
*****
Kediaman Mira
"Sayang, udah ditunggu Tito tuh" ucap Mama Mira.
"Iya Mah" jawab Mira tersenyum ke ibunya,
"Baik banget dia bawain mamah tanaman. Dia tau tanaman yang mama suka" tutur Mama Mira memuji calon mantunya.
"Iya Mah" jawab Mira lagi datar.
"Mama percaya Tito laki-laki yang baik dan penyayang sayang" tutur Mama Mira lagi sambil nunggu Mira dandan.
"Iya Mah, Mira tahu. Ya udah Mira berangkat ya Mah" pamit Mira ke ibunya, hendak diajak jalan sama Tito.
Lalu Mira turun ke ruang tamu. Tito sudah menunggu dengan penampilan rapihnya.
"Udah siap?" tanya Tito ke Mira sengaja menjemput Mira.
"Udah" jawab Mira datar
"Tante Tito berangkat dulu" pamit Tito ke Mamah Mira.
"Jangan malam-malam ya pulang nya" jawab Mamah Mira.
"Ya Tante" jawab Tito sopan.
Lalu Mira dan Tito masuk ke mobil. Mira duduk di samping Tito. Mira tampil elegan dengan dress warna krem polos dan sepatu sneakers putih ala-ala korea, sehingga meskipun sudah berumur mendekati kepala tiga, Mira tetap terlihat muda dan cantik. Rambut Mira yang panjang dan pirang diikat ke belakang.
Mira dan Tito hendak pergi kencan untuk yang kedua kalinya. Sebenarnya Tito mengajak Mira jalan hari kemarin saat Mira menerima bayi Dokter Stefan. Karena Mira pulang malam dan sudah makan dengan Dokter Gery, Mira membatalkanya. Dan hari ini Tito mengajak Mira jalan ke mall, nonton dan makan seperti pasangan yang lain.
"Maaf ya, kalau terkesan klasik, ngajaknya nonton" ucap Tito merasa sudah dewasa tapi pdkt nya seperti anak sekolahan.
"Nggak apa-apa. Nonton film juga asik, udah lama nggak nonton" jawab Mira menghormati Tito yang 2 tahun lebih tua dari Mira.
Mereka pun masuk ke mall besar di kotanya. Berjalan beriringan, menaiki eskalator dari lantai ke lantai. Saat Mira melewati food court Mata Mira terbelalak melihat teman SMA nya, sedang menyuapi balita sendirian di stroler.
"Intan" Mira menghentikan langkahnya memperhatikan orang yang dulu jadi sahabatnya.
"Siapa Mir?" tanya Tito.
"Teman SMA gue" jawab Mira agak syok.
"Ya udah kita samperin yuk" ajak Tito.
"Ayok"
Mira dan Tito berjalan mendekati Intan, belum Mira menyapa Intan sudah lebih dulu melihatnya.
"Mira" tegur Intan bahagia.
"Hai Tan. Ni elo kan?" tanya Mira agak aneh melihat Intan bersikap keibuan.
"Iya ini gue. Apa kabar lo?" sapa Intan ramah lalu melirik ke Tito.
"Baik Tan. Anak lo?" tanya Mira sedikit bingung. Dua tahun lalu Mira sedang sibuk mengikuti pendidikan spesialis sehingga tidak tahu perkembangan dan kabar teman-teman sma nya. Mira tahu Intan putus dari Ardi, tapi Intan tidak tahu apa sebabnya dan apa yang terjadi.
"Iyah, ini anak gue, dia? Cwo lo? Lo udah move on dari Gery?" tanya Intan berbisik balas menginterogasi Mira.
"Ehm" Mira berdehem melihat ke Tito, malu mengakuinya.
"Kenalin Tito" jawab Mira.
Lalu Tito mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
"Tito" ucap Tito mengenalkan diri.
"Intan" jawab Intan
"Lo berduaan aja?" tanya Mira lagi.
"Iyah"
__ADS_1
"Kapan lo nikah kok nggak ngundang? Suami lo mana?"
"Gue belum nikah Mir, lo tau kan Ardi, dia lebih memilih kuliah ke Australi" jawab Intan spontan.
Mira pun terhenyak dan kaget dan mendengarnya. Mira melirik ke Tito tidak nyaman.
"Maksudnya apa? Jadi Intan masih mengharap Ardi, dan bayi ini lahir tanpa ayah? Apa ini bayi Ardi juga? Kasian sekali Alya?" gumam Mira dalam hati.
"Sory, maksud lo?" tanya Mira canggung dan ragu.
"Gue single parents, gue yakin nanti Ardi akan menerima dia" jawab Intan dengan wajah percaya diri.
Mendengar Intan, Mira menelan salivanya dan sedikit kaget. "Jadi maksud Intan anak ini anak Ardi? Tapi kok nggak mirip? Apalagi dari hidung dan matanya, nggak mirip Intan ataupun Ardi? Kulitnya juga" gumam Mira dalam hati.
Mira semakin tidak nyaman terhadap Tito. Tito mendengar kejelekan tentang teman Mira. Mira takut Tito mengira banyak hal tentang temanya.
"Oh gitu, sos_so_sory Tan, gue berdoa yang terbaik buat lo dan anak lo" jawab Mira terbata. Mira bingung mau bilang atau nggak ke Intan kalau Ardi udah nikah sama sahabat Mira. Bahkan lagi hamil. Tapi Mira tau sifat Intan, Mira tidak ingin salah ucap.
"Thanks say"
"Lo kerja dimana sekarang?" tanya Mira melihat anak Intan iba.
"Gue masih fokus urus anak gue. Tapi mulai besok, gue akan balik ke butik Ardi" jawab Intan lagi percaya diri.
"Butik Ardi?" tanya Intan lagi gelagapan.
"Iya, kan dari dulu gue di sana. Oh ya, lo dokter kan? Prakterk dimana lo?"
"Gue masih selesein wkds gue, di RSUD x"
"Oh" jawab Intan lalu teringat laporan anak buahnya. "Rumah sakit yang deket ma perumahan griya asri bukan?" tanya Intan memastikan.
"Iya" jawab Mira mengangguk.
"Minta nomer ponsel lo dong!" ucap Intan bahagia berharap bisa membantu Intan suatu hari nanti.
"Oke" jawab Mira memberikan nomernya ke Intan. "Gue duluan ya, dada ganteng" ucap Mira pamitan dan menoel pipi anak Intan.
"Thanks onty. Daah" jawab Intan membiarkan Mira dan Tito berlalu.
"Apa Intan tau Ardi udah nikah? Apa bayi itu beneran anak Ardi? Apa gue kasih tau ke Intan? Kasian Alya, dia gadis yang polos dan berhati baik, Alya akan sakit lagi kalau tau suaminya punya bayi dari perempuan lain"
Sepanjang kencan Mira menunduk memikirkan ketiga temanya. Tito pun merasa bete, dan merasa nonton film sendirian.
Mira terus memikirkan Alya, sahabat terbaiknya yang dijadikan panutan dan tempat cerita dua bulan terakhir ini. Mira bingung harus kasian ke Intan atau ke Alya.
Jika benar Intan balik ke butik dan anak itu, anak Ardi. Berarti ada yang tidak beres dengan Ardi. Mira tidak tega jika Alya disakiti. Mira pun berfikir ulang tentang perjodohanya dengan Tito, apa harus lanjut atau dipikirkan dulu.
"Mir, kamu kelihatanya tidak senang dengan film ini?" tanya Tito tidak nyaman melihat Mira diam.
"Ah, suka kok" jawab Mira berbohong.
"Pulang aja yuk!" ajak Tito merasa kencanya membosankan. Akhirnya Mira dan Tito pulang.
*****
Istana Tuan Aryo.
"Bu Siti, mau ngomong apa Bu? Kok berdiri di situ terus?" tanya Alya heran ke ART suaminya karena berdiri di belakangnya terus.
Setelah sarapan dan mengantar suaminya berangkat kerja. Alya menghabiskan waktunya hanya dengan bermain ponsel di kamar. Setelah hujan reda Alya turun ke bawah dan ingin bersantai di taman istana Tuan Aryo. Di situ ada gazebo yang di kelilingi tanaman bunga warna warni. Ada banyak koleksi anggrek Bu Rita dan tanaman hias lain.
"Mohon maaf Nyonya Muda. Tuan Muda memberi tugas ke saya untuk menjaga Nyonya dan memastikan Nyonya baik-baik saja dan tidak keluar rumah" jawab Bu Siti jujur.
"Heh!" jawab Alya tercengang lalu meletakan buku yang dia pegang. "Coba ulangi Bu! Oh ya jangan panggil aku Nyonya Muda. Seperti biasa aja. Panggil Non Alya"
"Iya Non. Saya diberi tugas untuk menjaga Non Alya" jawab Bu Siti mengulangi.
"Ishhh, dasar lebay" gerutu Alya geram, sambil memainkan bibirnya manyun membayangkan suaminya yang terlewat posesif. Alya pun bersiap mengomel jika suaminya pulang nanti.
"Bu Siti boleh masuk ke rumah, aku bukan anak kecil yang harus ditungguin, aku nggak pergi-pergi kok. Nih" jawab Alya menunjukan buku ke Bu Siti. "Aku mau di sini lama, buat baca buku ini" jawab Alya meyakinkan Bu Siti.
"Maaf Non. Tapi saya akan tetap di sini dan memastikan Non Alya baik-baik saja dan tidak pergi" jawab Bu Siti patuh.
__ADS_1
"Sungguh Bu, aku nggak pergi Bu" jawab Alya lagi.
"Mohoh maaf Non. Tapi saya tetap akan di sini. Karena ini sudah tugas saya"
"Hemmm" Alya tidak menjawab dan menatap Bu Siti.
Kata Ida dan Mia, Bu Siti memang pelayan kepercayaan keluarga Gunawijaya. Bu Siti sangat patuh dan disiplin. Alya berfikir agar Bu Siti pergi darinya dan Alya bisa beraktivitas normal tanpa ditunggu pelayan.
"Ida dan Mia kemana?" tanya Alya mempunyai ide. Mengobrol dengan yang seumuran akan lebih menyenangkan.
"Mereka menerima hukuman dari Tuan Ardi Nyonya" jawab Bu Siti.
"Hah? Hukuman? Maksudnya gimana?" tanya Alya tidak tahu apa yang terjadi.
"Ida dan Mia diberhentikan dari kerjanya, boleh kerja lagi kalau Non Alya sudah kembali" jawab Bu Siti.
"Lhoh, kan aku udah balik, terus mereka kok belum kerja lagi?"
"Maaf Non, itu di luar pengetahuan saya. Hanya Tuan Ardi yang bisa menentukan apa mereka seterusnya berhenti atau boleh kerja lagi"
"Ck. Hish benar-benar ya, Mas Ardi tuh" Alya menggerutu lagi.
Ternyata kepergianya waktu itu membuat Mia dan Ida diberhentikan padahal mereka berdua tidak salah. Yang salah Ardi, kalau sudah bekerja lupa memberi kabar ke istrinya. Sehingga Alya mudah terpancing emosi dan otaknya pergi kemana-mana.
"Sekarang mereka dimana Bu?" tanya Alya khawatir, karena berdasarkan cerita Ida dan Mia, mereka sebatang kara.
"Saya kurang tahu Nyonya" jawab Bu Siti.
"Ya ampun. Ck. Kasian sekali mereka. Huft! Ya sudah Bu Siti duduk sini. Tiduran di sini juga boleh. Jangan berdiri begitu capek nanti Bu" jawab Alya ke art suaminya.
"Terima kasih Non"
"Maafkan suamiku yang keterlaluan ya Bu" ucap Alya sopan dan ramah ke Bu Siti.
"Nggak apa-apa Non. Tuan Muda nggak salah"
"Salahlah, masa main pecat gitu aja. Aku jadi khawatir ke mereka berdua, mereka tinggal dimana? Mau kerja apa lagi?"
"Tuan tidak salah Non. Itu artinya Tuan Muda sangat sayang dan cinta ke Non Alya, Mia dan Ida masih muda mereka punya banyak kesempatan kerja di luar" jawab Bu Siti sopan dan tidak nyaman karena harus duduk berhadapan dengan Alya yang sekarang menjadi majikanya.
"Ah Bu Siti. Tetap saja Mas Ardi itu keterlaluan. Harusnya dia instropeksi diri dan selesaikan masalah denganku, cukup. Kenapa harus pecat Ida dan Mia segala?"
"Kami pantas menerimanya Non, karena kita lalai dalam bekerja. Ida dan Mia gagal menjaga Non Alya. Tuan Ardi dan keluarganya sudah banyak membantu kami, tapi kami malah membuat Non Alya dan bayi Non dalam bahaya" jawab Bu Siti lagi.
"Bu. Aku tuh pergi nggak ada hubunganya sama Ida dan Mia. Aku ngeflek juga salah Mas Ardi sendiri. Bu Siti jangan belain Mas Ardi terus" jawab Alya memprovokasi Bu Siti.
Tapi apalah daya Bu Siti yang hanya seorang pelayan. Berbeda dengan Alya yang menjadi ratu di hatinya Ardi. Segimana menggebu-gebunya Alya menjelaskan detail kesalahan Ardi, Bu Siti tidak berani mrnyebutman kesalahan Ardi, Bu Siti tetap merasa semua titah dan keputusan Ardi adalah benar dan Bu Siti tidak berani menyanggahnya.
Menyanggah perintah Ardi berarti dia siap kehilangan mata pencaharianya. Bu Siti hanya diam mendengarkan Alya. Suka-suka Alyalah mengatai suaminya sendiri.
"Kok diam sih Bu?" tanya Alya kesal tetap saja Bu Siti ingin membela bosnya.
"Maaf Non. Tapi seorang istri pergi dari rumah suami tanpa ijin, apalagi sedang hamil itu dosa. Nggak boleh begitu, jangan diulangi lagi ya Non, kalau ada masalah diselesaikan dengan baik" jawab Bu Siti dewasa.
"Bu Siti ih, nggak ngerti perasaan aku sih? Bu Siti nggak tahu kan masalahnya" cibir Alya lagi tidak dewasa.
"Bu Siti cuma pengin yang terbaik buat Non sama Tuan. Percayalah sama saya. Tuan Ardi orang yang baik. Tuan Ardi juga sangat sayang ke Non. Jadi Non jangan pergi-pergi lagi ya" tutur Bu Siti sayang dan menasehati Alya.
Alya menghela nafasnya memandang perempuan tua dengan tatapan teduh didepanya itu. Ucapan Bu Siti terasa menenangkan. Alya jadi teringat Bu Mirna dan Bu Rita.
"Iya saya salah Bu, saya nggak bisa menahan rasa sakit dan mudah emosi. Doain ya Bu, rumah tangga kami baik-baik terus" jawab Alya mencoba mendengar nasehat ART suaminya.
"Saya selalu mendoakan kebahagian keluarga Gunawijaya setiap saat Non, termasuk Non Alya dan calon Tuan Muda di perut Non".
"Makasih ya Bu!" jawab Alya tersenyum, tapi ekspresinya berubah lagi.
"Ish tapi tetep saja Mas Ardi keterlaluan kalau pecat Mia dan Ida. Aku harus ngomong ke dia" jawab Alya menggebu-gebu lagi, tidak sabar menunggu suaminya pulang kerja. Alya sudah menyiapkan kata untuk membombardir suaminya.
Bu Siti hanya diam mendengarkan Nyonya mudanya berbicara sendiri. Lalu Bu Siti mengikuti perintah Alya untuk istirahat di gazebo.
"Kalau emang tugas Bu Siti disuruh jagain aku. Udah Bu Siti istirahat di sini sampai suamiku pulang, dari pagi Bu Siti udah bekerja keras kan?"
"Iya Non, terima kasih"
__ADS_1
"Bilangnya sih dia mau pulang cepet, semoga bentar lagi pulang" jawab Alya menantikan suaminya.