Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Young Master Is Cruel..


__ADS_3

<<<<<


"Nak Zuy, Syukurlah ada seseorang yang baik hati seperti Tuan Ray, yang bersedia menerima segala kekuranganmu, Ibu benar-benar sangat bahagia Nak, semoga kebahagiaan selalu menyertaimu Nak Zuy.."


Ucap Bu Ima sembari mengusap air matanya yang mengalir di pipinya. Lalu seseorang menepuk pundak Bu Ima, sontak membuat Bu Ima terkejut dan langsung membalikkan badannya.


"Tuan Davin, bikin kaget Ibu saja," papar Bu Ima sambil mengelus dadanya.


"Hehehe maaf Bu Ima, habisnya Bu Ima ngelamun di pintu sih," ujar Davin, lalu ia menatap Bu Ima, "Bu Ima nangis?" sambung tanyanya.


Bu Ima pun menggeleng cepat, "Tidak Tuan, Ibu tidak menangis, Ibu hanya merasa bahagia melihat Nak Zuy bahagia. Ibu berharap Tuan Ray selalu membuat Zuy bahagia selalu dan tidak membuat Zuy bersedih," ujar Bu Ima.


Davin pun memegang pundak Bu Ima, "Bu Ima, Ibu tenang saja, Tuan Ray pasti akan membuat Zuy bahagia selalu bahkan selamanya, karena bagi Tuan Ray, Zuy adalah wanita yang sangat berharga untuknya," jelas Davin


Mendengar penjelasan dari Davin, Bu Ima pun langsung tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Iya Tuan Davin," ucap Bu Ima sambil mengusap kembali air matanya, "Oh iya Tuan," sambungnya


"Ada apa Bu Ima?" tanya Davin sambil mendudukan dirinya di atas sofa.


"Apa anda mau di buatkan minuman?"


Davin mengangguk, "Iya boleh, asal jangan orange jus yang tadi," pinta Davin


"Orange jus tadi?" Bu Ima pun langsung berfikir, sesaat kemudian..


"Oh maksud anda kunyit asam buat pelancar haid tadi?" tanya Bu Ima


"Iya, apapun itu, pokoknya aku gak mau, bisa-bisa nanti haid Zuy pindah ke diriku lagi," celetuk Davin


Mendengar celetukan dari Davin, Bu Ima pun terkekeh.


"Hihihi, Tuan Davin, mana ada haid berpindah, ada-ada aja Tuan, lagian juga minum kunyit asam juga bagus untuk badan dan kulit Tuan Davin," jelas Bu Ima


"Benarkah Bu Ima?" tanya Davin


Bu Ima pun mengangguk, "Iya Tuan Davin, yaudah anda mau minum apa Tuan?"


"Buatkan teh saja Bu Ima," titah Davin


"Baiklah Tuan, kalau begitu Ibu ke belakang dulu," ucap Bu Ima.


Davin langsung menganggukkan kepalanya, sedangkan Bu Ima bergegas menuju ke dapur.


"Hah, ngomong-ngomong bagaimana reaksi nya Pak Wildan ya? saat mendapatkan gertakan dari Tuan Ray, hmmm.. lagian anaknya selalu bikin ulah terus terhadap Tuan Ray, jadi ya begini. Walau di lihat baik dan bertanggung jawab dalam ke pemimpinannya, akan tetapi Tuan Ray juga bisa kejam pada siapapun yang menyinggungnya, itulah kenapa waktu di Amerika selain di juluki Tuan dingin, dia juga di juluki sebagai Young Master is Cruel," lontar Davin sambil menyandarkan kepalanya. Lalu tiba-tiba ia mengingat sesuatu..


"Oh iya lupa, aku belum mengirimkan donasi untuk acara konser Amal di Korea itu, bisa-bisa Tuan Ray bakalan marah ini," ujar Davin sambil menepuk jidatnya.


Lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan bergegas menuju ke arah kamarnya.


***********


Rumah Zuy


Setelah beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di rumah Zuy, saat motor sudah berhenti di depan runahnya, Zuy segera turun dari motor, ia berjalan menuju ke pintu, sesampainya Zuy langsung memasukan kunci ke dalam lubang kunci, setelah itu ia memutar handle pintu dan mendorongnya sehingga pintu terbuka.


Lalu Zuy pun langsung masuk ke dalam rumah bersamaan dengan Ray.


"Tuan Muda, duduklah dulu, Zuy mau ke kamar sebentar," titah Zuy.


Namun Ray menggelengkan kepalanya, "Tidak ah sayang, Ray mau ke kamar mandi, ada yang harus di tenangkan dulu," jelas Ray.


"Oh yaudah, masih ingat kan kamar mandinya?" tanya Zuy.


"Masih ingat dong sayangku, memangnya aku anak kecil yang pelupa, gemas deh..." ujar Ray sambil mencubit hidung Zuy.


"Isssh, Zuy takutnya anda nyasar Tuan Muda, yaudah sana ke kamar mandi..!!" titah Zuy


Ray lalu melepaskan tangannya dari hidung Zuy, ia pun langsung melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi, sedangkan Zuy masuk ke dalam kamarnya.


Kamar Zuy


Setelah berada di dalam kamar, Zuy langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya.


"Aah, aku sangat merindukan kasur dan gulingku ini," lirih Zuy sambil memeluk gulingnya.


Sesaat kemudian ia pun langsung mengubah posisinya, dan berjalan ke arah lemari pakaiannya. Zuy lalu membuka lemari pakaiannya dan mengambil sebuah kotak yang berada di dalam lemarinya tersebut.

__ADS_1


Setelah itu ia pun menutup kembali pintu lemarinya, lalu ia langsung duduk di tepi ranjangnya. Kemudian Zuy membuka kotak tersebut dan mengeluarkan isinya, yang ternyata adalah sebuah kalung dengan dua liontin, yang satu berhuruf Z dan satunya adalah setengah hati, dan ternyata kalung tersebut hadiah tanda ucapan terimakasih dari Ray karena Zuy sudah merawatnya saat Ray sakit. (Bab. 42)


"Hmmm, harusnya dari waktu itu aku pakai hadiah yang di berikan oleh Tuan Muda, namun saat itu pikiranku sedang kacau gara-gara insiden penyiraman itu, di tambah lagi ucapan dari Kimberly waktu itu," lontar Zuy sambil memandangi ke arah kalung tersebut.


Zuy pun melepaskan pengait kalung itu hingga terlepas, kemudian saat ia hendak memakainkan kalung itu ke lehernya, tiba-tiba..


Tok Tok Tok


Seseorang mengetuk pintu rumahnya, mendengar suara ketukan pintu, Zuy langsung menaroh kembali kalung itu ke dalam kotak, kemudian ia segera bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kamarnya, setelah berada di luar kamarnya, Zuy pun melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu.


Sesampainya Zuy terkejut melihat dua orang wanita se usia Bu Ima berdiri membelakangi pintu, Zuy pun langsung menghampirinya.


"Maaf, cari siapa ya?" tanya Zuy kepada dua orang tersebut.


"Tentu saja, kami kesini untuk menemui-mu Zuy," ujar salah satu orang tersebut sembari membalikkan badannya ke arah Zuy.


"Bu Ida, Bu Isma..!!" sontak Zuy pun terkejut saat mengetahui bahwa ke dua orang itu adalah Bu Ida dan Bu Isma, tetangga julid yang suka bergosip buruk tentangnya.


Bu Ida lalu tersenyum pada Zuy, "Zuy, bagaimana kabarmu? lama aku tidak melihatmu," tanya Bu Ida


Zuy pun membalas senyuman Bu Ida, dan menjawab pertanyaan dari Bu Ida, "Ka-kabar Zuy baik-baik saja Bu."


"Oh Syukurlah, Ibu melihatnya kau nampak berbeda, dan lagi motormu juga ganti lagi yang bagusan," celetuk Bu Ida


"Ah motor itu sebenarnya mi ...,"


"Tidak perlu menjawabnya, Ibu juga gak akan peduli, pasti kamu dapat motor itu dari Pria kaya simpananmu itu," lontar Bu Ida


Mendengar itu, Zuy langsung menghela nafas panjangnya, "Hah, Bu Ida sebenarnya apa tujuan anda datang kesini? bukan untuk cari masalah lagi dengan Zuy kan?"


"Ciih, siapa yang cari masalah, sebenarnya aku ingin minta maaf atas perlakuanku waktu itu, sehingga membuatmu marah, ya walaupun perkataan ku benar bahwa kamu dan Nana itu bukan orang baik," ujar Bu Ida, "Iya kan Isma?"


Bu Isma pun menganggukkan kepalanya, "Iya bener banget apa yang di katakan Ida."


Zuy pun mendengus kesal mendengar ujaran Bu Ida, "Bu Ida, sebenarnya anda mau meminta maaf, atau mau menjelekkan saya dan Bi Nana lagi?" tanya Zuy, ia pun sudah mengepalkan tangannya.


"Tentu saja minta maaf, kamu harus memaafkan kesalahan ku ini, kalau kamu tidak memaafkanku maka aku akan bilang ke semua orang kalau kamu ...,"


"Kalau kamu apa?!!" tiba-tiba Ray datang menyambar perkataan dari Bu Ida


"Ka-kamu...!!"


"Iya ini saya, memang kenapa?" pekik Ray sembari menyilangkan kedua tangannya di dadanya.


"Kenapa kamu bisa berada di sini?" tanya Bu Ida


Lalu Ray merengkuh tubuh Zuy dan memeluknya, "Kenapa saya berada di sini, tentu saja karena ini rumah istri saya, jadi saya juga berhak ada di sini," ungkap Ray


Mendengar ungkapan dari Ray membuat Bu Ida dan Bu Isma terkejut terutama Zuy.


"A-apa...!! jadi kalian berdua sudah menikah?" tanya Bu Ida


"Iya kami sudah menikah, apa ada masalah dengan anda?" tanya Ray dengan nada keras,


"Ti-tidak ada masalah Tuan," kata Bu Ida menggelengkan kepalanya.


Ray kemudian melepaskan pelukannya, dan mendekat ke arah Bu Ida, "Lalu kalian berdua, ada perlu apa datang kesini?" tanya Ray "Mengganggu orang saja"


"Kami datang kesini baik-baik untuk meminta maaf, tapi dia malah seperti itu, bahkan sampai bilang kalau saya menjelekkannya," ujar Bu Ida dengan memasang wajah memelas dan penuh kebohongan.


"Memang kenyataannya anda tadi bilang kalau saya dan Bi Nana bukan orang baik, dan lagi anda bilang kalau motor itu, Zuy dapat dari pria simpanan Zuy," pekik Zuy yang dari tadi menahan emosinya


Mendengar perkataan Zuy, Ray pun langsung menatap tajam ke arah Bu Ida, "Apa benar anda mengatakan itu pada istriku?"


"Ti-tidak, dia berbohong pada anda Tuan, dia ...,"


"Siapa yang berbohong, anda jelas-jelas menjelekkan saya lagi," sela Zuy.


Lalu Bu Ida menunjuk ke arah Zuy, "Hei, jangan mentang-mentang di depan ada suamimu, kamu bisa seenaknya saja memfitnahku, sini mulutmu biar ku hajar sekalian," murka Bu Ida.


Lalu ia mengayunkan tangannya dan ingin menampar Zuy, namun dengan sigap Ray langsung memegang tangan Bu Ida.


"Berani sekali anda ingin menampar istriku, yang statusnya hanya orang lain saja, apa sudah lupa dengan janji anda, untuk tidak membuat masalah dengan istriku?" pekik Ray sambil menatap tajam Bu Ida.


"Maaf Tuan ta-tapi ...,"


Lalu Ray melepaskan tangannya Bu Ida, "Sekarang kalian pergi dari sini, ini kesempatan terakhir anda, dan ingat kalau sampai ada gosip yang gak bener tentang istriku lagi, saya akan pastikan kalian berdua tidak akan saya lepaskan."

__ADS_1


"Ck, awas kamu Zuy," batin Bu Ida, lalu mereka akhirnya pergi.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ray


"Zuy baik-baik saja Tuan, terimakasih sudah membantu Zuy," ucap Zuy


"Sama-sama sayangku," balas Ray sambil merangkul Zuy,


Kemudian mereka masuk ke dalam rumah, setelah berada di dalam, Ray pun mendudukkan dirinya di atas sofa, sedangkan Zuy masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil kotak kalung tersebut, sesaat kemudian, ia pun keluar dari kamarnya dan menghampiri Ray. Zuy langsung duduk di samping Ray.


"Apa itu Kak?" tanya Ray melihat kotak tersebut.


"Apa anda lupa Tuan Muda, ini kan kotak pemberian dari anda," jawab Zuy sambil menunjukkan kotak tersebut pada Ray.


Ray kemudian mengambil kotak itu dan membukanya, lalu ia pun mengambil kalung itu dari dalam kotak.


"Oh kalung ini, kenapa Kakak tidak memakainya?" tanya Ray


"Awalnya Zuy ingin mengembalikannya pada anda Tuan Muda, akan tetapi Zuy malah mengurungkan niat Zuy untuk mengembalikannya dan akhirnya Zuy taroh di dalam lemari," jelas Zuy,


"Tuan Muda, tolong pakaikan kalung itu pada Zuy, Zuy ingin memakainya..!!" sambung pinta Zuy


Ray pun menganggukan kepalanya, lalu ia menggeserkan badannya dekat dengan Zuy, kemudian ia memakaikan kalung itu pada Zuy. Setelah memakaikannya, Ray mencium tengkuk leher Zuy, sontak membuat Zuy terkejut dan kegelian.


"Tuan Muda, apa yang anda lakukan?" tanya Zuy menoleh ke arah Ray.


Ray menggelengkan kepalanya, "Tidak ada, hanya memberikan tanda saja bahwa sayangku ini adalah milikku," ujar Ray membuat pipi Zuy merona, lalu..


"Tuan Muda.."


"Hmmmm,"


"Kita jadi gak jalan-jalan-nya? Zuy ingin ke pantai Tuan," pinta Zuy


"Oh sayangku ingin pergi ke pantai, ayo Ray akan bawa sayangku ke pantai," kata Ray


"Terimakasih Tuan Muda," ucap Zuy


Mereka pun langsung beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan keluar rumah, setelah berada di luar Zuy langsung menutup kembali pintu rumahnya dan menguncinya. Lalu Ray langsung memakaikan helm pada Zuy, setelah selesai ia pun mengenakan helm untuk dirinya sendiri.


Ray lalu menaiki motornya di susul dengan Zuy, ia pun langsung menyalakan motornya.


"Sayangku, pegangan yang kencang ya, sepertinya Ray bakalan ngebut," ujar Ray.. Lalu kemudian..


Paak..


Zuy memukul punggung Ray, "Jangan ngebut-ngebut, utamakan keselamatan..!!" tutur Zuy.


"Iya sayang maaf, Ray gak akan ngebut," ucap Ray


"Nah gitu dong Tuan," ujar Zuy, lalu ia melingkarkan tangannya ke pinggang Ray


Ray kemudian langsung menarik gas motornya, lalu mereka pun pergi menuju ke pantai.


Sementara itu di sisi lain, Bu Ida dan Bu Isma memperhatikan Zuy dan Ray, ada perasaan marah di dalam diri Bu Ida.


"Ck, mentang-mentang punya suami kaya sombongnya luar biasa," umpat Bu Ida.


"Udah Da, untuk sementara kita jangan cari masalah dengan Zuy, kamu tahu kan suaminya bukan orang biasa, yang ada kita kena masalah," tutur Bu Isma


"Hah, kamu benar juga Isma, yaudah kita pergi dari sini..!!" ajak Bu Ida


Lalu mereka pun langsung pergi..


************


Rumah Dimas


Sementara itu, Bunda Artiana sedang duduk di luar rumah sambil menyeruput secangkir tehnya sambil mengawasi cucunya yang sedang bermain di halaman rumah bersama dengan pengasuhnya, karena Dimas dan Eqitna masih berada di rumah sakit.


"Hah, kapan aku bisa bertemu lagi dengan anak itu, rasanya ingin sekali berada di dekatnya selalu, wajahnya yang begitu mirip dengan Maria, jika benar dia cucu-ku, aku akan membawanya pulang dan akan aku rawat dia di sisa umurku ini..."


**Bersambung


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... ✌😉😉✌

__ADS_1


__ADS_2