Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
13. Sinta Kehabisan Akal


__ADS_3

Kediaman Tuan Aryo.


"Terima kasih Nak Farid, sudah mengantar anak mama pulang" ucap Bu Rita menggandeng Alya masuk diikuti Farid.


"Sama- sama, Tante" jawab Farid hormat.


"Duduk dulu ya, tante ambil kaca mata" pamit Mama Rita meninggalkan Farid di ruang tamu, yang hendak melaporkan laporan bulanan.


"Kak, Alya ke kamar dulu ya, mau naruh tas" pamit Alya meninggalkan Farid. Farid mengangguk dan mempersilahkan Alya pergi.


Setelah meletakan tas di kamar, Alya menuju ke dapur berniat membuat minum untuk Farid.


"Non Alya" teriak Bi Mia kegirangan melihat nona barunya datang.


Mereka berpelukan. Meski pertemuan dan perkenalan mereka singkat, karena keramahan Alya, membuat Mia merasa akrab dan dekat dengan Alya.


"Aku kangen Mba Mia dan yang lain" tutur Alya tersenyum.


"Kita juga, saya kira Non Alya nggak kesini lagi" jawab Mia.


"Ishh kamu ini?"


"Oh iya, Non Alya kesini sama siapa?" tanya Mia lagi.


"Kak Farid" jawab Alya singkat.


"Wuah sama Den Farid ganteng dan berkarisma itu?" tanya Mia kegirangan, yang sedikit banyak tau tamu-tamu majikanya yang sering berkunjung.


"Mba Mia kenal?" tanya Alya tidak menyangka Mia tau Kak Farid.


"Bagaimana tidak. Den Farid itu kalau Den Ardi di rumah sering ke sini, Den Ardi kuliah di luar negeri pun sebulan sekali ke sini" jelas Mia berbinar-binar menceritakan Farid.


"Ooh gitu" Alya mengangguk sambil menyiapkan cangkir.


"Biar Mia aja yang bikin teh Non. Non ke depan aja temani Den Farid" tutur Mia mencegah Alya membuat teh.


"Kak Farid udah sama Mamah Rita, lagi selesain kerjaan, nggak enak kalau ganggu" jawab Alya tidak mau mengganggu Farid menyelesaikan pekerjaanya.


"Ya sudah, tunggu duduk dulu, nanti Non yang bawa, saya yang siapkan" pinta Mia bijak. Alya mengangguk untuk menunggu.


Dengan cekatan Mia menyiapkan minum dan camilan untuk tamu majikanya. Setelah siap Alya membawanya ke ruang tamu. Di ruang tamu, tampak Farid dan Bu Rita berdiri membawa laptop dan beberapa berkas. Mereka hendak menuju ke ruang kerja di lantai dua.


"Dibawa ke ruang kerja aja sayang minumanya" pinta Bu Rita mengajak Alya naik ke ruang kerja.


Mereka berjalan menuju ke ruang kerja. Alya membawa baki teh mengekor di belakang Bu Rita dan Farid. Mereka masuk ke ruangan kerja yang tampak rapih dan luas.


Bu Rita dan Farid sibuk dengan laptop dan dokumenya. Sedikit - sedikit Alya ikut mendengar pembicaraan mereka. Salah satunya membicarakan tentang salah satu anak panti, yang sekarang punya butik baju di luar kota hendak menikah. Anak itu datang ke panti, ijin ke Farid untuk datang ke Istana Aryo Gunawijaya. Mereka ingin bertemu dengan bunda mereka.


"Saya saja yang ke panti besok" jawab Bu Rita tidak ingin banyak orang datang ke rumahnya.

__ADS_1


Meskipun Bu Rita sangat menyayangi anak-anak panti, tapi belum ada satupun yang diperbolehkan datang ke kediamanya. Bukan karena sombong. Anak dan suaminya tidak terlalu membuka diri terhadap orang luar seperti Bu Rita. Hanya keluarga dan rekan terdekat yang boleh datang ke rumah. Selebihnya mereka lebih memilih bertemu di luar.


"Mamah, Alya ke dapur lagi ya, nggak enak kalau ganggu" pamit Alya merasa tidak enak melihat orang bekerja.


"Nggak ganggu Sayang, kamu kan sekarang juga sudah menjadi bagian dari panti. Mamah dan Nak Farid sedang merencanakan membuat kafe di dekat danau" Bu Rita menjelaskan, membuat Alya tidak kikuk di dalam ruang kerja.


"Kafe Ma?" tanya Alya. Bu Rita mengangguk.


"Iya, sayang kan, kalau keterampilan anak-anak tidak disalurkan, Sinta berhasil mengembangkan minat anak-anak dan membuat mereka berkreasi" jelas Bu Rita menyanjung Sinta. Sanjungan Bu Rita membuat Alya mengurangi kecurigaanya. "Mba Sinta orang baik dan berjasa, nggak mungkin menjailiku" gumam Alya mengambil kesimpulan.


Alya mengurungkan niatnya untuk meninggalkan ruang kerja. Dia ikut mendengarkan rencana-rencana Yayasan Gunawijaya dan beberapa masalah yang di hadapi selama satu bulan ini. Sesekali Farid dan Alya saling bertatapan mengagumi satu sama lain.


Alya mengagumi ketulusan dan kecerdasan Farid. Sementara Farid mengagumi kecantikan Alya.


Tidak terasa, jam menunjukan angka 8 malam. Bu Rita memilih menyudahi pekerjaan dan mengajak kedua anak muda di hadapanya makan malam.


"Nak" panggil Bu Rita ke Alya selesai makan.


"Iya Mah" jawab Alya.


"Tidur bareng mamah ya!"


"Iya Mah" jawab Alya tersenyum. Farid di hadapan Alya menatap heran.


"Segitu dekat dan sayangnya Bu Rita terhadap perempuan ini. Sampai mengajaknya tidur bersama. Padahal melihat perangai Ardi, keluarga Tuan Aryo sangat menjaga privasi dan jarak terhadap orang selain keluarga. Sebenarnya siapa dia? Ada hubungan apa dengan keluarga Tuan Aryo Gunawijaya?" gumam Farid dalam hati lalu berpamitan pulang.


"Apa kamu juga tetap memakai jilbab ketika tidur?" tanya Bu Rita melihat Alya masih mengenakan hijab. Padahal Bu Rita sendiri memakai hijab sebentar sudah risih.


"Nggak Mah" jawab Alya tersipu lalu membuka hijabnya.


Dan tampaklah rambut hitam Alya terurai dengan cantik. Leher jenjangnya terlihat bersih putih, buah dadanya tampak ranum dan segar dibalik piyama. Kecantikan Alya tampak sempurna di hadapan Bu Rita. Membuat Bu Rita yang sesama perempuan terkagum. Lalu Bu Rita mengingat anak semata wayangnya yang masih belum pulang.


"Ardi pasti akan jatuh cinta jika bertemu denganya" gumam Bu Rita dalam hati melihat menatap Alya.


"Kamu cantik sekali Nak" puji Bu Rita ke Alya.


"Mamah lebih cantik" jawab Alya tersipu.


"Besok masuk apa?" tanya Bu Rita ke Alya yang belum tahu kalau Alya libur 3 hari karena habis dirawat.


"Besok masih libur Mah" jawab Alya.


"Oh iya, gimana di rumah sakit? Lancar?" tanya Bu Rita sambil menarik selimut merebahkan badanya.


Alya diam membayangkan wajah Gery yang sempat membuatnya menangis dan kesal, karena sudah melihat separuh tubuhnya yang selalu dia jaga. Tapi seketika teringat wajah-wajah perawat yang selalu menghormatinya.


"Menyenangkan Mah" jawab Alya tersenyum.


"Syukurlah, gimana tinggal di apartemen?"

__ADS_1


"Alya betah Mah, apartemenya tidak terlalu besar jadi tidak begitu merepotkan" jawab Alya lagi merasa bersyukur diberi tumpangan apartemen.


"Kalau kesepian ajaklah Mia atau Ida" tawar Bu Rita khawatir Alya kesepian.


Alyap diam dan berfikir, sepertinya menyenangkan kalau teman barunya itu ikut ke apartemen. Tapi Alya sendiri waktunya banyak di habiskan di rumah sakit dan panti. Kasian kalau ditinggal sendiri.


"Nggak Mah, Alya sendiri saja. Alya kan banyak aktivitas di luar" jawab Alya menolak.


Bu Rita mengangguk, tidak berapa lama mereka memejamkan matanya.


******


Panti Gunawijaya


Pagi itu Sinta sudah rapih dan tampil seksi dengan gaun 3/4 nya, dia keluar dari mobil sportnya menuju ke kantin. Di sana sudah menunggu Bu Rita dan Alya. Sementara Farid masih di kampus menunaikan tugasnya sebagai dosen.


"Shiiit, kenapa gadis itu selalu ada dimana-mana, menguntit kaya perangko?" gumam Sinta dalam hati kesal melihat Alya. Lalu Sinta mencoba tersenyum, menghampiri Bu Rita.


"Pagi Tante, Us Alya" sapa Sinta.


"Pagi Sinta" jawab Bu Rita mempersilahkan Sinta duduk. Lalu mengeluarkan bingkisan berupa tas mahal.


"Maaf buat tante nunggu" ucap Sinta memohon maaf dengan elegan.


"Nggak nunggu kok. Tante sekalian ngecek kamar mandi, Farid laporan ada beberapa kamar mandi diperbaiki, makanya tante ke sini lebih pagi" jelas Bu Rita bijak.


Sinta tersenyum menetralkan paniknya. Sambil menghela nafas.


"Sial, kenapa masih bahas tentang kamar mandi? Apa perempuan ini juga cerita ke Tante Rita? Kenapa dia nggak Ka_O juga sih? Obat yang gue taruh di pizza seharusnya membuat dia kena thypus" gerutu Sinta dalam hati.


"Sin?" panggil Bu Rita membuyarkan percakapan Sinta dalam hati. Sinta pun menelan ludah sambil menjawab panggilan Bu Rita.


"Iya Tan"


"Tante mau ucapin terima kasih. Kamu sudah mengajari anak-anak jadi koki hebat. Bahkan mereka bisa mandiri dan buka usaha" tutur Bu Rita sambil menyerahkan bingkisan.


"Apa ini Tante?" tanya Sinta melirik isi tas.


"Tante tau kamu suka tas, ini kenang-kenangan dari tante. Ini sebagai do'a tante. Semoga, pembangunan kafe di danau berjalan lancar, ini semua berkat kamu" tutur Bu Rita.


"Ahhh Tante, Sinta bahagia kok bisa kerja di sini bareng Kak Farid dan yang lain" jawab Sinta merasa tersanjung.


"Tante tau, bakatmu seharusnya lebih berkembang, tapi kamu justru banyak menghabiskan waktu d sini . Terima kasih atas pengorbanan waktumu untuk kami" ungkap Bu Rita tersenyum hangat.


Sinta tersenyum penuh kemenangan. Posisi aman, kejadian di kamar mandi harus segera dilupakan, jangan sampai ada yang tahu jejak kelakuan asli Sinta. Pokoknya Sinta harus mengambil hati Bu Rita.


"Oke! Baik Sinta. Sementara gue akan tetap bersandiwara baik agar selalu bisa didekat Farid" gumam Sinta melirik ke Alya.


Sinta berharap Us Zahra segera kembali sehingga Alya tidak dekat-dekat dengan Farid. Sinta tidak suka kalau ada pengurus panti yang masih muda dan cantik.

__ADS_1


__ADS_2