Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Kecurigaan Liora....


__ADS_3

<<<<<


Setelah kunci hp milik Daddy Michael terbuka, Liora sangat terkejut saat melihat foto Baby R dan Baby Z yang terpasang di layar hp milik Daddy Michael.


"Fo-foto bayi kembar siapa ini?"


Lirih Liora yang terus memandangi foto tersebut.


"Hmmmm, kenapa aku merasa tidak asing dengan wajah bayi-bayi ini? Seperti ...."


Liora mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar tersebut, dan saat ia menangkap satu bingkai foto yang terpampang di dinding kamarnya, ia pun langsung memandangi foto tersebut, yang ternyata foto Ray saat masih balita.


Sekilas ia mengalihkan pandangannya kembali ke arah layar hp milik Daddy Michael, kemudian Liora mengarahkan hp itu ke arah foto tersebut.


"Mereka benar-benar sangat mirip dengan anak sial itu. Hmmm, apa jangan-jangan mereka anak dari Rayyan? Apa rumor yang di katakan Maria waktu itu benar bahwa Ray sudah menikah? Tapi kalau benar Ray menikah, kenapa Michael biasa saja, harusnya kan dia mengadakan pesta besar untuk anak kesayangannya itu. Apa mungkin pernikahan Ray sengaja di rahasiakan dari semuanya? Atau jangan-jangan ...."


Sekilas ia menolehkan kepalanya ke arah pintu kamar mandi, dimana di dalamnya ada Daddy Michael yang sedang melakukan aktivitas mandinya, dan beralih kembali ke layar hp milik Daddy Michael.


"Michael selingkuh di belakang ku? Lalu anak kembar ini adalah anaknya bersama selingkuhannya. Tsk, ini tidak boleh di biarkan, aku harus menyelidikinya. Dan jika memang benar kedua anak ini ada hubungannya dengan Ray ataupun Michael, aku harus secepatnya melenyapkan mereka termasuk orang yang sudah melahirkan mereka itu," sungut Liora.


Lalu ia menyambar hpnya yang berada di atas nakas, kemudian ia menekan icon kamera di hpnya dan mengarahkannya ke hp milik Daddy Michael. Setelah itu, Liora langsung memotretnya.


"Bagus! Dengan ini aku jadi gampang menyelidikinya," batin Liora di barengi dengan seringai di bibirnya.


Kreet....


Terdengar suara pintu yang mulai terbuka dari arah kamar mandi, sontak membuat Liora tersentak dan buru-buru meletakkan hp milik Daddy Michael ke tempatnya semula, ia pun langsung mendudukkan dirinya dirinya di tepi ranjang sambil menundukkan kepalanya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Lalu ....


"Liora...." tegur Daddy Michael yang baru keluar dari kamar mandi.


Liora mengangkat kepalanya. "Eh, sudah mandinya Dad?"


"Iya sudah," balas Daddy Michael mengangguk.


Liora bangkit dari posisinya dan mendekat ke arah Daddy. Lalu secara tiba-tiba ia menyandarkan kepalanya di dada Daddy Michael.


"Maafkan aku ya! Harusnya aku tidak berkata seperti itu, aku benar-benar menyesal karena sudah membuat mu marah, Dad." ucap Liora dengan nada manja.


"Iya aku memaafkan mu," balas Daddy Michael.


Mendengar itu, Liora mendongakkan kepalanya ke arah wajah Daddy Michael.


"Serius Dad?" tanya Liora memastikan.


Daddy Michael pun hanya membalas anggukan kepala saja seraya menjawab pertanyaan Liora. Dan seketika senyum Liora langsung mengembang.


"Terimakasih Dad. Oh iya, apa Daddy ingin aku buatkan sesuatu?"


Daddy Michael menggeleng. "Tidak Li, aku hanya butuh istirahat, karena jadwal penerbangan ku pagi."


"Baiklah kalau Daddy maunya seperti itu." lirih Liora sambil melepaskan pelukannya, nampak ada kekecewaan pada dirinya.


Daddy Michael mengambil hpnya dan mendekat ke arah tempat tidur, kemudian ia segera menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Sedangkan Liora, ia langsung menghentakkan kakinya keluar dari kamarnya.


"Cucu-cucu Kakek, kalian berdua tunggu Kakek ya!" ucap Daddy Michael memandangi foto si kembar yang berada di layar hpnya.


*********************


Menjelang siang hari....


Rumah Dimas


Dimas nampak keluar dari kamar mandinya dan melangkah menuju ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Sesaat setelah selesai, ia pun bergegas keluar dari kamarnya.


Setelah menuruni anak tangga terakhir, Dimas segera menghampiri Bunda Artiana yang kala itu tengah berada di ruang keluarga bersama dengan Maria.


"Bunda, Kak Maria...." tegur Dimas.


Bunda Artiana dan Maria mengalihkan pandangannya ke arah Dimas.


"Dim, baru bangun?" tanya Maria.


Dimas mengangguk. "Iya Kak, soalnya semalam Dimas masuk," jawabnya sembari duduk di samping Bunda Artiana.


"Oh...." Maria manggut-manggut.


Lalu ....


"Dimas, nanti kita jadi kesana kan?" tanya Bunda Artiana.


"Iya tentu saja jadi, Bunda." balas Dimas.


"Memangnya kalian berdua mau kemana?" Maria nampak penasaran.


"Kita mau ke rumah sakit, Maria." ujar Bunda Artiana.


"Hmmmm, rumah sakit! Memangnya Bunda sakit lagi?" tanya Maria.


Sehingga membuat Bunda Artiana dan Dimas ternanap.


"Maria, apa kamu sudah lupa?" pekik Bunda Artiana.


"Lupa? Lupa apa Bunda?" tanya Maria kebingungan.


Bunda Artiana lalu menghela nafasnya, kemudian Bunda meraih tangan Maria dan menggenggamnya.


"Bukannya kemaren Bunda sudah beritahu kamu, bahwa Zuy sudah melahirkan anak kembarnya yaitu cucu kamu, Maria." papar Bunda Artiana.


Maria langsung mengerenyitkan keningnya sambil mengepalkan tangannya saat mendengarnya, sesaat ia pun menundukkan kepalanya.


"Maaf Bunda, Maria benar-benar lupa," ucap Maria. "Tsk, lagi-lagi anak durhaka itu," sambung umpatnya dalam hati.


"Maria...."


Maria mengangkat kembali kepalanya dan menatap Bunda Artiana.


"Maria, kamu juga harus ikut ke rumah sakit! Supaya kamu bisa melihat cucu-cucu mu yang ganteng dan cantik itu," ajak Bunda Artiana.


Akan tetapi Maria malah menggelengkan kepalanya.


"Tidak Bunda, Maria ingin tetap di rumah aja," tolak Maria.


"Tapi kenapa Maria? Apa kamu tidak ingin melihat kedua cucu mu?"


"Bukan seperti itu Bunda, hanya saja kepala Maria tiba-tiba sakit lagi," jawab Maria berbohong.

__ADS_1


"Apa! Kepala kamu sakit lagi Maria?" Bunda Artiana pun terkejut mendengarnya.


"Iya Bunda, sakit banget rasanya. Euuum, maaf Bunda, Maria ke kamar dulu ya! Mau minum obat terus istirahat supaya cepat pulih," ucap Maria.


Bunda Artiana hanya membalas dengan anggukan, lalu Maria menjalankan kursi rodanya menuju ke kamarnya.


"Kenapa Maria seperti itu ya?" lirih Bunda Artiana yang terus memandangi punggung Maria.


"Bunda...."


Bunda Artiana menoleh. "Iya Dimas."


"Bunda sekarang siap-siap ya!"


"Siap-siap? Memangnya kita mau berangkat ke rumah sakit sekarang, Dimas?"


"Iya Bunda, tapi sebelum itu kita mampir ke tempat lain dulu, soalnya Dimas mau beli hadiah buat kedua cucu Dimas."


"Cucu! Oh iya sekarang kamu udah sudah menjadi Kakek ya Dimas," lontar Bunda Artiana.


"Hahaha iya Bun, Dimas juga gak nyangka, padahal kan Dimas masih muda dan ganteng gini. Tapi udah di panggil Kakek," canda Dimas membuat Bunda Artiana terkekeh mendengarnya.


"Yaudah kalau begitu Bunda ke kamar dulu ya, Dimas." ucap Bunda Artiana sembari perlahan bangkit dari posisinya.


"Iya Bunda." balas Dimas mengangguk.


Kemudian Bunda Artiana melangkahkan kakinya menuju ke arah kamarnya, setelah Bunda Artiana sudah masuk ke dalam kamarnya, Dimas pun segera bangkit dari posisinya dan berjalan ke arah kamar Maria. Setibanya di depan pintu kamar, ia langsung mendorong pintunya hingga terbuka.


kreet....


"Kak Maria...." Dimas melangkah masuk.


"Hmmm, ada apa Dimas?"


Dimas lalu mendudukkan dirinya di tepi ranjang milik Maria.


"Kak, kenapa tadi Kakak menolak ajakan Bunda? Apa Kakak tidak ingin melihat anak dan kedua cucu Kakak?" cecar Dimas.


"Dimas, tadi kan Kakak sudah bilang kalau kepala Kakak sakit, dari pada nantinya nyusahin kalian, lebih baik Kakak di rumah aja."


"Kakak pasti bohong kan? Kakak pasti memang tidak ingin menemui mereka kan?"


Maria menghela nafasnya. "Haaaa.... Iya kamu benar Dimas, Kakak memang tidak ingin menemui mereka."


"Memangnya kenapa Kak? Padahal kan mereka anak dan cucu Kakak."


"Ya itu karena anak durhaka itu bahagia di atas penderitaannya Kimberly," cicit Maria.


"Kak, jangan memanggilnya dengan sebutan anak durhaka! Zuy bukan anak durhaka," sentak Dimas.


"Dimas, kamu ...."


"Maaf Kak kalau Dimas menyentak Kakak, tapi Dimas rasa Kakak tidak sepantasnya bilang seperti itu. Dimas takut kalau ucapan Kakak itu adalah sebuah doa untuknya," kata Dimas.


"Ya memang benar kan kalau dia anak durhaka, berbeda jauh dengan adiknya," pekik Maria. "Sudahlah Dimas, lebih baik kamu keluar sana! Mungkin aja Bunda sudah menunggu mu," imbuhnya.


Dimas lalu bangkit dari posisinya dan berkata, "Baiklah Dimas akan keluar sekarang! Tapi Dimas ingin memberi tahu Kakak. Walau bagaimanapun Zuy tetaplah anak Kakak, darah daging Kakak, anak yang Kakak telantarkan bertahun-tahun lamanya. Cobalah Kakak tanya ke hati kecil Kakak, apa Kakak benar-benar membencinya atau justru sebaliknya."


Setelah selesai berkata, ia pun langsung melangkah keluar dari kamar dan meninggalkan Maria.


***********************


Perusahaan CV


—Pukul 12.00Pm


Tak terasa siang hari sudah tiba, matahari pun sudah berada tepat di atas kepala. Dan kini saatnya waktu istirahat tiba, semua karyawan segera menghentikan aktivitasnya untuk menikmati waktu istirahat siangnya.


Sementara itu, Airin nampak tengah duduk di Pantry sambil menikmati makan siangnya. Karena untuk hari ini ia membawa bekal makanan yang di masak oleh Mamahnya, sehingga ia tidak pergi ke kantin bersama lainnya.


"Akhirnya aku bisa ngerasain masakan Mamah lagi," batin Airin sembari menguyah makanannya.


Dan di saat Airin tengah asik memakan makanannya, tiba-tiba seseorang menepuk punggung Airin dengan keras, sehingga membuat Airin tersentak dan langsung menoleh ke belakang. Ternyata orang yang menepuk pundak Airin itu adalah ....


"Pak Davin!"


Davin pun tersenyum, lalu ia segera duduk di kursi lainnya dan berhadapan dengan Airin.


"Huuft.... Bikin kaget aja, untung aku gak kesedak makanan," gumam Airin.


"Ahahaha.... Maaf Rin, aku beneran gak tahu kalau kamu sedang makan," ucap Davin.


"Hummmpt."


Airin lalu melanjutkan kembali makannya.


"Rin, nanti pulang kerja kita jadi kan pergi cari hadiah buat si kembar?" tanya Davin.


Airin menganggukkan kepalanya. "Tentu jadi dong Pak. Makanya aku ngajak Pak Davin supaya dapat tebengan gratis dan siapa tau nanti di traktir makan juga, hahaha...."


"Buuuuu, dasar kamu Rin," gumam Davin.


Airin terkekeh. "Hihihi, aku hanya becanda Pak."


Dan saat Airin hendak menyuapkan kembali makanannya ke dalam mulutnya, tiba-tiba Davin menarik tangan Airin yang sedang memegang sendok makannya dan menyuapkannya ke dalam mulutnya sendiri, sontak membuat Airin terperangah.


"Masakan Mamah kamu benar-benar enak, Rin." ucap Davin dengan santainya.


"Pak Davin! Kenapa makan punyaku sih!" pekik Airin.


"Hahaha, habisnya lihat makanan yang kamu makan, bikin aku pengen sih."


Airin mendengus kesal. "Humph.... Dasar Pak Davin ini."


Davin pun terus terkekeh melihat ekspresi wajah Airin yang kesal.


"Benar-benar lucu kamu, Rin." batin Davin.


Drama mereka makan siang pun masih berlanjut....


**********************


Rumah Sakit


Di dalam kamar rawatnya Zuy, Ray sedang berdiri di depan kamar mandi karena sedang menunggu Zuy yang berada di dalam, pandangannya pun terus mengarah ke arah Box bayi, di mana si kembar sedang tertidur. Sesaat kemudian, pintu kamar mandi terbuka dan Zuy melangkah keluar. Lalu ....

__ADS_1


"Ray, kamu masih di sini?"


Ray menoleh. "Tentu sayangku, aku kan nungguin kamu, takutnya sayangku kenapa-napa di dalam sana."


Zuy tersenyum dan saat hendak melangkahkan kakinya, lalu dengan sigapnya Ray langsung mengangkat tubuh Zuy dan menggendongnya ala bridal style. Kemudian ia membawa Zuy menuju ke tempat tidurnya. Setelah sampai, Ray langsung merebahkan tubuh Zuy di atas tempat tidur tersebut.


"Terimakasih Ray."


"Iya, sama-sama sayangku," balas Ray mengelus pipi Zuy.


"Sekarang kamu istirahat ya! Lihat mata kamu udah mulai sayu dan bengkak gini." titah Zuy mengusap rambut Ray.


Namun Ray menggelengkan kepalanya. "Tidak sayangku, nanti aja aku istirahatnya."


Mendengar itu, Zuy menghela nafasnya sembari menangkup kedua pipi Ray, lalu dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya ke arah Ray dan ....


Cup....


Satu kecupan manis dari Zuy mendarat di bibir Ray, sehingga membuat Ray tersipu dan langsung membalasnya.


"Sayangku benar-benar pengertian. Anak-anak Daddy jangan bangun dulu ya! Daddy dan Mommy mau bermesraan sebentar," batin Ray dengan riangnya.


Sesaat kemudian mereka berdua melepaskan tautannya.


"Sekarang istirahatlah!"


Ray langsung mengangguk. "Baiklah sayangku, tapi kalau kamu butuh apa-apa jangan lupa bangunkan aku ya sayangku!"


"Siap tampan-ku."


Sebelum melangkah ke tempat tidur lainnya, Ray terlebih dahulu memandangi Baby R dan Baby Z yang masih tertidur.


"Terimakasih anak-anak Daddy, karena kalian tidak menggangu Daddy dan Mommy yang sedang bermesraan," batin Ray sambil menoel gemas pipi si kembar.


"Ray, jangan menganggu mereka yang sedang tidur!" pekik Zuy.


"Ahahaha.... Maaf sayangku! Habisnya aku merasa gemas melihat Baby R dan Baby Z tertidur seperti itu," ucap Ray.


"Huuu, dasar kamu ya! Yaudah sana istirahat! Mumpung keduanya masih pada tidur."


"Iya sayangku."


Ray menuruti perkataan Zuy, ia pun segera melangkah ke arah tempat tidur lainnya. Setibanya, Ray langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur tersebut, perlahan ia memejamkan matanya dan tertidur.


"Terimakasih Rayyan...." lirih Zuy sembari memandangi Ray yang tertidur.


Kemudian pandangannya beralih ke arah kedua anaknya, ia pun terpaku saat melihat Baby Z yang terbangun dari tidurnya.


"Uuh, si cantiknya Mamah udah bangun, pasti karena tadi di gangguin Papah ya? Sini Mamah gendong dulu," ucap Zuy pada Baby Z.


Perlahan ia mengangkat tubuh Baby Z dari Box dan menggendongnya.


Sementara itu, nampak Bi Nana dan Mamahnya Airin baru saja tiba, tentunya bersama dengan anak-anaknya. Mereka pun bergegas menuju ke arah kamar di mana Zuy berada. Setibanya, Nara terlebih dahulu masuk ke dalam dan menghampiri Zuy.


"Kakak...." seru Nara memeluk Zuy.


Sehingga membuat Zuy tersentak dan memalingkan pandangannya ke arah Nara.


"Nara! Kamu kesini sama siapa?" tanya Zuy.


"Tentu saja dengan kami, Zuy." jawab Bi Nana.


"Bi Nana, Mamah. Kalian datang!"


"Tentu saja anak Mamah, dan kami juga bawakan makanan untuk mu dan suami mu," ujar Mamahnya Airin.


Zuy menyunggingkan senyumannya. "Terimakasih Bi Nana, Mamah." ucapnya.


"Sama-sama gadis kecilku," balas Bi Nana. "Lalu dimana Rayyan?" sambungnya.


"Dia sedang tidur Bi, tadi Zuy yang menyuruhnya. Soalnya dari tadi dia belum istirahat," ujar Zuy.


"Oh, yaudah biarkan dia istirahat dulu!" tutur Bi Nana, kemudian pandangannya mengarah ke Baby Z yang berada di gendongan Zuy.


"Uuh cantiknya cucu Nenek. Zuy, apa mereka sudah di beri nama?" tanya Bi Nana


Zuy kembali mengangguk. "Sudah Bi Nana."


"Terus siapa nama mereka?" Mamahnya Airin pun ikut penasaran.


"Nama mereka RAYNER G MICHAEL dan ZEANRA CANDIKA VALLERY."


"Wah nama yang bagus," puji Bi Nana dan Mamahnya Airin serempak.


"Terimakasih Nenek...." ucap Zuy mewakili kedua anaknya.


"Yaudah sekarang kamu makan dulu ya! Makanannya udah Mamah siapin di piring. Sini baby-nya! Biar Mamah yang menggendongnya," tutur Mamahnya Airin.


Zuy pun menuruti Mamahnya Airin, ia lalu memberikan Baby Z pada Mamahnya Airin. Setelah itu ia pun segera mengambil makanan yang di sediakan oleh Mamahnya Airin dan menyantapnya.


"Makan yang banyak gadis kecilku."


*****************************


Sementara itu di tempat lain....


"Kapan aku bebas dari sini, rasanya aku sudah tidak tahan lagi," lirihnya sambil menyandar di dinding.


Lalu kemudian seseorang berseragam polisi menghampirinya.


"Miss, ada yang ingin bertemu dengan anda!" ujarnya.


"Siapa?"


Ia langsung bangkit dari posisinya dan keluar dari tempatnya. Setelah itu, ia pun mengikuti langkah petugas tersebut dan betapa terkejutnya dia karena yang datang menemuinya adalah ....


"Archo!!"


"Hai Kimberly...."


***Bersambung....


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏

__ADS_1


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2