
"Al, siapa nama pembantu Lo yang rambutnya pendek itu?" tanya Farid tiba-tiba, membuat Alya yang sedang meneguk air mineral jadi tersedak.
"Uhuk-uhuk" Alya memuntahkan minumnya.
"Pelan Al, pelan" tutur Anya mengelus bahu Alya.
"Yang barusan lewat Kak?" tanya Alya.
"Iya.. " jawab Farid mengangguk.
"Mia"
"Apa kalian pernah bermasalah denganya?" tanya Farid.
"Nggak. Dia pelayan yang asik, sejak aku datang ke rumah Mas Ardi, dia seperti teman dan sahabatku, dia sangat periang" jawab Alya menerangkan.
"Ooh" jawab Farid mengangguk.
"Kenapa Kak?" tanya Alya.
"Nggak apa-apa. Ardi gimana sih? Kok nggak kesini?"
"Iya, nggak tau, dia gila kerja banget. Janjinya aja mau selalu siaga HP sampai sekarang kalau lagi kerja susah dihubungi" jawab Alya kesal menunduk dan memilin jilbabnya. Rasanya kecewa ke Ardi.
"Sabar yaa, kan ada kita" tutur Mia pelan menepuk Alya lagi menghibur sahabatnya.
"Bentar lagi pulang kan kita?" tanya Alya udah nggak betah di kantor polisi.
"Gue mau ngomong sama Ardi, kapan bisa ketemu?" jawab Farid.
"Ya udah ngomong aja. Sana samperin ke kantornya" ucap Alya bernada kecewa ke Ardi.
"Hmmm" Farid dan Anya berdehem melihat eskpresi Alya yang terlihat jengkel.
Tidak lama Mia keluar. Kalau bisa dibilang, Mia paling cepat diberi pertanyaan. Kemudian Farid sebagai laki-laki dewasa dan baik. Datang menemui salah satu mantan mahasiswa.
"Bagaiamana kelanjutanya? Apa yang harus dilakukan setelah ini?" tanya Farid ke Polisi peduli ke kasus yang menimpa Alya.
"Maaf Pak. Kami masih harus mengolah data dulu. Sementara semua masih berstatus sebagai saksi. Tidak ada keterangan yang berarti, kami butuh memeriksa cctv di rumah itu" jelas polisi.
"Oke, makasih ya. Tolong bekerjalah maksimal, mereka keluargaku, aku tidak mau terjadi sesuatu terhadap mereka" jawab Farid mengangguk. Jawab Farid menghargai prosedur kepolisian.
"Baik Pak. Siap. Kami akan berusaha maksimal" jawab Polisi.
Meski Farid mencurigai Mia. Farid ingin berdiskusi dengan Ardi, bukan polisi. Karena menurut Farid, jika melibatkan lembaga, akan ribet dan banyak prosedur, salah bicara bisa repot urusanya. Lebih enak bertindak dan mencari bukti sendiri.
Meski kata-kata Farid berpengaruh dan dipercaya polisi karena Farid termasuk salah satu nama yang terdaftar sebagai orang ahli, Tapi Farid sangat berhati-hati.
Lalu Alya menyuruh Fitri dan Mang Itong pulang dengan membawa mobil Tuan Aryo. Sementara Alya diantar Anya dan Farid.
"Ini udah mau jam 1 lhoh, yang jaga siang siapa?" tanya Alya ke Anya saat berjalan ke parkiran.
"Ck" Anya menepuk jidatnya dan menghela nafas.
Di saat sedang ada masalah Alya masih saja memikirkan tanggung jawab dan pekerjaanya.
"Udah sih Lo santai aja. Ada Dinda, lagian kita kan bukan dokter penanggung jawab. Santai, lo istirahat aja" jawab Anya menasehati.
"Kasian Dinda. Dia lembur terus" ucap Alya.
"Nggak lembur. Lo nanti yang jaga malam" jawab Anya.
"Hemmm" Alya berdehem dan menunduk.
"Awas aja kalau Mas Ardi ngelarang, kasian Dinda" batin Alya.
"Bercanda Alya. Udah lo nggak usah mikir jaga dulu. Santai aja. Istirahat aja" tutur Anya lagi, ternyata Anya bohong. Alya tidak harus jaga malam.
Saat mereka membuka mobil. Mobil Ardi datang, mereka berhenti dan menoleh.
Ardi langsung membuka pintu mobil dan lari memeluk Alya kencang. Menumpahkan rasa khawatir dan bersalahnya. Tidak peduli di parkiran dan dilihat banyak orang.
"Ada apa Sayang? Kenapa kalian di sini?" tanya Ardi.
Alya menerima pelukan suaminya diam. Dia memang butuh sandaran, tapi hatinya juga kesal. Kenapa baru datang dan mengabaikan ponselnya. "Lagu lama" batinya.
"Lepasin dulu, malu!" ucap Alya lirih dengan muka kusut, sebagai ungkapan betapa kecewanya Alya, karena Ardi lagi- lagi menomor satukan pekerjaan bukan dirinya.
Ardi merasa sakit dengan muka Alya yang ditekuk dan pandangan Alya ke arah lain.
"Ehm. Mas minta maaf, mas nggak liat ponsel" ucap Ardi peka dan menyadari dirinya salah.
Anya dan Farid yang memperhatikan adegan itu menghela nafasnya. Drama lagi, drama terus. Heran sama pasangan itu, berantem mulu. Anya yang sudah hafal sifat Alya hanya berdecak.
"Gue perlu ngobrol sama kalian" celetuk Farid memecah kecanggungan.
"Oke. Kita mampir ke kafe danau aja. Gue juga perlu bahas tentang resepsi kita sama Lo" jawab Ardi.
__ADS_1
"Resepsi?" tanya Farid kaget dan mengernyitkan dahi. Bakal banyak nih PR nya.
"Ardi apa-apaan, ya resepsi ya masalah, dasar! " batin Farid.
"Iya. Gue mau diadain di kafe danau aja. Sederhana doang kok. Buat legain Mamah Papah" jawab Ardi.
"Oke" jawab Farid mengangguk.
Farid mah bisa apa, sebagai sahabat yang baik dan menghormati Ardi, Farid iya iya aja.
Lalu mereka menuju ke kafe danau, Farid berdua dengan Anya, dan Alya nggak jadi nimbrung karena udah ada suaminya.
Alya masuk ke mobil dengan muka lelah dan kesalnya. Rasanya ingin marah-marah dan berkata-kata kasar ke suaminya. Di saat butuh sandaran, malah Ardi nggak ada. Yang datang malah Farid dan Anya.
Tapi Alya sudah tak kasar dulu. Alya memilih mendiamkan Ardi. Entah sejak hamil, Alya lebih sering mengalah.
"Ehm, maaf Sayang" tutur Ardi duduk menghadap Alya yang cemberut dan memalingkan muka keluar. Ardi berusaha merayu Alya yang tampak merajuk.
"Jangan diemin Mas dong. Mas salah mas nggak buka hp. Hp mang dinonaktifkan selama rapat" ucap Ardi lagi.
Alya masih diam.
"Aturanya emang gitu Sayang, sungguh" ucap Ardi lagi mulai frustasi. Alya diam seribu bahasa dengan tatapan kosong.
"Papah juga dimatikan ponselnya, kamu percaya? Ada beritanya, coba liat di media!" tutur Ardi meyakinkan lagi.
Karena kelewat kesal dan lelah. Mau berkata-kata banyak tapi nggak bisa. Tubuh Alya pun berespon dengan mengeluarkan air mata.
"Cup, jangan nangis Sayang" tutur Ardi memeluk istrinya. "Cerita sama Mas. Ada apa?"
"Lian bingung ceritanya darimana? Lian takut Mas" ucap Lian terisak.
Setenang apapun Alya di hadapan Ida, di hadapan suaminya Alya ingin melepaskan lemahnya.
"Apa yang terjadi?"
"Mang Adi, hampir aja meninggal"
"Hooh? Mang Adi? Meninggal kenapa?" tanya Ardi kaget.
Ardi merasa rumah besarnya selama ini aman. Semua pekerjanya adalah orang lama yang amanah. Ardi bahkan punya 8 satpam yang berjaga bergantian 24 jam, dan mereka semua berlinsensi.
"Benar kata papah Mas, yang teror foto itu orang di dalam rumah kita. Jadi sambel Lian itu dimakan Mang Adi. Dan ada yang kasih obat. Itu tuh obat buat gugurin anak kita. Lian nggak mau pulang" ucap lian terisak.
Ardi mengepalkan tanganya dan mengeratkan rahangnya. Tuan Aryo memang sudah pernah bahas dan memperingati Ardi sejak Lian jatuh. Tapi mereka tidak menyangka orang itu masih berlanjut dan siapa orangnya?
Mendengar umpatan Ardi dan cerita Alya. Pak Arlan ikut khawatir, karena beberapa waktu lalu mereka sempat curiga ke Fitri.
"Kita tinggal di apartemen lagi aja ya Mas. Nggak usah bawa pembantu, Lian sekrang nggak percaya siapapun" ucap Lian lagi.
"Ck, itu bukan solusi Sayang, nanti kamu kecapekan. Yakin di antara pelayan kita tidak semuanya jahat. Mereka bukan hanya kerja satu tahun dua tahun. Kita temukan siapa dia secepatnya. Mas janji mulai sekarang Mas jagain kamu"
"Bohong"
"Fitri kan juga jagain kamu" ucap Ardi, tapi tiba-tiba diam. Fitri kan juga termasuk dalam daftar orang yang Ardi curigai.
"Mas, yang jahatin kita bukan orang dari luar. Tapi orang terdekat kita. Mereka nggak pake senjata, sehebat apapun beladiri Fitri nggak ngaruh Mas. Bukan itu yang Lian butuh" ucap Alya.
"Percaya sama Mas. Secepatnya kita selesaikan masalahnya. Kalau perlu, mas ganti semua pelayan di rumah" jawab Ardi lagi malah lebih tidak masuk akal.
"Ish. Lian pengenya kita berdua aja kaya dulu" jawab Alya merasa hidupnya lebih damai saat tinggal di Megayu.
"Nanti Mas pikirkan ya.. " jawab Ardi lalu merangkul Alya agar Alya tenang.
Sementara mobil Farid dan Anya di belakang mereka.
"Ehm, Ardi sama Alya romantis ya." celetuk Farid.
"Romantis apaan? Bikin istrinya kesel mulu" jawab Anya.
"Sok aja nanti pas turun mereka pasti udah baikan dan mesra lagi"
"Ngapain sih bahas-bahas orang, mau mesra kek mau nggak. Nggak ada hubunganya sama kita" jawab Anya.
"Ya, maksudnya bukan gitu. Aa cuma ngebayangin kalau nanti kita udah nikah, gimana gitu" ucap Farid lagi ngegodain Anya. Berharap Anya mau ditoel toel dan dipeluk-peluk.
"Nggak usah dibayangin. Anya bukan Alya. Ingat ya Aa. Anya ngajak Aa Farid ke sini buat apa? Sebenarnya Aa itu beneran S2 Psikolog bukan sih. Bukanya bantuin malah merhatiin Alya dan Ardi"
"Hmmm, Neng raguin Aa?" tanya Farid.
"Ya abis daritadi malah gt?"
"Cemburu sama sahabat sendiri nggak baik Neng. Hati Aa cuma buat Neng. Percaya deh. Neng cemburu kan ke Alya?" jawab Farid sebenarnya Farid tau kalau Anya cemburu.
"Ehm" Anya hanya berdehem malu. Lalu mereka saling diam.
Tidak lama mereka sampai di kafe danau. Seperti dugaan Farid. Ardi keluar membukakan pintu Alya, menyambutnya dengan uluran tangan dan menggandengnya.
__ADS_1
Sementara Farid dan Anya keluar sendiri-sendiri. Farid memberi kode ke Anya dengan mendekatkan tanganya saat berjalan. Tapi Anya masih malu dan berjalan cepat. Farid kemudian hanya menghela nafas.
Kafe mulai rame pengunjung. Lalu mereka memilih bangku di pinggir tebing yang agak sepi. Mereka memilih menu makan siang, ikan bakar.
"Mau bahas yang mana dulu nih?" tanya Ardi setelah mereka duduk.
"Terserah Lo. Mau bahas resepsi lo dulu apa pelayan di rumah Lo?"
"Yang lebih penting Kak" jawab Alya.
"Emang apa yang Lo tau, tentang pelayan di rumah gue?" tanya Ardi.
"Gue sih nggak punya bukti dan alasan yang tepat. Tapi mulai sekarang awasi pelayan yang bernama Mia. Kalau perlu sadap semua telepon di rumah Lo" ucap Farid.
"Mia?" tanya Alya dan Ardi syok dan kaget.
Anya sendiri juga nggak nyangka meski sambil bercanda Farid beneran menelisik.
"Iya. Berdasar cerita Alya, Dan tingkah lakunya. Gue sih nggak percaya sama dia" jawab Farid lagi.
"Hoooh" Ardi menghela nafasnya kasar. Selama ini Ardi melihat kasian ke Mia.
Apalagi Alya, Alya langsung tertegun, kerongkonganya langsung kering, kenapa Kak Farid curiga ke Mia. Di mata Alya tidak ada sedikitpun hal mencurigakan dari dia. Bahkan Mia yang akrab denganya selama ini.
"Gue yakin Om Aryo juga nggak tinggal diam. Untung pembantu Lo hidup. Coba kalau mati. Musuh Om Aryo juga bisa manfaatin berita buat ancurin reputasi kalian. Sebaiknya awasi dia" tutur Farid lagi.
"Oke" jawab Ardi.
Kemudian Ardi segera menelpon orang kepercayaanya untuk menyadap semua aktifitas komunikasi di rumah besarnya. Selain itu dia juga menyuruh orangnya untuk mengawasi Mia.
"Tenang Sayang, semua akan baik-baik saja. Nggak usah pindah rumah" bisik Ardi ke Alya dan menggenggam tangan istrinya lembut.
Meskipun Ardi dalam hati sangat emosi dan geram, rasanya ingin segera mencekik Mia. Tapi di depan Alya Ardi tetap bersikap tenang dan hangat.
"Hemmm" Alya hanya mengangguk. Hatinya masih berkecamuk, bahkan tanganya gemetaran. Tapi Ardi berhasil menenangkanya.
"Menurut gue lo nggak usah kerja dulu deh Al, kalian juga mau resepsi kan?" tutur Anya.
"Iya Sayang, ambil cuti yah!" tutur Ardi ikut menambahkan.
"Tapi kalau Lian di rumah, Lian justru takut Mas" jawab Alya.
"Ikut Mas, ke kantor, tetap di sisi Mas" tutur Ardi lagi. Kini Ardi juga sudah tidak percaya ke pelayan untuk menjaga Alya.
Lalu mereka melanjutkan pembahasan tentang resepsi mereka. Mereka juga menghubungi Dika meminta stok ikan, karena langganan Farid kosong stok.
Farid dan Ardi berkeliling membahas dan survey tempat. Melakukan estimasi tamu undangan. Kemudian Ardi menghubungi pihak WO.
"Gila lo ya. Sukanya ngrepotin gue. Ngabari resepsi satu minggu doang" gerutu Farid ke Ardi.
"Ini kerjaan Mamah bukan gue yang pingin" jawab Ardi ketus.
Ardi berjalan tidak bergeming. Ardi nggal mau tau, toh nanti Farid bekerja bersama tim.
Alya dan Anya duduk istirahat menikmati pemandangan sambil ngemil sosis bakar.
Tiba- tiba ponsel Ardi berdering. Ardi langsung bereskpresi geram. Menitipkan Alya dan segera pergi.
****
Di kamar kecilnya Mia menghela nafasnya. Dia merasa aman karena pemeriksaan polisi berjalan lancar. Mia tidak tahu kalau Alya sudah menemukan bungkus obatnya. Mia juga tidak tau kalau Faisal sendiri yang melaporkanya.
Kemudian Mia laporan ke kakaknya.
"Ke markas secepatnya" ucap Kakak Mia.
Lalu Mia bergegas pamit.
"Ida, Bu Siti"
"Iya Mia, kenapa?"
"Aku ijin jenguk Babeh Adi boleh?"
"Boleh, aku ikut ya!" ucap Bu Siti merasa dekat dengan Mang Adi dan ingin tau kabarnya.
Mia yang ingin mampir ke kakaknya mengusap tengkuknya. Bagaimana alasan menolaknya.
"Tapi nanti Bu Siti dicari Tuan Ardi" jawab Mia menemukan alasan tepat.
"Oh iya yah?" jawab Bu Siti.
"Nggak usah jenguk. Anaknya nyebelin dia yang laporin kita ke polisi" bisik Ida ke Bu Siti.
Mia yang gelisah tidak begitu mendengarkan. Mia pun segera pergi dengan naik angkutan umum.
Anak buah Ardi, si Topan, yang keseharianya sebagai tukang sapu halaman tapi sebenarnya berpendidikan, mengikuti Mia.
__ADS_1