Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
157. Mengalah dulu


__ADS_3

Tbc....


"Nah iya bener. Buat menang, lo juga harus tau rival lo dengan baik Ger, selidiki siapa calon Mira!" ucap Ardi menasehati Gery.


Gery diam memainkan lidahnya dan berfikir.


"Gue udah tau dan ketemu orangnya, itu sebabnya gue ikhlasin dia menikah. Dia lebih pantes sama Mira dibanding cowok pengecut kaya gue" jawab Gery lesu.


Ardi dan Alya hanya bisa mendengarnya dengan iba.


"Kok gitu sih Dok. Beneran Dokter Gery udah ikhlasin Dokter Mira?" tanya Alya sendu dan sedih mendengar penuturan Gery.


"Pria itu mapan, sopan, ganteng dan yang pasti dekat dengan orang tua Mira, namanya Tito. Gue yakin pria itu bisa bahagiain Mira. Itu sebabnya gue ikhlas Al" jawab Gery lagi berbicara dewasa dan kalem. Bukan Gery yang gesrek seperti awal Alya ketemu.


"Hemm, ya udah kalau itu pilihan Dokter Gery, sabar ya Dok, semoga Dokter Gery secepatnya dapat jodoh terbaik" jawab Alya bersimpati.


"Aamiin, makasih Al" jawab Gery tersenyum.


"Lo beneran nggak mau berjuang lagi?" tanya Ardi masih tidak terima.


"Dia lebih bahagia tanpa gue Ar, itu yang terpenting, gue udah banyak nyakitin dia" jawab Gery merasa keputusanya sudah tepat dan benar.


"Ck. Gue jadi nggak aman nih kalau lo nggak nikah-nikah" celetuk Ardi polos.


"Heh" Alya terperanjak dan melotot ke suaminya.


Bisa- bisanya di saat sahabatnya bersedih malah Ardi bilang begitu. Sementara Gery berdecak dan menggelengkan kepalanya.


"Ck. Kalian tu saudara gue. Nggak ada hubunganya gue nikah sama kalian, lo tenang aja" jawab Gery sambil berdecak dan pengen noyor Ardi.


"Sukanya berlebihan kamu Mas. Ish" sambung Alya mencubit pinggang suaminya lagi.


"Apa sih, hobi banget noel-noel, nanti di rumah aja kalau mau noel-noel" ucap Ardi menepis tangan Alya.


Sementara Alya hanya menatapnya melotot dan manyun. "Apaan sih, dasar"


"Mana nih makananya nggak dateng-dateng" celetuk Ardi lagi jadi ingin segera pulang.


"Tuh dateng" jawab Alya menoleh ke pelayan yang membawa pesanan mereka.


Kemudian mereka bertiga makan siang bersama dengan hening.


"Aak sayang" ucap Ardi memberikan sepotong daging ke Alya.


Alyapun melahap suapan suaminya dengan manis. Sesekali Alya bergantian menyuapi Ardi sayuran.


Mereka berdua benar-benar jahat, tidak memperdulikan Gery yang sedang patah hati. Gery memakan makananya dengan cekatan sehingga cepet selesai.


"Lo makanya cepet banget?" tanya Ardi melihat piring Gery udah habis.


"Ye ngapain gue lama-lama liatin kalian, gue mau pulang" jawab Gery jujur.


Mendengar perkataan Gery Alya menunduk dan memperlambat mengunyahnya merasa tidak enak ke Gery. Alya dan Ardi suka kebablasan lupa kalau mereka bukan di rumah.


"Bener nih mau pulang?" tanya Ardi lagi.


"Iyalah. Daripada jadi obat nyamuk" jawab Gery.


"Hemm. Keluar duluan berarti itu yang bayar lhoh" jawab Ardi bercanda agar Gery tidak buru-buru pergi.


"Iya gue yang bayar. Lo udah kaya juga, masih aja perhitungan" jawab Gery mengambil dompet dan bersiap membayar tagihan mereka.


Kemudian Ardi tertawa.


"Bercanda Bro. Gue aja yang bayar! Ya udah hati-hati, makasih ya Lo dah khawatirin kita" jawab Ardi serius.


"Siap. Bener ya lo yang bayar" jawab Gery lagi.


"Gampang. Makasih sekali lagi, lo dah kasih tau gue tentang Intan. Gue doain yang terbaik buat lo" jawab Ardi lagi menepuk bahu Gery.


"Oke. Duluan Al. Baik-baik ya kalian" ucap Gery lagi ikut menyapa Alya cukup dengan anggukan kepala, sementara berpamitan pada Ardi dengan bersalaman mengepalkan tangan. Dia pun pergi.


Gery lega menyampaikan niat baiknya pada sahabat dan adik dadakanya itu. Gery benar-benar berusaha tulus mengikhlasakan Mira demi kebahagiaanya. Karena Gery pikir Tito lebih baik dari dia.


Sementara kini tinggal dua sejoli yang sedang manis-manisnya meneguk indahnya cinta. Mereka berdua melanjutkan suap-suapan makananya.


"Dulu mas tiap hari ke sini?" ucap Alya selesai makan membuka bahan pertengkaran lagi.


"Nggak cuma dulu, sampai sekarang masih sering kenapa?" jawab Ardi menatap Alya mulai bersiap memarahi istrinya.


"Suka banget. Nggak ada tempat lain apa?" tanya Alya lagi dengan tatapan cemburu.

__ADS_1


"Kalau mas bilang nggak kenapa? Kamu marah lagi? Cemburu lagi?" tanya Ardi serius menantang Alya dengan nada dingin.


"Ehm" Alya berdehem diam dan membuang pandangan.


"Jadi Intan nemuin kamu? Dia ngomong apa aja? Sampai kamu nangis-nangis di kamar mandi gitu?" tanya Ardi dengan intonasi menginterogasi kali ini Ardi harus buat Alya berhenti cemburu nggak jelas lagi.


"Nggak!" jawab Alya menunduk masih belum mau jujur.


"Jawab jujur!" tanya Ardi lagi lebih serius dan tidak bercanda.


"Lian bisa kok ngadepin dia. Udah sih nggak usah dibahas" Lian berusaha mengalihkan pembicaraan melihat raut wajah Ardi mulai serius.


"Kenapa kamu nggak jujur sama Mas kalau kamu habis ketemu dia?"


"Lian takut nggak diijinin keluar lagi. Maaf. Udah sih nggak usah bahas!"


"Oke nggak usah dibahas. Nanti malam pengawal kamu datang ke rumah, mulai nanti malam kamu kemanapun kamu pergi bareng dia. Awas kalau kamu masih pundung-pundung" sambung Ardi lagi.


"Ya Maaf. Abis dia bilang dia suka sama tahi lalat di pantat Mas, dia selalu melewatkan makan siang di sini sama mas, mas juga katanya selalu menuruti perkataanya" jawab Lian akhirnya menjelaskan alasanya kenapa dia cemburu.


"Kurang ajar" gumam Ardi mengeraskan rahang mengepalkan tangan. Lalu Ardi mengambil ponselnya.


"Mas mau apa?" tanya Alya melihat Ardi hendak menghubungi seseorang.


"Pecat dia" jawab Ardi tegas


"Jangan atuh Mas"


"Kenapa?"


"Kata mas kan dia menyedihkan, dia butuh pekerjaan ini, ya udah biarin dia kerja, Lian janji nggak akan cemburu-cemburu lagi!"


"Masalahnya bukan di kamu, tapi di dia. Ternyata dia belum berubah, bisa-bisanya dia manas-manasin kamu pake tahi lalat mas"


"Tapi kalau dipikir-pikir Lian kasian Mas sama dia, masa baru diterima kerja udah dipecat lagi, kita usaha profesional aja yah" ucap Alya lembut menenangkan suaminya.


Lian benar-benar merasa kasian ke Intan setelah mendengar kisah hidupnya dari Ardi.


"Sayang dia bahaya buat kehidupan kita. Abis ini dia pasti akan hasut kamu buat percaya kalau anak dia, anaknya mas" jawab Ardi menasehati Alya menyadari Intan tidak baik dan keputusanya mengasihani Intan salah.


"Kenyataanya anak siapa? Bukan anak Mas kan?"


"Mas pegang hasil tes itu?"


"Ya. Nanti mas tunjukin ke kamu! Kamu ingat waktu Dino anter mas pulang malam mabuk? Mas ngurusin itu, mas ketemu Yogi. Makanya dulu mas nggak mau orang tau tentang kamu, termasuk Lila. Mereka semua itu jahat. Mereka akan lakuin segala cara buat dapetin yang mereka mau! Mas khawatir sama kamu"


"Hem, tapi sekarang Mas udah nggak takut lagi kan? Buat kasih tau ke orang-orang kalau Lian istri Mas?"


"Iya, daripada salah paham terus. Mas jaga kamu malah kamu yang marah-marah sama Mas"


"Ya udah. Kalau sekarang mas udah nggak takut kasih tau tentang pernihakahan kita. Kita juga nggak usah takut sama mereka"


"Mas juga nggak takut sama mereka. Tapi Intan kurang ajar. Dia bilang nggak akan ganggu kamu. Tapi dia nemuin kamu"


"Hemm. Lian nggak apa-apa kok Mas. Kalau emang Mba Intan lebih dibutuhin dan menguntungkan panti, biarin dia kerja! Lian beneran nggak apa-apa. Yang penting Lian dan Mas saling percaya, yah!"


"Mas khawatir sama kamu, yang nggak percayaan dan mudah dihasut kan kamu"


"Mas nggak pernah berhubungan badan kan sama dia?"


"Kan mas udah jelasin sayang. Demi Alloh demi apapun, senjata mas buat kamu doang"


"Ya udah. Itu semua cukup kok buat Lian percaya. Lian siap ngadepin Mba Intan. Udah biarin dia kerja, Lian janji akan percaya sama Mas. Lian akan jelasin ke Dokter Mira juga. Pokoknya mulai sekarang nggak ada yang bisa ganggu kita"


"Bener nggak apa-apa?"


"Dipecat atau pun nggak. Yang penting kita tetep bareng terus, dan nggak peduliin dia. Kita harus mikirin panti Mas. Dia lebih bermanfaat atau nggak buat panti?"


"Janji kamu nggak terpengaruh sama dia?"


"Huum janji"


"Di butik ada Dara sih, tapi dia masih kuliah"


"Ya udah biar Mba Intan tetep kerja aja yah!"


"Janji setelah ini kamu jujur sama mas dan nggak cemburu-cemburu lagi? Jangan bikin mas khawatir lagi"


"Iyaah. Ya tapi mas juga harus jaga. Jaga tetep setia sama Lian"


"Iya sayang mas setia banget sama kamu, masa kamu nggak tahu sih! Ya udah ayo ke pantai"

__ADS_1


"Beneran? Pantai mana?"


"Udah nanti kamu tau sendiri"


"Sholat dulu!"


"Iya, nanti mampir Masjid. Nih bayar makan kita sekalian pesenin makan buat Arlan, mas tunggu di sini"


"Ya"


Lian kemudian mematuhi suaminya, mengambil dompet dan membeli beberapa bungkus makanan untuk Arlan dan dirinya. Kemudian mereka bertiga mampir sholat di masjid tepi jalan menuju ke villa milik keluarga Ardi di dekat pantai.


Hari itu Alya benar-benar menikmati hari terakhirnya liburan dengan bahagia dan indah. Mulai malam nanti Alya sudah harus kembali ke rumah sakit menyelesaikan tugas magangnya. Semoga saja keputusan Alya dan Ardi mempertahankan Intan adalah keputusan tepat.


****


Di Toko Perhiasan.


Setelah dari kamar mandi dan ketemu Ardi, emosi Lila menjadi tersulut kembali. Apalagi karena kebiasaan sesatnya yang terpengaruh obat, pikiranya jadi berfikir tidak semestinya.


"Siapa perempuan itu? Apa itu pacarnya?" gumam Lila mengepalkan tangan dan menemui Mira.


Setelah bertemu Ardi dan Alya yang tampak baik-baik saja, Mira jadi berfikir jelek ke Alya. Apalagi saat Mira melihat cincin yang dibayar Ardi, Mira semakin merasa kesal ke Alya dan berubah penilaian.


Mira mengira Alya menutup mata dari kenyataan kalau Ardi menelantarkan anaknya. Mira kita Alya menjadi buta akan semua itu hanya karena Ardi sudah menyogoknya dengan cincin berlian.


"Maaf Kak lama nunggu yah?" sapa Lila ramah ke Mira.


"Ah nggak" jawab Mira tersenyum ke calon adik iparnya itu.


"Kakak udah nemuin cincinya belum? Kok ngelamun? Mas Tito udah datang belum?"


"Cincin yang kakak suka udah dibeli orang. Kita cari ke toko lain aja"


"Bukanya kata pelayan itu cincin limit. Siapa yang berani ambil barang dari kakak iparku?" jawab Lila sombong.


"Temen kakak, istrinya Ardi Gunawijaya"


Mendengar nama Ardi Gunawijaya Lila langsung terhenyak dan menatap Mira serius.


"Kakak kenal Ardi?"


"Kenal, kenapa?"


"Perempuan berjilbab itu istrinya?"


"Iya? Kamu ketemu mereka?"


"Kapan mereka menikah?"


"Kakak juga nggak tahu persisnya, mereka bilang menikah di Jogja secara sederhana" jawab Mira menjelaskan.


Mendengar penjelasan Mira, Lila mengepalkan tanganya geram. Dan meneteskan air mata.


"Dhek kamu kenapa?" tanya Mira kkhawatir dan bingung melihat calon adik iparnya menangis.


"Gue benci perempuan itu Kak" ucap Lila tiba-tiba membuat Mira semakin berfikir buruk tentang sahabatnya itu.


"Kenapa? Ada apa dengan Alya? Kamu kenal Ardi?"


"Jadi nama perempuan itu Alya? Ardi udah bikin Lila dan Papah malu kak" tutur Lila memfitnah Ardi. Padahal Tuan Wira yang menyerang Ardi duluan.


"Lo berhubungan sama Ardi?" tanya Mira lagi kaget.


"Iyah. Dulu ayah dan dia bekerja sama. Tapi Lila sakit hati, dia bikin Lila berharap dan malu" jawab Lila berbohong.


"Ck. Kurang ajar ya ternyata Ardi tebar pesona dimana-mana?" gumam Mira percaya hasutan Lila.


"Kakak bisa kasih tau siapa istri Ardi?"


"Dia satu kerjaan sama kakak"


"Dia dokter?"


"Dokter magang lebih tepatnya"


"Lila nggak terima mereka bahagia Kak" ucap Lila mengepalkan tangan.


"Hemm sabar sayang. Ardi bukan laki-laki yang baik. Lupain Ardi ya? Udah yuk kita cari cincinya di tempat lain" jawab Mira menghibur Lila.


Lila mengangguk dan diam di depan Mira. Lila tidak mau menampakan dirinya yang asli di depan Mira. Tapi tatapan Lila bengis dan masih ingin merencanakan sesuatu untuk menyerang keluarga Ardi. Lila tidak tahu kalau Ardi juga sudah bersiap memenjarakan Lila.

__ADS_1


__ADS_2