Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
257. Bucin


__ADS_3

“Astaghfirulloh, hati- hati Mas!” tegur Alya ke Ardi. Karena mobil Ardi menyentuh mobil honda mobilio yang terparkir di depanya. 


“Haish!” Ardi mengumpat merasa mobil di depanya itu salah parkir. 


“Maas” panggil Alya pelan menyentuh tangan Ardi dan memberikan tatapan peringatan agar bersabar ke suaminya.


Ardi menoleh Alya tidak bergeming. Menurutnya orang di depanya itu tetap salah.


Pemilik mobil di depan Ardi membuka jendela menoleh ke mobil Ardi. Ardi kemudian keluar dari mobil dengan berani.


Ardi berniat menegur mobil itu, karena seharusnya mobil itu minggir atau maju, tempat mobil mereka berhenti adalah jalan. 


Saat Ardi berjalan keluar, seorang laki- laki berjaket hitam dan tampak seram, ikut keluar juga.


“Parkir yang bener dong!” ucap Ardi dengan nada galak tidak takut sama sekali.


Malah Ardi melototi orang itu, dan orang itu langsung mengangguk. Padahal jelas Ardi menabrak mobil di depanya itu. 


“Ya Tuan, saya minta maaf, akan segera saya pindahkan!” jawab pria itu tanpa penolakan. 


Alya di dalam mobil tegang suaminya mau berantem, tapi respon orang itu di luar dugaan Alya. Padahal menurut Alya suaminya yang salah.


Sekarang Alya menghela nafas lega. Semua aman terkendali, Ardi membuka mobilnya dan masuk lagi. Alya melemparkan senyum manisnya. 


“Ngapain senyum gitu?” tanya Ardi. 


“Mas ganteng banget, i love you Abangku, suamiku. Mamasnya aku” jawab Alya merayu Ardi agar muka Ardi melemas dan tidak tegang lagi.


“Hemmm” Ardi hanya berdehem lalu menyalakan stir mobilnya mencari parkiran. Ardi tau Alya hanya menggodanya biar Ardi tidak marah terhadap semuanya. Ya meskipun tanpa begitu Ardi memang tidak bisa marah ke Alya.  


Di mobil tadi, yang ternyata di dalamnya ada Lila. Pandangan Lila tidak beralih pada Ardi saat Ardi turun.


Hati Lila terbakar, sebenarnya dari tadi mereka memang menunggu Alya. Tapi dari hasil yang Lila peroleh dari Mia, Alya disatpamin Fitri bukan Ardi. 


“Kenapa dia masih terlihat angkuh dan keren bwgitu? Kenapa gue masih selalu suka melihatnya” gumam Lila dalam hati mengepalkan tanganya merasakan sakitnya cinta sepihak. 


Mereka kemudian memarkirkan mobilnya bersebelahan. Lila menundukan kepalanya agar tidak ketahuan Ardi.


Sementara Ardi membukakan pintu untuk Alya, mengulurkan tangan dengan mesra. Lalu Ardi menggandeng istrinya berjalan memasuki tempat Alya bekerja. 


Melihat pemandangan di depan matanya itu, Lila semakin sesak. Dadanya seperti menyala dan membara.


Rasanya ingin sekali Lila keluar dan menjambak Alya. Tapi Lila sadar itu tempat umum, dan jika keluar sekarang maka rencananya akan gagal. 


“Apa lebihnya perempuan itu, kenapa Ardi sebucin itu? Kenapa juga dia yang harus mengantarnya, seharusnya aku yang ada di posisinya, dasar perempuan jelek! Seharusnya Ardi milikku” 


“Kau harus mati malam ini!” batin Lila lagi mengepalkan tanganya dan melirik karung yang berisi King Kobra import yang katanya sangat mematikan. 


**** 


Sementara Ardi menggandeng Alya dengan penuh kasih sayang. Tidak peduli banyak orang yang melihat mereka.


Alya sendiri berjalan patuh mengikuti suaminya. Percakapan mereka tentang Pak Didik masih bersambung. 


“Mas” panggil Alya lirih, karena Ardi tidak merespon masalah Pak Didi. 


“Mas laper Sayang, tadi cuma makan siomay. Ke kantin yuk!” ajak Ardi masih belum mau merespon tentang Intan dan malah bahas makanan.


“Maas, kan Lian mau kerja, bukan mau main di rumah sakit, nanti Lian telat lho” jawab Alya mengingatkan suaminya kalau sudah waktunya Alya masuk kerja.


“Masih 10 menit lagi, Sayang nggak telat kok!” jawab Ardi melirik jam tangan mahalnya.


“Hemmm” 


“Nglawan suami itu dosa! Nyenengin mas sama pekerjaan kamu masih utamain mana?” tanya Ardi dengan senjata andalan.


“Yaya. Tapi kan suami yang baik juga mendukung istri ngelakuin kebaikan dan bantu buat menjauhi perkara yang salah, mas dosa lho kalau ajak istri jadi telatan” jawab Alya cerdas, dengan mata menyindir suaminya. 


“Hehe” Ardi justru nyengir, mengeratkan tangan istrinya dan menariknya agar menempel ke Ardi. 

__ADS_1


“Ishh, diliatin orang- orang tau, pegawai rumah sakit yang suami istri juga jalan sendiri- sendiri tau Mas!” bisik Alya memperingati.


“Biarin!” jawab Ardi masa bodo. 


Alya mah ikut weeh, terserah gimana mau suaminya.


Lalu mereka masuk ke kantin, seperti rencana Ardi. Ardi memesan jus mangga langganan Alya. 


****


Di parkiran.


“Kita bawa sekarang Non?” tanya salah satu anak buah Lila.


“Aku mau yang mati istrinya aja. Aku ingin Ardi merasakan sakit kehilangan, kita tunggu Ardi balik!” jawab Lila.


“Baik Nona!” jawab anak buah Lila. 


Lalu mereka berlima berdiam diri di mobil menunggu Ardi keluar. Mobil Ardi di samping mereka jadi mereka yakin  tidak akan kecolongan gerak gerik Ardi.


Sayangnya mereka belum tahu seberapa bucinya Ardi ke Alya, bahkan tidak pernah terpikirkan oleh siapapun kalau Ardi mau nungguin Alya kerja. 


Jamuran, jamuran deh si Lila dan anak buahnya di dalam mobil. Ardi tidak akan keluar sampai pagi karena Alya kerja lembur dua jadwal shift.


Satu jam berlalu, mereka mulai bosan dan kelu, Ardi tidak kunjung keluar dan pergi. Lila pun mulai panik. 


“Tunggu dulu!” ucap Lila lagi saat anak buahnya tak sabar beraksi.


Mereka mengira Ardi hanya mengantar istrinya saja. Ardi molor tidak segera pergi mungkin karena Ardi ada perlu di dalam. 


Akhirnya Lila dan anak buahnya menunggu lagi. Sampai ada salah satu anak  buahnya yang saking ngantuknya hampir ketiduran, tapi dilarang Lila.


Dan ular yang berada di dalam karung plastik itu bergerak- bergerak sampai mereka sendiri ketakutan. 


“Ikat yang kenceng goblok!” omel Lila ke pengawalnya. 


“Iya Nona!” jawab anak buah Lila


Anak buah Lila sendiri bergidik ngeri. Lalu anak buah Lila mengencangkan tali pngikatnya dan membetulkan posisi karung itu.


Mereka kembali menunggu, tapi Ardi tak kunjung keluar dan pergi. Bahkan mereka hampir 4 jam di dalam mobil.  Entah bagaimana rasanya, heranya mereka masih betah mematuhi ide Lila.


Langit mulai petang dan udara di mobil mulai pengap. Lila sendiri merasa badanya mulai berkeringat dan lengket. Anak buah Lila sampai kesel sendiri kenapa nggak segera beraksi.


Mereka tidak tahu kalau Lila juga naksir berat ke Ardi, bahkan meski mereka bermusuhan cinta Lila tidak berubah. Ardi adalah laki- laki tertampan dan mempunyai karisma tersendiri dan selalu menghantui tidurnya. 


“Nona, sepertinya kita harus periksa ke dalam, apa Tuan Ardi sudah pergi atau belum dan sedang apa dia?” tanya  anak buah Lila. 


“Ingat ya, aku hanya ingin lenyapkan perempuan jelek itu dan bayinya!” ucap Lila lagi memeberi peringatan. Lila juga ingin Ardi idolanya itu tetap aman.


“Siap Nyonya, akan saya pastikan hanya perempuan itu yang ada di kamar kecil itu!” jawab anak buah Lila. 


Lalu dua anak buah Lila yang sudah dibekali seragam OB rumah sakit turun dari mobil. Mereka berdua menyembunyikan hewan itu dalam kotak makanan. 


*****


Flasch Back Ardi dan Alya.


Setelah membeli jus mereka bergegas ke ruang kerja Alya, karena membawa suami tentu saja Alya lewat pintu belakang.


Alya mau menjaga etika di hadapan pasien dan rekan kerjanya. Kebetulan kamar dokter magang dan dokter tetap terpisan meski sebelahan. 


Jadi Alya tidak perlu meminta ijin ke seniornya. Alya dan Ardi langsung masuk ke kamar jaganya. 


“Sempit amat Yang?” tanya Ardi begitu masuk.


Ternyata ruanganya kecil dengan satu lemari dan matras, yang kalau matrasnya di jatuhkan ruangan langsung penuh. Jadi kalau mau makan dan sholat harus digulung. 


“Ya namanya rumah sakit mas, bukan hotel!” jawab Alya. 

__ADS_1


“Tapi kan kamu Dokter, Sayang, masa begini!” protes Ardi.


Ardi mengira orang yang bekerja dengan latar belakang pendidikan mahal. Fasilitasnya juga bagus dan mahal.


“Masih untung dikasih tempat tidur, sendirian mas, punya privasi. Ada lemarinya ada kasurnya, ada mejanya, tau nggak tempat perawat kek apa? Satu ruangan berbagi dengan banyak orang! Makanya kalau jadi pasien, bersikaplah kooperatif dan sopan ke petugas, beginilah kehidupan kita Mas” tutur Alya panjang.


“Hemm, yaya, jadi mas tidur di sini?” 


“Iyah! Kalau nggak mau pulang aja, tidurlah di rumah dengan nyaman” 


"Nggak, mas temenin Sayangnya mas kerja"


"Hemm. Ya udah nanti. Diam di sini, tutup pintu!"


“Mas nggak bisa liatin kamu kerja dong?”


“Ya siapa yang suruh liatin. Mas janji  lho mau jadi suami yang manis!” 


“Yaya!”


“Nggak usah keluar- keluar lho Mas! Udah diam di sini!” ucap Alya menasehati suaminya. 


“Hemmm” 


Lalu Alya mengunci pintunya dan mengganti pakaianya dengan pakaian kerjanya. Ardi berbaring memandangi istrinya berganti pakaian.


Seketika antenanya langsung on. Ardi bangun dan mendekat gemas ingin memegang dua benda kesayangan yang menempel di tubuh istrinya.


“Mau apa Mas? Ingat ini rumah sakit!” tutur Alya menepis tangan Ardi dan segera merapihkan baju dinasnya. 


“Hemm” Ardi hanya berdehem kecewa.


“Lian kerja! Udah mas tidur aja, kalau nggak ada pasien Lian ke sini kok!” tutur Alya bersiap bergabung dengan rekanya. 


“Ya!” jawab Ardi mempersilahkan.


*****


Kemudian Ardi berdiam diri di kamar Alya. Sementara Alya sibuk bekerja. Ardi menghabiskan waktunya dengan menyelesaiakan pekerjaanya lewat laptop.


Daan saat pasien sepi Alya masuk. Menemani suaminya, sholat bersama lalu makan. Setelah selesai, Alya kembali bekerja dan meninggalkan Ardi. 


Sampai setelah sholat ashar, karena Ardi lelah menatap laptop dan bosan, istrinya tidak kunjung datang karena pasien justru sangat ramai menjelang maghrib Ardi ketiduran. 


Dan di saat yang bersamaan kedua anak buah Lila tiba. Mereka memang sudah memeriksa dimana tempat pribadi Alya. Bahkan mereka sudah membuat kancing jendela terbuka. 


Karena waktu menjelang maghrib para petugas kebersihan istirahat sholat, dan pasien pelayanan juga ramai di depan, jalanan belakang benar-benar sepi. Kedua anak buah Lila berhasil membuka jendela dengan aman. 


“Jadi ini kelakuan para Dokter?” gumam anak buah Lila dengan tatapan benci.


Mereka mengira Alya tidur. Karena Ardi tidur meringkuk dengan posisi miring dan Ardi menutup mukanya dengan bantal dan menutup kakinya dengan selimut Alya karena AC di kamar sempit itu sangat dingin.


Mereka berdua kemudian mengangkat kotak makanan isi makhluk hidup itu. Dan di saat yang bersamaan Alya datang membuka pintu kamar. 


Alya kemudian melihat semua kelakuan dua penjahat itu, dan langsung berteriak. 


“Mas bangun! Eh siapa kalian? Tunggu! Penjahat tolong!!” teriak Alya. 


Tapi sayangnya kotak itu sudah terlanjur di jatuhkan. Ardi membuka mata kaget. Karena jatuh dengan tergesa ular itu juga keluar dari tempatnya.


"Mas awas ular!" teriak Alya panik.


Ardi langsung bangun dan menyadari ular itu sengaja didatangkan untuk membunuhnya.


"Anj*ng, bede*ah! Sayang telpon sekuriti kejar orang tadi!" tutur Ardi menghindari serangan ular itu. Ular itu diam dan melingkar di bawah jendela.


"Mas tapi itu ada ular gimana?" ucap Alya panik di depan pintu mau. Muka Alya langsung pucat, nafasnya memburu dan buliran keringatnya bermunculan.


Alya tidak mau kehilangan suaminya. Jika Ardi mau keluar, Ardi harus melewati ular itu.

__ADS_1


"Cari bantuan! Buruan kejar dua orang tadi Sayang. Mas akan baik baik saja" ucap Ardi berusaha tenang dan berfikir bagaimana mematikan ular itu.


Ular itu setelah jatuh dari atas jendela masih diam. Tapi lidah bercabangnya keluar- keluar.


__ADS_2