
****
Tbc Rumah Tuan Aryo.
"Hagh. Haghs" Alya menangis sambil menggigit telapak tanganya agar tidak bersuara.
Alya duduk memeluk kakinya di lantai kamar mandi yang mengkilap. Memang kamar mandi Ardi bersih dan terawat, tapi Alya tidak memakai baju sehelai pun. Tidak seharusnya malam-malam Alya mengurung dirinya di kamar mandi.
Alya terjebak dalam emosinya sendiri. Meski di depan Intan Alya bisa berdiri tegak, tapi Alya tetap Alya. Perempuan dengan segala kekurangannya.
Setelah Alya mempercayai Ardi, mencintai dengan setulus hati, tiba-tiba didatangi perempuan menceritakan kemesraannya. Meski itu masalalu tetap saja Alya tidak mudah menerimanya.
"Kenapa mencintaimu semenyakitkan ini mas?" Lirih Alya dalam tangisnya.
"Aku tahu itu masalalumu. Tapi apa benar-benar kamu sudah melupakanya? Sementara Mba Intan sangat percaya diri kamu akan kembali padanya. Pengurus panti juga sangat antusias menceritakan kalian"
"Apa caraku mencintaimu terlalu bodoh Mas? Apa cintaku terlalu cepat? Seharusnya aku mencari tahu dulu siapa kamu?"
"Aku ingin pergi tapi tidak bisa, kamu yang mengikatku tetap berada di sini?
"Aku harus bagaimana? Bagaimana aku bisa membuang raguku? Bagaimana aku bisa menerima masalalumu?"
Alya bergelut dengan pemikiran sendiri. Membuat narasi-narasi tak berdasar, terkurung oleh rasa cemburunya.
Intan berhasil mempengaruhi Alya, meski tanpa sepengetahuanya.
Sementara Ardi masih bingung dengan apa yang terjadi dengan istrinya. Ditinggalkan di tengah-tengah petualanganya sangat menyebalkan. Lebih dari itu Ardi sangat khawatir ada apa sebenarnya.
Merasa dicueki, Ardi memberi kesempatan dan ruang untuk Alya. Ardi kembali ke kamar masih dengan tubuh polosnya. Ardi mengacak-acak rambutnya frustasi.
Ardi mengecek sprei mahalnya dengan teliti, kemudian memunguti pakaian dia dan istrinya. Apa ada bercak darah? Apa Alya dalam bahaya?
Semua baik-baik saja. Celana Alya bersih, spreinya juga bersih. Ada apa dengan istrinya, kenapa dia menolak dan mendorongnya padahal Alya berinisiatif duluan.
Ardi memerintahkan juniornya mengalah dan kembali tidur. Ardi meraih handuk menutupi tubuhnya. Ardi mengetuk pintu kamar mandi dengan lembut. Mencoba berkompromi memakai hatinya.
"Sayang, tolong buka pintunya. Mas minta maaf kalau salah. Keluarlah! Bicaralah, ada apa?"
Alya masih di dalam mengatur emosinya. Ardi menghela nafasnya menahan sabar. Menikah memang membuat Ardi banyak mengalah, meredam dan menahan emosi atau keinginanya.
"Sayang, mas nggak mau kamu sakit, kamu nggak pake baju begitu, nanti kedinginan lho. Tolong buka pintunya, kasih tau mas. Ada apa?" ucap Ardi pelan dan lembut.
Ardi tau meski tidak ada jawaban Alya mendengarnya.
"Sayang..." panggil Ardi lagi.
***
Di dalam kamar mandi Alya masih menahan suara tangisnya. Mencari kata mengumpulkan asa. Alya tidak boleh bodoh karena rasa tak berdasar.
Usianya sudah tidak lagi muda. Tapi perkara cinta memang tidak semudah dia menghafalkan anatomi tubuh manusia.
Bahkan Alya tidak pernah menyangka, sebuah kata yang bernama cinta mengalahkan logikanya.
Seharusnya Alya tau. Intan hanya masalalu. Benar atau tidak perkataanya. Yang terpenting adalah sekarang. Cinta Ardi untuk Alya, seharusnya itu sudah cukup. Tapi tetap saja menyakitkan.
Bukankah cinta membuat orang memaafkan. Kenapa tidak Alya berdamai dengan masalalu suaminya. Itupun kalau semua yang Intan katakan benar.
Siapa Intan, kenapa Alya harus percaya? Bukankah seharusnya Alya mendengar kata Ardi.
Menikah adalah pilihan Alya. Menyerahkan dirinya seutuhnya juga bukan cuma-cuma sebatas memenuhi kewajiban. Alya juga mencintai suaminya. Seharusnya Alya memperjuangkanya dengan dewasa.
Alya menghela nafasnya, setelah otaknya normal kembali.
****
"Sayang" panggil Ardi lagi.
"Kalau nggak keluar mas dobrak ya pintunya. Ayolah keluar? Kamu sendiri kan yang bilang kalau ada apa-apa cerita, tolong jangan kaya anak kecil sayang" kali ini Ardi sedikit mengancam.
"Ceklek"
Alya memutar gagang pintu dan membukanya. Masih dengan tubuh polos dan rambut terurai. Alya menunduk mengusap air matanya.
Ardi tersenyum lega. Akhirnya Alya mau keluar. Entah kemasukan roh apa istrinya tiba-tiba nangis begitu.
"Pakai ini. Nanti kamu kedinginan, jangan menggoda mas lagi, kalau kamu nggak mau" ucap Ardi memakaikan bathrobe ke istrinya.
Alya pun mengikutinya, memasukan kedua lenganya. Kemudian Ardi membantu mengikatkan tali bathrobe dengan lembut agar menutupi tubuh Alya.
Alya masih diam. Mengumpulkan tenaga, dan membuang bayangan Intan. Ardi sekarang cintanya, Ardi miliknya, Alya tidak mau mengulangi kesalahanya. Alya harus tanya ke Ardi dan mengungkapkan semuanya.
Dengan lembut dan penuh kekhawatiran Ardi memapah Alya untuk duduk. Mereka berdua pun duduk di tepi kasur saling berhadapan. Ardi menatap lembut istrinya.
"Cerita sama mas, ada apa?" tanya Ardi lagi.
"Jawab pertanyaan Lian, jujur!" ucap Alya dengan nada tajam sambil menggerakan lidahnya menyimpan segala prasangka.
"Iyah, apa?" Ardi mengangguk memberi jaminan dan kepastian akan menjawab dengan jujur.
"Apa Mas cinta sama Lian" tanya Alya dengan nada lirih.
__ADS_1
"Astaghfirulloh! Hrrghh" Ardi justru tertawa gemash menggaruk pelipisnya.
"Berapa kali sih Yang, kamu tanya itu ke mas? Mas nggak cuma cinta ke kamu. Mas cinta banget sama kamu, masa kamu nggak tahu?" jawab Ardi merasa lucu istrinya bertanya begitu.
"Apa mas dulu juga bilang gitu ke Mba Intan?" tanya Alya sendu.
"Kok Intan sih? Ya nggak lah" jawab Ardi kaget ada angin apa Alya nyasar menyebut nama mantanya.
"Bohong!" jawab Alya menuduh Ardi dan termakan perkataan Intan tempo hari.
"Kok bohong? Mas bener, mas cintanya sama kamu. Bukan Intan"
"Tapi mas mau kan tunangan sama dia? Mas seneng kan?" tanya Alya sambil manyun merasa Ardi hanya membual.
"Ya gimana? Dia cantik. Papa Mama suka, ya mas terima aja, dimana salahnya?" jawab Ardi polos
"Tuh kan?" Alya kembali cemberut dan merasa kesal. Bisa-bisanya Ardi menjawab enteng pertanyaan Alya yang membuatnya nyesek.
"Tapi kan bukan mas yang suka duluan sayang, Aku dan dia dijodohin. Beda sama kamu"
"Emang kita nggak dijodohin, apa bedanya sama aku?"
"Nggaklah. Mas kan emang naksir kamu dari awal"
"Kenapa bisa gitu? Kita kan baru kenal"
"Ya nggak tahu kenapa bisa gitu, masa kamu nggak tahu mas naksir kamu? Mas jauh-jauh ngapelin kamu pagi-pagi, minta sarapan ke kamu?"
"Ehm, jadi kemeja itu?" tanya Alya kesal mengingat masa pede kate mereka.
"Iya pikir aja sendiri! Jangankan kemeja satu, sebenarnya mas buat swalayannya sekalian juga mas bisa" jawab Ardi enteng dan meledek istrinya.
"Dasar! Mas suka masakan Lian?" tanya Lian lagi.
"Suka banget"
"Apapun?"
"Iyah!"
"Bener?"
"Bener sayang! Astaghfirulloh. Kamu kenapa sih?"
"Kalau mas suka masakan Lian, kenapa Lian nggak boleh masak lagi? Bukanya mas suka masakan di kafe D Stiv yang jual steak-steak itu? Itu kan tempat favorit mas?" ucap Alya lagi masih kesal, perkataan Intan tentang makan siang masih teringat jelas di kuping Alya.
"Oh itu? Kok kamu tau sih? Tau dari siapa?" tanya Ardi sambil menggaruk rambutnya tapi masih tetap tenang dan santai.
"Jawab dulu!" ucap Alya ketus.
"Ck. Alasan"
"Kamu tuh aneh banget sih wawancarai mas begini. Kamu nangis gara- gara ini? Sampai ninggalin mas lagi tanggung. Kamu dosa lho ninggalin mas gitu aja"
"Ehm!" Alya berdehem mengingat peristiwa tadi. Alya memang jahat meninggalkan Ardi di saat tegang-tegangnya.
"Jangan kaya anak kecil lah sayang. Masa nanti kalau anak kita lahir, mas harus urusin dua bayi? Mas pusing kalau kamu gini terus" ucap Ardi serius merasa istrinya suka bertingkah kekanakan.
"Ishh. Mas ngatain Lian? Mas ngeluh karena Lian" jawab Lian tidak terima dikatain anak kecil.
"Bukan ngatain. Ayolah dewasa. Kamu nggak perlu menanyakan hal yang nggak penting kaya gini, buat apa?"
"Tapi ini penting buat Lian"
"Ya tapi alasanya apa? Sampai tanya-tanya kafe Stiv, kamu tau darimana? Kamu ngobrol apa sih sama Mira? Heh?"
"Beneran mas nggak cinta sama Mba Intan?"
"Beneran sayang, ya ampuun. Mas jadi pengen makan kamu lagi nih!"
"Tapi mas sama dia kan tunangan lama"
"Haissh. Jawab dulu. Kamu kenapa malem-malem gini bahas Intan? Kamu kenapa? Intan nemuin kamu?"
"Apa mas dulu kabulin semua keinginan Mba Intan? Kenapa ke aku mas apa-apa ngelarang?" tanya Alya lagi tidak menjawab pertanyaan Ardi.
"Tuh kan tambah malam tambah ngelantur. Ya nggak lah sayang. Nyatanya Intan minta mas nikahin dia, mas nikahinya kamu! Mas bukan larang-larang kamu. Mas mau yang terbaik buat kamu. Mas nggak mau kehilangan kamu!" jawab Ardi menekankan.
Alya menelan salivanya. Jawaban Ardi membuat Alya sedikit berbunga dan salah tingkah. Tapi emosi Alya belum terpuaskan dan masih memendam prasangka.
"Apa mas pernah tidur bareng Mba Intan?" ucap Alya langsung pada intinya.
"Tidur bareng gimana maksudnya?"
"Ya gitu? Kaya yang kita lakuin?" jawab Alya malu-malu.
"Oh. Ya Nggak lah sayang, kan belum nikah!"
"Bohong!"
"Bohong gimana lagi? Mas nglakuin itu ya cuma sama kamu istri Mas. Percayalah!"
__ADS_1
"Bohong!"
"Astagah, kamu nuduh mas berzina? Kamu dosa lho! Nggak ada bukti! Nuduh suami sendiri begitu"
"Tahi lalat di atas pinggul kanan Mas, siapa aja yang udah liat?"
"Tahi lalat? Dimana? Mas nggak tahu malah!"
"Tuh kan bener mas aja nggak tahu. Tapi orang lain tahu. Hiks hiks"
"Kenapa nangis lagi. Kamu tuh aneh banget kenapa tiba-tiba bahas Intan, bahas tahi lalat segala. Coba tunjuk yang mana"
"Ini lhoh" jawab Alya melingkarkan tanganya dan menyentuh tahi lalat Ardi.
"Oh itu" jawab Ardi santai ikut berusaha melihat bagian tubuh belakangnya.
"Ya kan kalau mas renang. Mas ngejim kebuka sayang, ya mas nggak tau siapa aja yang liat. Kalau mas sendiri ya susah liatnya" jawab Ardi santai merasa itu bukan hal besar.
"Apa mas suka renang bareng Mba Intan?" tanya Alya masih curiga.
"Intan lagi, Intan lagi. Pusing mas lama-lama. Udah yuk tidur. Apa mau lanjutin yang tadi?"
"Jawab dulu"
"Kamu tuh kenapa nangis-nangis terus tanya-tanya Intan begini? Mira ngomong apa ke kamu? Heh?"
"Mas berhubungan badan sama siapa aja selain sama Lian?"
"Astaghfirulloh, udah dijawab kan sayang. Mas cuma berhubungan sama kamu aja. Lubang mas ya cuma punya mu, pasangan halalnya mas"
"Bener nggak pernah sama Mba Intan?"
"Haduuh gimana mas buktiinya, tanya aja sama si Jun nih. Dia perjaka pas ketemu kamu!"
"Tapi katanya Mba Intan suka nginep di sini"
"Ya kan nginep di kamar tamu sayang, mas juga sukanya pergi maen bareng Gery sama Farid"
"Kan kalau di cerita-cerita novel, orang kaya kan suka begitu" ucap Alya lagi masih belum puas mencecar suaminya.
"Ya kan di novel. Suamimu nggak. Mas setia sayang. Mas juga takut dosa, nakalnya mas bukan begitu"
"Ehm" Alya berdehem sedikit lega. Kemudian menghela nafasnya.
Rasanya seperti habis lari maraton kemudian diberi es kelapa muda. Alya sangat senang. Kemudian Alya tersenyum, awas aja kalau ketemu Intan lagi.
Melihat ekspresi Alya, Ardi ikut lega. Ardi menaikan alisnya memberi kode ke istrinya, apa sudah cukup bertanyanya?
Kemudian Ardi merebahkan badanya yang lelah. Masih berbalut handuk, hendak mandi, karena tertunda jadi malas.
"Udah ya, tidur yuk!" ajak Ardi lembut.
"Lian, ingin tau semua cerita mas tentang Mba Intan mulai dari mas jadian sampai berpisah dan alasan Mas mutusin dia" sambung Lian lagi ternyata masih belum tuntas kesal dan penasaranya.
"Hadeh. Masih berlanjut lagi! Ck" gerutu Ardi memijat keningnya dan berdecak heran. Istrinya kenapa cerewet sekali.
"Sayangkuh istriku, sini peluk mas dulu!" sambung Ardi merentagkan tangan dan menyuruh Alya ikut berbaring di sampingnya.
Karena sebagian pertanyaanya sudah terjawab melegakan Alya sudah tenang. Dia pun mengikuti suaminya berbaring.
Ardi memiringkan tubuhnya menatap Alya yang terdiam dengan ekspresi polosnya menunggu cerita Ardi tentang masalalunya.
"Kamu ngapain tanya-tanya tentang dia sedetail ini, sampai nangis-nangis. Nggak penting sayang! Kamu emang denger apa? Siapa yang ngomong. Ngomong apa?" tanya Ardi pelan.
Alya cuma diam tidak mau mengadu.
"Ya udah kalau nggak mau jawab. Mas udah pernah kan kasih tau kamu. Kamu hati-hati kalau ketemu dia"
"Mau dikasih tau lagi!" ucap Alya lagi terus mencecar Ardi sampai ke akar-akarnya.
"Intinya nggak usah deket-deket sama orang kaya dia. Nggak usah percaya perkataanya. Mas aja pernah dijebak"
"Dijebak?"
"Dia pengen mas nikahin dia. Dia buat mas mabuk dan seolah-olah mas tidur sama dia. Untung mas pergi bareng temen-temen mas. Jadi banyak saksi"
"Benarkah?"
"Percaya sama mas. Mas itu punyamu. Dia juga punya kamu" ucap Ardi melihat ke bagian tubuhnya di bawah perut yang mulai menonjol lagi.
"Ish" Alya mendesis dan mencubit perut Ardi.
"Lanjutin yang tadi yah. Udah sembuh kan nangisnya?"
"Lanjutin apa?"
"Yang tadi berhenti di tengah jalan. Nggak kasian apa sama mas?"
"Hemm!"
"Udah nggak usah bahas Intan lagi ya!"
__ADS_1
"Hemm"
"Mau yah, lanjutin!"