Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Tikus yang tertangkap....


__ADS_3

<<<<<


Pak Wildan terkejut mendengar suara khas dari orang tersebut, lalu ia menoleh ke arahnya.


"Tu-Tuan Ray!"


Pak Wildan tidak menyangka, orang yang ia kira terbaring di rumah sakit karena ulahnya, ternyata sedang berdiri di hadapannya sambil berkacak pinggang. Bukan hanya Pak Wildan saja, semua yang ada di ruang rapat itu pun ikut terkejut.


"Lho katanya Tuan Ray sedang koma karena kecelakaan? Kenapa bisa ada di sini dan lagi ia nampak sehat-sehat saja."


"Iya kok bisa ya? Apa jangan-jangan orang yang terbaring di rumah sakit itu bukan Tuan Ray?"


Bla.... Bla.... Bla.....


Lontaran demi lontaran dari semua orang yang berada di sana. Lalu....


"Pak Wildan, kenapa anda nampak terkejut seperti itu? Apa anda tidak senang dengan kehadiran saya di sini?" cecar Ray sambil mendekat ke arah Pak Wildan.


"Si-siapa yang tidak senang dengan kehadiran anda, Tuan Ray. Justru saya sangat senang, karena anda bisa hadir pada rapat ini. Tapi bukannya anda di rumah sakit?" lontar Pak Wildan,


Nampak raut wajahnya Pak Wildan yang mulai basah akibat keringatnya bercucuran.


"Ya, saya memang di rumah sakit, tapi hanya untuk menjenguk pengawal saya yang kecelakaan itu," jawab Ray.


"Apa! Ja-jadi pengawal anda yang kecelakaan! Bukan anda, Tuan Ray?" lagi-lagi Pak Wildan terkejut. "Tsk, kurang ajar! Ternyata mereka salah orang," umpatnya dalam hati.


Ray lalu menyunggingkan senyuman smirknya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Pak Wildan.


"Apa anda kecewa, Pak Wildan? Karena rencana anda untuk mencelakai saya tidak berhasil?" bisik Ray.


Seketika mata Pak Wildan membulat sempurna saat mendengar bisikan Ray. Ray segera menjauhkan wajahnya dari Pak Wildan.


"Tu-Tuan Ray, apa yang anda katakan barusan, ma-mana mungkin saya melakukan itu. Apalagi saya sudah menganggap anda sebagai calon menantu saya," ujar Pak Wildan.


Lalu....


"Hah! Anda sudah menganggap calon menantu pada Tuan Ray? Tapi kenapa tadi anda bilang kalau Tuan Ray berbuat curang dalam pekerjaannya?" lontar Davin dengan nada keras.


Mendengar itu, Ray langsung menatap tajam ke arah Pak Wildan.


"Apakah itu benar Pak Wildan?"


"Tidak! Bukan seperti itu Tuan Ray, tapi...."


Lalu salah satu rekannya bangkit dari tempat duduknya.


"Pak Wildan, kenapa anda seperti orang gugup? Bukannya tadi anda bilang seperti itu, bahkan anda memberikan selembar kertas ini!" paparnya sambil menunjukkan selembar kertas yang ia pegang.


Ray langsung mengambil kertas itu dan membacanya.


"Oh, ternyata anda benar-benar orang yang tidak tahu berterimakasih ya Pak Wildan," sergah Ray, ia pun merobek lembar tersebut.


Pak Wildan langsung tertunduk diam, rasa takutnya kini mulai menyerangnya.


"Oh iya, saya sampai lupa. Sebenarnya kedatangan saya kesini ingin memberikan hadiah untuk Pak Wildan, tapi ...." seloroh Ray.


Tiba-tiba Pak Wildan langsung mengangkat kepalanya.


"Hadiah! Apa itu Tuan Ray?" tanya Pak Wildan.


Lagi-lagi Ray menyunggingkan senyuman smirknya saat mendengar pertanyaan Pak Wildan. Lalu kemudian.....


Ctaaak....


Ray menjentikkan jari tangannya dan seketika Ardan bersama dengan pengawal Ray masuk ke dalam ruang rapat tersebut sambil membawa dua orang yang di duga sebagai orang yang di suruh Pak Wildan. Melihat itu, sontak membuat Pak Wildan semakin terkejut.


"Ka-kalian!" lontar Pak Wildan.


"Apa anda mengenal kedua orang ini, Pak Wildan?" pekik Ray.


"Saya tidak mengenal mereka berdua, dan lagi siapa mereka? Dan apa hubungannya dengan saya?" elak Pak Wildan.


Lalu kemudian pengawal Ray mendekatkan orang itu pada Ray. Seketika Ray langsung menjambak rambut orang tersebut.


"Hei, apa kau mendengarnya barusan, Pak Wildan tidak mengenalmu, apa kau berbohong padaku?" cicit Ray.


"Sa-saya tidak berbohong Tuan, beliau lah yang menyuruh saya untuk menyabotase mobil anda dan beliau juga yang membawa orang ini untuk membantu saya bahkan dia juga yang meretas Cctv yang berada di bengkel," jelas orang tersebut sambil menunjuk ke arah orang suruhan Pak Wildan.


"Bi-bicara apa kamu! Jangan seenaknya memfitnah orang, kamu bisa saya tuntut!" sentak Pak Wildan.


"Tuan, kenapa anda masih mengelak. Anda yang menyuruh saya dan ...." pandangannya seketika mengarah ke arah layar monitor yang berada di depannya.


"Rekaman itu! Nah itu buktinya, waktu anda sedang meminta saya untuk menyabotase mobil milik Tuan Ray. Bahkan anda mengancam saya dan keluarga saya jika saya tidak menuruti anda," sambung orang itu.


Seketika pandangan semuanya langsung mengarah ke Pak Wildan.


"Pak Wildan benar-benar nekat, bukan hanya ingin menjatuhkan Tuan Ray, bahkan dia sampai punya niat untuk mencelakai Tuan Ray."


"Apa yang di pikirkan olehnya, sampai-sampai berbuat seperti itu?"


Dan cecaran demi cecaran lainnya dari mereka yang ada di sana, sehingga membuat Pak Wildan tersudut. Lalu tiba-tiba ....


"Hahaha.... Hahaha..... Hahaha...." tawa Pak Wildan seketika menggema.


"Bener-bener gak waras ini orang," umpat Davin.


"Tuan Ray, ternyata anda benar-benar pintar ya sampai bisa menjebak saya. Iya memang saya yang melakukannya, itu karena anda sudah menolak anak saya bahkan anda sampai menjebloskan anak saya ke penjara, hanya karena wanita murahan itu! Haaa.... Tapi sayangnya rencana saya ini malah gagal, coba kalau berhasil dan anda mati dalam kecelakaan tersebut, mungkin saya akan menikahi wanita murahan milik anda itu. Ya walaupun dia wanita miskin dan murahan, akan tetapi tidak untuk di atas ranjang kan? Buktinya sampai anda tergila-gila padanya," ujar Pak Wildan dengan panjangnya.


Seketika Ray langsung terpancing amarah dengan ujaran yang di lontarkan oleh Pak Wildan. Ray pun mengepalkan tangannya dengan kuat dan pada akhirnya....


Bugh!


Ray melayangkan tinjunya ke arah Pak Wildan membuat Pak Wildan tersungkur.


"Apa yang kau katakan, B*stard? Cari mati, hah!" sungut Ray.


Pak Wildan pun hanya tersenyum sinis, membuat Ray semakin murka dan saat hendak melayangkan tinjunya kembali, Ardan dan Davin dengan sigapnya langsung memegangi tangan Ray.


"Tuan Ray cukup! Jangan berlebihan!" pinta Davin.


"Benar Tuan Ray, lebih baik serahkan saja pada kami!" sambung Ardan.


"Tapi dia...." hardik Ray.


Davin mendekatkan wajahnya ke telinga Ray.


"Tuan Ray, ingat Zuy sedang hamil!" bisik Davin.


Seketika Ray langsung menurunkan tangannya setelah mendengar bisikan dari Davin.


"Saya serahkan orang tua ini pada anda, Pak Ardan. Pastikan dia di hukum seberat-beratnya!" pinta Ray.


"Itu sudah menjadi tugas kami Tuan," ujar Ardan. "Kalian bawa orang ini!" sambung perintah Ardan pada rekannya.


Mereka pun mengangguk, lalu rekan Ardan langsung membawa Pak Wildan dan dua orang suruhannya pergi dari ruang tersebut. Sesaat setelahnya Ardan lalu mengulurkan tangannya ke arah Ray.


"Tuan Ray, semuanya sudah beres. Kalau begitu saya permisi, oh iya jangan lupa anda harus datang ke kantor ya!" kata Ardan.


"Iya nanti saya datang. Terimakasih atas bantuannya Pak Ardan," ucap Ray membalas uluran tangan Ardan.


Setelah melepaskan jabatan tangannya, Ardan pun melangkah pergi. Kemudian salah seorang menghampiri Ray.


"Tuan Ray, kami minta maaf karena sempat termakan oleh omongan Pak Wildan," ucapnya.


"Sudah tidak apa-apa, ini semua salah paham," balas Ray. "Kak Davin ayo kita pergi!" sambung ajaknya pada Davin.


Davin pun mengangguk patuh. "Baik Tuan Ray."

__ADS_1


Mereka bergegas keluar dari ruangan tersebut, saat sudah sampai di depan pintu lift, tiba-tiba....


"Tuan, tunggu sebentar!" seru seseorang memanggil


Ray dan lainnya menghentikan langkahnya, kemudian orang tersebut pun langsung menghampiri Ray. Setelah berhadapan dengan Ray.


"Maaf anda siapa ya?" tanya Ray kebingungan.


Lalu orang tersebut mengulurkan tangannya ke arah Ray.


"Tuan, nama saya Allena dan saya perwakilan dari Perusahaan HM," ucap Allena memperkenalkan diri. "Anda Rayyan G Michael kan?" sambung tanyanya.


"Iya saya Rayyan," balas Ray.


Akan tetapi ia tidak membalas uluran tangan Allena, sehingga membuat Allena kecewa dan menurunkan tangannya, bahkan Ray tidak melihat Allena, pandangannya hanya fokus pada hpnya itu.


"Euuum Tuan Ray, maaf kalau saya lancang! Apa saya bisa meminta nomor anda?" tanya Allena.


"Bukannya setiap Perusahaan yang berhubungan dengan Perusahaan CV, sudah mempunyai nomor dan email dari Perusahaan CV?" lontar Ray.


"Bukan itu, maksud saya.... Ah lupakan Tuan! Lalu apakah saya bisa mengajak anda untuk makan siang bersama?" lagi-lagi Allena mengajukan pertanyaan.


Sehingga membuat Davin yang berada di sebelah Ray langsung mengerutkan dahinya.


"Sepertinya ada yang gak beres dengan wanita ini," batin Davin.


"Maaf saya menolaknya, karena istri saya sudah memasak makanan untuk saya dan lagi saya tidak suka makan dengan wanita lain selain istri saya," jelas Ray.


Allena pun tersentak saat mendengar Ray menyebut kata istri.


"Anda punya istri?"


"Iya, apa ada masalah?" tanya Ray.


Allena lalu mengibaskan tangannya. "Ti-tidak ada Tuan."


"Kak Davin ayo kita pulang sekarang!" ajak Ray pada Davin.


"Iya Tuan Ray," balas Davin mengangguk.


Setelah pintu lift terbuka, Ray dan Davin segera masuk dan meninggalkan Allena tanpa permisi dan pamit.


"Benar-benar pria yang dingin!" umpat Allena.


Selama berada di dalam lift, Ray tak henti-hentinya menatap layar hpnya sambil senyum-senyum sendiri dan ternyata ia tengah chattingan dengan pujaan hatinya.


[Chatt]


My beloved Wife


💌 Sayangku, aku merindukanmu... 📲 (Ray)


📲 Apa sih Ray. Baru juga gak bertemu beberapa jam, udah ngomongin rindu. 💌 (Zuy)


💌 Biarin aja, meskipun kita gak bertemu beberapa jam, menit atau detik. Aku tetap akan selalu merindukanmu, sayangku yang cantik! 📲 (Ray)


📲 Hmmm mulai lagi deh penyakit gombalnya. 💌 (Zuy)


💌 Hehehe.... Oh iya, sayangku mau di bawain apa? 📲 (Ray)


📲 Apa aja deh, terserah kamu saja. 💌 (Zuy)


💌 Oke sayangku. Udah dulu ya! Soalnya aku sudah di jalan. Jangan lupa makan yang banyak! I LOVE YOU sayangku.... 📲 (Ray)


📲 Iya Ray. Kamu hati-hati ya! I LOVE YOU TOO.... 💌 (Zuy)


Chatt pun berakhir, kemudian Ray menaroh hpnya kembali ke saku jasnya.


"Ehemm, mesra terus ya!" cetus Davin.


"Jelas dong, hahaha...." Ray menyombongkan dirinya.


"Dasar bucinnya si bayi gede," gumam Davin.


Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Ray dan Davin segera keluar dari lift tersebut dan melangkah keluar. Setibanya....


"Kak Davin, Kakak langsung ke Perusahaan ya!" titah Ray.


"Oke Tuan Ray. Euuum, setelah ini anda mau kemana?" tanya Davin.


"Tentu saja aku mau pulang dan berduaan dengan sayangku," jawab Ray.


"Haaa.... Iya ya, terserah anda deh, bayi gede." gumam Davin membuat Ray terkekeh.


Davin pun segera masuk ke dalam mobilnya dan bergegas menuju ke Perusahaan CV.


"Tuan Ray, ayo!" ajak Henri yang sedari sudah ada di luar.


"Oke, tapi kita ke kantor polisi dulu!" titah Ray


Ray lalu masuk ke mobil, sesaat Henri pun menyusulnya. Setelah mobil menyala, Henri langsung melajukan mobilnya dan meninggalkan Perusahaan milik Pak Wildan.


********************


Rumah Dimas


Sementara itu, Archo dan Maria nampak baru pulang dari luar. Setelah melihat Zuy meskipun tidak menemuinya, Archo pergi membawa Maria jalan-jalan. Karena sejak di Amerika, Maria hanya berdiam diri di rumah.


Saat mobilnya sudah terparkir, Archo segera turun dari mobilnya dan mengambil kursi roda milik Maria yang ada di bagasi mobil. Setelah itu Archo mengangkat tubuh Maria dan mendudukkannya di atas kursi roda tersebut. Archo lalu mendorong kursi roda tersebut masuk ke dalam rumah.


"Kami pulang...." seru Archo sambil melangkah masuk.


"Selamat datang...." sambut Bunda Artiana yang tengah duduk sambil memainkan alat rajutannya.


Archo dan Maria pun langsung menghampiri Bunda Artiana.


"Bunda sedang apa?" tanya Maria.


"Bunda sedang membuat baju, Maria." jawab Bunda Artiana.


Pandangan Maria mengarah pada hasil rajutan Bunda Artiana.


"Bunda, kenapa buat baju kecil seperti itu? Apakah muat di badannya Nayla?" tanya Maria.


"Kamu ini bagaimana, tentu saja tidak akan muat di badannya Nayla," ujar Bunda Artiana.


"Lantas baju rajutan ini untuk siapa?" Maria pun mulai penasaran.


Bunda Artiana pun tersenyum dan berkata, "Ini sebenarnya untuk kedua calon cicit Bunda, Maria. Sebenarnya sudah beberapa yang sudah Bunda kasih untuknya."


"Apa! Jadi ini untuk calon anak-anak Zuy," Maria terkejut mendengar perkataan Bunda Artiana.


"Iya Maria, ini untuk calon anak-anaknya. Kamu tahu kan Maria, selama 29 tahun dia tidak pernah merasakan kasih sayang dari kita, bahkan dia tidak tahu kalau kita ini keluarganya," ujar Bunda Artiana.


Seketika Maria menundukkan kepalanya, air matanya nampak mengalir membasahi pipinya itu.


"Sebenarnya waktu itu, setelah hasil tes DNA antara kamu dan Zuy sudah keluar. Bunda ingin sekali memberitahu pada Zuy bahwa Bunda adalah Neneknya. Akan tetapi, Dimas melarang Bunda," kata Bunda Artiana.


"Ke-kenapa Dimas melarang Bunda?" tanya Maria


"Karena Dimas takut, kalau Zuy akan shock dan berdampak pada kandungannya. Kamu ingat kan Maria, saat di rumah sakit waktu itu, kamu berteriak pada Zuy dan meminta Zuy untuk menggugurkannya?" ujar Bunda Artiana.


Maria mengangguk dan berkata, "Iya Bunda, Maria ingat akan ucapan Maria yang keterlaluan itu, sampai Zuy membenci Maria dan bilang kalau dia sangat bersyukur bahwa Maria bukan Ibu kandungnya."


(Bab.151 Sudah sangat keterlaluan.)


"Nah dari situ Dimas melarang Bunda untuk memberitahu pada Zuy yang sebenarnya, awalnya Bunda menolak. Tapi demi kebaikannya dan calon anaknya, akhirnya Bunda menuruti perkataan Dimas dan sampai sekarang ia tidak mengetahui siapa kita sebenarnya," jelas Bunda Artiana.

__ADS_1


Hiks....


"Bunda, maafkan Maria. Karena kesalahan Maria, Bunda jadi ...." ucap Maria yang di lanjutkan dengan tangisannya.


Bunda Artiana langsung meletakkan alat rajutannya dan beralih memeluk Maria.


"Sudah Nak! Ini bukan sepenuhnya salah mu. Sudah jangan menangis!" tutur Bunda Artiana sambil mengelus punggung Maria.


Sedangkan Archo yang berada di sampingnya hanya bisa tertunduk diam.


*************************


Rumah Ray


Di rumah Ray, Zuy nampak tengah memasukkan boneka-boneka beruang yang ia dapat dari Ray ke dalam lemari hias khusus boneka. Dari yang besar sampai yang terkecil pun ia masukkan semuanya, lalu kemudian Bu Ima datang menghampiri Zuy.


"Nak Zuy, mau makan sekarang?" tanya Bu Ima.


Zuy menoleh. "Nanti aja Bu, soalnya Zuy belum selesai merapikan boneka-boneka ini," jawabnya.


"Hmmm.... Nampak makin banyak saja koleksi boneka beruang mu, Nak." kata Bu Ima sambil ikut membantu Zuy.


Zuy pun tersenyum. "Iya Bu, tapi Zuy senang dengan boneka-boneka ini. Dan lagi siapa tahu salah satu dari anak Zuy perempuan, jadi ini bisa Zuy berikan padanya."


"Semoga saja ya Nak. Ibu sangat bersyukur karena Tuan Ray begitu sayang dan perhatian padamu," ucap Bu Ima.


"Iya Zuy juga bahagia, apalagi Zuy memiliki Bu Ima yang selalu baik pada Zuy," balas Zuy.


Bu Ima tertegun mendengarnya, ia pun langsung mengelus rambut Zuy. Sesaat kemudian....


"Nah sudah selesai, terimakasih sudah membantu, Bu." sambung ucap Zuy.


"Sama-sama Nak, ayo makan!" ajak Bu Ima.


"Iya Bu, tapi Bu Ima temani Zuy makan ya!" pinta Zuy.


Bu Ima langsung menganggukkan kepalanya.


"Iya Ibu temani kamu makan," kata Bu Ima.


Kemudian mereka pun berjalan menuju ke meja makan.


—Pukul 02.30Pm


Ray nampak baru pulang, setelah selesai dengan urusannya di luar, setelah turun dari mobil, ia pun bergegas masuk ke dalam rumah.


"Sayangku, aku pulang...." seru Ray.


Namun tidak ada jawaban, Bu Ima pun menghampiri Ray.


"Tuan Ray, selamat datang!" sambut Bu Ima


"Sayangku mana Bu?" tanya Ray.


"Nak Zuy sedang istirahat di kamarnya, Tuan." jawab Bu Ima.


"Oh, yaudah kalau begitu Ray langsung ke kamar ya Bu. Ini tolong taroh di kulkas ya Bu!" kata Ray sambil memberikan bungkusan yang ia bawa.


"Iya Tuan Ray," balas Bu Ima mengangguk.


Kemudian Ray bergegas menuju ke kamarnya. Saat sudah berada di kamarnya, Ray tersenyum melihat pujaan hatinya yang tengah tertidur lelap. Ia lalu mendaratkan bibirnya ke bibir Zuy dan menyesapnya dengan lembut sampai pada akhirnya Zuy terbangun dari tidurnya karena terusik akibat ulah Ray.


Perlahan Zuy membuka matanya dan betapa terkejutnya Zuy saat pandangannya mengarah ke Ray yang sudah berada di hadapannya.


Ray yang melihat pujaan hatinya membuka matanya, ia segera menghentikan aksinya itu.


"Sayangku...."


"Ray, sejak kapan kamu disini?" tanya Zuy perlahan membangunkan tubuhnya itu.


"Baru saja sampai, maaf ya sudah membangunkan mu, sayangku." ucap Ray.


"Tidak apa-apa Ray, lalu bagaimana urusannya apa sudah beres? Apa tikus-tikus sudah tertangkap?" tanya Zuy penasaran.


Ray seketika menyunggingkan senyumannya.


"Tentu berhasil dong, sayangku." ujar Ray


Sontak membuat Zuy bahagia dan langsung memeluk Ray.


"Selamat Ray, akhirnya rencana mu berhasil dan tikus-tikus akhirnya tertangkap," ucap Zuy.


"Terimakasih sayangku, ini semua juga berkatmu yang selalu mendukung dan mendoakan ku," kata Ray membalas pelukan Zuy.


Sesaat setelahnya mereka melepaskan pelukannya, Zuy lalu beranjak dari tempat tidurnya.


"Mau kemana sayangku?" tanya Ray.


"Zuy mau mandi, soalnya Zuy merasa kegerahan," jawab Zuy.


"Yaudah ayo mandi bareng!" ajak Ray.


"Hah! Apa mandi bareng?"


"Iya, ayo sayangku. Badanku juga sudah lengket nih," ujar Ray.


"Ta-tapi Ray...."


Ray tidak memperdulikan hardikan Zuy, ia malah langsung membawa Zuy ke kamar mandinya.


Mulai lagi deh mereka, bikin iri saja.... Huuu.... (Author nimbrung)


...----------------...


Dua Hari Kemudian....


Rumah Bi Nana


Aries nampak tengah memakai kemejanya, karena hari ini, hari dimana ia akan ke rumah Pak Willy untuk melamar Yiou, tentunya di temani oleh Pak Randy dan Bi Nana sebagai wali Aries, karena orang tua Aries berada di luar negeri.


Setelah selesai berdandan, Aries pun segera keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga satu persatu. Saat sudah menuruni anak tangga terakhir, Aries segera menghampiri Pak Randy dan Bi Nana yang sedari tadi sudah berada di ruang utama menunggu Aries.


"Om, Tante.... Aries sudah siap," ujar Aries.


"Wah kamu tampan sekali Ries," puji Bi Nana.


"Terimakasih pujiannya Tante," ucap Aries tersipu.


"Yaudah kalau sudah siap semuanya, ayo kita berangkat!" kata Pak Randy.


Aries dan lainnya mengangguk. Kemudian mereka melangkah keluar dari rumahnya, Aries lalu membukakan pintu mobilnya untuk Bi Nana dan Nara, kemudian ia menyusul masuk.


"Ries apa kau gugup?" tanya Pak Randy


"Tidak Om," singkat Aries.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Pak Randy sambil menyalakan mobilnya.


Sesaat setelahnya, Pak Randy langsung melajukan mobilnya menuju rumah Pak Willy.


"My love, aku datang...."


***Bersambung.....


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏

__ADS_1


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2