
"Terima kasih kak" pamit Alya menutup pintu mobil Mira.
"Daah, makasih ya Al, sampai ketemu besok" jawab Mira melambaikan tangan
"Daah juga, hati-hati Kaak" seru Alya melambaikan tangan.
Hati Alya sangat lega dan senang malam itu. Kini tidak ada beban lagi buat Alya menjalani hari-hari magangnya. Mira sudah berubah, Gery juga sudah berbalik 180 derajat. Kini menjadi dewasa, baik dan lembut. Alya juga menerima ponsel dari Gery. Alya tidak peduli dengan perasaan Gery, yang penting dua seniornya bersikap baik, cukup.
Alya sudah melupakan kejadian memalukan hari itu. Alya juga berharap gosip di rumah sakit akan hilang sehingga dia tidak canggung keluar masuk ruang operasi.
Setelah diturunkan di depan rumah sakit, Alya langsung berjalan ke apartemen. Belum ada satupun teman Alya yang tahu kalau Alya tinggal di apartemen Megayu. Alya hanya selalu bilang ke sahabatnya, kalau tempat tinggalnya tidak jauh dari rumah sakit dan dia numpang sama tantenya.
"Baru pulang Non?" sapa Pak Yon di post satpam.
"Iya Pak Yon" jawab Alya malu-malu mengingat kejadian kemarin malam.
Alya segera berlalu meninggalkan pak Yon. Apartemen Ardi berada di lantai 7. Alya langsung menuju lift dan memencet tombol angka 7.
"Hhhhhh hah" Alya menarik nafas dalam dan menghembuskannya. "Lega rasanya udah ungkapin semua" gumam Alya sambil membaringkan tubuhnya di sofa.
Setelah rebahan sebentar meluruskan pinggang, Alya minum air putih di dapur, lalu masuk ke kamar.
"Ya Ampun dompet siapa ini?" Alya bergumam mengambil dompet di atas nakas.
"Ck, ceroboh sekali ternyata Tuan Serigala itu, CEO apaan, dompet sampai ketinggalan begini" cibir Alya.
Karena iseng dan penasaran Alya membuka dompet Ardi dengan lancang. "Wah banyak sekali uang dan kartunya, dasar orang kaya".
"Tidak ada foto lain, Tante Rita waktu muda cantik banget, mirip mas Ardi hidungnya" gumam Alya memandangi 1 foto keluarga dalam dompet. Lalu Alya menutup dompet itu dan meletakanya kembali.
"Apa Mas Ardi nggak tau ya dompetnya ketinggalan? kok nggak diambil? Apa aku kembalikan? Bagaimana aku mengembalikanya? Ups! Apa itu artinya dia akan ke sini lagi? Apa dia akan menginap lagi? Tidak tidak!"
Alya segera mengambil handuk dan mencari piyama panjang. Alya segera mandi, menunaikan sholat isya. Alhamdulillah tamu bulananya sudah selesai jadi dia mulai sekarang sudah sholat lagi.
"Kok aku dheg-dhegan ya?" gumam Alya memegang dadanya melihat dompet di atas nakas. Lalu Alya melihat ke jam dinding menunjukan pukul 10 malam.
"Apa dia sungguh akan ke sini? Aku tunggu, atau aku tidur di rumah sakit aja? Apa aku telfon Anya ya? Kalau dia menginap lagi bagaimana? "
"Tapi sudah malam sepertinya tidak kesini, yang penting aku harus pakai jilbab"
Setelah berfikir panjang Alya memutuskan tidur di sofa mengenakan baju panjang dan jilbab. Alya takut tiba-tiba pemilik apartemen yang dia tinggali datang.
****
"Gue di Kafe Estela" ucap Gery menutup sambungan selulernya. Lalu diisapnya rokok dari sakunya.
"Kenapa gue seperti orang bodoh berhadapan dengan gadis ceroboh itu?" Gumam Gery sambil menunggu dua teman gesreknya.
__ADS_1
"Kasian sekali si Mira. Aku banyak menyakitinya selama ini, sebenarnya dia cantik tapi aku tidak bisa mencintainya, semoga aku bisa memperbaiki hubungan dengan menjadi teman baiknya" ucap Gery sambil merokok.
Tidak terasa Gery sudah menghabiskan 3 batang rokok.
"Hai Bro" sapa Ardi duduk sambil melonggarkan dasi kerjanya.
"Mana Farid? Nggak bareng?" tanya Gery.
"Gue dari kantor" jawab Ardi singkat.
"Jam segini? Luar biasa CEO ini" puji Gery melihat sahabatnya sudah banyak berubah.
"Gue ke kantor siang, jadi kerjaan pagi numpuk, bokap gue juga udah mau istirahat jadi banyak kerjaan gue" Ardi menjelaskan.
"Abis ini bakal sibuk dong Lo?" tanya Gery.
"Sepertinya begitu?" jawab Ardi. Tidak lama mereka bercakap-cakap Farid datang.
"Tumben telat?" tanya Ardi ke Farid.
"Kenapa nggak ke tempat biasanya sih?" tanya Farid tidak menjawab pertanyaan Ardi. Mereka biasanya nongkrong di club dekat dengan apartemen Farid. Sementara Kafe Estela lebih dekat dengan Apartemen Megayu.
"Biar Gery nggak mabuk lagi" jawab Ardi.
"Gue abis kencan di sini" jawab Gery. Lalu Ardi dan Farid menatap Gery.
"Makan-makan dong!" sahut Farid.
"Berhasil apaan, semuanya kacau, gue bakal jadi bujang lapuk sepertinya" jawab Gery lesu.
"Kok bisa? Bukanya lo abis kasih dia hp mahal?" tanya Ardi.
"Terus lo kencan sama siapa barusan?" tanya Farid.
"Sama gadis ceroboh itu, sama Mira juga?" jawab Gery datar.
"What?" tanya Farid dan Ardi kaget.
"Dia nggak mau terima hadiah dari gue, dia juga nggak mau nemuin gue, dia nggak mau ngomong sama gue" jawab Gery. Farid dan Ardi yang mendengarnya cengengesan.
"Terus gimana ceritanya lo bisa kencan?" tanya Ardi sangat antusias.
"Dia mau terima hadiah gue, kalau gue bolehin dia bawa Mira"
"Hahahaha" Farid dan Ardi menertawakan Gery.
"Mati kutu dong Lo" jawab Farid.
__ADS_1
"Dia polos sekali, membuatku semakin gemas ingin menciumnya, sayang ada Mira" cerita Gery.
"Terus ngapain Mira di situ?"
"Gadis ceroboh itu nolak gue, minta gue jadi temanya aja dan ngga usah ganggu dia. Gue juga nggak habis pikir, dia bodoh apa terlalu polos. Intinya dia nolak gue, dan gue jadi temen dia"
"Sabar Bro" ucap Farid menepuk bahu Gery menguatkan, padahal dirinya juga sedang patah hati. Lalu mereka bertiga memesan kopi dan melanjutkan obrolan membahas pekerjaan masing-masing.
Sekitar pukul 11 malam, setelah menghabiskan kopi masing -masing. Mereka meninggalkan kafe dan pulang ke rumah.
Biasanya Ardi yang membayar tagihan kafe, karena Ardi yang paling kaya dibanding dua sahabatnya. Tapi malam ini Ardi mendapat giliran ditraktir karena dompetnya ketinggalan.
Bos malam ini adalah Sang Pewaris Rumah Sakit, yaitu Gery. Gery yang menentukan Kafe Estela, jadi Gery yang bertanggung jawab.
"Dompet gue, gue taruh dimana ya?" gumam Ardi sambil menyetir lalu mengingat-ingat kejadian seharian tadi.
Seharian Ardi menghabiskan waktunya di kantor. Dia keluar ruangan hanya ketika meeting. Makan siang, Ardi bersama Tuan Aryo dan rekan bisnis, bill makan diurusi asisten Tuan Aryo.
Makan malam Ardi dipesankan makanan oleh Dino, itu juga diurusi Dino. Sepanjang aktivitas di kantor Ardi berkutat dengan dokumen dan laptop. Jadi dipastikan selama di kantor Ardi tidak membuka dompet.
"Sepertinya di rumah, nanti aku tanyakan ke Bi Ida"
***
Pukul setengah dua belas malam Ardi tiba di Istana Tuan Aryo. Dua satpam rumah membukakan pintu gerbang.
Ardi langsung menuju garasi, memarkirkan mobil ferrari kesayanganya. Di situ juga berjajar 10 mobil mewah dan klasik koleksi Tuan Aryo dan Ardi. Terparkir juga motor gede kesayangan Ardi.
Suasana rumah tampak sepi. Tuan Aryo dan Nyonya Rita sudah terlelap di kamarnya. Para pelayan juga sudah berada di kamar masing-masing. Ardi langsung menuju ke kamarnya di lantai dua.
"Dimana aku menaruh dompet ya?" Ardi menyingkap selimut di kasurnya lalu memeriksa nakas dan meja di kamarnya. Ardi juga memeriksa ke kamar mandi dan ruang ganti. Hasilnya nihil.
"Aku tanya ke Bi Ida saja" pikir Ardi lalu mengambil telepon rumah dan menghubungi kepala pelayan.
"Selamat malam, Tuan Muda, ada yang bisa kami bantu?"
"Saya mau tanya Pak"
"Iya Tuan Muda"
"Siapa yang membersihkan kamarku pagi ini?" tanya Ardi.
"Bi Ida Tuan"
"Yang mencuci baju?"
"Bi Mia Tuan"
__ADS_1
"Panggil mereka, suruh ke ruangan kerjaku!" perintah Ardi lalu bergegas ke ruang kerja.