
****
Jakarta
"Mereka kan sudah menikah, seharusnya mereka tinggal bersama" ucap Sinta ke Intan masih di dalam mobil.
"****, dimana sih mereka?" umpat Intan kesal mengeraskan rahangnya.
Intan sudah pura-pura jadi pasien di rumah sakit priksa ke rawat jalan tapi tidak bertemu Alya. Intan juga memata-matai kos-kosan Anya tapi kos-kosan Anya tampak sepi.
"Lo yakin udah ke rumah Ardi? Dia kemarin datang ke danau kok" tutur Sinta lagi.
"Tapi gue nggak nemuin mereka di rumah besar itu!" jawab Intan.
Selama 2 hari ini Intan memata-matai rumah Ardi. Samasekali tidak Tampa perempuan berjilbab, tidak juga tampak perempuan berbaju selain baju pelayan. Bahkan tidak ada anggota keluarga ataupun pekerja di rumah Ardi yang keluar rumah. Karena pelayan Ardi tinggal di rumah Ardi dan persediaan makanan cukup.
"Emang apa rencana lo?" tanya Sinta.
Kemudian Intan tersenyum seperti orang kesetanan. Baru saja dia terlihat kesal dan marah sekarang tersenyum sendiri.
"Untuk bisa menyakitinya, gue juga harus bisa mengambil hati dan dekat denganya" jawan Intan dengan tatapan menerawang.
"Terus?" tanya Sinta penasaran apa yang ada di otak Intan.
"Heem. Gue nggak sabar buat ketemu istri Ardi, seberapa hebat dia berani mengambil tempat gue. Gue nggak sabar liat reaksinya melihat foto-foto ini, seberapa kuat dia?"
"Hahahaha, gue nggak nyangka ya Tan, lo emang cerdas, ni pesenan lo" jawab Sinta memberikan bungkusan obat yang Sinta dapatkan dari temanya. Entah obat apa itu.
"Thanks, kita temuin Mira sekarang"
"Mira?" tanya Sinta.
"Iya, dia nunggu di kafe Estela" jawab Intan menyalakan mobil.
****
Tbc Masih di Jogja.
Melihat Anya masuk ke kamar. Dinda pun ikut bergegas ke kamar dan meninggalkan Dika.
"Huft" Anya terlihat menepuk-nepuk dadanya sendiri dan terlihat seperti orang habis lari maraton.
"Lo kenapa Nya?" tanya Dinda merasa ada yang aneh dengan Anya. Kata Dika Anya menangis tapi sekarang tampak seperti habis dikejar sesuatu, wajahnya memerah.
"Nggak apa-apa" jawab Anya tidak ingin ketahuan Dinda, Anya sedang dheg-dhegan baru sadar habis berduaan dengan Farid. Anya juga nggak mau Dinda tau kalau Farid itu calon suaminya. Lalu Anya membersihkan wajahnya dan bersiap tidur.
"Katanya lo dimarahi Kak Ardi ya?" tanya Dinda membuka pembicaraan saat Anya hendak tidur.
"Iya, coba pikir, kita salah nggak sih? Nggak bantuin Alya?" tanya Anya mengingat kejadian tadi.
"Ya kalau dipikir-pikir salah sih. Kita kan di sini perempuan bertiga doang, berempat tapi Bu Mirna lagi sakit, nggak ada pembantu, bukan hotel juga. Harusnya pekerjaan rumah tanggung jawab kita" jawab Dinda memikirkan kesalahanya.
"Iya, gue kan tadi juga mau bantuin, tapi Alyanya nolak" sambung Anya lagi.
"Iyah kan Alya emang selalu gitu. Hemmm. Alyanya kelewat baik, apa kita yang nggak tau diri? Apa Kak Ardi yang over sih?" tanya Dinda balik.
"Alya emang selalu baik. Tapi keadaan sekarang beda, Alya sedikit banyak berubah" tutur Anya pelan.
Anya kembali terbayang, Alya dari awal ketemu memang selalu memudahkan Anya dan Dinda. Termasuk pekerjaan rumah sakit, waktu ngerjain laporan, ataupun pergantian pasien, Dinda dan Anya seringnya terima beres. Alya juga sering bawain Anya dan Dinda makanan.
__ADS_1
"Ya intinya besok kita harus ngomong baik-baik ke mereka, kita minta maaf. Alya sekarang kan beda dengan yang dulu. Ada Kak Ardi di sampingnya, Alya sekarang juga lagi hamil" sambung Anya lagi dengan nada lebih semangat.
"Kak Ardi marah banget ya? Duh kita gimana dong?" jawan Dinda membayangkan besok akan canggung.
"Suami Alya emang gitu. Kata A' Farid dia cepet kok balik baiknya. Pokoknya kita besok harus. Terus kita harus bangun pagi-pagi beres-beres rumah buat nebus kesalahan kita" tutur Anya memberi usul.
"Duh tempat dingin begini apa gue bisa bangun pagi ya?" tanya Dinda malas.
"Hidupin alarm, harus bisa" jawab Anya.
"Ya ya. Eh Nya. Kok lo bisa deket gitu sama Kak Farid? Lo udah kenal sebelumnya" tanya Dinda tiba-tiba.
Dinda merasa ada yang beda dari Farid. Dinda belum tahu apa-apa, karena Dinda dan Anya jarang libur bersama dan jarang cerita pribadi. Alya saja tahu, baru saja karena Farid nganter Alya ke kos Anya. Padahal Anya dan Alya lumayan sering curhat.
"Katanyaa mau bangun pagi pagi. Nggak usah ngobrol ayo tidur!" jawab Anya mengalihkan pembicaraan.
"Ish. Iya ya. Bangunin gue loh. Sini selimutnya" ucap Dinda menarik selimut lalu mereka memejamkan mata.
Meskipun di balik selimut sebenarnya Anya masih terjaga. Anya masih membayangkan Farid. Apa iya dirinya dan Farid benar-benar akan menikah dalam waktu dekat. Anya juga gelisah bagaiamana besok Anya akan menghabiskan liburanya bersama Farid.
"Aah benarkah dia akan menjadi sumaku?" batin Anya bergidik membayangkan disentuh Farid dan hidup bersamanya.
****
Di dapur
"Air dan udaranya dingin banget gini, kamu nggak kedinginan apa Yang?" tanya Ardi sambil duduk di kursi menunggu Alya membuatkan jahe hangat.
"Ya dingin. Tapi kan Lian udah terbiasa Mas" jawab Lian memberikan secangkir jahe hangat.
"Lain kali jangan apa-apa dikerjain sendiri. Mas nggak mau kamu kenapa-kenapa. Mas juga nggak tega kamu ngerjain pekerjaan begituan. Kamu tuh kaya Art aja" tutur Ardi memberi peringatan lalu menyeruput jahe hangat di depanya.
"Maas. Kalau bukan Lian siapa lagi? Ini kan di kampung bukan di Jakarta. Udah sih nggak usah bahas terus. Nggak boleh berfikir negatif! Lian baik-baik aja" jawab Lian lembut memberi pengertian ke suaminya.
"Ish mulai deh" jawab Alya mendesis menatap suaminya.
Alya mulai hafal sifat suaminya. Kalau sedang mengancam begini jangan dilawan, nanti berbuntut panjang. Alya memperhatikan suaminya yang sedang menyeruput jahe dan tampak cuek.
"Ya suamiku sayang, Lian akan patuuh dan ikutin mas" tutur Lian mengalah. Ardi masih cuek menikmati jahe hangat.
"Lian akan patuhi mas, Lian nggak akan nyentuh pekerjaan dapur lagi. Lian nggak akan nglakuin pekerjaan apapun lagi. Tapi pertanyaan Lian, siapa yang akan beresin rumah dan melakukan semua itu? Apa Mas yang mau gantiin?" sambung Lian lembut dan penekanan sekaligus menyindir.
"Uhuk uhuk" Ardi tersedak mendengar perkataan Lian.
Ardi diam, memikirkan perkataan Lian. Benar juga sih, di Jogja Ardi tidak bisa memperlakukan Lian sama seperti di jakarta. Berarti harus nyari pelayan, tapi siapa? Ardi dan Alya saja perdana mudik bersama.
"Ehm. Maksudnya Mas, kan nggak harus dikerjain sendiri, malam-malam juga, kalau kamu sakit gimana? Bisakan paginya, atau minta tolong temenmu itu suruh bantuin" tutur Ardi panjang.
"Mereka kan capek mas, besok harus bangun pagi-pagi buat pergi. Mereka juga tamu, yang maksa Anya tidur di sini kan Mas, harusnya mereka tidur di hotel. Terus Anya dan Dinda kan anak orang kaya, mereka nggak pernah ngerjain kaya gini, Lian nggak enak" jawab Lian mencurahkan pikiranya.
"Kenapa peduli orang lain sih? Nggak peduli diri sendiri! Ingat kamu sekarang nggak sendirian. Ada anak Mas di kamu. Jaga dia. Teru sekarang tangan kamu, kaki kamu semuanya punya Mas, jangan sembarang gunainya" jawab Ardi posesif merasa pendapatnya benar.
"Ish! Yaa yaa, Lian minta maaf, jadi intinya gimana? Masih boleh kaan ngerjain, cuma lain waktu nggak boleh malam? Begitu maksudnya?" jawab Lian lagi minta maaf tapi masih mau menekankan ke suaminya, kalau kadang perintah suaminya tidak memikirkan realitanya.
"Tetap aja Mas khawatir. Kalau tangan kamu kasar gimana? Mas nggak mau disentuh tangan kasar" jawab Ardi ngasal tidak mau terlihat salah.
"Tau ah pusing Lian, hal kecil begini juga jadi masalah" ucap Lian sedikit kasar karena kesal, tidak berhasil membuat Ardi berfikir lurus dan sedikit normal.
"Lastri itu kerja nggak? Apa masih sekolah?" tanya Ardi tiba-tiba.
__ADS_1
Alya tercengang tiba-tiba suaminya mengingat Lastri.
"Seingat Lian dia baru lulus madrasah tsanawiyah, karena bapak Lastri udah meninggal sekarang Lastri angon wedus" jawan Lian sambil bergumam.
"Ya udah besok kita ke rumah lastri" jawab Ardi memberi keputusan.
"Mas mau dia kerja di kita?"
"Iyah, mas kasih gaji lebih. Yang penting istri mas nggak bau bawang sama sabun cuci piring" jawab Ardi manyun.
"Hemm. Yaya, udah yuk tidur, nggak usah debat lagi" ajak Lian
"Ayuk. Jadi kan?" jawab Ardi antusias sambil memberi kode
"Katanya Lian bau bawang sama sabun cuci piring? Tangan Lian kasar? Masih mau? Masih doyan sama Lian?" tanya Lian meledek.
"Hemm, terus kamu mau mas nyari perempuan yang wangi di luar sana?" tanya Ardi meledek istrinya
"Ya jangan! Enak aja! Mas punya Lian, nggak boleh disentuh selain Lian. Nanti Lian pake parfum biar bau bawangnya ilang" jawab Lian mulai agresif.
"Gitu dong! Jaga. Selalu wangi buat Mas"
"Iya ya, udah sih. Ayuk" Lian menarik dan menggandeng suaminya berjalan ke kamar.
Melihat istrinya agresif Ardi rasanya seperti diberi hidangan makanan kesukaanya. Ardi sangat semangat menyambutnya. Mereka berdua meninggalkan ruang makan.
Di ruang tivi mereka bertemu Dika. Dika pamit pulang karena tidak mau merepotkan. Farid sendiri sudah beristirahat. Ardi moodnya sudah sangat baik dan ramah ke Dika.
Ardi dan Lian masuk ke kamar. Seperti biasanya, saat berada di kamar Lian melepas jilbab dan daster kebesaranya. Alya memakai baju tidur kesukaan suaminya yang hanya boleh dilihat Ardi.
Dress tidur warna gold dengan dada terbuka tanpa lengan setinggi lutut. Dihiasi renda halus di ujungnya. Kulit putih Lian yang selalu tertutup ketika di luar kini terlihat sempurna. Bahkan dua mainan Ardi sedikit terlihat, seakan melambai menanti dijamahnya.
Alya ke kamar mandi mencuci muka dan sikat gigi. Kemudian menyisir rambutnya, memakai krim perawatan wajah dan sedikit minyak wangi. Lian menjadi perempuan yang terlihat sangat berbeda dari yang Ardi lihat tadi saat mencuci alat-alat masak di sumur.
"Sayang" bisik Ardi lembut memberi kode.
Ardi melingkarkan tangan ke pinggul istrinya. Lalu meletakan dagunya di bahu Lian yang masih berdiri di depan meja rias sedang meletakan ikat rambut di gantungan aksesorisnya.
"Hemm" jawab Lian paham.
Lalu Lian menyibakan rambutnya yang terurai dan mengumpulkan ke arah samping. Kini satu sisi samping leher putih Lian terpampang nyata. Ardi mendengus mesra di leher dan bawah kuping Lian, membuat Lian merasa kegelian dan menggeliat.
"Lampunya dimatikan yah" bisik Lian menoleh dan memutar badan menatap ke suaminya.
"Jangan, mas mau lihat istri mas yang cantik dan indah ini" jawab Ardi membelai rambut Lian dan turun ke pipi Lian.
"Pintunya udah ditutup?" tanya Lian lagi.
"Udah" jawab Ardi menggerakan tanganya menggendong Lian dan mengangkatnya ke kasur.
"Mana itu masih belum rapat, kebiasaan deh. Tutup dulu. Sampai bunyi klek gitu" jawab Lian menoleh kepintu dan memastikan. Ternyata benar, Ardi memang tidak menutup dengan baik. Hampir saja kelupaan. Sekarang kan di rumah ketambahan ibu, Farid dan Dinda. Bahaya kalau nutupnya nggak bener.
"Iya maaf, mas tutup dulu yah. Cup" jawab Ardi mencium kening Alya tidak sabar. Lalu segera berbalik menutup pintu dan kali ini Ardi menguncinya rapat. Setah Ardi segera menyusul istrinya ke kasur. Ardi menurunkan tali dress Lian yang longgar.
"Ingat pesen dokter Mas" tutur Lian pasrah membiarkan Ardi membuka dressnya.
"Iyah Mas ingat"
"Awas kalau kelepasan di dalam"
__ADS_1
"Nggak sayang, kan bisa diatur, kamu juga krasa kan kalau mau keluar?"
****