
“Alya tau kok Mah!” jawab Alya tegas.
Alya menatap ibunya dengan tatapan dalam, begitu juga ke Bu Rita dan Tuan Aryo.
Bu Rita dan Bu Mirna kemudian menegang. Menatap Alya dengan seksama. Alya merapihkan gaunnya. Dan memasukan kembali ke dalam paper bagnya dengan tenang. Setelah itu menegakan duduknya dan bersiap bicara.
“Apa yang kamu tau?” tanya Mama Rita menebak belum tahu kalau Intan saudaranya.
“Dhek Intan dan Om Didik jengukin Lian di rumah sakit, Bu, Mah, Pah. Om Didik udah jelasin semuanya” tutur Alya ramah.
“Alya... dia tidak pantas kamu sebut sebagai Om” sahut Bu Mirna mukanya memerah.
“Nak, apa kamu tahu? Dia mantan tunangan Ardi, dia hampir mau jahatin kamu” tutur Bu Rita menambahi.
“Lian tahu Mah, Bu, terutama ibu, Lian minta maaf sebelumnya, terlepas dari bagaimana masalalu. Lian emang sama sekali nggak tahu. Yang Lian tahu, Om Didik dan Intan orang yang baik terhadap Lian, itu sudah cukup” tutur Lian tenang tetap teguh pendirianya.
“Hhhh. Mamah nggak tahu dengan jalan pikiran kamu Sayang, mamah nggak tahu harus ngomong gimana ke kamu?” jawab Bu Rita sedikit jengkel.
Meskipun Ardi yang dihianati, dan meskipun Ardi sudah bahagia. Menurut Bu Rita, mantan tetaplah mantan, harus di tempatkan di tempatnya.
Apalagi cara mereka berpisah dengan jalan yang tidak baik. Bu Rita sebagai orang tua merasa terhina dan terhianati. Bu Rita tidak ingin berhubungan apapun lagi dengan Intan.
“Alya, apa kamu tau apa yang dilakukan orang sombong itu ke ibu dan ayahmu. Kamu tidak pantas memanggilnya Om, bukan hanya tidak pantas, mereka sendiri yang tidak pernah menginginkan dipanggil Om oleh kamu. Mereka tidak pernah menganggapmu ada! Jauhi mereka! Buat apa kamu baik ke mereka?” tutur Bu Mirna tegas dan penuh emosi.
Jika biasanya Bu Mirna lembut dan keibuan, kini Bu Mirna terlihat kesal dan marah. Penuh penekanan dan ancaman.
“Bu...Mah, sekali lagi Lian minta maaf, Lian tahu, Lian hargai perasaan ibu dan mamah. Seperti apapun, hal yang terjadi dengan ibu, mamah, Om Didik dan almarhum ayah. Itu tidak akan merubah kenyataan kalau Om Didik itu Omnya Lian Mah” jawab Alya.
Bu Rita dan Bu Rita diam dengan nafas yang memburu, ingin membantah Alya. Tapi mereka malu, mereka lebih tua dari Alya tapi Alya lebih tenang.
Sementara Tuan Aryo berada di posisi tenangnya. Dia lebih memilih melihat dan membaca apa yang terjadi sebenarnya, dan bagaiamana pendapat Alya, tanpa berkomentar dulu.
Ardi yang lebih dulu diskusi dengan Alya meski sebenarnya sependapat dengan ibunya lebih memilih diam mendengarkan Alya berpendapat. Toh pendapat Alya tidak salah, meski berat dilakukan tapi Ardi mendukung. Ardi tidak mau juga dicemberutin istrinya. Malah nanti nggak dikasih jatah Ardi pusing sendiri.
“Om Didik tetaplah mahrom Lian, sama kedudukanya dengan Om Aji. Om Didik bisa dijadikan wali buat Lian. Lian nggak bisa maksain Ibu dan Mamah untuk bisa melupakan masalalu dan memaafkanya. Tapi satu hal Mah, Bu, kalau kita yang memutus tali silaturrahim ke mereka. Kita yang berdosa Mah, Bu. Ingat memutus tali silaturrahim itu dosa besar Bu, Mah” tutur Lian mengungkapkan pendapatnya ke ibu dan mertuanya.
__ADS_1
“Tapi mereka dulu yang mengusir ibu dan bapak Alya” jawab Bu Mirna lagi.
“Bu... tapi kan itu dulu. Sekarang Om Didik udah beda. Ibu sakit kan saat kakek dan om Didik usir Ibu dan bapak?” tanya Alya lembut.
“Ya jelas sakit to Nduk, bukan hanya sakit, ibu dan bapak seperti terbuang dan terhina” jawab Bu Mirna.
“Apa sampai sekarang ibu masih merasa sakit dan terhina?” tanya Alya lagi.
“Ehm...” Bu Mirna kemudian diam. Bu Mirna sekarang sudah bahagia.
“Bu...” panggil Alya lembut.
Bu Mirna, Bu Rita, Tuan Aryo dan Ardi hanya diam. Alya masih di posisi tegaknya menatap ibunya yang tampak memalingkan pandangan dari Alya.
“Kalau ibu sekarang menolak kehadiran dan kenyataan tentang Om Didik, lalu apa bedanya ibu dengan mereka?” tanya Alya lagi.
“Alya!” pekik Bu Mirna tersinggung.
“Ibu, Alya minta maaf, bapak udah tenang di alam sana. Cara membuat bapak di sana bahagia adalah dengan kita banyak memberi doa dan amal yang baik Bu, jika kita di sini ikut- ikutan jadi orang jahat, dan itu berhubungan dengan bapak, pasti bapak sedih Bu!” tutur Lian lagi.
“Tapi Al” bantah Bu Mirna lagi.
“Dan ibu tau, Om Didik itu sakit- sakitan sampai Lian nemuin Om Didik pinsan di jalanan, Om Didik jadi tukang sapu Bu, Mah!” sambung Lian lagi.
“Tukang sapu?” tanya Bu Rita sedikit tidak percaya dan mulai iba.
“Iya Mah, Bu!” jawab Lian.
“Ibu dulu jauh lebih menderita Alya. Bapak dan Ibu juga berjuang dari 0, bapak dan ibu bekerja serabutan di kampung, kamu tau dan ingat kan?” tanya Bu Mirna.
“Alya ingat Bu, Alya nggak mungkin lupa siapa kita dan bagaiamana kita dulu. Makanya, ibu dan Om Didik sudah merasakan hal yang sama rasanya di bawah dan di atas. Alloh menguji ibu, apa sikap ibu akan sama dengan mereka dulu atau tidak?” tutur Lian lagi.
Kali ini omongan Alya membuat Bu Mirna dan Bu Rita tertegun. Sementara Tuan Aryo dersedekap dan manggut- manggut bangga dengan menantunya.
“Ibu kan yang selalu bilang, Alloh kasih Lian lulus dari dokter bukan hadiah yang serta merta keberuntungan tanpa sengaja. Termasuk kita sekarang semua berkumpul di sini, itu bukan sesuatu yang kita rencanakan kan Bu. Bisa saja ini ujian ataupun nikmat. Lihatlah hidup kita sekarang Bu, Lian sebentar lagi jadi ibu, Lian punya suami dan keluarga yang sama Lian. Alloh juga ingin lihat cara kita bersyukur Bu?” ucap Alya lagi.
__ADS_1
“Apa ibu akan bersikap hal yang sama seperti sikap mereka dulu ke Ibu dan bapak? Mereka dulu juga dilimpahi kekayaan dan kebahagiaan bu? Tapi apa yang terjadi dengan tante Didik dan Intan sekarang? Ibu mau Alya dan keluarga Alya bahagia kan Bu?”
“Alya apa maksudmu bilang begitu?” tanya Mama Rita sedikit tertohok dan khawatir. Bu Rita ya maunya anak cucu, keluarga dan usahanya umur panjang dan bahagia.
“Ya tentu ibu selalu mendoakan kamu bahagia Nak!” jawab Bu Mirna.
“Kalau begitu jadikan hidup Om Didik dan masalalu sebagai pelajaran Bu. Mereka jahat sama kita, kita jangan contoh mereka, lihatlah apa hukum alam dan Tuhan terhadap orang yang sombong dan jahat. Ibu ingat, Alloh itu Maha pemaaf, jangan sampai kita merasa kita paling baik dan benar lantas membiarkan kebencian tumbuh di hati kita Bu!” tutur Alya lagi.
Dan tanpa Alya sadari ternyata omongan Alya merangsag air mata ibunya terkumpul di kedua bola matanya. Dan akhirnya lolos juga. Bu Mirna pun terisak.
“Ibu..” panggil Alya pelan melihat ibunya menangis.
"Membenci orang, mendendam, memandang buruk orang. Dan memutus tali silaturrahim itu dosa Bu. Siapa tahu, saat kita merasa benar, ternyata Om Didik dan Dhek Intan selalu memohon ampunan dari Tuhan. Kita maafin mereka ya Bu" pinta Alya lagi.
“Iya Nal. Kamu benar, ibu salah. Ibu akan maafin om kamu” tutur Bu Mirna sambil menyeka air matanya.
Alya kemudian tersenyum. Bu Rita meski berat kemudian ikut tersadar akan omongan Alya.
"Makasih Sayang kamu udah ingetin Mamah" tutur Bu Rita.
“Kamu persis seperti Bapakmu menantuku” celetuk Tuan Aryo membuat semua tercengang.
“Papah kenal almarhum mertua Pah?” tanya Ardi.
“Jika dia kakaknya Didik, tentu saja ayah kenal. Dia yang selalu meminjami Papah ballpoint saat SD papah” jawab Tuan Aryo tersenyum.
“Papah? Papa teman bapak?” tanya Alya ikut menangis.
“Iya Nak” jawab Tuan Aryo tersenyum, untuk pertama kalinya Tuan Aryo membentangkan tangan ingin memeluk Alya. Alya pun dengan ragu mendekat ke Tuan Aryo dan meghambur ke pelukan mertuanya. Sesaat Alya seperti mendapatkan obat kerinduan sesosok ayah.
“Ehm.. jangan lama- lama dong pelukanya” celetuk Ardi tetep saja meskipun ayahnya sendiri yang memeluk istrinya Ardi tidak suka.
Alya dan Tuan Aryo kemudian kembali ke posisinya. Posesifnya Ardi memang menurun dari Tuan Aryo, jadi Tuan Aryo memaklumi.
“Berarti boleh ya Pah, Mah, Bu. Alya undang Intan dan Om Didik?” tanya Alya.
__ADS_1
“Boleh Nak!” jawab Bu Rita dan Tuan Aryo. Sementara Bu Mirna hanya mengangguk.