Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
176. Perbedaan


__ADS_3

"Mas cepet pulang ya" tutur Alya memeluk tangan suaminya menuruni tangga keluar dari kamar.


"Iya. Tinggal nemuin orangnya doang kok. Anak buah Mas udah urus. Diam-diam Gery juga ikutin mereka tanpa Mas, dia sangat membantu, daripada po**si, banyak prosedur"


"Dokter Gery?"


"Iya. Kuncinya di tukang rental ini, kalau dia mau kasih tau siapa penyewanya , ya ketemu biang keroknya. Insya Alloh segera beres deh. semoga orangnya mau ngaku"


"Aamiin, semoga cepet selesai, cepet pulang juga ya Mas"


"Mas usahain pulang cepet, sayang. Di saat seperti ini kamu harus jaga diri sayang, mereka bisa balik serang kita sewaktu-waktu" jawab Ardi sambil menepuk-nepuk tangan istrinya.


"Maksud Mas?"


"Ya pokoknya kamu kalau pergi-pergi harus sama Fitri, tetep di rumah" tutur Ardi menasehati istrinya sambil jalan.


"Yaya" jawab Alya mengangguk.


"Oh iya Mas, hampir lupa" sambung Alya lagi.


"Apa?"


"Lian minta nomer ponsel Dika" ucap Alya nyengir mengingat permintaan Dinda.


"Nggak boleh!" jawab Ardi tegas.


"Kok pelit sih?" t


"Ngapain kamu kecentilan sama abg gitu? Apa mas ketuaan buat kamu?" tanya Ardi mulai kumat.


"Ihh bukan Lian yang minta Mas"


"Siapa?"


"Dinda?"


"Ngapain?" tanya Ardi lagi lebih kaget.


"Pedakate kali"


"Nggak! Nggak! Dia masih kecil, masih mahasiswa, kalian ini emak-emak pada kecentilan"


"Astaghfirulloh, Mas siapa yang emak-emak?"


"Kalian kalau kuliahnya nggak kelamaan itu udah jadi emak-emak. Nih di perut kamu ada siapa? Bentar lagi juga kamu jadi emak-emak!"


"Tapi kan Dinda gadis"


"Nggak, Nggak boleh, tetep aja dia seumuran sama kamu!" jawab Ardi kekeh.


"Ishh" Alya mendesis mendengar suaminya. Tapi Alya tetap Alya yang ngeyel. Dia tidak menyerah membantu temanya. Alya berjalan menunduk menggandeng Ardi. Diamnya Alya sambil berfikir cara merayu suaminya.


Saat tiba di pintu hendak melangkah ke arah gazebo. Ardi menghentikan langkahnya.


"Kenapa Mas?" tanya Alya kaget Ardi tiba-tiba berhenti.


"Sssstt, balik-balik" ucap Ardi mengajak Alya berbalik ke ruang tivi.


Karena penasaran Alya mendongakan kepala melihat ke arah gazebo taman.


"Ups" Alya menutup mulut nya ketawa lalu mengikuti suaminya.


Suami istri itu kemudian memilih ke ruang tengah menyalakan televisi. Membiarkan sahabat mereka yang sedang jatuh cinta mengobrol.


Alya dan Ardi melihat Mira bepegangan tangan, bercerita entah apa yang mereka ceritakan. Yang pasti Ardi dan Alya tidaj mau mengganggu.


"Akhirnya ya Mas" ucap Alya membahas Gery.

__ADS_1


"Ck. Gery itu bodoh kok" ucap Ardi.


"Bodoh gimana?"


"Ya Gery sok sokan jual mahal, padahal dari dulu Mira kan udah suka sama dia, giliran Mira mau nikah sama orang lain baru kalangkabut. Untung ada kita" tutur Ardi menyombongkan diri.


"Iiih, itu semua udah diatur sama yang di atas. Nggak usah sok berjasa, dosa kalau jadi orang sombong Mas" tutur Alya menasehati suaminya.


"Hemmm" jawab Ardi mengiyakan omongan Alya.


"Mas, Dinda tuh suka sama Dika, kasih lah ya nomernya?" tutur Lian lagi lirih memulai merayu suaminya lagi.


"Nggak! Kalau Dika mas nggak setuju! Dinda itu udah umuran nikah, Dika masih kecil, masih berondong. Nggak enak mas sama orang tua Dika" jawab Ardi mengungkapkan pendapatnya.


"Lah kalau mereka suka sama suka, emang salah? Kan nggak apa-apa" jawab Alya masih memperjuangkan permintaan temenya.


"Sayang kita bukan biro jodoh ya! Kemarin mikirin Farid sama Anya, sekarang Gery sama Mira masih ditambahin Dinda sama Dika. Kita aja dulu nggak ada yang bantuin!" jawab Ardi ketus.


"Mas. Kita kan beda, nggak boleh iri sama temen-temen karena dibantuin. Tetep lebih romantisan kita kan?" tutur Lian lagi masih merayu.


"Ya jelaslah" jawab Ardi menyombongkan diri lagi.


"Ya makanya bantulah teman kita!" tutur Alya lagi dengan lembut masih merayu suaminya.


"Nggak!" jawab Ardi tegas.


"Maaaas"


"Nggak!"


"No hp doang!"


"Dibilang nggak ya nggak"


"Kan jodoh urusan Tuhan, mereka jodoh apa enggak, jadian apa enggak, urusan mereka. Dinda cuma minta nomer ponsel Dika doang"


"Sayang, Mas bilang enggak ya tetep nggak"


"Lagian temenmu itu agresif banget sih, sama brondong juga. Beban moral mas, nggak enak sama orang tua Dika kalau Dika jadi kenapa-kenapa"


"Kenapa-kenapa gimana?" tanya Alya kaget tidak paham maksud Ardi.


"Ya Dika kan berondong"


"Mas itu aneh banget sih. Emang Dinda mau apakan Dika? Dinda itu baik, Dokter, cerdas, kaya, cantik. Apa yang salah dengan Dinda coba?"


"Ya Dika kan masih polos sayang, sementara Dinda udah waktunya nikah. Kalau mereka terlibat hubungan yang salah, Dika putus kuliah, yang salah siapa? Mas nggak mau disalahin" tutur Ardi lagi berfikirnya kejauhan.


"Astaghfirulloh Mas, Dinda nggak separah dan sejelek itu kali. Dinda itu perempuan terhormat, tau batasan, nggak mungkin sejauh itu" jawab Alya merasa suaminya aneh.


"Nyatanya kamu, ternyata kamu lebih pinter dari mas kalau urusan di kamar"


"Hemm kok aku?"


"Kamu bilang nggak pernah pacaran tapi kamu malah lebih berpengalaman dari mas, tau darimana coba?"


"Astaghfirulloh, Mas, ya Lian kan dokter, itu alamiah! Mang mas lakuin itu ada yang ajarin? Itu juga bukan sesuatu yang informasinya sulit di dapat, banyak buku, internet juga. Dan tanpa belajar juga orang bisa, nggak ada hubunganya sama umur Dinda dan Dika"


"Ya ada lah. Berarti Dinda juga kaya kamu, otaknya sudah dipenuhi hal kaya gitu. Kasian Dika"


"Kok kasian? Astaghfirulloh, kasian gimana? Isi otak Dinda gimana maksudnya?"


"Ya Dika kan masih anak-anak sayang, masih masanya sekolah. Sementara Dinda sudah waktunya mendapatkan pemenuhan kebutuhan rohani"


"Mas Dika udah 19 hampir 20 tahun. Dia udah mahasiswa, dia udah dewasa, dia udah punya KTP, dia bukan anak-anak"


"Iya tetep aja, 20 tahun untuk usia laki-laki itu masih sangat muda sayang, Dinda udah 25 tahun, otak dan pemikiran mereka berbeda. Dika itu masanya kuliah mengejar cita-cita. Masa ya main seneng-seneng mengejar mimpi. Sementara Dinda masanya butuh sandaran, butuh laki-laki untuk menikahinya dan bertanggung jawab"

__ADS_1


"Rosululloh juga nikah dengan yang lebih tua"


"Sayang, mereka berdua nggak cocok titik!"


"Hemmm"


"Bilangin sama Dinda, kalau mau cari pacat yang seumuran!"


"Ya Lian udah pernah bilang, tapi Dindanya kekeh. Dinda cuma minta no hp Dika doang, nggak lebih"


"Mas nggak mau ya Dika putus kuliah, apa kuliahnya nggak bener, nanti Mas yang jadi sasaran disalahin"


"Tapi kan kalaupun mereka kenal belum tentu langsung nikah Mas"


"Terus kalau Dinda nungguin Dika lulus, kamu nggak kasian sama Dinda?"


"Ya itu kan hak mereka, siapa tahu Dinda mau lanjut spesialis sambil nunggu Dika dewasa iya kan? Nggak ada salahnya mereka dekat"


"Nggak, nggak! Pokoknya nggak setuju mas"


"Ck. Ya ampun, cuma no hape doang suamikuu sayang" tutur Lian masih terus berjuang.


"Nggak!" jawab Ardi tidak kalah kekeh, pendapatnya benar. Entah pasangan itu sangat suka saling berargumen.


Ardi merasa sebagai laki-laki ingin menyelamatkan Dika agar dewasa sesuai masanya. Sementara Alya ingin membantu dan menyenangkan temanya.


"Kalau ternyata menurut jalan Tuhan Dika dan Dinda berjodoh gimana? Mang Mas nggak suka?" tutur Lian lagi masih tidak menyerah tapi dengan nada yang lebih rendah.


"Ya itu terserah Tuhan, tapi mas nggak mau bantu, mas nggak mau ikut campur" ucap Ardi lagi sangat kokoh pendirianya.


"Cuma bagi nomer hape doang sayangkuuh, ikut campur darimananya?"


"Ya udah biar aja Tuhan yang kasih nomer hp Dika ke Dinda"


"Hhhh"


"Emang mas dapet nomer hape kamu dari mana?"


"Darimana ya? Lupa"


"Ya mas dapet sendiri lah"


"Ya kan beda Mas"


"Ya udah, kalau emang mereka jodoh biarin mereka menemui jalanNya sendiri. Tapi mas nggak mau terlibat dan ikut-ikutan. Biarin Dika lulus kuliah dulu"


"Ya ya ya" jawab Alya akhirnya menyerah dan memilih menyudahi perjuanganya.


Intinya Ardi tidak setuju Dika dan Dinda.


"Pijitin Mas" ucap Ardi tiba-tiba mengangkat kakinya di taruh di atas paha Lian.


Lian pun mengabulkan permintaan suaminya, memijit suaminya dengan kelembutan. Meskipun mereka baru saja bersitegang.


"Mas jadi pergi nggak sih?" tanya Alya di sela-sela memijit.


"Jadilah"


"Udah mau maghrib lho"


"Abis maghrib emang kok! Kamu nggak pengertian banget sih. Biarin Gery sama Mira pacaran dulu"


"Eh kita biarin mereka berduan lama-lama sebelum nikah, berarti kita dorong mereka pacaran, dosa lho mas"


"Mereka kan udah dewasa sayang, dosa tanggung mereka sendiri lah. Kan kita bantu mereka biar cepet menikah"


"Hemmm"

__ADS_1


Tidak lama adzan maghrib terdengar, Mira dan Gery kemudian menyadari kalau sebenarnya Alya dan Ardi sudah selesai mandi sejak lama. Mereka kemudian masuk ke rumah Ardi.


Menunaikan sholat magrib jamaah bersama. Ardi juga menjamu tamunya makan malam. Setelah makan, Mira pulang dengan mobil Gery, sementara Gery pergi ikut Ardi, pergi memakai mobil Ardi disupiri Arlan.


__ADS_2