Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
118. Berani.


__ADS_3

Restokafe danau.


****


"Parkir di sini aja sih Tan" ucap Sinta menyarankan parkir di ujung jalan agar mudah keluar.


"Jauh Say. Capek jalanya aku pake heels" jawab Intan


"Ya elo udah tau medanya di alam gini pake heels" sanggah Sinta.


"Majuan dikit kok" jawab Intan parkir lebih dekat dengan restokafe


"Pasti nanti penuh nih parkiran" ucap Sinta lagi.


"Ya udah sini aja" jawab Intan memarkirkan mobil. Lalu mereka membuka bagasi dan mengambil barang dari paper bag.


"Ini apa sih?" tanya Sinta.


"Buat pengurus panti dan anak-anak kafe" jawab Intan


"Oh, lo pinter banget sih Tan?" puji Sinta mengetahui trik Intan.


Bukan Intan namanya kalau tidak pandai merebut hati orang. Bahkan dulu Bu Rita begitu terpana dengan kepalsuan Intan. Agar orang-orang panti menerima Intan kembali, Intan sengaja membawakan buah tangan berupa kemeja rancanganya.


Intan ingin membuat kesan baik ke penghuni panti, sehingga Intan nanti bisa kembali berpengaruh di panti.


Karena masih pagi, acara belum dimulai. Beberapa anak panti mengisi acara menunggu tamu undangan dengan bermain musik di panggung. Intan dan Sinta yang baru datang berjalan melihat sekeliling.


Mata Intan berbinar ketika melihat Ardi, Ardi tengah berdiri di dekat taman berbincang dengan seseorang. Intan pun bersiap melancarkan aksi pendekatanya.


"Sini biar gue bawa semua" ucap Intan menarik ke empat paper bag. Sehingga Intan membawa 8 paper bag.


"Bener lo mau bawa semua?" tanya Sinta heran.


"Biar gue jalan sendiri dan lo balik ke mobil, lo nyusul gue entaran" ucap Intan memerintah Sinta.


"What?" tanya Sinta tidak mengerti.


"Gue bilang lo jangan bareng gue! Biar gue jalan sendiri" jawab Intan lagi melirik ke Ardi. Sintapun paham dan mengangguk.


Intan berjalan mendekati Ardi. Dan pura-pura tersandung di dekat Ardi. Intan jatuh, ke jalan berpaving. Dan barang-barangnya jatuh berserakan.


"Intan" pekik Ardi menoleh ke Intan yang jatuh di hadapanya.


"Auw" keluh Intan memegangi lututnya.


Ardi yang sedang mengobrol dengan tamunya melihat Intan dengan geram. Ardi ingin marah melihat Intan datang, tapi Ardi tidak bisa melampiaskan marahnya karena di hadapanya ada tamunya. Dan tamu Ardipun simpati terhadap Intan.


"Anda tidak apa-apa Nona?" tanya tamu Ardi yang simpatik terhadap perempuan cantik yang jatuh di hadapanya.


"Tidak" jawab Intan melirik ke Ardi yang masih cuek.


Tamu Ardi membantu mengambil barang-barang Intan. Intan pura-pura memijat lututnya yang membentur paving.


"Uuuh" keluh Intan menahan sakit.


"Ini barangnya Nona" lain kali hati-hati, ucap tamu Ardi perhatian.


"Terima kasih" jawab Intan berpura-pura ramah tapi menahan kesal karena rencannya tidak berhasil. Bukan Ardi yang menolong tapi tamunya. Sementara Ardi hanya mematung melihatnya.


"Saya bantu berdiri Nona" tawar tamu Ardi.


"Tidak perlu" jawab Intan berdiri.


"Ardi" panggil Intan ke Ardi, membuat tamunya melotot. Tamu Ardi tidak mengira ternyata perempuan cantik ini kenal Tuan Ardi, tapi kenapa Tuan Ardi tampak cuek.


"Ehm" Ardi berdehem tidak mungkin pergi atau marah. Karena menjaga nama baik di hadapan tamunya.


"Gue belum tahu tempat pengajar panti berkumpul, boleh minta tolong bantu gue ke sana, kakiku ngilu" pinta Intan memelas.

__ADS_1


Ardi menoleh ke tamu Ardi, kalau Ardi menolak Ardi akan terlihat jahat. Akhirnya Ardi mengangguk dan mengambil bingkisan.


"Ya" jawab Ardi.


"Silahkan duduk Pak, saya masuk ke dalam dulu" ucap Ardi pamitan ke tamunya.


Tamu Ardipun mengangguk dan mempersilahkan Ardi pergi. Ardi mengambil barang-barang Intan dan membawanya.


"Makasih ya" ucap Intan mensejajari jalan Ardi berusaha ramah.


"Ngapain kamu kesini? Siapa yang nyuruh kamu kesini?" tanya Ardi geram.


"Gue kan juga bagian dari panti Ardi, apa gue nggak boleh ikut bantu di sini?" jawab Intan lembut mencoba menarik hati Ardi.


Ardi tidak menjawab perkataan Intan. Ardi diam membawa barang-barang Intan. Ardi masih berfikir. Apa Intan benar-benar berubah? Atau ada sesuatu yang direncanakan.


"Apa ini?" tanya Ardi penasaran.


"Aku ingin kasih hadiah ke teman-teman pengurus panti. Itu hasil rancanganku aku buat kemeja berlogo Gunawijaya" jawab Intan lagi menunjukan simpatinya.


Ardi diam. Ardi sedikit terkesan dengan mantan tunanganya itu. Tapi Ardi tidak berkomentar.


"Semoga ini bukan rencana burukmu" batin Ardi dalam hati.


Lalu mereka masuk ke ruang yang di dalamnya para pengurus panti duduk berkumpul dan berdandan. Ardi meletakan barang-barang Intan tanpa berkata-kata. Lalu segera pergi kembali ke tempat acara.


Para pengurus panti bahagia dan kaget. Dua atasanya itu kembali nongol dan berjalan bersama setelah 2 tahun tidak terlihat. Mereka pun membuat asumsi sendiri-sendiri dalam hati. Karena pengurus panti belum ada yang tahu pernikahan Alya.


Intan pun menyampaikan niatnya memberi kenang-kenangan yang dia buat. Pengurus panti tambah terkesan dan bahagia. Intan ikut merasa bahagia rencananya berhasil. Setelah berbosa-basi dengan pengurus, Intan keluar ruangan melanjutkan aksi keduanya.


Di luar tamu mulai berdatangan, masyarakat setempat ikut datang meramaikan. Sebagian melihat-lihat keindangan alam dan taman yang dibuat. Sebagian ikut menikmati sajian musik. Sebagian ikut mencicipi menu-menu yang di hidangkan.


Ardi menempatkan dirinya, berdiri bersama perngurus laki-laki menunggu kedatangan walikota. Melihat Ardi berdiri, Intan dengan tidak tahu malu mendekatinya. Intan ikut berdiri di samping Ardi.


"Ngapain kamu ke sini?" bisik Ardi ke Intan karena Intan tiba-tiba berdiri di sampingnya.


"Gue cari Sinta, tadi Sinta pamit ke parkiran, gue pusing banyak orang, mending gue bantu lo di sini buat nyambut tamu" jawab Intan beralasan.


"Ingat Intan, jika kamu berulah, aku tidak akan mengijinkanmu menginjakan kaki di Gunawijaya lagi!" bisik Ardi di sela-sela menyambut tamu dan menunggu Walikota.


"Aku tulus ingin bekerja Ardi di sini Ardi, percayalah" jawab Intan meyakinkan.


Ardi diam tidak menghiraukan Intan dan kembali menyambut tamu.


****


Tanpa sepengetahuan Ardi dan Intan. Mobil Farid tiba. Alya masih di dalam mobil Farid mencari parkiran, Alya melihat Ardi dari kejauhan. Karena meski jauh, dari awal tiba, mata Alya langsung mencari keberadaan suaminya.


"Siapa perempuan di samping Mas Ardi? Kok aku baru liat?" batin Alya melihat Intan.


Karena tamu sudah mulai berdatangan. Farid mendapat tempat parkirnya agak jauhan. Dan ternyata dekat dengan tempat parkir Intan.


"Ku perhatiin sepanjang jalan kamu diam? Tegang banget? Kenapa?" tanya Farid masih di dalam mobil tapi sudah berhenti.


Tentu saja Alya tegang. Alya pergi dengan melawan keyakinanya. Alya masih merasa harap-harap cemas keputusanya salah atau benar. Alya ingin menikmati acara seperti yang lain, tapi juga ingin membuat suaminya bahagia, menunjukan kalau Alya istri yang patuh. Tapi kata Farid Ardi akan bahagia juga kalau Alya datang.


"Semoga semua baik-baik saja" batin Alya.


Alya menunduk memegang tanganya dengan berharap. Tapi entah kenapa, tetap ada rasa menyesal karena memilih pergi, rasanya juga tidak sebahagia bayanganya. Kenapa Farid masih bersikap sama. Sebenarnya Farid beneran udah dikasih tau belum. Lalu siapa perempuan cantik yang berdampingan dengan Ardi.


"Mungkin dia rekan Mas Ardi" batin Alya menghibur diri. Alya berusaha percaya, karena Alya merasa Ardi sangat sayang terhadapnya.


"Kamu sakit?" tanya Farid lagi karena Alya tidak merespon. Alya justru terlihat menunduk dan murung Farid memandang Alya dengan tatapan hangat dan perhatian.


"Kak Farid, Alya mohon maaf" ucap Alya membuka mulut masih menunduk.


"Kenapa minta maaf? Nggak ada salah. Ini hari dimana waktunya kita bersenang-senang. Udah yuk turun! Sepertinya sebentar lagi acara mulai" jawab Farid membuka pintu mobil dan berusaha membuat Alya ceria.


Alya menelan salivanya tidak jadi bicara. Karena Farid membuka pintu mobil. Alya ikut membukanya dan ikut turun.

__ADS_1


"Kak, Kak Farid duluan aja. Alya mau mampir ke kamar mandi dulu" ucap Alya mencari alasan agar tidak jalan berdua dengan Farid.


"Oke. Udah tau tempatnya kan?" tanya Farid memastikan, 4 hari lalu Farid sempat mengajak Alya berkeliling dan memberitahu ruangan-ruanganya. Tapi Farid tidak yakin Alya masih ingat.


"Udah. Kak Farid duluan aja" ucap Alya tetap ingin berjalan sendiri.


Alya berjalan ke kamar mandi di dekat parkiran. Alya masuk ke kamar mandi pengunjung. Meski Farid mengangguk untuk pergi duluan, tapi Farid memilih tidak pergi dan menunggu di dekat mobil.


Selesai membuang hajat Alya keluar kamar mandi. Ternyata Sinta melihat Alya dan Farid satu mobil. Sintapun mengkuti Alya ke kamar mandi.


"Ehm" Sinta menghentikan langkah Alya di depan kamar mandi.


Alya berhenti menatap Sinta.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Sinta judes.


"Aku? Tentu saja ingin merayakan pembukaan tempat usaha panti" jawab Alya mulai berani.


Melihat Alya mulai berani, Sinta menjadi semakin geram.


"Lo berani sekarang sama gue?" ucap Sinta menarik kerudung Alya.


Alya pun menangkis dan memegang tangan Sinta dengan berani.


"Apa-apaan sih Mba? Mba Sinta kenapa selalu jahat ke saya?" tanya Alya berani.


"Lo bilang kenapa? Gue nyuruh lo tinggalin panti tapi lo malah semakin buat gue jengkel"


"Mba Sinta, dengar saya ya. Kalau Mba Sinta benci sama saya karena Kak Farid Mba Sinta itu salah. Saya udah punya suami. Dan itu bukan Farid" jawab Alya sekarang tegas.


"Lo jangan bohong ya, ngapain lo berdua-berduaan di mobil bareng dia? Lo nantangin gue? Lo nggak takut gue kurung di kamar mandi lagi?" tanya Sinta geram balik mencengkeram tangan Alya.


"Sinta?" pekik Farid terkejut melihat Sinta mencengkeram tangan Alya dan berkata kasar.


Karena menunggu Alya tidak kunjung datang Farid berinisiatif menyusul Alya. Faridpun mendengar perkataan Sinta.


"Kak Farid?" panggil Sinta dan Alya.


"Al, sebentar lagi acara dimulai, kamu masuk ke dalam, gue perlu ngomong sama Sinta" ucap Farid dewasa merasa Alya tidak layak disakiti.


Alya mundur dan mengikuti kata Farid. Alya pergi ke masuk ke acara. Mencari Us Zahra dan Bu Salma. Alya merasa tidak perlu berurusan dengan Sinta lagi.


Kini tinggal Farid dan Sinta. Farid menatap Sinta dengan tatapan tidak percaya. Peristiwa semalam saja membuat Farid illfeel. Sekarang ditambah kenyataan mengejutkan lagi. Kalau ternyata yang mengurung Alya di kamar mandi waktu itu Sinta.


"Ulangi katamu Sin!" ucap Farid tegas.


Sinta menelan ludahnya gelagapan. Tadi malam pernyataan cintanya sudah ditolak. Dan hari ini kejahatanya yang selama ini disimpan terungkap dari mulutnya sendiri.


"Jadi kamu yang kunciin Alya di kamar mandi?" tanya Farid mengintimidasi.


"Apa salah Alya ke kamu?" tanya Farid lagi.


Sinta diam tidak bisa menjawab. Air mata Sinta turun, harapan Sinta mendapat cinta Farid semakin jelas tidak akan dia dapatkan.


"Kak Farid, Bu Rita percaya ke kamu. Bahkan acara hari ini tercapai berkat kerja keras kamu, tapi kenapa kamu hancurkan kepercayaan seperti ini?" tutur Farid iba melihat kelakuan Sinta.


"Maafin Sinta Kak, maafin Sinta. Jangan usir Sinta dari panti" ucap Sinta menangis.


"Kamu tahu kan Alya dekat dengan Bu Rita, minta maaflah ke Alya dan perlakukan dia dengan baik hanya dia yang bisa selamatin kamu. Kenapa kamu jahatin Alya?"


"Kenapa Kak Farid nggak pernah ngerti? Gue cinta sama lo Kak, gue pingin bareng Kak Farid"


"Sinta, apa tujuan kamu kerja di panti? Kamu tau kan apa visi misi panti?"


"Gue cuma pengen deket sama lo Kak, gue nggak pengen liat Alya deket-deket lo"


"Sinta, kalau emang tujuan kamu begitu, pikirkan baik-baik keputusanmu, dan ajukan surat pengunduran diri secepatnya"


"Kak" panggil Sinta memohon.

__ADS_1


"Baik Alya atau bukan istriku nanti, aku tidak mencintaimu dan aku hanya menganggapmu sebagai rekan kerja. Kalau tujuanmu di panti untuk aku. Urus segera surat pengunduran dirimu. Saya juga tidak yakin Bu Rita masih mengijinkanmu di sini jika tau apa yang kamu lakukan" tutur Farid lalu pergi meninggalkan Sinta sendirian.


__ADS_2