardi.
"Barusan itu jawabanku" bisik Ardi semakin mempererat pelukanya.
"Sungguh?"
"Emem" jawab Ardi mengangguk. "Apa masih sakit? Apa sakit sekali?" bisik Ardi tangan di bawah selimutnya berusaha menyentuh sesuatu.
"Ish, jangan dipegang-pegang, masih perih, tapi kata teman-temanku nanti sembuh sendiri" jawab Alya pelan.
"Kata teman-teman?" tanya Ardi heran. "Memang kamu sering membahasnya? Apa temanmu sudah melakukanya?"
"Ck. Aku kan dokter, beberapa temanku juga sudah menikah"
"Plethak" Ardi menyentil kepala Alya lagi
"Hobby banget sih nyakitin istri" jawab Alya mengusap kepala.
"Kenapa selama ini sok polos, kalau kamu udah suka bahas itu?"
"Ih, tapi kan ini semua pengalaman pertamaku"
"Ya ya. Mau mandi sekarang apa besok?" tanya Ardi lembut.
"Lengket banget mas. Sekarang aja, biar besok bisa langsung subuhan"
"Yakin udah nggak sakit?" tanya Ardi lagi.
"Bisa ditahan kok"
"Ya udah yuk bangun"
Ardi dan Alyapun bangun dari tidurnya, berniat untuk mandi wajib. Tiba - tiba terdengar bel pintu berbunyi.
"Shit" umpat Ardi mendengar bel. "Siapa sih malem-malem bertamu" cibir Ardi.
Alya tampak berfikir dan melihat jam dinding menunjukan jam setengah 10 malam.
__ADS_1
"Hah" Alya menutup mulutnya kaget mengingat sesuatu. "Anya? Kenapa aku lupa membatalkanya, bagaimana ini?" ucap Alya panik membuat Ardi menoleh heran ke istrinya.
"Apa maksudmu sayang?"