
"Huufth haahh" Alya menarik nafas dalam, dan menghembuskan dengan pelan. Matanya nanar melihat asrama tiga lantai yang baru 1 minggu ia kenali. Satu-satunya tempat di Jakarta yang saat ini sangat dia sukai. Tapi sekarang menjadi tempat yang sangat mengerikan baginya.
Sebenernya bisa saja dengan mudah, Alya menyingkirkan Sinta. Tinggal dia adukan Sinta ke Bu Rita dan Farid, detik itu juga Sinta akan langsung ditendang dari yayasan.
Tapi bukan Alya namanya jika melakukan hal itu. Bahkan Alya akan menutup rapat mulutnya ke Bu Rita dan Bu Mirna kalau dia sempat pingsan di jalan dan dirawat di rumah sakit. Apalagi mengadukan kejahatan orang lain, itu hal yang Alya hindari. Alya selalu berfikir dan mempertimbangkan baik buruknya saat hendak bersikap. Dia juga berfikir apa manfaat untuk dirinya dan orang lain.
Alya sadar banyak anak-anak membutuhkan ilmu Sinta. Banyak hal yang sudah Sinta lakukan untuk panti. Sinta juga lebih lama mengenal Farid, Sinta juga lebih pantas bersama Farid.
Ya meskipun kalau dipikir-pikir kasian juga orang sebaik Kak Farid bersanding dengan perempuan jahat. Tapi yang pasti Alya tidak ingin menyaingi Sinta. Cara aman untuk diri Alya adalah menghindari Sinta dan Farid.
Tujuan dan tekad Alya satu, menjadi dokter kebanggan Bu Mirna. Bukan untuk Farid ataupun yang lain. Meski Alya menaruh kekaguman dan simpati ke Farid tapi Alya sadar, dia punya tujuan penting lebih dari urusan laki-laki. Dia harus segera menyelesaikan magangnya lalu kembali bekerja di Jogja, menjaga ibu yang sangat dia cinta.
"Bismillah" Alya melangkahkan kaki memasuki komplek panti. Hatinya berdegup kencang berharap Kak Farid dan Sinta tidak datang.
Alya menyapa beberapa pengurus panti yang dia temui. Lalu Alya segera menuju ke masjid kecil. Tidak seperti biasanya, Alya mampir ke kamar untuk istirahat.
"Assalamu'alaikum sayang sayangku" sapa Alya ke anak-anak yang sudah menunggu.
"Walaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh Kakak Cantiik" jawab anak-anak. Lalu bangun menyalami Alya satu- satu.
"Kok Kak Alya telat sih?" tanya Vivi si anak aktif.
Alya tersenyum, dan menjewer sendiri kedua kupingnya yang tertutup jilbab.
"Maafin Kakak ya! Tadi Kakak ada perlu" jawab Alya merasa bersalah.
"Oke kita maafin tapi nanti selesai hafalan, kasih cerita ya!" pinta Andin anak kelas 3 SD.
"Oke siap" Alya memicingkan matanya, tersenyum dan memberikan jempol.
"Kak Alya sholat ashar dulu ya" pamit Alya hendak menunaikan sholat dulu karena baru sampai. .l
"Iya Kak" jawab anak-anak kompak.
"Kalian sudah sholat?" tanya Alya hendak mengajak yang belum sholat.
"Sudah" jawab anak-anak kompak.
"Bagus" jawab Alya memberikan jempolnya lagi.
"Iya. Tadi kita sholat bareng Kak Farid, tapi Kak Farid mau pergi katanya nanti malem mau ketemu sahabatnya" cerita Arka. Anak 5 tahun yang sangat dekat dengan Farid.
"Oh gitu" jawab Alya mengangguk.
Terselip rasa sedih di hati Alya karena tidak bertemu dengan Farid, jika Alya datang 15 lebih awal dia ketemu Farid. Tapi kemudian rasa itu dia tepis. Akan lebih baik dia tidak ketemu Farid. Seperti yang Sinta minta.
__ADS_1
"Tadi Kak Farid nungguin Kak Alya dan nanyain kak Alya juga" lanjut Arka bercerita.
"Oh iya?" tanya Alya sedikit berbunga hatinya mendapati Farid mencari dirinya.
Arka mengangguk. "Kak Alya siih lama"
"He maaf, kan Kak Alya juga ada perlu, ya udah lupain Kak Farid dulu, Kak Alya wudzu dulu ya?"
Alyapun wudzu dan menunaikan sholat ashar. Lalu, Alya menyimak anak-anak membaca Al-Qur'an setelah itu menemani anak-anak menghafal surat-surat pendek.
Tidak lama adzan maghrib tiba. Mereka melakukan sholat maghrib berjamaah. Karena sudah malam Alya berencana pulang dan makan di apartemen.
"Kak Alyaa" panggil anak-anak melihat Alya berdiri merapihkan jilbab pashminanya bersiap pergi.
"Kak Alya mau pulang?" tanya Vivi tidak terima.
"Kalau iya kenapa?" jawab Alya meledek.
"Kak Alya lupa yaa?" tanya Vivi manyun.
Alya diam tampak berfikir. Lalu Alya melirik ke arah serambi, selesai sholat maghrib anak-anak yang biasanya lari menuju pantry, justru duduk melingkar di serambi. Alya mengingat kembali apa yang Alya janjikan ke anak-anak.
"Kak Alya kan berhutang sama kita!" jawab Vivi mencoba mengingatkan. Seketika itu Alya ingat akan memberikan cerita nabi.
"Tentu ingat dong, bacain cerita kan?" jawab Alya menyembunyikan fakta bahwa dia hampir lupa.
****
"Pintar sekali Alfin, tepuk tangan ya buat Alfin" puji Alya setelah mendengarkan salah satu anak menceritakan ulang apa yang Alya ceritakan.
Lalu anak-anak bertepuk tangan.
"Besok cerita lagi ya Kak?" pinta Ita,
"Iya, tapi jangan telat lagi kesininya" imbuh Vivi semangat.
Mendengar permintaan anak-anak Alya tersenyum getir menelan salivanya. Dia sangat ingin setiap hari kesini dan bermain bersama anak-anak. Tapi alasan apa yang harus Alya berikan, karena mulai besok Alya tidak ke panti lagi.
"Kok Kak Alya melamun?" tanya Hasan.
"Kalau Kak Alya habis ceritanya, cerita yang sama juga nggak apa-apa" sambung Arka melihat Alya melamun sedih takut membebani Alya.
Alya tersenyum melihat anak-anak panti. Matanya nanar, dia ingin menangis tapi dia tahan. Anak-anak begitu menyayanginya, begitu juga Alya sangat menyayangi anak-anak yang begitu menggemaskan. Rasanya Alya tidak sanggup kalau harus lama-lama tidak ke panti.
Tapi tugas Alya di Jakarta bukan untuk ini. Tugas Alya di Jakarta adalah menyelesaikan magang secepatnya dan sebaik mungkin. Mempunyai STR dan bekerja di Jogja. Alya harus menghindari hal - hal yang mengganggunya. Termasuk jika di panti akan membahayakan dirinya.
__ADS_1
"Kak Alya boleh peluk kalian nggak?" tanya Alya tiba-tiba tidak menjawab pertanyaan anak. Alya ingin mencurahkan sedihnya dengan memeluk anak-anak.
Lalu anak-anak memeluk Alya, melingkar.
"Kak Alya janji akan ke sini lagi, tapi Kak Alya minta maaf" tutur Alya menahan tangis karena Alya ragu masih harus ke panti atau tidak?
"Minta maaf kenapa?" tanya anak-anak tidak mengerti.
"Kak Alya harus bekerja, dan sepertinya akan sibuk, bahkan Kak Alya nggak tau kapan akan memenuhi janji Kakak datang kesini lagi"
"Kenapa kerjanya nggak di sini aja?" tanya Alfin polos.
Alya tersenyum bingung mau jelasin apa. Pekerjaan asli Alya bukan guru, tapi dokter.
"Cuti Us Zahra satu minggu lagi selesai kok, kalian nanti bareng Us Zahra lagi ya" jawab Alya tersenyum berusaha tegar di depan anak-anak.
"Berarti kita ngajinya sekarang tiap sore lagi? Alhamdulillah" jawab anak-anak girang membuat Alya sedikit lega dan tidak khawatir.
"Tapi kan Kak Alya dan Us zahra bisa bareng-bareng, kaya Kak Farid dan Kak Alya biasanya, jadi guru ngaji kita banyak" celetuk Arka meminta Alya tetap datang ke panti.
"Kak Alya janji jika ada waktu ke sini. Tapi Kak Alya nggak janji kapan, nggak apa-apa kan?" tanya Alya membuat penawaran agar anak-anak tidak bersedih.
Lalu mereka pun mengangguk sedih, karena Kak Alyanya mereka akan jarang datang ke panti.
"Ya sudah sekarang waktunya makan, kalian makan habis itu pada belajar yaa" tutur Alya mengakhiri percakapan.
"Baik Kak!" jawab anak-anak kompak, mereka pun bergegas menuju asrama. Masuk ke ruangan dengan meja panjang dan tersaji menu makan malam.
Alya memutuskan makan malam di panti bersama anak-anak dan pengurus panti. Selesai makan Alya memesan taksi online, sebelum pergi Alya masuk ke kamar Alya sebentar.
Di atas kasur tergeletak gamis dan hijab yang Alya pakai tempo hari. Alya duduk, meraih gamisnya yang terlipat rapih. Alya mencium gamisnya dalam-dalam.
"Bahkan Bu Salma mencucikan bajuku" lirih Alya meneteskan air mata mengingat kebaikan orang orang panti. Meski sebentar Alya merasa panti seperti rumah buat Alya.
Alya memasukan gamisnya dan berpamitan dengan Ibu Asrama. Alya juga berpesan untuk menyampaikan ke Farid kalau mulai besok Alya sibuk dengan kegiatan di luar. Dan tidak ke panti.
"Kenapa tidak langsug ke Pak Farid Us Alya?" tanya kepala Asrama
"Nggak sempat Bu, saya nggak punya nomer Kak Farid" jawab Alya beralasan.
"Apa saya kasih nomer Pak Farid?" Bu Asrama menawarkan supaya Alya pamit sendiri.
"Udah titip pesan aja Bu" Alya menolak tawaran Bu Asrama.
"Sudah malam saya pamit ya Bu" Alya berpamitan dan bergegas keluar.
__ADS_1
Alya sengaja tidak mencatat nomer Farid apalagi menghubunginya. Sebab Alya bertekad menjauhi Farid.
"Tugasku di Jakarta magang. Aku nggak mau jatuh cinta atau punya musuh, cukup 1 tahun di Jakarta dan segera kembali ke Jogja" gumam Alya meneguhkan hatinya. Alya berjalan keluar menunggu taxi online di depan gerbang.