Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
238. Membaik.


__ADS_3

“Maaf nunggu lama ya Jeng” ucap Bu Rita setelah selesai dari kamar mandi. 


“Nggak kok, ini mau telpon Alya eh tapi ternyata telponku udah masa tenggang, udah tua jadi pelupa nggak isi pulsa” jawab Bu Mirna. 


“Biar aku saja yang telpon Ardi” sahut Bu Rita, Bu Rita kemudian duduk dengan tenang mengeluarkan ponsel mahalnya dan menelpon anak semata wayangnya. 


“Kemana lagi kita Nyonya?” tanya Mang Diman sopan siap melajukan mobil Alphard kesayangan Bu Rita. 


“Sebentar Pak, saya pastikan dulu ke Ardi ada apa? Kalau semua baik-baik saja kita ke butik, tapi katanya di rumah ada masalah, aku jadi khawatir” jawab Bu Rita. 


“Baik Nyonya” 


Tidak lama sambungan ponsel Bu Rita ke Ardi terhubung dan tersambung. 


“Assalamu’alaikum Mah, ada apa Mah?” ternyata Alya yang mengangkat telpon suaminya. 


“Sayang, apa benar hari ini kamu dan Ardi ke kantor polisi?” tanya Bu Rita panik. 


“Ah iya, Mah. Mamah dengar dari siapa?” jawab Alya bertanya balik, kenapa Mamahnya sampai tahu.


“Jawab pertanyaan Mamah, kalian ngapain di kantor polisi? Hah? Ada apa? Sekarang kalian dimana? Kamu baik- baik saja?”


“Lian sama Mas Ardi mau ke rumah sakit Mah” jawab Alya jujur, tapi kepotong.


Pada saat Bu Rita menelpon, Alya dan Ardi sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit menjenguk Mang Diman.


Ardi turun membelikan oleh- oleh untuk Mang Diman dan meninggalkan ponsel, sehingga Alya yang mengangkat teleponnya. Mendengar rumah sakit penyakit tuanya Bu Rita kambuh. Langsung mencecar Alya dengan banyak tanya.


“Rumah sakit? Astaga ya Tuhan, ada apalagi? Kamu kenapa? Rumah sakit mana?” tanya Bu Rita salah kira dan histeris. 


“Lian nggak apa- apa Mah. Lian sehat, yang sakit bukan Lian” jawab Alya tenang. 


“Terus siapa?”


“Mang Adi, Mah” 


“Mang Adi kenapa? Tadi pagi mamah ketemu masih baik- baik aja. Apa dia kena golok atau kenapa?” tanya Bu Rita lagi panjang tapi di balik telpon Alya tampak diam, sepertinya Ardi sudah kembali dan menanyainya.


Lalu Ardi meminta telponya dan Alya menyerahkanya pada suaminya. 


“Mamah tenang aja, semua baik-baik aja kok, kalau mau shopping shopping aja. Nggak usah khawatir mantu kesayangan mamah aman sama Ardi. Ardi jaga istri Ardi dengan baik Mah” ucap Ardi pandai menangani mamahnya, yang kalau ada masalah menyangkut Alya hebringnya akan kumat melebihi Bu Mirna.


“Aihh, kamu ini, mamah mau ngomongnya sama Alya bukan sama kamu, kasih telponya ke Alya! Ngapain kalian di kantor polisi? Mang Adi kenapa?” tanya Bu Rita belum puas dan belum mendapatkan jawabanya. 


“Udah ya Mah, baterai ponsel Ardi lowbat, nanti Ardi kasih tau di rumah, selamat bersenang- senang Mah” jawab Ardi santai tapi malas menanggapi ibunya.  Alya hanya berdecak melihat kelakuan Ardi. "Karma lho nanti digituin anaknya"


Tapi menurut Ardi, menjelaskan masalah ke Bu Rita lewat telepon apalagi masih di jalan tidak akan menyelesaikan masalah. Yang ada Bu Rita salah menangkap dan akan terjadi sesuatu yang justru semakin merepotkan.


Ardi memilih jalan tidak menjawab agar tercipta suasana kondusif dan tenang. Sambil Ardi memikirkan langkah selanjutnya.


“Thut” tidak peduli respon Bu Rita, sambungan telepon mereka diputus sepihak dari Ardi.


“Gimana Jeng? Apa semua baik – baik saja?” tanya Bu Mirna penasaran yang daritadi sabar menyimak. 


“Hah dasar, punya anak satu, hobby banget buat mamahnya kesal” gerutu Bu Rita ke Ardi.


“Memang ada apa Jeng? Saya dengar ada kata-kata rumah sakit? Siapa yang sakit? Apa Alya dan bayinya baik- baik saja?” tanya Bu Mirna ikut khawatir. 


“Alya baik- baik saja, tapi Mang Adi tidak, ada apa ya? Kenapa mereka sampai ke kantor polisi?” gumam Bu Rita mengajak Bu Mirna menerka-nerka.


“Lhah tadi kata Alya dan Nak Ardi gimana?” 


“Mereka tidak menjawab, ya sudahlah, anak itu masih saja kurang ajar dan ngebanyol, itu artinya semua baik- baik saja” tutur Bu Rita memastikan. 


“Alhamdulillah, lega dengernya” jawab Bu Mirna. 

__ADS_1


“Ke butik Pak, selanjutnya ke mall” tutur Bu Rita memberi perintah ke Mang Diman 


“Baik Nyonya” Mang Diman yang sudah hafal tempat- tempat favorit Bu Rita pun tancap gas. 


Hari itu Bu Rita benar-benar mengubah Bu Mirna. Mengenalkan dunia sosialitanya ke Bu Mirna.


Bu Rita juga membelanjakan baju-baju mahal dan kekinian untuk Bu Mirna. Meski berjilbab tapi tetep elegan dan membuat Bu Mirna menjadi terlihat cantik dan muda kembali. 


****


Di kosan


Sepasang insan yang hubunganya mulai membail tampak duduk berhadapan.


“Makasih ya A’’ ucap Anya membuka percakapan setelah menyajikan camilan.


“Makasih kenapa Neng?” tanya Farid. 


“Udah mau dateng ke sini dan temeni Anya buat nyamperin Alya” tutur Anya dewasa.


“Kok makasih sih Neng? Neng lupa siapa AA?” jawab Farid menatap Anya.


“Maksudnya?” 


“Coba Aa lihat tangan Neng?” tutur Farid memberi kode, mereka kan sekarang udah tunangan, udah sewajarnya Farid harus selalu ada buat Anya. 


“Oh” jawab Anya paham, tapi justru menyimpan tanganya. 


“Mulai sekarang, butuh apapun, bilang ke AA ya!” tutur Farid lagi.


“Iya, oh iya, he... tentang pembantu Alya, Aa- Aa, maksih ya” ucap Anya terbata mau memuji Farid tapi sulit terucap.Tapi Farid tau arah ucapan Anya.


“Tebakan Aa benar ya? AA hebat kan? Sekarang kamu percaya sama AA?” sahut Farid paham maksud Anya. 


“Aa bukan Tuhan atau peramal Neng, ya nggak bisalah tau isi hati orang, itu semua kan ada teorinya, ada disiplin ilmunya dan teori manusia kan berdasarkan pengamatan, masih ada kemungkinan salahnya” jawab Farid merendah. Farid juga tidak ingin membuat Anya tidak nyaman. 


“Oh, boleh ajarin ke Anya nggak?” ucap Anya mulai tidak canggung dan antusias belajar ilmu manusia.


“Neng kan nanti juga punya kepekaan sendiri, apalagi Neng dokter, setiap hari bertemu pasien, Neng akan bisa sendiri dan punya feel merasakan sikap seseorang” 


“Tapi kan kata Aa ada ilmunya, Neng juga mau diajarin” tutur Anya lagi.


“Serius mau diajari?” 


“Huum” jawab Anya mengangguk.


“Belajar kaya gitu butuh waktu yang intens lho” 


"Neng pinjam bukunya aja"


“Nggak boleh. Hehe belajarnya nanti aja tiap malam kalau udah nikah” jawab Farid malah membercandai Anya. 


“Ishh” jawab Anya manyun. 


“Pembantu Ardi itu memperlihatkan bahasa tubuh yang sangat mencolok. Dia terlihat depresi dan tertekan. Aa juga tidak bisa memastikan hati seseorang atau kejujuran seseorang Neng, tapi bahasa tubuh orang itu sendiri yang memperlihatkan jati dirinya seseorang” 


“Oh gitu?” 


“Iya, ketika hati, otak dan tubuh tidak sejalan, entah bagian mana, pasti salah satunya akan protes. Maka dari itu, jadilah apa adanya, tanpa beban. Kalau Eneng suka sama Aa nggak usah dipendam- pendam biasa aja” 


“Ih apa sih?”


“Hehe” 


“Kasian Alya ya A’’ tutur Anya lagi ke Farid.

__ADS_1


Setelah berpamitan pada Ardi, Farid mengantar Anya pulang ke kosan. Farid dan Anya merasa setelah bersama Ardi mereka tidak perlu lagi menemani Alya. Mereka tidak mau masuk ke ranah pribadi mereka. 


“Kenapa Neng?” tanya Farid memegang secangkir kopi tapi tidak jadi diseruput karena Anya mengajaknya ngobrol. 


Setelah tunangan dan mengungkapkan di depan umum atas perasaanya. Anya menjadi Anya yang dewasa dan menghormati Farid meski masih malu- malu. Tapi sudah tidak mengerjai Farid lagi. 


“Anya nggak tega liatnya, ternyata pembantu Alya sendiri yang mau jahatin Alya, padahal Alya nggak pernah beda- bedain orang lho kalau bergaul” tutur Anya. Farid pun mendengarkan calon istrinya itu dengan seksama. 


“Namanya hidup Neng. Nggak semuanya seperti yang kita pikirkan dan kita inginkan. Seakan semua udah jadi skenario yang udah ditetapkan. Kita hanya perlu menghadapinya dengan tetap menjadi orang baik” tutur Farid berbicara dengan dewasa. 


Sebenarnya perkataan Farid biasa saja, tapi entah kenapa, di mata Anya saat Farid berbicara serius seperti itu, Farid terlihat keren dan tampan. Anya pun menatap Farid dengan penuh kagum. Saat berhenti bicara Farid menoleh ke Anya sehingga mereka saling tatap. 


Dheg 


Saat itu juga Anya merasakan debaran yang tidak biasa. 


“Ehm” Anya kemudian berdehem salah tingkah memalingkan mukanya dan menunduk malu. 


“AA minum kopinya ya” ucap Farid mau menyindir Anya. 


“Iya” jawab Anya dengan muka pucat ingat kelakuanya waktu itu. Lalu Farid menyeruputnya dengan pelan. 


“Rasanya beda ya Neng” 


“Ehm, he....” Anya nyengir malu. 


“Makasih ya, kopinya yang waktu itu” ucap Farid lagi. 


“Maaf” ucap Anya dengan wajah sangat imut karena tersipu. Akhirnya Anya mengakui. 


Melihat wajah Anya yang tampak imut Farid tidak menghiraukan perkataanya dan hanya menikmati pemandangan indah di depanya itu. Buat Farid, Anya benar- benar menarik. 


“Apa nanti malam ada acara?” tanya Farid tiba- tiba menanyakan sesuatu di luar topik. 


“Nggak ada A?” jawab Anya menunduk. 


“Nggak jaga lagi kaan?” 


“Nggak!” jawab Anya lagi. 


“Nanti malam Aa jemput yah!” 


“Jemput?” 


“Iya” 


“Mang mau kemana A?” 


“Udah, dandan yang cantik ya. Oh iya kopinya enak AA habiskan ya” ucap Farid memuji kopi Anya kemudian menghabiskankanya. Anya pun menatap Farid meneguk kopinya dengan hati yang berbunga, sebenarnya Anya juga baru belajar membuat kopi. 


“Kamu baru jaga malam dan belum tidur kan? Istirahatlah. Aa pulang ya!” 


“iya makasih A” jawab Anya berdiri lalu mengantar Farid pulang. 


Mereka berdua berjalan beriringan dari teras ke mobil. Saat sampai ke mobil, Farid menatap Anya canggung, ingin berpamitan mencium kening Anya seperti Farid dan Alya. Tapi sepertinya Anya masih menjaga jarak. Akhirnya Farid menelan ludahnya sendiri dan meremas tangannya sendiri. 


“Aa pamit, Nanti malam AA kesini ya” ucap Farid. 


“Iya” jawab Anya. 


Lalu Farid masuk ke mobil seperti tidak ikhlas pergi. Tapi Farid masih punya jadwal ngajar.


****


Oh iya Kakak grup chat aku udh dibuat. kalau mau nyambung silaturrahim gabung aja. hehe

__ADS_1


__ADS_2