Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
59. Sabar Junior


__ADS_3

"Mia.." panggil Ida kegirangan membawa nampan berisi gelas pecah dari kamar Tuanya.


"Kamu kenapa Da? Kenapa bawa pecahan gelas begitu? Apa menu Pak Yang salah? Tuan Muda ngamuk?" tanya Mia penasaran.


"Coba tepuk pipi gue! Kalau nggak cubit gue" perintah Ida ingin membuktikan yang dilihatnya nyata.


"Apa sih?" tanya Mia heran melihat sahabatnya.


"Buruan cubit gue?" pinta Ida lagi. Lalu Mia mencubit Ida.


"Auw sakit, kan bener kan, gue sakit? Berarti yang gue liat barusan bener"


"Emang ada apa?" tanya Mia semakin tidak mengerti ada apa dengan sahabatnya..


"Apa mungkin kedatangan Ibu Non Alya itu, untuk?" gumam Ida berfikir sendiri.


"Idaa, apa sih?" panggil Mia kesal merasa dibuat bingung sama Ida.


"Non Alya sama Tuan Muda sepertinya mereka berpacaran, eh tidak tidak, lebih tepatnya mereka sepertinya sudah menikah?"


"Hah? Jangan ngawur kamu!" jawab Mia mengira sahabatnya itu ngelindur.


"Aku berani bertaruh apapun, tebakanku kali ini benar" jawab Ida percaya diri.


"Kenapa bisa bilang begitu? Non Alya kan waktu itu bilang nggak kenal sama Den Ardi? Kapan mereka ketemu, tiba- tiba menikah?" tanya Mia lalu ikut berfikir.


"Ooooh ya? Aku ngerti! Jadi yang waktu malam-malam Tuan berkumpul di ruang tamu, bahas itu? Ya Tuhan?" jawab Mia sendiri lalu girang sendiri.


"Nyonya Rita memang cerdas ya Mia, kok kaya mudah banget nikahin orang, pergi, pulang bawa oleh-oleh menantu untuk anaknya" tutur Ida sambil duduk dengan tatapan menerawang.


"Tapi ngomong-ngomong kenapa kamu tiba-tiba bahas Non Alya memang kamu lihat apa?"


"Non Alya lagi berduan di kamar sama Tuan Muda, itulah kenapa Tuan Muda tidak menunggu Nyonya dan Tuan Aryo makan di bawah" tutur Ida membuat Mia melongo.


"Wuaah benarkah?" tanya Mia


"Iya, bahkan Non Alya tidak memakai jilbab seperti biasanya. Rambutnya sedikit acak-acakan. Seperti abis terjadi suatu gitu"


"Ishhh dasar otakmu mesum" sahut Mia menoyor Ida lalu mereka menyelesaikan pekerjaanya dan menuju ke rumah belakang, tempat belasan pelayan Nyonya Rita.


****


"Ya Tuhan, kenapa bajunya pendek semua?" keluh berlian menatap semua baju tidur yang disediakan di lemari Ardi.


Memang ada banyak warna, model, bahan dan merek. Tapi semua pakaian yang menggantung di lemari adalah pakaian tidur pendek. Kebanyakan dress pendek di atas lutut dengan dada terbuka tanpa lengan. Bahkan ada yang seperti saringan tahu. Alya memilih dress tidur satin selutut warna merah, dengan dada sedikit terbuka. Itu saja sudah yang paling tertutup, setidaknya tidak menerawang dan lebih tebal.


Selesai membersihkan tibuhnya, Alya membuka pintu kamar mandi dengan malu-malu. Alya tidak bergerak maju. Alya berdiri lama di dekat pintu. Alya ragu apa harus keluar menemui suaminya atau tetap di situ. Alya memang hampir tidak pernah membuka jilbabnya di hadapan laki-laki kecuali terpaksa. Sekali-kalinya ya saat kejadian bersama Ardi waktu itu. Itu juga karena kesemberonoan Ardi.


"Kenapa lama sekali mandinya? Nanti masuk angin lho, udah malam" panggil Ardi yang sudah tidak mendengar gemericik air.


"Iuh...dasar menyebalkan, aku harus bagaimana ini? Kenapa rasanya malu begini? Bahkan jantungku berasa mau copot" Alya menggigit bibir bawahnya dan menggerak-gerakan kakinya menetralisir rasa malu dan dheg-dhegan. Alya masih bertahan di kamar mandi.


"Lian" panggil Ardi karena Lian tidak menjawab pertanyaanya.

__ADS_1


"Berlian" panggil Ardi lagi,


"Iiih, nyebelin banget sih? Kenapa manggil-manggil terus, Aku harus bagaimana?" gerutu Alya masih berdiri di kamar mandi.


"Alya Berlian Sari istriku" panggil Ardi terakhir kali, Ardi melihat jam, Alya sudah 1 jam lebih di kamar mandi. Lalu Ardi mendekat ke kamar mandi.


"Lian" panggil Ardi lagi memegang gagang kunci. "Ceklek" Ardi membuka pintu karena memang Alya sempat membukanya tapi tidak jadi keluar.


"Astagah, Lian" pekik Ardi melihat Alya berdiri dengan muka cemberut menutupi tubuh bagian atasnya dengan handuk.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Ardi heran melihat Lian seperti anak kecil ngambek di kamar mandi.


Lian diam, salah tingkah tidak tahu harus berbuat apa.


"Ehm" Alya berdehem melihat Ardi.


"Udah selesai kan mandinya?" tanya Ardi dengan tatapan dewasa.


"Udah" jawab Alya ketus masih memasang bibir manyun.


"Ya udah ayok keluar, kita makan!" ajak Ardi masih berdiri di depan pintu.


"Nggak mau!" jawab Lian makin memasang muka jutek.


"Mau aku gendong?" tanya Ardi meledek


"Ishh, nggak!" jawab Alya sinis. Ardi masih memperhatikan istrinya yang menggemaskan itu.


"Ck, huuufth" Ardi berdecak, mengambil nafas melihat istrinya. "Aku harus banyak bersabar sepertinya" gumam Ardi dalam hati.


"Terus kamu mau di sini terus?" tanya Ardi masih gemas dengan kelakuan istrinya. Lalu Ardi masuk mendekati Alya.


"Mau ngapain?" tanya Lian memegang handuk di tubuh atasnya semakin erat. Karena Ardi mendekatinya.


"Plethak" Ardi menyentil kening Alya. "Jangan Net-thing!" ucap Ardi gemas.


"Auw Sakit" Alya reflek memegang keningnya dan menangkis tangan Ardi sehingga tidak sengaja handuk yang menutupi bahunya jatuh.


Melihat handuk jatuh Ardi tidak mau membuang kesempatan, handuknya diambil Ardi sehingga tidak bisa lagi menutupi bahu dan dada Lian yang sedikit terbuka.


"Balikin handuknya" pinta Lian berusaha mengambil handuk di tangan Ardi.


"Jadi karena ini kamu nggak keluar dari sini?" tanya Ardi sambil tersenyum.


"Aku sudah melihatnya, nggak usah malu-malu, aku suamimu" jawab Ardi menggulung handuk yang basah.


Lian diam menundukan kepalanya menahan malu. "Ya Tuhan handuknya basah, kenapa aku jadi berdebar begini? Mas Ardi memang suamiku, tapi aku belum mencintainya"


Ardi menelan salivanya melihat pemandangan indah di depanya. Ardi merasa menyesal dulu menolak ibunya, ternyata Alya memang seindah ini. Coba saja dari awal berkenalan baik-baik, pernikahannya akan berjalan sebagai mana mestinya. Termasuk malam pertamanya. Dan Lian pasti memperlakukanya dengan baik.


"Aku minta maaf kalau membuatmu tertekan" ujar Ardi mencoba memahami, agar Lian melunak.


"Percayalah aku tidak akan melakukan apapun sebelum kamu mengijinkanya" Ardi melanjutkan usahanya berkompromi dengan Lian. Meskipun sebenarnya Ardi bertarung melawan hasratnya sendiri.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Alya berani mengangkat wajahnya.


"Iya, tapi ada syaratnya" jawab Ardi lagi.


"Apa?"


"Keluarlah dari sini, ayo kita makan, udah dingin tuh makananya" Ardi berusaha berbicara lembut dan mengambil hati Lian.


"Aku malu dan tidak nyaman memakai baju ini" jawab Lian terus terang karena dadanya terbuka.


"Nanti ku bilang Mamah agar cari baju yang lebih tertutup. Sekarang adanya ini, pakailah. Jangan berfikir mesum, aku udah biasa melihat yang lebih seksi darimu" tutur Ardi bohong agar Lian merasa nyaman dengan bajunya, padahal sebenarnya Ardi sangat menyukai pakaian Lian sekarang dan tidak rela Lian menggantinya.


Lian menatap Ardi sejenak. "Kalau dipikir-pikir iya juga. Ardi kan orang metropolitan, kuliah di Australia, teman-temanya terbiasa berbaju bebas, bahkan aku juga ragu apakah Ardi masih perjaka atau tidak, Ish?" Lian berfikir sendiri dan bergidik tidak terima kalau ternyata Ardi sudah tidak perjaka.


"Masih tidak percaya? Aku terbiasa pergi ke klub, aku bahkan tidak tergoda dengan mereka, mereka sangat seksi" jawab Ardi meyakinkan melihat Lian masih diam. Lian mendengarkan penuturan Ardi baik-baik dan mempercayainya.


"Janji ya? Kamu nggak akan macem-macem" jawab Alya mengajukan persetujuan.


"Iya" jawab Ardi tersenyum memandangi Alya. Lalu mempersilahkan Alya keluar duluan.


"Huuufft dia sangat polos, gue mesthi ngajarin dia sepertinya, sabar junior" Ardi menarik nafasnya melihat bahu Alya yang terbuka. Seharusnya Ardi boleh memegangnya, memeluknya, menciumnya dan mendekapnya. Tapi semuanya dia tahan, Ardi ingin hubungan yang lebih panjang, bukan kenikmatan sesaat yang membuat Lian semakin membencinya.


Akhirnya Alya melunak dan mau makan bersama Ardi. Sesekali Alya membetulkan tali dressnya yang turun dan menampakan sedikit belahan dadanya saat makan. Alya sangat tidak nyaman dengan pakaianya. Sementara Ardi sangat menikmati pemandangan itu, meskipun Ardi harus berperang dengan dirinya sendiri.


"Aku haus, Airku habis, Aku turun ke bawah ya!" pinta Lian merayu Ardi diijinkan keluar kamar.


"Nggak boleh!" jawab Ardi singkat.


"Eeggh Egh, nih aku sampe serak begini? Kamu nggak kasian denganku?" jawab Lian mencoba mengelabui suaminya.


"Nggak boleh, biar ku telepon pelayan agar mengantar minum kesini" jawab Ardi lebih cerdas dari Alya.


Pokoknya Alya harus tidur di kamarnya dan tidak boleh beralasan. Tekad Ardi adalah membiasakan Alya, menerima dan menyadari dirinya sudah menjadi istrinya. Meskipun Ardi harus banyak bersabar dan mengelus dada.


"Ish pelitnya" jawab Alya mendengus melihat suaminya. Ardi membalas tatapan Alya dengan tatapan memerintah. Dan memberi tahu dirinya tidak akan bisa dikelabuhi.


Tidak lama pelayan datang mengetok pintu. Mendengar ketokan pintu Alya bahagia sekali dan beranjak ingin membukakan pintu, berharap bisa ikut keluar.


"Aku yang buka pintunya ya" ucap Lian meminta ke Ardi.


"Nggak! Naik ke kasur dan tutupi dadamu dengan selimut, jangan bangun apalagi menyapa pelayan" perintah Ardi tidak mau orang lain melihat Alya seseksi itu.


"Huufth, galak banget!" cibir Alya, lalu mematuhi suaminya, Alya menyadari dirinya memang berpakaian seksi. Alya naik ke kasur dan berlindung di bawah selimut. Sebenernya Alya sangat ingin bertegur sapa dengan pelayan sekaligus teman barunya. Tapi Alya juga malu dengan bajunya.


"Thok thok" pelayan mengetok pintu lagi.


"Masuk" jawab Ardi sambil membuka kunci.


Rupanya pelayan berganti Mia, Mia sedikit melirik ke arah kasur. Mia ingin membuktikan perkataan Ida. Dan benar saja tampak rambut perempuan menyembul di balik selimut di atas kasur.


"Nggak usah liat-liat, letakan airnya, bereskan mejanya dan segera keluar" perintah Ardi melihat pelayanya mulai kepo.


Mia pun mengangguk dan segera membereskan meja bekas makan malam tuanya. Setelah itu kembali ke dapur.

__ADS_1


"Siapa yang datang kesini? Ida lagi? " tanya Alya membalikan selimut. Setelah mendengar pintu dikunci kembali


"Bukan" jawab Ardi mendekat ke Alya.


__ADS_2