
<<<<<
Nampak jelas raut wajahnya yang memucat dan keringat dingin mengucur di wajahnya.
"Bunda....."
Dimas menyebut Bundanya di barengi buliran air matanya yang mengalir.
Lalu sesaat....
"Dimas, Nak!" panggil seseorang yang baru saja tiba dan berdiri di hadapan Dimas.
Perlahan Dimas mendongakkan kepalanya melihat ke seorang yang berada di hadapannya itu yang ternyata adalah....
"Bunda!" lirih Dimas.
"Kenapa kamu di sini, bukannya masuk ke dalam temani ...."
Perkataan Bunda Artiana terhenti karena tiba-tiba Dimas memeluk erat Bundanya itu sembari menangis, membuat hati Bunda Artiana terenyuh dan langsung membalas pelukan anak laki-lakinya itu.
......................
•Flasback....
Rumah Dimas
Kala itu Bunda Artiana dan Dimas sedang duduk santai di ruang keluarga sembari menonton televisi. Lalu Bunda Artiana mengalihkan pandangannya ke arah atas lebih tepatnya kamar Dimas.
"Eqi sama Nayla kenapa belum turun juga ya? Bentar lagi kan waktunya makan malam." tanya Bunda Artiana.
"Emm, mungkin Eqi masih nemenin Nay belajar. Bunda kan tau semenjak cucu Bunda duduk di bangku Sekolah dasar, Nay jadi rajin belajar bahkan tugas sekolah sedikit aja maunya langsung di kerjain." ujar Dimas.
"Nayla sama seperti kamu, Dimas. Dulu waktu kamu juga waktu sekolah sering gitu, rajin banget belajar dan ngerjain tugas sekolah. Tapi sayangnya dulu kamu itu cengeng Nak, kalau ada yang gak bisa di kerjakan atau dapat nilai minus ujung-ujungnya pasti nangis dan minta maaf ke Bunda sama Ayah." kata Bunda Artiana membuat Dimas tersipu.
"Bunda ini masih ingat aja tentang masa lalu Dimas," gumam Dimas.
"Tentu saja Bunda masih ingat Nak dan Bunda akan selalu Bunda simpan sebagai kenangan terindah untuk Bunda." ucap Bunda Artiana.
Dimas pun terharu dengan ucapan dari Bundanya itu.
"Dimas...."
"Iya Bunda," sahut Dimas sembari menoleh.
"Sepertinya di sekolah Nayla hanya dekat dengan anaknya Nana ya? Setiap pulang sekolah pasti yang di ceritain Nayla selalu dia," lontar Bunda Artiana.
Dimas tersenyum lalu berkata, "Ya mungkin karena di sekolah yang di kenal dekatnya cuma Nara Bun, meskipun Nara itu Kakak kelasnya. Sedangkan yang lainnya Nayla belum terlalu akrab."
Bunda Artiana pun manggut-manggut.
"Hmmm, iya juga ya. Tapi Bunda bersyukur karena mereka satu sekolah."
"Iya Bun, dan itu juga sesuai permintaan Nayla yang ingin satu sekolah dengan Nara."
Sementara itu di kamar Nayla....
"Nay, apa udah selesai?" tanya Eqitna.
"Iya Mah, udah selesai." jawab Nayla.
"Yaudah kalau udah selesai simpan buku dan pensilnya di tempatnya masing-masing, jangan sampai berantakan ya!" titah Eqitna.
Nayla mengangguk patuh. "Iya Mamah."
Kemudian Nayla meletakkan buku dan pensil bekas ia belajar ke tempatnya masing-masing sesuai apa yang di suruh oleh Mamahnya. Setelah selesai....
"Mah, Nay udah selesai menyimpan buku dan pensilnya di tempatnya semula," kata Nayla.
Eqitna melirik sekilas ke arah meja belajar Nayla, kemudian beralih ke Nayla lalu menempatkan tangannya di atas kepala anaknya dan mengelusnya.
"Anak pintar, yaudah kita turun yuk sayang! Ayah sama Nenek udah nunggu kita lho untuk makan malam bersama." ajak Eqitna sambil perlahan bangkit dari duduknya.
Namun Nayla menggelengkan kepalanya dan malah menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya dengan posisi tengkurap.
"Gak ah Mah, Nay mau di kamar aja. Mamah aja yang ikut makan sama Ayah dan Nenek." kata Nayla
"Bener gak mau ikut?"
"Iya bener Mah."
Eqitna mendesah. "Ya sayang sekali, padahal Mamah tadi udah buatin nugget sayur sama nugget ayam moza kesukaan Nay."
Mendengar itu, mata Nayla seketika langsung mengangkat kepalanya seraya membulatkan matanya.
"Serius Mamah udah buatin nugget sayur dan nugget ayam moza kesukaan Nay?"
"Ya serius sayang. Tapi barusan Nay bilang gak mau ikut makan bersama, jadi ya nanti Mamah akan bilang ke Ayah supaya Ayah yang ngabisin nugget-nya." ujar Eqitna, lalu ia memutar badannya dan berjalan menuju ke arah pintu.
Akan tetapi....
"Jangan Mah!" seru Nayla, seketika membuat Eqitna menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya kembali ke arah Nay.
"Kenapa jangan Nay?"
Nayla langsung beranjak dari tempat tidurnya dan mendekat ke Mamahnya bahkan melewatinya.
"Kamu mau kemana Nay?"
"Perut Nay lapar dan Nay mau ikut makan sama Nenek juga Ayah, Mah." kata Nayla sembari melangkah terlebih dahulu.
Eqitna menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan di barengi helaan nafasnya.
"Hmmm, tadi aja keukeuh gak mau ikut, giliran bilang ada nugget kesukaannya aja langsung ngeduluin Mamahnya," lirih Eqitna seraya menutup pintu kamar Nayla.
Ia pun melangkahkan kakinya menyusul Nayla yang sudah berada menuruni tangga sembari berlari kecil.
"Nayla jangan lari-lari nanti jatuh!" tutur Eqitna.
"Buruan Mah! Ayah sama Nenek udah nungguin." seru Nayla yang baru saja selesai menuruni anak tangga.
"Iya-iya." balas Eqitna, ia pun memijakkan kakinya menuruni anak tangga tersebut.
Akan tetapi saat baru tiga pijakan anak tangga, tiba-tiba tubuh Eqitna kehilangan keseimbangan membuatnya tergulir jatuh hingga sampai ke kaki anak tangga dengan posisi tengkurap.
Aaaaarrgh....
"Mamah!" teriak Nayla.
Mendengar suara anaknya, sontak membuat Dimas yang sudah berada di meja makan pun langsung beranjak dari duduknya dan bergegas ke arah Nayla, begitu pula dengan Bunda Artiana.
"Ada apa Nayla?" tanya Dimas.
"Mamah jatuh," Nayla menunjuk ke arah Eqitna sambil menangis.
"Eqitna!!"
Betapa terkejutnya Dimas melihat istrinya tersungkur di lantai dan nampak darah segar mengalir di kaki Eqitna, ia pun langsung mendekat ke Eqitna dan menopang tubuhnya.
"Ya ampun Eqi, kenapa bisa seperti ini?"
"Dimas, perutku sakit!" Eqitna merintih dan terus memegangi perutnya.
"Iya, kamu tahan ya! Kita ke rumah sakit sekarang." Dimas langsung membopong tubuh istrinya itu.
Lalu....
"Dimas, apa yang terjadi dengan Eqi?" tanya Bunda Artiana.
"Jatuh dari tangga Bun dan sekarang Dimas mau membawanya ke rumah sakit." jawab Dimas.
"Apa!" Bunda Artiana tersentak. "Yaudah, cepat sana! Nanti Bunda menyusul," sambungnya.
"Nay ikut!"
__ADS_1
"Yaudah ayo!" balas Dimas.
Dimas bergegas keluar menuju ke arah mobil seraya menggendong Eqitna, sedangkan Nay berjalan di belakang Ayahnya itu. Sesaat setelah ketiganya masuk mobil, Dimas langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
"Semoga tidak terjadi sesuatu pada menantu ku." ucap Bunda Artiana, kemudian Bunda Artiana masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap.
Hanya membutuhkan waktu perjalanan selama kurang lebih dua puluh menit, mereka akhirnya sampai di Rumah sakit. Dimas pun langsung menghentikan laju mobilnya tepat di depan pintu dan terlihat dua petugas rumah sakit berlari mendekat ke mobil Dimas sembari membawa brankar.
Karena waktu di perjalanan Dimas terlebih dahulu menghubungi pihak rumah sakit.
Setelah turun dari mobilnya dan membuka pintu mobil lainnya, Dimas langsung mengangkat tubuh Eqitna yang sudah lemas dan perlahan membaringkannya di atas brankar. Selepas itu, dua petugas langsung mendorong brankar tersebut ke ruang IGD di susul oleh Dimas dan Nayla.
Setibanya di sana, kedua petugas itu pun membawa brankar Eqitna masuk ke dalam untuk pemeriksaan, sedangkan Dimas lebih memilih menunggu di luar bersama Nayla. Sesaat Dokter Kiki keluar dari ruang tersebut.
"Dokter Dimas...." panggil Dokter Kiki pada Dimas.
Dimas langsung menghampiri Dokter Kiki.
"Bagaimana keadaan Eqi, Dok?" tanya Dimas.
Sebelum menjawab, Dokter Kiki terlebih dahulu menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan.
Lalu....
"Dokter Dimas, dengan berat hati saya menyampaikan bahwa keadaan Dokter Eqi sekarang kritis karena ia mengalami pendarahan hebat, selain itu juga ketubannya pun sudah pecah. Dan demi menyelamatkan nyawa keduanya, maka dengan sangat terpaksa Dokter Eqi harus melahirkan bayinya melalui operasi sesar." jelas Dokter.
Deeg!!
Dimas pun sangat terkejut sekaligus terpukul dengan apa yang di jelaskan oleh Dokter Kiki. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Eqitna harus melahirkan anaknya di usia kandungan menginjak 30 minggu.
Ingin sekali rasanya Dimas menangis, berteriak dan meluapkan semua emosinya, karena kejadian yang menimpa istrinya itu. Akan tetapi ia mencoba menahannya karena ia tidak ingin membuat Nayla bersedih.
"Dokter...." lirih Dokter Kiki memegang bahu Dimas.
Untuk sesaat Dimas menghela nafas panjangnya dan menatap wajah Kiki.
"Lakukan yang terbaik untuk keselamatan istri dan anakku, Dok! Meskipun harus jalan operasi," kata Dimas dengan tegas.
"Baiklah kalau begitu, anda harus tanda tangan di sini!" Dokter Kiki memberikan sebuah map berisi surat persetujuan pada Dimas.
Alih-alih membacanya Dimas malah langsung menandatangani surat tersebut. Setelah selesai, Dokter Kiki membawa Eqitna menuju ke ruang operasi.
••••••••
"Yang sabar ya Nak! Kita berdoa pada Tuhan semoga keduanya selamat dan dalam keadaan sehat." tutur Bunda Artiana.
"Ta-pi Bun-da, Dimas khawatir ka-lau Eqi ...." ucap Dimas sesenggukan.
Bunda Artiana lalu melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Dimas.
"Sssht... Jangan berpikir yang bukan-bukan Dimas! Dan yakinlah bahwa Tuhan akan menyelamatkan istri dan anakmu itu." kata Bunda Artiana sembari mengusap air mata Dimas.
Dimas pun mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Iya Bunda, maafin Dimas! Karena sempat berfikir yang bukan-bukan tentang keadaan Eqitna."
"Tidak apa-apa Nak, Bunda paham perasaan kamu saat ini." balas Bunda Artiana. "Sekarang kamu ganti baju dulu ya! Soalnya baju kamu penuh darahnya Eqitna." sambung kata Bunda Artiana sembari memberikan tas berisi baju milik Dimas.
"Iya Bunda," Dimas lalu mengambil tas tersebut dari tangan Bunda Artiana. Kemudian ia beranjak dari tempat duduknya.
"Lalu di mana Nayla?" tanya Bunda Artiana.
"Nayla ada di ruangan Dimas, Bun." jawab Dimas.
"Oh...."
"Eem, Dimas ganti baju dulu ya Bun!" pamit Dimas.
Bunda Artiana membalasnya dengan anggukan kepalanya saja. Lalu Dimas pun bergegas ke arah toilet, sedangkan Bunda Artiana mendudukkan dirinya di kursi bekas Dimas duduk.
"Tuhan, saya mohon selamatkan menantu dan calon cucuku! Lancarkan lah operasinya," doa Bunda Artiana untuk Eqitna.
Setelah menunggu selama hampir satu setengah jam, Dokter Kiki pun keluar dari ruang operasi. Seketika Dimas dan Bunda Artiana segera menghampirinya.
Dokter tersenyum di barengi anggukan kepalanya.
"Operasinya berjalan dengan lancar dan anak anda sudah lahir berjenis kelamin laki-laki," jawab Dokter Kiki.
Bunda Artiana dan Dimas menghela nafas leganya, bahkan senyum keduanya pun mengembang.
"Syukurlah...." ucap Dimas dan Bunda Artiana secara bersamaan.
"Tapi...."
"Tapi kenapa Dok? Apa terjadi sesuatu pada mereka berdua?" cecar Dimas.
Dokter Kiki membuang nafasnya.
"Tapi anak anda harus di rawat di ruang NICU karena berat badannya di bawah rata-rata bayi normal yaitu hanya 1,5 kilo gram saja. Sedangkan keadaan Dokter Eqi masih kritis dan harus di bawa ke ruang ICU!" jelas Dokter Kiki.
*Ruangan NICU (Neonatal Intensive Care Unit) adalah ruang perawatan intensif untuk bayi lahir.
Mendengar itu pun membuat Dimas dan Bunda Artiana tersentak. Kesedihan kembali menyerang keduanya, wajah sumringahnya kini berubah sendu, bahkan senyum yang tadinya mengembang kini memudar kembali.
"Apa! Jadi Eqitna masih kritis Dok?"
Dokter Kiki mengangguk. "Iya Dok."
Tidak bisa berkata apa-apa, hanya tangis Dimas kembali pecah seraya memeluk Bunda Artiana. Lalu sesaat petugas mendorong infant incubator keluar dari ruang operasi dan di susul brankar Eqitna.
Namun sebelum keduanya di bawa ke ruangan NICU dan ICU. Dokter Kiki mempersilahkan Dimas dan Bunda Artiana melihat keduanya.
"Cucu laki-laki Bunda sangat mirip dengan kamu, Dimas." ucap Bunda Artiana.
"Iya Bunda."
Setelah selesai dengan anaknya, kini Dimas beralih ke arah Eqitna.
"Eqi, lihatlah! Adiknya Nayla udah lahir dan dia laki-laki seperti yang kita harapkan. Jadi aku mohon, kamu tidurnya jangan lama-lama ya sayang! Karena aku, Bunda, Nayla serta jagoan kita sangat membutuhkan mu. Kamu adalah istri dan ibu yang terhebat untuk aku dan juga Nayla. Aku benar-benar mencintai mu dan aku tidak ingin kehilanganmu, sayang." ucap Dimas, di susul dengan beberapa ciuman di wajah istrinya itu.
Selepas itu, petugas pun membawa anak Dimas ke ruang NICU sedangkan Eqitna di bawa ke ruang ICU.
"Sabar ya Nak!" Bunda Artiana mengelus punggung Dimas.
"Dimas akan coba bersabar Bunda." balas Dimas.
"Kita ke Nayla yuk! Pasti dia udah nunggu kita." ajak Bunda Artiana.
Dimas pun hanya mengangguk saja, lalu keduanya melangkahkan kakinya menuju ke ruangan milik Dimas.
...----------------...
Keesokan harinya....
Villa Z&R
—Pukul 07.48am
Seperti pagi-pagi sebelumnya, setelah selesai dengan aktivitasnya seperti mandi, sarapan dan lainnya. Tuan pemilik Villa nampak berada di walk in closetnya, namun kali ini Zuy tidak ada di sana karena harus mengurus si kembar.
Sesaat setelah selesai, Ray keluar dari ruang walk in closet dan berjalan menuju ke kamar si kembar di mana Zuy dan kedua anaknya berada.
"Sayangku...." panggil Ray sembari mendekat ke pujaan hatinya itu.
Zuy yang sedang menyusui anak laki-lakinya pun langsung menoleh ke arah Ray.
"Sudah selesai ya? Emm, maaf ya Ray! Aku gak bantuin kamu seperti biasanya," ucap Zuy.
Ray tersenyum dan mendudukkan dirinya di atas ranjang samping Zuy, lalu ia mengelus lembut rambut Zuy.
"Tidak apa-apa sayangku," Ray mencium pipi Zuy dan beralih ke bibir Zuy.
Lalu terdengar suara celotehan dari Baby R, seketika membuat dua sejoli itu melepaskan tautan bibirnya dan melihat ke Baby R.
__ADS_1
"Pagi gantengnya Daddy," sapa Ray pada Baby R.
Ia pun mengangkat tubuh anak lelakinya itu dari pangkuan Zuy dan di ciumnya pipi gembul Baby R.
"Hum, Gantengnya Daddy bau asem sama bau susu." ucap Ray mengendus.
"Aku-nya kan belum mandi Daddy, makanya masih bau asem." balas Zuy mewakili Baby R.
"Oh pantesan." Ray mengalihkan pandangannya ke arah Baby Z. "Hmmm, si cantik masih nyenyak banget bobonya."
"Iya, tadi pagi Baby Z bangun duluan, makanya sekarang masih nyenyak."
Lalu....
"Oh ya sayangku, mungkin hari ini aku pulang sangat terlambat, soalnya ada meeting di luar. Gak apa-apa kan?" lontar Ray.
Zuy mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Iya gak apa-apa Ray. Aku akan selalu menunggu kamu pulang meskipun larut juga. Asalkan kamu pulang dengan keadaan baik dan selamat ya!" tutur Zuy mengelus pipi Ray.
"Siap Nyonya Rayyan yang cantik."
Zuy pun menyunggingkan senyumnya yang manis.
Beberapa saat kemudian....
Ray, Davin beserta Daddy Michael sudah berangkat menuju ke Perusahaan CV. Sedangkan Zuy kembali berada di kamar si kembar dan nampak baru saja memandikan kedua anaknya itu.
"Ganteng dan cantiknya Mamah sekarang makin pintar ya, bikin Mamah makin sayang sama kalian berdua," Zuy mengelus pipi tembem anak-anaknya.
Lalu....
Tok.... Tok.... Tok....
"Zuy...." suara Bi Nana memanggil Zuy.
"Masuk aja Bi Nana!"
Bi Nana pun membuka pintu kamarnya si kembar dan melangkah masuk.
"Eh, cucu-cucunya Nenek, udah pada mandi belum nih?"
"Udah dong Nenek, kita udah mandi dan udah wangi."
Bi Nana tersenyum, lalu ia mendaratkan bokongnya di atas ranjang dan mencium pipi kedua cucunya itu.
Sesaat....
"Zuy, kita ke rumah sakit yuk!" ajak Bi Nana.
"Hmmm, ke rumah sakit? Memangnya mau apa kesana Bi? Apa Bibi sakit atau anak-anak yang sakit?" cecar Zuy.
Bi Nana menghela nafasnya.
"Bibi sama anak-anak gak sakit Zuy. Bibi ajak kamu ke rumah sakit sebab Bibi ingin menjenguk Dokter Eqitna."
"Hah! Menjenguk Kak Eqi?! Memangnya kenapa dengan Kak Eqi?" Zuy pun penasaran sehingga bertanya kembali.
"Tadi Bibi mendapat kabar bahwa semalam Dokter Eqitna jatuh dari tangga dan di bawa ke rumah sakit." jelas Bi Nana.
Sontak membuat mata Zuy membulat karena terkejut mendengar kabar tersebut.
"Ya ampun Kak Eqi, padahal dia sedang hamil." lirih Zuy. "Eem, lalu bagaimana keadaannya Bi?"
"Bibi juga belum tahu Zuy, makanya Bibi ngajak kamu kesana. Apa kamu mau ikut Bibi menjenguk Dokter Eqi?"
Tanpa pikir panjang, Zuy langsung menganggukkan kepalanya.
"Iya, Zuy ikut Bi."
"Yaudah kalau gitu kamu siap-siap, Bibi tunggu di bawah!"
"Iya Bi Nana."
Bi Nana pun bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar si kembar.
**************************
Rumah Sakit
Sesampainya di rumah sakit, Zuy dan Bi Nana bergegas menuju ke arah pintu masuk. Namun secara kebetulan mereka berdua bertemu dengan Dimas yang kala itu tengah mengobrol dengan rekannya, seketika keduanya menghampiri Dimas.
Lalu....
"Paman Dokter....."
Dimas menolehkan kepalanya ke arah Zuy dan Bi Nana.
"Zuy, Nyonya Nana!"
Mereka pun berjabat tangan secara bergantian.
"Paman Dokter, bagaimana kabar Kak Eqi? Kenapa Paman Dokter gak bilang ke Zuy kalau Kak Eqi jatuh dan di bawa ke rumah sakit?" cecar Zuy pada Dimas.
Mendengar beberapa pertanyaan dari keponakannya itu, membuat Dimas langsung menghela nafasnya dan memegang kedua bahu Zuy.
"Maafin Paman ya kalau Paman gak sempat bilang ke kamu soal keadaan Eqitna."
"Iya gak apa-apa Paman, lalu bagaimana keadaan Kak Eqi?"
"Emm itu ..., lebih baik kita masuk dulu yuk! Nanti Paman akan beritahu keadaan Eqitna, dan lagi di sana juga ada Bunda sama Nayla." ajak Dimas.
Bi Nana dan Zuy menganggukkan kepalanya secara bersamaan, lalu kemudian mereka melangkahkan kakinya masuk ke dalam menuju ke ruang pribadi milik Dimas.
...----------------...
Tak terasa langit yang cerah sudah beranjak pergi dan di ganti dengan langit malam yang indah di hiasi bintang-bintang.
–Pukul 08.40pm
Zuy terlihat sedang bersama Airin di ruang tengah sambil menonton televisi. Sedangkan Bi Nana sudah pulang ke rumahnya sendiri.
Dan saat keduanya tengah asik menonton, tiba-tiba....
"Zuy, Airin!" seru seseorang.
Mendengar namanya di panggil, pandangan keduanya langsung beralih ke arahnya.
"Pak Davin!"
"Selamat datang Oppa-Oppa saranghae." sambut Airin.
Davin mendekat ke arah Zuy dan Airin dengan nafasnya yang terengah-engah.
"Pak Davin ada apa? Kenapa terengah-engah begitu, apa Pak Davin habis lari? Emm, lalu di mana Ray?" lontar beberapa pertanyaan Zuy.
"Iya kamu benar aku memang habis lari-lari, sebab aku ingin menyampaikan kabar ke kamu soal Tuan Ray, Zuy." ujar Davin.
Zuy mengernyit. "Kabar? Memangnya kabar apa Pak? Apa terjadi sesuatu dengan Ray?" cecarnya.
Untuk sejenak Davin menundukkan kepalanya seraya menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya.
Lalu kemudian ia kembali menengadah melihat Zuy, terlihat jelas air mata yang sudah memenuhi mata Davin itu.
"Tu-Tuan Ray, dia ...."
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1