Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
274. Ralat Doa


__ADS_3

Setelah berkumpul dan berbincang. Ardi pun menyela. Dengan gaya tengilnya Ardi mengangkat ujung jilbab Alya ke atas. 


"Apa sih Mas?" tegur Alya risih dengan kelakuan suaminya dan menarik jilbabnya.


“Udah Yang, ke atas yuk! Ganti!” ajak Ardi.


“Hemm, ya!” jawab Alya. 


Lalu Ardi berdiri tanganya menarik tangan Alya. 


“Ini di rumah Mas, Lian bisa jalan sendiri ih!” jawab Alya tanpa tahu malu di depan orang tua mereka. 


Lalu Alya mengambil gaunya. Dan berniat menyusul suaminya. 


“Bu.. Mah, Pah. Lian sama Mas Ardi ke atas dulu ya!” pamit Alya sopan.


“Iya Nak!” jawab Mama Rita. 


“Katanya kamu mau ke kamar ibu Nak? Nggak jadi?” tanya Bu Mirna. 


“Tadinya Alya mau tanya Om Didik Bu, he.. kan udah dibahas. Jadi Alya ke atas ya” jawab Alya. 


"Oh" jawab Bu Mirna.


“Iya, hati- hati jalanya, lewat lift aja jangan tangga” sahut Bu Rita memperingati Alya takut Alya jatuh lagi. 


“Ya Mah” jawab Alya. 


Alya kemudian naik ke atas. Bu Rita dan Bu Mirna lanjut mengobrol. Sementara Tuan Aryo keluar bersama sopirnya. Tuan Aryo ke tempat resepsi dan memastikan keamanan dan persiapan acara anaknya besok lusa. 


Di kamar, Ardi langsung membuka kancing kemejanya satu persatu, meletaknya di keranjang pakaian kotor. Memilih pakaian tidur yang nyaman.


Sementara Alya dengan semangat di depan kaca membuka gaun dari Intan lagi. Entah kenapa Alya sangat suka dengan gaun buatan Intan. 


Masih di depan cermin dan tidak di ruang ganti, Alya membuka pakaianya. Lalu dengan tidak sabar Alya mencoba memakai gaun warna putih tulang itu. 


“Maas” panggil Alya lembut. 


“Hemmm" jawab Ardi dari kamar mandi. 


“Lagi apa sih?” tanya Alya. 


"Wudzu Sayang, kita belum sholat isya” jawab Ardi keluar dari kamar mandi berjalan sambil menutup wajahnya sebentar berniat membuang sisa air wudzu. Dan begitu membuka tanganya istri di depanya.


“He...” Alya nyengir, karena lupa belum sholat isya malah keburu nyobain gaun. Alya memanggil suaminya berniat meminta tolong mengancingkan resletingnya. 


“Benerin resleting belakang!” ucap Alya lirih tapi Alya yakin suaminya nggak mau, soalnya udah wudzu.


“Ck..hhh, sholat dulu!” jawab Ardi berdecak dan memarahi istrinya. 


“Iya ya! Tapi bagus nggak?” tanya Alya memiringkan wajahnya mode imut. 


“Ehm” Ardi justru melengos melewati Alya dan menggelar sajadah. 


Alya pun hanya menelan ludahnya kecewa dan mengekrucutkan bibirnya. 


“Iya tunggu Lian wudzu dulu!” jawab Alya melepas gaunya. Meletakanya di atas kasur, kemudian berjalan ke kamar mandi berwudzu. Dan mereka berdua berjamaah di kamar karena memang sudah malam. 


Seusai sholat mereka berdua berdzikir dan melafalkan doa setelah sholat. Selesai berdoa Ardi menoleh ke belakang, dan Alya mencium tangan suaminya.


Ardi kemudian membungkukan badanya menyibakan mukenah Alya , mencium dan mengelus pusernya dengan lembut. 


“Sayangnya Baba tumbuh sehat dan pintar ya” tutur Ardi, 


“Iya Baba” jawab Alya menirukan suara anak kecil. 

__ADS_1


“Suka banget sama gaunya?” tanya Ardi kemudian.


“Iyah” jawab Alya mengangguk. 


Tapi Ardi hanya mengangguk dan berkespresi masam. 


“Mba Intan adekku Mas, dia sepupuku. Mas udah nggak ada rasa kan sama dia?” tanya Alya kemudian. 


“Kamu apa- apaan sih? Cintanya mas Cuma kamu” jawab Ardi. 


“Ya abis Mas ekspresinya gitu” jawab Alya. 


“Justru Mas mau bahas ke kamu, apa kita ajak Intan balik ke butik lagi? Kemarin mas sempat lihat ayahnya baby El” tutur Ardi. 


“Hah? Benarkah? Apa mas ngobrol?” tanya Alya antusias.


“Nggak! Cuma liat aja” 


“Dimana?” 


“Perempatan dekat rumah tahanan. Dia jual lukisan di jalanan” tutur Ardi sendu. Ayah baby El menyedihkan.


“Hemmm, kalau gitu besok kita temuin dia Mas, kan biar baby El punya ayah” jawab Alya memberi saran.


Ardi kemudian mengangguk tersenyum menatap istrinya dalam. Lalu Ardi meraih kepala Alya dan mencium keningnya lembut. 


“Makasih udah mau jadi istri Mas” ucap Ardi pelan. 


Ucapan Ardi yang pelan dan lirih membuat Alya heran, tumben suaminya melow. Lalu Alya mengernyitkan dahi dan matanya, bertanya. 


“Mas baik- baik aja kan?” tanya Alya sambil tersenyum melihat Ardi yang sedikit pendiam. 


“Ya mas baik- baik aja” 


Ardi dibuat salah tingkah karena merasa malu dan rendah diri. 


“Kok nggak dijawab?” tanya Alya lagi. 


“Maaf Mas nggak bisa sekeren Dika, ngelamar kamu dengan cara yang baik. Makasih kamu mau terima mas dan jadi istri yang baik buat Mas” ucap Ardi dengan nada malas karena malu menurunkan gengsinya mengakui kesalahanya. 


“Uluuh, uluh cuamiku co cweet” ledek Alya tersenyum lalu memeluk suaminya yang masih menggunakan koko dan sarung. 


Ardi pun menyambut istrinya yang masih menggunakan mukenah dengan hangat. Mendekapnya erat dan menciumi kepalanya dengan lembut. 


“Semoga Alloh jaga kita ya Mas” tutur Alya. 


“Mas nggak bisa hidup tanpa kamu, mas mau kamu terus di sisi mas, sampai kapanpun” ucap Ardi lagi. 


“Aamiin” 


“Doa mas, mas ralat deh” ucap Ardi tiba- tiba. 


“Heh?” Alya terhenyak dan menjauhkan diri dari pelukan suaminya. “Ralat doa yang mana?” tanya Alya. 


“Mas nggak jadi minta anak perempuan. Biar cowok aja. Kalau anak kita perempuan, kalau menantu mas ngedeketin anak kita kaya Mas, Mas gimana ya?” ucap Ardi tiba-tiba membuat Alya tertawa terpingkal- pingkal. 


“Kok kamu malah ketawa?” 


“Maksudnya, Mas takut kalau mas kena karma? Dibohongin calon mantu?” tanya Alya ngeledek.


“Huum” jawab Ardi mukanya sedih.


“Ya yang penting kan kenyataanya Mas jaga diri mas dan diri Lian, Insya Alloh karmapun, Alloh jaga anak kita. Yang penting semoga anak kita terjaga dari perbuatan yang dibenci Alloh, jadi anak solikhah” jawab Lian. 


“Kalau dapetnya laki- laki kurang ajar dan menikahi anak kita dengan cara yang tidak baik? Gimana?” tanya Ardi lagi overthingking. 

__ADS_1


Alya pun kembali tertawa. Salah siapa dulu nikahin Alya dengan jalan sembrono.


“Ah mas ini, tahu jenis kelaminya aja belum Mas, udah mikirin anak kita nikah” jawab Alya mengalihkan kekhawatiran Ardi.


“Mas pengen dapet mantu kaya Dika” jawab Ardi lagi dengan lugunya. 


“Ya berdoa dong! Semoga anak kita kalau perempuan jadi anak yang solikhah” 


“Aamiin. Mas akan jaga anak kita dengan sangat ketat kalau anak kita perempuan” tutur Ardi lagi.


“Hah. Terserah Mas lah. Udah yuk, Lian mau nyobain itu gaun” tutur Alya membuka mukenah bangun dan mengambil gaunya.


Alya berjalan sangat seksi dengan perut sedikit membunciit karena hanya meemakai pakaian dalam. 


“Kamu godain Mas ya?” tanya Ardi sambil melipat sajadahnya melihat istrinya seksi. 


“Godain gimana?” tanya Alya suaminya mulai kambuh.


Lalu Alya memakai gaun itu. Dan Alya berjalan ke Ardi menyodorkan tubuh bagian belakangnya agar dikancingkan resletingnya.


Bukanya mengkancingkan resleting, tangan Ardi justru membelai lembut bahu Alya, menciumnya dengan lembut di dekat leher sehingga menimbulkan sensasi rasa yang tidak bisa diungkapkan. 


Alya pun menghindar dan menepis suaminya.


“Mas tadi sore kan udah!” tegur Alya muka cemberut. 


“Hmmm ya” jawab Ardi malas karena ditolak.


“Bantuin benerin resletingnya” ucap Alya.


“Ya!” jawab Ardi dengan muka pasrah. 


Dan seteelah dibetulkan Alya melihat ke kaca. Semntara Ardi memilih naik ke atas kasur dan menarik selimutnya.


Alya masih bahagia di depan kaca. Ternyata ukuran Intan tepat, perut Alya yang mulai melebar tersamarkan. Alya kemudian memutar tubuhnya dengan centil. Akhirnya Alya merasakan pesta pernikahan meski sudah hamil.


Setelah puas mengaca, Alya mengganti pakaianya dengan pakaian tidur. Mereka berdua pun istirahat bersiap menyambut hari esok dengan bahagia.


****


Di tempat lain di sebuah bar. Seorang perempuan ditemani dengan laki- laki berketurunan Belanda sedang menegak minuman yang berakohol.


“Ini barang yang kamu minta” ucap laki- laki bule itu.


Mengeluarkan sebuah benda dari tasnya.


“Oke” jawab si perempuan menerima sebuah kotak dan berbungkus kain hitam. 


“Kamu bisa menggunakanya kan?” tanya laki- laki itu. 


“Yah gue pernah ikut kelas menembak saat kuliah dulu” jawab si perempuan itu. Lalu memasukan bingkisan itu ke tasnya. 


“Sebenarnya gue berharap lo menyerah dan hiduplah dengan baik, aku khawatir terhadap pilihanmu, aku khawatir kamu justru menemui akhirmu” ucap laki- laki itu menasehati. 


“Hidup gue udah berakhir, gue nggak takut apapun. Gue udah nggak punya siapa- siapa. Pilihan gue cuma dua, bunuh diri atau bunuh dia. Itu alasan gue masih ada di sini nemuin Lo. Lo tau kan?” jawab perempuan itu. 


“Apa lo yakin mampu? Gue cuma khawatir sama Lo" tanya laki- kaki itu meyakinkan lagi.


“Harus” jawab perempuan itu  mantap.


****


Terimakasih yang masih setia baca.


Maaf skrg jarang Up. Sambil nunggu boleh baca nupelku yang lain. Hehehe.

__ADS_1


__ADS_2