
"Mba Ida" panggi Alya masuk ke dapur.
Kini Alya sudah rapih dan berdandan, bersiap mengabdikan dirinya melayani pasien-pasien yang berobat.
"Iya Non, ada apa Non?" jawab Mba Ida.
"Mba Fitri kemana ya kok aku belum lihat?" tanya Alya menanyakan pengawal dan sopirnya.
"Lhoh Non Alya nggak tahu. Kan pas kemarin Tuan Muda masuk ke rumah sakit. Neng Fitri ambil cuti 3 hari" jawab Mba Ida.
"Cuti?" tanya Alya heran.
"Iya Non, dia bilang gitu ke kita" jawab Bu Ida lagi.
"Perasaan Fitri nggak ada wa aku atau Mas Ardi deh" gumam Alya berfikir.
"Gimana Non?" tanya Ida mendengar Alya bergumam
"Hmm nggak! Gimana ya? Aku mau berangkat kerja Mba?" tanya Alya meminta pendapat caranya berangkat kerja dan tidak memusingkan masalah Fitri.
Ida kemudian Diam, semenjak Bu Rita ke Singapure, sopir pribadi Bu Rita, kerja hanya sesuai panggilan, akhirnya dia memilih kerja di yayasan Gunawijaya, bukan rumah utama.
Pak Arlan sedang mengantar Ardi, dan Pak Rudi mengantar Tuan Aryo. Sopir Alya seharusnya Fitri, tapi Fitri tidak berangkat.
"Telepon Mang Darman aja Non" tutur Ida memberi ide. Mang Darman sopir pribadi Bu Rita.
"Saya butuh cepet Bu" jawab Alya mengingat waktu kerjanya udah mepet.
"Duh gimana ya Non?" tanya Ida ikut pusing memikirkan bagaimana Nona Mudanya berangkat kerja.
Padahal di garasi rumah Alya banyak mobil. Sayang Alya belum mahir mengendarai mobil.
"Coba Mas Ardi ijinin aku nyetir sendiri, pasti nggak repot gini deh" gerutu Alya kesal.
Lalu dari arah luar rumah, tukang kebun Tuan Aryo datang mengendarai motor bebeknya. Alya langsung memancarkan senyum manisnya dengan wajah berbinar.
Alya langsung berlari keluar rumah menuju ke Mang Asi. Melihat tingkah Nona Mudanya, Ida bingung kemudian ikut keluar.
"Pak Adi, stop!" perintah Alya memberhentikan Mang Adi.
"Iya ada apa Non?" tanya Mang Adi pucat dikira berbuat kesalahan, Mang Adi mematikan mesin motornya tapi masih duduk di motor.
"Sini motornya. Stnknya ada kan?" tanya Alya semangat.
"Ada Non, ada di jok motor" jawab Mang Adi bingung mau apa nona mudanya tanya STNK.
"Turun Pak! Cepetan, saya pinjam motornya!" perintah Alya dengan wajah gemasnya.
"Pi_ pinjam motor saya Non?" tanya Mang Adi gugup.
"Iya buruan, saya telat" tutur Alya memburu.
"Tapi. Tapi motor saya begini Non" jawab Mang Adi mempelihatkan motor kesayanganya mulai usang.
Bukan karena keluarga Tuan Aryo membiarkan karyawanya hidup memprihatinkan, tapi motor baru Mang Adi dipakai sekolah anaknya. Mang Adi mengalah memakai motor butut.
"Non jangan pakai motor!" tegur Ida mengimbuhi.
"Iya Non jangan!"
"Kenapa?" tanya Alya heran ke kedua pekerjanya, kenapa menegurnya.
"Non nanti kita kena tegur, Tuan Muda pasti marah, Non Alya kan udah diperingati, Non harus naik mobil, harus diantar" tutur Ida menasehati.
"Motornya juga udah tua Non, nggak pantes dipake Non Alya" sambung Mang Adi.
"Mbaa, Pak, udah nggak ada waktu, aku telat? Aku harus berangkat sekarang! Sini helemnya" jawab Alya meminta paksa helm Mang Adi.
"Mang Adi bisa naik mobil? Antar Non Alya geh! Daripada kita kena marah Tuan Muda" bisik Ida ke Mang Adi.
"Aduh saya trauma kecelakaan. Terus sim A ku mati" jawab Mang Adi menggaruk rambutnya.
"Tuh denger Mba Ida. Mang Adi nggak bisa. Santai aja. Aku ahli kalau masalah naik motor. Kalian dimarahi atau tidak. Tergantung mulut kalian. Bekerja samalah denganku, ini rahasia kita. No bilang-bilang suamiku! Apalagi mama Rita. Oke?" tutur Alya mengerlingkan mata ke pekerja di rumah besar mertuanya itu.
Mang Adi dan Ida pun akhirnya hanya mengangguk menyerahkan kunci motor dan helmnya ke Nona Mudanya.
Untung hari itu Alya pas mengenakan pakaian kemeja batik dan celana kain. Jadi Ida dan Mang Adi tidak khawatir Alya ribet.
Biasanya Alya memakai gamis kebesaranya. Meskipun Alya nyaman-nyaman saja, tapi yang lain akan ngeri melihatnya, takut masuk ke rantai.
Dengan mantap, Alya memakai helm, naik motor bebek merek shogun berwaran merah, dengan helm bawaan motor merek tetangga berwarna hitam, itu helem bawaan motor anaknya Mang Adi yang baru.
Tanpa diberitahu, Alya menyalakan mesin dengan dorongan kakinya, karena tombol startnya mati. Meski lagi hamil ternyata Alya cukup kuat.
Mba Ida dan Mang Adi terbengong melihat aksi Alya. Entah bagaimana asal muasal Nyonya Mudanya itu. Alya terlihat profesional menangani motor butut. Alya terlihat perkasa dan lues.
Bahkan Alya tidak nampak seperti istri Ardi Gunawijaya yang amat disayangnya, tampang dokter pun tidak ada. Alya seperti emak-emak yang mau belanja ke pasar.
"Assalamu'alaikum Pak Adi, Mba Ida, aku berangkat yaa!" ucap Alya berpamitan dengan ceria dan melajukan motornya.
"Walaikum salam. Hati-hati Non. Kalau macet telp ya Non"
"Aman kok santai" jawab Alya melambaikan tangan ke atas tanpa menoleh ke belakang.
Mba Ida dan Mang Adi hanya menatap ngeri kepergian majikanya itu. Tapi mereka tidak bisa mencegah.
Hanya satu kesimpulanya, istri tuan mudanya itu ternyata perempuan tangguh dan tidak manja.
"Semoga Non Alya selamat dan selalu dilindungi Alloh. Beruntung Den Ardi dapat perempuan seperti Non Alya" tutur Mba Ida.
__ADS_1
"Iya, udah cantik, baik, ramah, pekerja keras, tidak sombong, lucu, low profil lagi" sambung Mang Adi.
"Semoga mereka semua berbahagia dan selalu dilindungi"
"Aamiin"
"Udah yuk kita kerja lagi" jawab Mba Ida lalu mereka kembali bekerja.
****
"Wuss"
Alya mengendarai motor dengan cepat melewati mobil honda crv warna hitam yang terparkir di pinggir jalan depan istana tuan Aryo.
Pengendara mobil itu sebenarnya juga sedang berjaga menunggu Alya. Tapi karena penampilan Alya yang berbeda membuat mereka tidak mengenali Alya.
"Kenapa lama sekali perempuan itu keluar dari rumah gedong ini?" tanya salah satu pengendara mobil itu.
"Sabar, hafalkan nomer plat mobil yang gue tulis, itu daftar mobil yang mereka pakai" jawab rekan yang lain.
"Lo bener kan nyatetnya?"
"Ya bener dong!"
"Apa jangan-jangan udah lewat, tapi dari tadi emang nggak ada mobil lewat kok"
"Udah tunggu aja"
"Oke, tapi lo bener kan dia akan keluar hari ini?"
"Iya, gue denger kemarin mereka bercakap-cakap. Hari ini istri bajingan tengik itu berangkat kerja, kita sikat sekarang aja!"
"Oke"
"Dari intaian gue tadi, dia juga tidak ikut rombongan ke Bogor"
"Oke gue percaya lo"
"Ya udah liatin jalan lagi jangan sampai kecolongan!"
"Yoi!"
Lalu kedua orang itu mematai-matai semua yang keluar masuk ke rumah Tuan Aryo. Sayangnya sampai berjam-jam mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Bahkan seakan mereka malah jadi satpam gratis untuk Tuan Aryo, menunggui depan rumahnya sepanjang hari.
****
Alya sampai di depan rumah sakit. Diparkirkanya motor Mang Adi di parkiran karyawan. Tukang parkir sedikit heran karena motor yang dibawa Alya paling butut. Padahal salah satu tukang parkir kenal siapa Alya.
Tidak peduli pandangan orang, Alya berlenggang ke IGD dengan santai. Alya masuk ke ruangan kerjanya, mengganti pakaian dengan seragam scrubnya. Dan Alya siap beraksi menjadi pendekar IGD.
"Dok pasien kejang, anak usia 3 tahun"
"Dok, pasien demam"
"Dok pasien sesak"
Pasien silih berganti datang dan pergi. Alya dan tim bekerja keras pagi itu. Sekitar pukul 13 siang barulah tirai-tirai IGD terbuka, sebagai tanda penghuninya sudah dipindah ke ruang rawat.
"Hah akhirnya istirahat" tutur rekan dokter umum Alya melepas handscoonya lalu merebahkan badanya di bangku.
"Alhamdulillah" ujar Alya menimpali.
Alya pun mencuci tanganya, menyempatkan diri untuk sholat dzuhur dan meminum susu hamilnya. Kemudian Alya bergabung bersama perawat dan dokter lain.
Saat berkumpul di nurse stasiun, beberapa perawat bergosip. Salah satu rekan perawat Alya tampak asik bermain game puzzle mengisi waktu kosongnya. Alya meliriknya.
"Kamu suka main puzzle Kak?" tanya Alya ke perawat
"Suka banget Dok, kaya mecahin teka teki dan menyusin puing berantakan" jawab perawat.
"Oh iya? Kenapa suka?" tanya Alya
"Ada sensasi tersendiri saat kita berhasil menggabungkanya. Pokoknya suka aja" jawab perawat yang bernama Linda.
Lalu Alya teringat PR nya, menyusun sobekan kertas kado dari orang misterius tadi pagi. Kenapa reaksi Tuan Aryo terlihat kesal.
"Apa kau mau membantuku?" tanya Alya.
"Bantu apa Dok?"
"Menyusun kembali robekan kertas yang sudah tercerai berai"
"Wah menantang itu!" jawab Linda bersemangat.
"Jadi mau?"
"Mau Dok!"
"Oke, ke ruanganku yuk!"
"Ayuk"
Lalu Alya dan Linda masuk ke ruang istirahat Alya. Alya kemudian mengeluarkan platik berisi potongan kertas dari tasnya.
"Aku penasaran dengan isi pesan ini, tolong susunkan untukku" pinta Alya ke Linda.
Alya sudah stress dan dibuat pusing dengan sobekan kertas Tuan Aryo. Tapi Alya juga penasaran. Alya berharap Linda jadi pahlawan untuknya.
__ADS_1
"Wah ini rumit Dok!" tutur Linda melihat potonganya kecil.
"Yaah. Terus bisa nggak? Mau nggak? katanya suka? Masa nyerah gitu?" tanya Alya sedih dan kecewa.
"Bukan nyerah Dok. Dalam setiap kerja keras harus ada hasil yang mengikuti, hehe" jawab Linda nyengir memberi isyarat butuh imbalan.
"Hemm, yaya. Kamu butuh berapa katakan!" jawab Alya mengangguk kembali semangat.
"Ahh Dokter Mah" jawab Linda malu-malu.
"Katakan saja!"
"Cukup buat beli paket kream perawatan wajah berjerawat Dok" jawab Linda.
"Dua juta cukup?" tanya Alya.
"Dua juta Dok?" tanya Linda balik kaget mendengar nominal yang begitu banyak buatnya.
"Iya, gimana?"
"Sangat cukup!" jawab Linda kegirangan
"Oke" jawab Alya mengambil dompetnya dan mengambil uang.
"Nanti Dok, saya selesaikan dulu!" jawab Linda semangat, lalu dengan segera membuka plastik dari Alya.
Alya menunggunya dengan seksama. Tidak menunggu berpuluh- puluh menit Linda berhasil menyusun.
Alya dan Linda sama-sama bergidik dan syok melihat hasil susunan gambar itu.
"Dokter hati-hati Dok!" tutur Linda memperingati.
"Iya, tapi siapa ya yang ngirim ini? Pantes mertuaku langsung merobeknya"
"Ini ada inisialnya Dok!" tutur Linda menunjuk huruf "tf".
"Hhhhfft" Alya menghela nafasnya pelan.
"Dia menguntit Dokter Alya dan ingin bunuh Dokter dan Bayi Dokter" tutur Linda.
Lalu Alya memandangi hasil susunan kertas itu.
Foto Alya dan Ardi saat berciuman di resepsi Gery. Foto Ardi dan Alya di taman saat Ardi mengelus perut Alya. Di perut Alya ditandai coretan darah dan kata-kata kasar.
Kamu harus mati
Tunggu hari berakhirmu
Neraka menantimu, dasar busuk
Gunawijaya akan berakhir......
Dan masih berlanjut dengan ancaman dan kata-kata kasar lagi.
Bahkan di foto itu mata Alya dan Ardi ditusuk dan dibuletin dengan tinta hitam. Wajah Ardi dicoret-coret, sebagai ungkapan melampiaskan kebencian, Ardi dibuat seperti hallowin.
"Hemmm" Alya bergumam lagi, kemudian tersenyum sendiri.
"Kok Dokter Alya tersenyum sih? Ada yang mau celakain Dokter Alya lhoh" tanya Linda.
"Hehe suamiku dicoret-coret begini kok malah lucu ya?"
"Aih Dokter niih? Sempet-sempetnya merhatiin gitu"
"Yah, pantes mertuaku nggak mau kasih tau ke aky atau yang lain. Mereka benar-benar pengecut"
"Tapi ini teror lho Dok"
"Suamiku dan mertuaku nggak akan takut teror"
"Hemm" Linda mengangguk.
"Ya udah, aku udah lega ternyata ini isinya. Ini uangnya makasih ya!" tutur Alya menyerahkan uang dua juta.
"Iya Dok. Tapi Dokter hati-hati ya. Pengirim ini seperti benci banget sama suami dokter dan dokter Alya"
"Iya tau, emang banyak yang benci suamiku kok. Tapi bismillah deh Insya Alloh aku jaga diri, makasih ya!"
"Iya Dok. Makasih lho Dok. 500 ribu aja ya Dok" tutur Dinda mengembalikan uang dari Alya 500 ribu doang.
"Lhoh ambil aja semuanya, kan perjanjianya dua juta"
"Hee... kebanyakan Dok!" jawab Linda sungkan.
"Ya udah inih sejuta aja!" jawab Alya menambahkan ke tangan Linda.
"Beneran Dok?"
"Bener" jawab Alya mengangguk tersenyum.
"Makasih banyak ya Dok! Ya Alloh semoga Dokter Alya selalu dilindungi sama Alloh" Linda berterima kasih dan berdoa dengan tulus.
"Aamiin, sama keluargaku juga ya!"
"Iyaah, pokoknya doa terbaik buat Dokter Alya dan keluarga"
"Makasih, kamu juga semoga selalu dalam keadaan baik dan bahagia"
"Hehe, makasih sekali lagi Dok. Ya udah saya keluar ya Dok!"
__ADS_1
"Siap. Udah mau pulang kaan? Hati-hati yaa!"
"Dokter yang hati-hati, daah Dokter" jawab Linda lalu pergi dari kamar Alya dan membawa uang dari Alya dengan bahagia.