
Alya terdiam menunduk menahan emosi yang memburu. Alya merasa suaminya aneh. Anya yang tadinya udah mau pesen hotel dilarang. Padahal maunya Alya, Alya dan Ardi menginap di rumah sakit. Menunggu ibunya, melepas rindu, melayani semua keperluan ibunya.
Sementara Ardi, Ardi tidak mau Anya berduaan dengan pacarnya di Jogja. Apalagi Ardi tahu Anya akan dijodohkan dengan Farid. Kalau bisa Ardi akan buat Anya putus. Ardi juga ingin istrinya tidur di rumah barunya dengan nyaman. Alya melihat kejutan dari suaminya itu.
Mereka berdua sama-sama mempunyai niat yang masuk akal. Tapi tetap saja, dua kepala dua isi. Mereka berdua sama-sama keras.
"Mba Alya, mohon maaf, Bu Mirna panggil Mba Alya" tutur Lastri menganggu kedua pasangan labil itu.
Ardi menghela nafasnya merasa malu ketahuan berdebat dengan istrinya di depan mertua. Alya menunduk menahan kesal mengikuti Lasti. Alya menghadap ke Bu Mirna.
Bu Mirna menatap Alya dengan kecewa.
"Duduk Nduk" tutur Bu Mirna menyuruh Alya duduk di kursi. Anya dan Lastri undur diri berdiri di belakang tirai.
Sementara Ardi keluar, bergegas segera meminta perawat memindah ruang rawat Bu Mirna ke kelas VIP.
"Maafin Alya Bu" ucap Alya menunduk. Bu Mirna tersenyum geleng-geleng kepala.
"Ck ck" Bu Mirna berdecak sambil menghela nafas.
"Apa di Jakarta setiap hari begini juga?" tanya Bu Mirna pelan.
Alya menelan salivanya, mengingat semua kelakuannya. "Lebih parah" batin Alya tidak menjawab pertanyaan ibunya.
Bu Mirna menghela nafasnya lagi.
"Apa kamu ndak malu sama mertuamu, sama umurmu?" tanya Bu Mirna dengan tatapan dalam.
"Nduk. Kamu tahu sekarang umurmu berapa?" tanya Bu Mirna pelan.
"Selangkung Bu (25)" jawab Alya menunduk menggunakan bahasa Jawa Krama Halus.
"Itu berarti kamu sudah tua, kamu sudah dewasa"
"Enggih Bu"
"Semakin tua umur seseorang, seharusnya kamu lebih bisa berfikir matang dan bersikap dengan bijak. Ibu tau, Si Sontoloyo itu udah cerita semuanya ke Ibu" tutur Bu Mirna mengingat kedatangan Ardi waktu itu.
Alya sedikit kaget mendengar ibunya. Memang suaminya cerita apa.
"Cerita apa Mas Ardi Bu?"tanya Alya.
"3 hari setelah kalian kembali ke Jakarta, Sontoloyo itu balik ke Jogja. Dia menjelaskan kalau dia udah bohong ke ibu. Ibu lega dengernya kalau malam itu tidak terjadi apa-apa di antara kalian. Dia cuma pengen cepet-cepet nikahin kamu. Ibu nggak jadi merasa berdosa." tutur Bu Mirna lagi.
"3 hari setelah nikah? Mas Ardi ke Jogja?" tanya Alya kaget.
Bu Mirna tersenyum mengangguk.
"Sontoloyo itu ternyata berhati baik. Ibu tidak salah ambil keputusan. Dia benar-benar anaknya Jeng Rita. Kamu harus bersyukur punya suami dia. Jadilah istri yang manut dan patuh sama suami" lanjut Bu Mirna.
Alya menelan salivanya menyadari dia sudah menjadi istri yang buruk.
"Ibu tau kamu berontak, kamu kecewa, kamu sedih ibu ndak percaya kamu. Kamu belum siap menikah. Kamu pasti kesel gething sama suamimu. Dia udah bohongin ibu, Jeng Rita dan Mas Aryo. Iya kan?"
Alya mengangguk.
"Tapi kan kamu sendiri sek tanda tangan di KUA menerima dia jadi suamimu" lanjut Bu Mirna lagi menegaskan kalau semua rasa itu salahnya Alya sendiri.
"Ibu ngerti, kamu kecewa. Cita-citamu berubah, kamu sekarang jadi harus ikut suamimu"
"Ibu minta maaf, sudah tidak percaya dan ragu kalau anak ibu tidak bisa jaga diri. Tapi sekarang sudah terlewati. Wes takdir. Dijalani! Koe wes cinta to karo Sontoloyo kae?"
Alya menelan salivanya lagi tidak menjawab. Pipinya memerah. Alya memang sudah jatuh cinta sejak awal hanya saja gengsi.
__ADS_1
"Ibu tadi denger kamu hamil? Bener?" tanya Bu Mirna serius.
"Enggih Bu" jawab Alya menunduk malu dan merasa bersalah belum mengabari ibunya.
Bu Mirna tersenyum menatap putrinya yang dulu kecil sekarang sudah mau jadi ibu.
"Wes pirang sasi?" *Udah berapa bulan? *
"Baru 6 minggu Bu, Alya nikah juga baru 9 minggu Bu" jawab Alya manyun.
"Alhamdulillah, langsung jadi berarti" jawab Bu Mirna tersenyum.
"Ish Ibu"
"Dijaga. Kamu sebentar lagi jadi orang tua. Diubah watakmu. Ibu nyekolahin kamu tinggi-tinggi. Ngajiin kamu tiap hari, bukan untu kamu jadi orang pinter yang pandai berdebat dan menghafal banyak ilmu. Tapi buat kamu amalin dan bekal hidupmu. Ibu pingin kamu jadi perempuan yang berkualitas"
"Iya" jawab Alya lagi.
"Sekarang kamu udah menjadi istri. Pintermu ki ora nggo minteri orang dan berdebat. (Kepintaranmu itu bukan buat jadiin kamu egois). Tapi dipake untuk kebaikan. Baktimu sekarang sudah bukan ibu lagi" lanjut Bu Mirna.
"Maafin Alya Bu".
"Patuhi suamimu, nggak boleh ngelawan suami begitu. Dosa lho! Opo meneh kamu lagi hamil, Ibu nggak pernah ngajari kamu bicara begitu"
"Iya Bu"
"Ibu ndak apa-apa. Ibu udah sehat. Pulang! Istirahat di rumah, kasian temenmu itu lho" tutur Bu Mirna lembut mengarah ke Anya.
"Tapi Alya kangen Ibu" jawab Alya membelas diri.
"Ibu juga kangen. Besok kan kesini lagi"
"Ya Bu" jawab Alya akhirnya patuh.
"Wes siap-siap. Muliho!" *Udah siap-siap, pulanglah"
"Ndak papa"
"Ya udah Alya nunggu Mas Ardi Bu"
"Nah ngunu. Isin wes tuo berantem koyo cah cilik" *Nah gitu, malu udah tua berantem kaya anak kecil*
"Maafin Alya Bu. Alya janji besok Alya kesini lagi, Alya mau nunggu Ibu"
"Iya" jawab Bu Mirna mengangguk.
Bu Mirna tau, anaknya memang cengeng apalagi dia anak satu-satunya yang sangat dia sayangi.
"Bojomu nopo, nandi?" *Suamimu lagi apa? Kemana?
"Ibu pindah ruang ya, jangan di sini. Mas Ardi lagi urus ke perawat dan administrasi, biar ibu di kamar yang sendirian" jawab Alya memberitahu.
Tidak lama Ardi datang, Bu Mirna tersenyum bangga melihat menantunya.
"Wes kono mulih!" *Udah sana pulang!* tutur Bu Mirna pelan ke Alya.
Ardi kaget mendengarnya, Alya mengangguk dan mau pulang. Ardi tersenyum menang melihat istrinya. Wajah Alya pucat seperti habis disidang.
"Ehm" Ardi berdehem ingin mengejek Alya.
Tapi Alya tidak merespon. Hanya membuang wajah dengan bibir manyun menghindari tatapan suaminya. Seperti anak kecil yang baru saja kalah mainan congklak.
"Sebentar lagi pindah ruang ya Bu" tutur Ardi sopan ke mertuanya.
__ADS_1
"Ibu ikut aja, antar istrimu dulu" jawab Bu Mirna.
"Ya Bu, secepatnya Ardi balik" jawab Ardi menatap Alya masih berdiri menunduk.
"Ayo pulang!" ajak Ardi ke Alya.
"Mba Lastri, Dokter Anya, ayo istirahat ke rumah" ajak Ardi ke Lastri dan Anya.
Mereka berduapun mengikuti Ardi. Alya berjalan menunduk mensejajari suaminya. Ardi tersenyum-senyum sendiri ingin mengatai dan mengerjai istrinya.
"Dimarahin ya sama ibu?" ledek Ardi dengan ekspresi puas dan nakal.
"Ish" jawab Alya mendesis sambil jalan.
"Makanya jadi orang nggak usah ngeyel" sindir Ardi lagi tambah puas.
"Apasih?" jawab Alya lagi manyun sambil jalan.
"Ya wajahnya nggak usah ditekuk gitu! Jelek tau!"
"Biarin"
"Nggak minta maaf lagi" sindir Ardi lagi.
"Hemmm" jawab Alya berdehem ingin minta maaf tapi gensi.
"Selama di Jogja, Dika jadi sopir kalian" tutur Ardi mulai serius.
"Oh dia namanya Dika? Mas kenal dimana?"
"Dimana yak? Lupa Mas" jawab Ardi ngeledek istrinya lagi.
Ardi ingin Alya sadar sendiri kalau suaminya itu hebat dan punya banyak kenalan. Harusnya Alya patuh dan baik-baikin Ardi.
Dika anak buah teman Ardi bernama Fatan. Dika karyawan pengelola tambak ikan di Jogja tapi bisa nyetir. Fatan sahabat Ardi saat Ardi kecil. Terkadang jika stok habis di Jakarta habis. Tambak Fatan juga memasok ikan ke restoran yayasan Gunawinaya.
Mereka berempat pun sampai di parkiran. Alya, Anya dan Lastri masuk ke mobil.
"Titip istri gue ya!" ucap Ardi ke Dika. Pria yang umurnya 10 tahun lebih muda dari Ardi.
"Enggih. Siap Mas!" jawab Dika sopan dan mengangguk ke Ardi.
Dika pun menyalakan mesin meninggalkan rumah sakit.
"Arahe pundi Bu?" tanya Dika sopan menghargai Alya.
"Arah Kaliurang Mas" jawab Alya lalu menunjukan alamat lengkap melalui ponselnya.
Dika mengangguk paham. Tidak lama mereka sampai dan masuk ke desa di daerah pegunungan. Jalan yang mereka lewati benar. Tapi Alya tampak heran dan terkejut saat keluar dari mobil. Bangunan rumahnya bukan rumah kontrakan dia 2 bulan lalu.
"Mba Lastri kita nggak nyasar kan?" tanya Alya heran.
"Mboten Mba" *Tidak Mba" jawab Lastri menggunakan bahasa sopan.
"Lhah ini rumah siapa?"
"Nggeh dhaleme Mba Alya to. Garwane njenengan Mba yang renovasi. Ini juga baru selesai 1 minggu lalu" *Ya rumahnya Mba Alya. Suamine kamu Mba yang renovasi" jawab Lastri sopan.
Alya menelan ludahnya dan menepuk dadanya tidak percaya. Alya memandangi rumah barunya. Rumah kecil semi permanen yang dulu berubah menjadi rumah gedong beratap limas. Tidak mewah, tapi lebih bersih, luas dan nyaman. Pantas saja Ibunya sekarang lebih sayang ke menantunya. Ardi pandai ambil hati mertuanya.
"Dingin banget Al. Masuk yuk, gue pengen ke kamar mandi" ucap Anya kedinginan malah Alya bengong.
"Mari Mba" ajak Lastri yang memegang kunci rumah.
__ADS_1
Lalu mereka masuk ke rumah baru Alya.
"Ternyata pas dia pergi nggak bilang-bilang ke sini? Ish" batin Alya terharu.