Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
91. Harus Jujur


__ADS_3

***


Kos Anya.


Kedatangan Alya disambut perempuan paruh baya yang bernama Dati, Bu Dati yang bertugas membersihkan rumah yang ditempati Anya. Kos-kosan Anya sebuah rumah tinggal di komplek perumahan terdiri dari 4 kamar. Rumahnya rapih besar, tampak nyaman untuk dijadikan tempat tinggal tapi sangat sepi.


"Teman Dokter Anya ya?" tanya perempuan paruh baya itu.


"Iya Bu, perkenalkan saya Alya"


"Dokter juga?" tanya Bu Dati


"Iya Bu" jawab Alya sopan.


"Saya Dati, yang bertugas memersihkan rumah. Tadi Non Anya telpon. Kamar Non Anya dikunci, Non Alya bisa tunggu di sini" tutur Bu Dati menunjukan ruang tengah ke Alya untuk istirahat.


"Terima kasih Bu" ucap Alya sopan ke Bu Dati.


Alyapun duduk menunggu temanya sambil nonton TV. Bu Dati menjelaskan dua penghuni kos lain mahasiswa tapi sedang libur. Alya mengangguk tanda mengerti. Setelah menjelaskan Bu Dati pergi ke kamarnya meninggalkan Alya sendirian.


"Insya Alloh di sini kita nyaman dan aman sayang, kamu harus tumbuh sehat Nak, kalau kamu udah mulai keliatan, ibu akan ambil cuti, kita ke Jogja ya", Alya mengelus perutnya lagi sambil berkata dalam hatinya sendiri.


Sekitar satu setengah jam Alya menunggu, Anya pulang dari shift sorenya mereka berdua pun masuk ke kamar Anya. Mereka bersih-bersih badan, sholat dan bersiap istirahat.


"Sorry ya lama nunggunya" ucap Anya ke Alya.


"Nggak lama kok!"


"Eh tapi tante Lo nggak masalah Lo pergi?"


"Tanteku lagi di Singapur Nya"


"Berarti selama ini lo berdua dong sama sepupu lo itu?" tanya Anya nyeplos membuat Alya terdiam.


"Pasti nggak nyaman yak tinggal berdua sama sepupu laki-laki? Tapi setelah liat berita di tv, harusnya lo ngrasa aman Al, secara ternyata sepupu Lo nggak suka cewek iya kan? Tapi kenapa lo pergi?" celetuk Anya lagi semakin membuat Alya jengah.


"Jadi kamu ikhlas nggak aku tinggal di sini?" tanya Alya sewot.


"Ya ampun, kenapa kamu jadi tersinggung gitu. Gue kan cuma tanya. Ya ikhlas lah, ikhlas banget, gue juga seneng jadi ada temen di kamar" jawab Anya jujur.


"Ya udah nggak usah bahas sepupuku lagi yah, please!"


"Tapi gue penasaran Al"


"Penasaran apalagi?"


"Lo punya saudara sekaya Gunawijaya kenapa diam aja sih, terus kenapa penampilan lo biasa-biasa aja!"


"Stop bahas keluarga tanteku! Ok?"


"Ya ya, eh nggak ding! Aku cuma mau bilang, yang aku bilang aku pernah ketemu sama sepupu lo, itu bener, gue nggak salah lihat, sepupu lo itu orang yang anter hp Dokter Gery yang dikasih ke Elo. Makanya mobilnya sama kek yang digunain buat anter Lo waktu itu"


"Oh ya?" tanya Alya sedikit antusias. Ternyata benar Ardi yang menemani Gery memberi ponsel.


"Iya, karena ternyata kata Dokter Mira, dia sama Dokter Gery sahabatan. Aneh nggak sih? Kok lo nggak tau?"


"Ehm! Sepupuku baru pulang dari Australi, terus aku kan selama ini di Jogja, mana ada, aku tau tentang hidupnya! Bukan urusanku juga tau siapa aja temanya" jawab Alya tidak mau disalahkan, karena memang nyatanya Alya untuk urusan itu tidak berbohong dan tidak tahu.


"Ya udah yuk tidur!" ajak Anya menarik selimut. Alya mengangguk dan ikut membaringkan tubuhnya. Tapi Alya tidak tidur.


"Pantes Mas Ardi langsung banting ponsel dari Dokter Gery, ternyata memang dia yang temani buat beli. Ya Tuhan kenapa bisa kebetulan begini?" gumam Alya belum tidur.


"Dokter Gery pasti sakit hati banget ke Mas Ardi. Terus Mas Farid, apa dia juga kenal dengan Dokter Gery? Dokter Mira juga? Apa ini? Kenapa aku terjebak di jalan yang begini? Kalau ternyata mereka juga saling kenal gimana ya?"

__ADS_1


"Ya Tuhan, aku nggak ingin bohong lagi. Aku pingin secepatnya jelasin ke Anya, dan semuanya. Tapi bagaimana caranya. Kenapa tidak ada keberanian di mulutku untuk jujur, semakin lama aku akan semakin banyak berbohong"


Alya gelisah, membatin sendiri sambil tidur miring. Lalu terlentang lalu miring lagi. Pikiran Alya berjalan-jalan tidak bisa tenang.


"Intan? Siapa dia? Kenapa Bu Rita nggak pernah cerita? Apa Mas Ardi masih berhubungan dengannya? Seperti apa orangnya? Apa Mas Ardi cinta ke aku? Lalu bagaimana nasib bayiku?"


Alya menghela nafasnya kasar. Alya benar-benar tidak bisa tidur. Pertanyaan-pertanyaan tentang suaminya berdatangan di otaknya. Alya mencoba memejamkan mata tapi tetap tidak bisa tidur.


"Mas Ardi, apa dia sudah pulang, apa dia tau aku pergi? Apa responya, apa dia mencariku? Apa dia sedih?" otak Alya belum juga beristirahat dan masih dipenuhi tanda tanya.


"Apa keputusanku benar? Atau salah? Tapi rasanya males banget jika harus bertemu Mas Ardi, aku tidak mau melihatnya lagi" batin Alya lagi belum bisa tidur sambil membuka selimutnya.


"Alya!" panggi Anya menyadari temanya dari tadi gelisah tidak segera tidur.


"Iya Any!"


"Lo kenapa sih dari tadi gue perhatiin gelisah nggak jelas?"


"Nggak apa-apa, haus aku tuh" jawab Alya mencari alasan.


"Tuh minum!" jawab Anya menunjukan dispenser di dekat meja. Alya bangun dan mengambil minum.


"Tenang Alya, fokus ke magang dan bayimu, aku harus sehat. Terserah apa yang terjadi dengan si vampir rasa serigala itu. Bahkan nasib rumah tanggaku ke depan nggak jelas. Aku harus sehat dulu!" batin Alya lagi sambil meminum air putih berusaha tenang. Lalu Alya kembali berbaring untuk tidur.


"Udah tidur nggak usah gelisah lagi, baca doa" tutur Anya sambil memejamkan mata.


"Iyah, maafin yak udah ganggu. Met bubu" jawab Alya lalu menarik selimut dan memejamkan mata.


****


Rumah Tuan Aryo.


Menyadari istrinya pergi karena termakan gosip Ardi langsung mengeluarkan cakarnya. Kebencianya terhadap Lila semakin memuncak. Ardi kalang kabut, seperti kehilangan dunianya. Ardi langsung pergi ke rumah Tuan Aryo dan mengumpulkan anak buahnya.


Masalah yang Ardi anggap sepele ternyata berefek parah untuk istrinya. Ardi fikir Alya akan dewasa ssperti ibunya. Ardi berfikir Alya bisa mengerti resiko menjadi istri pembisnis akan banyak guncangan.


Ardi segera mengerahkan anak buahnya. Mencari tahu keberadaan istrinya. Termasuk mengecek cctv apartemen. Beberapa juga berjaga-jaga di rumah sakit. Ardi juga menghubungi anak buahnya untuk mencari kelemahan Lila untuk memberinya pelajaran. Ardi juga meminta keterangan apa saja yang bisa dijadikan bukti ke istrinya nanti kalau dia tidak bersalah.


Rambut Ardi acak-acakan, wajahnya kusut dan kusam. Ardi hanya duduk memegang kepalanya di kursi di ruang kerja. Ardi memutuskan menginap di rumah besar orang tuanya.


Ardi memandangi komputer, saat anak buahnya menyerahkan rekaman cctv apartemen Aerim. Di situ tampak jelas, perempuan berjilbab dengan menggunakan gamis polkadot menenteng tas pakaian. Alya terlihat sangat kasian, Ardi menjadi semakin merasa bersalah dan frustasi. Tapi rekaman Alya naik angkot tidak masuk ke cctv sehingga Ardi tidak bisa melacak lagi Alya kemana.


"Maafkan saya Tuan" ucap Arlan meminta maaf dan menyesal.


"Tidak ada gunanya minta maaf Arlan, yang penting sekarang istriku harus segera kembali" ucap Ardi sambil mengetuk meja. Arlan hanya diam menunduk merutuki kesalahanya.


"Tinggalin gue sendiri!" perintah Ardi ke Arlan. Lalu Arlan keluar.


Sesaat Ardi diam lalu teringat akan sahabatnya Gery. Gery satu rumah sakit dengan Alya Gery bisa membantunya bertanya tentang alamat teman-teman Alya.


Ardi mengambil ponsel yang ditinggalkan Alya. Ternyata benar di riwayat panggilan ada nomer Gery. Ardi langsung menghubungi Gery. Tapi sayang sambungan telp Ardi tidak terhubung. Sepertinya Gery memblokir nomer Ardi.


"Shit! Gue harus temuin Gery!" gumam Ardi dalam hati. Lalu Ardi berfikir bagaimana cara hubungi Gery, tiba-tiba Ardi teringat Farid.


Ardi tertawa sendiri seperti orang gila. Lalu mengusap wajahnya kasar.


"Bodoh sekali, kenapa selera kita sama!" ucap Ardi merutuki dirinya.


Ardi baru sadar, kalau dirinya dan kedua sahabatnya bukan hanya kompak ketika bermain musik saat SMA atau ketika ngobrol. Bahkan tanpa disadari mereka jatuh hati pada perempuan yang sama di tempat berbeda.


"Apa sekarang waktunya gue jelasin ke Farid dan Gery, kalau Alya udah jadi istri gue? Gue nggak mau Gery beneran nggak mau temenan sama gue. Gue juga nggak mau Farid salah paham"


Lalu Ardi mengambil ponselnya dan menghubungi Farid.

__ADS_1


"Lo dimana?" tanya Ardi ke Farid.


"Gue masih di jalan Bro"


"Malam ini bisa kumpul nggak? Gue mau ngomong"


"Sory, gue capek banget. Lain kali yak!" jawab Farid menolak. Farid masih di jalan setelah mengantar Alya.


Ardi hanya diam pasrah dan meletakan ponselnya lagi. Ardi berfikir menunda memberitahu temanya sampai bertemu Alya. Ardi diam menunggu kabar dari anak buahnya.


Beberapa anak buah laporan kalau di terminal, stasiun dan bandara yang tujuan ke Jogja tidak ada Alya. Itu berarti bisa diambil kesimpulan kalau Alya tidak pulang ke ibunya.


Ardipun menyuruh anak buahnya untuk mengawasi rumah sakit mencari tahu tentang permpuan bernama Anya. Ardi yakin Alya masih bekerja dan akan muncul di rumah sakit di keesokan harinya, begitu juga temanya.


Kemudian Ardi pergi ke balkon mengambil rokok dan menghabiskan malamnya dengan hisapan rokok di tanganya.


****


Kos-kosan Anya.


Pagi harinya Alya terbangun subuh-subuh. Seperti hari kemarin, Alya terbangun dengan dorongan perut yang sangat menyiksa. Alya langsung berlari ke kamar mandi untuk menyalurkan rasa mualnya. Badanya terasa lemas tidak bertenaga.


Anya yang melihat temanya muntah-muntah menatap Alya heran.


"Al" panggil Anya ke Alya.


"Iya Nya"


"Lo kenapa? Lo sakit?" tanya Anya ke Alya lalu membantu Alya mengolesi minyak angin.


"Mungkin kecapean doang" jawab Alya menyembunyikan kehamilanya.


"Lo ijin aja nggak usah kerja kalau sakit" ucap Anya ke Alya.


"Nanti juga mendingan kok, sholat yuk" jawab Alya mencoba mengalihkan pembicaraan.


Anya hanya melihat Alya nanar. Lalu mereka menunaikan sholat subuh setelah mencuci muka dan sikat gigi. Setelah sholat Alya kembali mual, Alya segera melepas mukenahnya dan berlari ke kamar mandi.


Tanpa sadar Alya menguncir rambutnya ke atas. Alya berjalan lemas lalu duduk di kamar Anya. Anya menatap Alya dengan kasian. Alya terlihat sangat pucat dan lesu.


"Al" panggil Anya lagi.


"Iya Nya..."


"Minum obat yah, istirahat aja!"


"Iya Anya sayang, aku nggak apa-apa kok. Nanti juga baikan" jawab Alya menenangkan sahabatnya yang tampak khawatir.


"Al" panggil Anya lagi.


"Iyah, apa lagi?"


"Hasil laboratorium lo, widal lo bagus, leukosit lo bagus, semuanya bagus. Lo kaya orang hamil tau nggak?" ucap Anya tiba- tiba mengungkap kecurigaanya.


Alya menatap Anya dengan gelagapan.


"Ngomong apa sih kamu Nya?" jawab Alya ngeles lalu menunduk.


"Lo jujur kan, lo nggak telat mens?" tanya Anya lagi masih menyimpan curiga.


"Nggak" jawab Alya singkat sambil membuang muka dan menelan salivanya karena berbohong.


Anya menatap Alya penuh telisik. Anya merasa sikap Alya aneh. Mata Anya terhenti pada leher Alya. Anya membulatkan matanya dengan baik.

__ADS_1


Alya selama ini selalu menutup rambutnya dengan jilbab, jadi Anya tidak pernah melihat leher Alya. Dan pagi ini Anya dengan jelas melihat leher jenjang Alya yang putih. Di leher Alya ada ruam ungu, banyak lagi. Anya yang sudah dewasa dan seorang dokter langsung paham dengan pemandangan di depanya. Anya lansung menarik Alya dan memperhatikan leher Alya dari dekat.


"Al! Ini apa?" tanya Anya spontan.


__ADS_2