
<<<<<
Terdengar suara gaduh dari arah pintu kamarnya, seketika berhasil membuat Archo langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara tersebut.
"A-Adriene!"
Ia menyebut nama seseorang yang sedang berdiri beberapa jarak darinya seraya menunjukkan ekspresi terkejutnya, dan seorang itu ternyata calon istri dari Archo yaitu Adriene.
Untuk sesaat Adriene terdiam seraya membelalakkan matanya melihat Archo yang masih di atas tempat tidurnya dengan seorang wanita yang masih tertidur di sebelah Archo. Tangannya bergetar hebat, jantungnya seketika berdegup kencang dan di bawahnya terlihat nampan beserta makanan dan minuman yang berserakan di lantai.
Nampaknya suara gaduh tadi berasal dari Adriene yang menjatuhkan nampan berisi makanan yang ia bawa untuk Archo.
Ya beberapa hari ini, setiap pagi Adriene selalu datang ke kamar Archo dan membawakan sarapan untuknya. Ia melakukan itu karena permintaan dari Daddy Mario dan dengan senang hati Adriene langsung menurutinya.
Lantas bagaimana dia bisa masuk ke kamar Archo? Tentu saja karena ia mempunyai card lock cadangan kamar hotel yang di tempati Archo dan Daddy Mario lah yang memintanya pada resepsionis hotel.
Lalu sesaat Adriene menarik nafasnya dan menghembuskannya, perlahan ia mendekat ke arah Archo. Saat sudah di dekatnya, Adriene pun menatap lekat wajah lelaki yang di cintainya dan nampak air mata yang sudah memenuhi matanya itu.
"Adriene...." lirih Archo.
"Que s'est-il passé? Et qui est cette femme à côté de toi, Arc? (Apa yang terjadi? Dan siapa wanita yang berada di sebelahmu ini, Arc?)" cecar Adriene seraya menunjuk ke arah wanita di sebelah Archo, buliran bening pun mulai lolos dari matanya dan mengalir di pipinya.
Sekilas Archo menoleh ke wanita di sampingnya itu, lalu kembali ke Adriene.
"Ah anu, sebenarnya dia itu ...." Archo terdiam sembari matanya berkeliling.
Ia nampak bingung menjelaskannya pada Adriene, sebab Archo juga masih mencoba mengingat tentang apa yang sudah ia lakukan semalam bersama wanita asing yang berada di sebelahnya itu.
"Kenapa diam Arc? Cepat jawab siapa wanita itu? Dan apa yang sudah kalian berdua lakukan?" Adriene mencecar Archo kembali.
Sesaat terdengar suara helaan nafas panjang yang keluar dari mulut Archo.
"Maafkan aku Drien! Sebenarnya wanita di sebelah ku ini adalah teman kencan ku selama berada di Indonesia. Dan apa yang kami lakukan, tentu saja seperti apa yang kamu lihat sekarang kami berdua berada di tempat tidur tanpa busana dan kamu pasti bisa menebaknya tanpa perlu aku beritahu." jelas Archo.
Namun ia sengaja membohongi Adriene, tentunya semua tahu bahwa Archo tidak pernah menganggap Adriene calon istrinya. Ia hanya menganggap Adriene itu hanya teman sekaligus Dokter pribadi dari Daddy-nya itu. Maka dari itu ia terpaksa berbohong supaya Adriene secepatnya menyerah dengan usahanya untuk mendapatkan hati Archo.
"Apa kamu sering melakukan ini dengan wanita itu, Arc?"
Archo menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Iya, kami sering melakukannya dan kami sangat menikmatinya."
Nyuuut!
Seketika membuat hati Adriene terasa sakit seperti ribuan jarum menusuk, aliran bening dari matanya pun kembali mengalir deras membasahi pipinya. Lalu tiba-tiba....
Plaak!
Adriene mendaratkan tamparannya ke pipi Archo dengan cukup keras sehingga menyebabkan pipi Archo memerah.
"Kamu benar-benar keterlaluan Arc, kamu tega menyakiti perasaan ku ini!" tangis Adriene.
"Maaf, aku ...."
"Sudah! Untuk saat ini aku tidak mau mendengar kata apapun yang keluar dari mulut kamu dan aku sangat membencimu, Arc!" lontar Adriene dengan suara keras.
Kemudian ia membalikkan badannya dan dengan perasaannya yang hancur Adriene pun bergegas keluar dari kamar tersebut meninggalkan Archo serta wanita itu.
"Maafkan aku Adriene! Aku terpaksa membohongimu, supaya kamu tidak terlalu berharap banyak dari ku." lirih Archo melihat ke arah pintu.
Sesaat pandangan Archo beralih ke wanita yang berada di sampingnya.
"Sampai kapan kamu akan berpura-pura tidur seperti itu, hm!" cicit Archo mengguncang tubuhnya.
Mendengar itu, seketika wanita tersebut langsung membuka matanya dan menatap Archo.
"Jangan menatapku dan cepatlah bangun!" pekik Archo.
Wanita itu pun langsung bangkit dari posisinya menjadi duduk, lalu dengan tiba-tiba Archo mencengkeram kuat tangannya sehingga membuat wanita itu nampak kesakitan.
"Cepat katakan siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu bisa ada di tempat tidur ku?" cecar Archo dengan tatapan tajamnya.
Namun wanita itu hanya terdiam seraya merasakan sakit di tangannya karena cengkraman Archo yang semakin kuat.
"Kenapa diam saja? Apa kamu tidak bisa bicara, hah!" sentak Archo.
Wanita itu langsung mengangguk-anggukkan kepalanya seakan membalas perkataan Archo, sontak membelalakkan matanya karena terkejut.
"Ja-jadi kamu bisu?" tanya Archo dan lagi-lagi dia hanya menganggukkan kepalanya saja.
Seketika ia langsung melepaskan cengkeramannya dari tangan si wanita tersebut dan membuka laci nakasnya. Setelah itu, Archo mengambil sebuah tab miliknya dan memberikannya pada wanita di sampingnya.
"Cepat beritahu aku siapa kamu sebenarnya?!"
Lalu wanita itu memainkan jarinya di layar tab tersebut, kemudian ia menunjukkannya pada Archo.
'Namaku Melan dan aku hanya seorang gadis bisu saja.'
"Melan? Gadis bisu?" lirih Archo. "Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kamu bisa berada di tempat tidur ku?" sambung tanyanya.
Mendengar pertanyaan Archo, seketika wanita yang bernama Melan itu pun langsung mengerenyitkan keningnya dan kembali memainkan jarinya di tab tersebut.
'Apa anda lupa dengan kejadian semalam?'
Archo mengangguk. "Iya aku memang lupa akan kejadian semalam dan kamu harus menjelaskannya padaku sekarang!" desaknya.
Melan pun menghela nafasnya, lalu ia menjelaskan yang terjadi melalui ketikan tangannya di tab yang di berikan oleh Archo.
......................
Flashback
Malam itu Archo baru saja kembali ke kamarnya dengan keadaan mabuk, saat sudah masuk ke dalam kamarnya dan hendak menutup pintunya tiba-tiba seorang wanita berlari ke arah Archo dan menabraknya sehingga keduanya sama-sama terjatuh dengan posisi wanita itu di atas Archo.
Dan ternyata wanita itu adalah Melan.
"Apa yang kamu lakukan? Cepat bangun!" pekik Archo.
Akan tetapi Melan enggan bangun dari posisinya, ia justru malah membenamkan wajahnya di dada Archo dengan tangannya yang bergetar seraya menggenggam baju Archo.
"Apa yang terjadi dengan wanita ini? Nampaknya ia sangat ketakutan? Ah sial, aku benar-benar ingin muntah gara-gara kebanyakan minum," batin Archo menutup mulutnya.
Ia pun langsung mengganti posisinya menjadi di atas Melan. Dan dari arah luar kamarnya seorang pria bertubuh kekar tengah berdiri seraya mengedarkan pandangannya melihat ke arah sekeliling.
__ADS_1
"Brengs*k! Kemana perginya wanita bisu itu? Awas aja kalau sampai ketemu, aku tidak akan segan-segan menyiksanya," umpat pria tersebut.
Mendengar itu, Archo seketika mengerenyitkan keningnya.
"Hmmm, wanita? Apa jangan-jangan wanita ini yang sedang di carinya?" batin Archo menduga-duga.
Lalu tanpa sengaja pria itu melirik ke arah kamar Archo dan melihat Archo tengah menggerakkan badannya maju-mundur, sontak membuat si pria bertubuh besar itu langsung beralih ke arah lainnya dengan wajahnya yang memerah.
"Dasar anak muda, main begituan di lantai mana pintunya gak di tutup lagi." ucapnya dalam hatinya yang mengira kalau Archo tengah melakukan adegan intim atau misteri kuda-kudaan.
Karena tidak ingin mengganggu, pria itu pun melangkah pergi. Sesaat Archo perlahan bangkit dari posisinya, kemudian ia menutup pintu kamarnya itu dan memalingkan wajahnya ke arah Melan.
Seketika wajah Archo merona seraya menelan salivanya melihat wajah Melan yang memerah padam serta tubuhnya yang basah karena keringatnya di tambah belahan Squishy yang menonjol.
"Apa yang terjadi padanya? Apa jangan-jangan dia di bius obat perangsang?" pikir Archo.
Lalu perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Melan sembari mengelus pipinya.
"Kalau di lihat dari dekat, wanita ini benar-benar cantik, tubuhnya pun sangat indah." lirih Archo.
Mungkin karena kondisi Archo tengah mabuk berat, ia pun tidak bisa menahan nafsunya sebagai seorang lelaki. Lalu kemudian Archo melakukan aksinya, ia mendaratkan bibirnya ke wajah dan leher Melan, tangannya aktif menelusuri bagian tubuh sensitif Melan.
Sedangkan Melan, ia sangat ingin melawan agar tidak di sentuh Archo, namun apalah daya karena obat biusnya terlalu kuat, ia hanya bisa pasrah tubuhnya di sentuh oleh Pria yang tidak di kenalnya itu.
"Ibu, Bapak, maaf Melan tidak bisa menjaga diri Melan seperti apa yang di pesankan oleh Bapak sama Ibu." batin Melan di barengi aliran bening yang mengalir dari sudut matanya.
Flashback end.
......................
Setelah Melan menjelaskan kejadian semalam, seketika Archo mengusap kasar wajahnya, rasa penyesalannya pun mulai menyerang di dirinya.
"Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku tidak bisa mengendalikan nafsu ku sampai melakukan hal ini dengan seorang wanita yang tidak aku kenali dan di tambah lagi wanita ini bisu." Archo merutuki kesalahannya.
Meskipun Archo pemabuk, tapi dia tidak pernah meniduri wanita manapun dan baru pertama kalinya ia melakukan itu bersama Melan.
Archo lalu menempatkan tangannya di bahu Melan seraya menatap lekat wajahnya.
"Nona Melan, aku benar-benar minta maaf karena melupakan kejadian semalam. Soal kejadian ini, kamu ingin Kompensasi apa dariku? Katakan saja padaku! Pasti aku akan memberikannya untukmu." ucap Archo bersungguh-sungguh.
Melan kembali ke tab-nya.
'Tidak usah Tuan! Kejadian semalam hanya salah paham saja. Justru saya berterimakasih pada Tuan karena membantu saya terbebas dari pria itu.'
Archo mengerenyit. "Cepat katakan! Atau jangan-jangan kamu ingin aku bertanggung jawab dan menikahi mu?"
Mendengar itu Melan menggelengkan kepalanya seraya mengetik kembali.
'Baiklah kalau Tuan memaksa. Tapi saya tidak ingin di nikahi oleh Tuan, saya hanya minta di pinjamkan baju, masker dan topi milik anda, dan satu lagi berikan saya uang sebesar sepuluh juta, setelah itu saya akan melupakan kejadian semalam bersama Tuan.'
"Hanya itu saja?"
Melan menganggukkan kepalanya dengan cepat, kemudian Acho mengambil dompetnya yang ada di atas nakas, kemudian ia memberikan black card pada Melan.
"Di dalamnya ada uang lebih dari yang kamu minta barusan dan kamu bisa menggunakannya sesuka hati kamu." kata Archo.
Seketika Melan langsung menyunggingkan senyum sumringahnya.
"Ibu, aku akan segera pulang dan dengan uang ini aku bisa membawa bapak ke Rumah sakit," batin Melan.
'Terimakasih Banyak Tuan.'
"Iya sama-sama." balas Archo.
Melan melilitkan selimut ke tubuhnya, Kemudian ia beranjak dari tempat tidur dan melangkah ke arah kamar mandi. Saat Melan masuk ke dalam kamar mandi, tanpa sengaja Archo melihat ke tempat bekas Melan tidur dan seketika keningnya berkerut hingga alisnya hampir bertautan karena melihat bercak darah yang berada di kasurnya itu.
"Darah apa ini? Apa jangan-jangan dia baru melakukan itu?" pikir Archo sembari bangkit dari posisinya.
Beberapa saat kemudian....
Setelah selesai dengan semuanya, Melan kini tengah bersiap-siap untuk pergi.
"Kamu benar-benar ingin pergi?" tanya Archo dan lagi-lagi Melan hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Sebelum pergi, Melan mengulurkan tangannya ke arah Archo sembari tersenyum padanya, tentu saja Archo langsung membalas uluran tangan dari Melan.
"Kamu, hati-hati di jalan! Sekali lagi aku minta maaf dan jika terjadi sesuatu padamu, cepatlah hubungi aku!" kata Archo.
Sesaat mereka berdua melepaskan tangannya, kemudian Melan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Archo.
Tak lama setelah Melan pergi, Archo kembali masuk ke dalam kamarnya, kemudian ia menyambar hpnya yang berada di atas Nakas dan langsung menghubungi seseorang.
Sementara beberapa saat yang lalu....
Setelah keluar dari kamar Archo, Adriene langsung bergegas menuju ke kamarnya sendiri. Saat sudah berada di dalam, ia pun langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dan menangis sejadi-jadinya.
"Kapan kamu bisa mengerti aku dan perasaan ku ini Arc? Aku benar-benar tulus mencintaimu dari waktu kita masih sekolah sampai kita di jodohkan oleh orang tua kita, perasaan ku tidak pernah berubah sedikit pun terhadap mu, Arc. Tapi kenapa kamu selalu saja tidak menganggap ku bahkan kamu terus-terusan menyakitiku dan mencoba menyingkirkan ku dari hidup mu. Hiks...." Tangis Adriene seraya memukul-mukul bantalnya.
...----------------...
Menjelang siang hari....
Rumah Bi Nana.
Terlihat mobil milik Zuy masuk ke halaman rumah Bi Nana dan berhenti tepat di depan rumah Bi Nana. Henri terlebih dahulu turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Zuy.
Kemudian Zuy turun dari mobilnya dengan menggendong Baby R dan di susul Bu Ima yang menggendong Baby Z. Mereka pun melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu masuk rumah Bi Nana.
Lalu setibanya di depan pintu....
"Nyonya...." panggil Henri.
Zuy menoleh. "Iya Hen, ada apa?"
"Maaf sebelumnya, saya mau minta izin ke Apartemen sebentar Nyonya." Henri meminta izin pada Zuy.
Zuy pun mengangguk. "Oh, baiklah Hen!"
"Terimakasih Nyonya." ucap Henri.
Ia pun langsung melangkahkan kakinya ke arah mobilnya kembali, sedangkan Zuy dan Bu Ima melangkah masuk ke dalam karena posisi pintunya terbuka.
"Bibi, Zuy datang...." seru Zuy.
__ADS_1
"Kakak, dede kembar, Ibu selamat datang!" sambut Nara menghampiri Zuy.
"Terimakasih Nara sayang," ucap Zuy sembari menempatkan tangannya di kepala Nara. "Oh iya, mana Mamih?" sambung tanyanya.
"Mamih ...."
"Bibi di sini Zuy," seru Bi Nana dari arah ruang keluarga.
Mendengar suara Bibinya, ia pun menghentakkan kakinya menuju ke ruang keluarga. Saat di ruang keluarga, Zuy langsung mendekat ke Bibinya yang kala itu sedang duduk di lantai yang beralaskan karpet seraya menyuapi Rana.
"Bibi, Zuy kangen...." ucap Zuy merangkul pundak Bi Nana.
"Hmmm, Bibi juga kangen Zuy. Bagaimana kabar kamu?"
Zuy melepaskan melepaskan tangannya dari pundak Bi Nana.
"Seperti yang Bibi liat, Zuy baik-baik aja Bi. Lalu bagaimana dengan Bibi?" balas Zuy sekaligus bertanya kembali.
"Ya Bibi juga baik-baik aja, Zuy."
Zuy tersenyum. "Syukurlah kalau Bibi sehat. Eum, Bey Abla mana?"
"Beyza sedang di Resto bersama Baba-nya."
"Oh...." Zuy manggut-manggut, lalu....
"Bi, hari ini Bibi bikin kroket gak?"
"Kroket? Bibi gak bikin kroket Zuy, memangnya kenapa sayang, apa kamu ingin kroket buatan Bibi?"
Zuy langsung mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat.
"Iya Bi, Zuy kangen dan pengin makan kroket buatan Bibi," ujar Zuy.
"Oh, yaudah nanti setelah selesai nyuapi Rana, Bibi langsung bikin kroket untuk kamu ya!" kata Bi Nana.
Seketika senyum Zuy langsung mengembang saat mendengar perkataan Bi Nana, lalu ia pun memeluk Bibinya kembali.
"Terimakasih Bibi," ucap Zuy di susul ciuman di pipi Bi Nana.
"Sama-sama gadis kecilku."
***************************
—Pukul 07.15pm
Villa Z&R
Sementara itu, Zuy dan Airin sedang berada di meja makan dan tengah menikmati makan malamnya, sedangkan Ray dan Davin masih berada dalam perjalanan pulang. Lalu tiba-tiba....
Ting tong....
Terdengar suara bel pintu berbunyi, sontak membuat Zuy dan Airin mengalihkan pandangannya.
"Siapa yang datang ya?" tanya Airin.
"Mungkin Ray sama Pak Davin, Rin." ujar Zuy.
Sesaat kemudian seorang pelayan datang menghampiri.
"Nyonya, maaf mengganggu!" ucapnya menunduk.
"Iya, memangnya ada apa?" tanya Zuy.
"Itu di depan ada tamu mencari anda, Nyonya."
Zuy mengernyit. "Tamu? Memangnya siapa?"
"Saya juga kurang tahu, Nyonya." jawab pelayan.
"Oh yaudah kalau gitu kamu kembali ke dapur ya!"
Ia pun mengangguk patuh dan melangkahkan kakinya ke arah dapur, lalu kemudian Zuy bangkit dari posisinya.
"Rin, aku ke depan dulu ya!"
"Mau aku temani?" tawar Airin.
Zuy pun menggeleng. "Gak usah Rin, kamu di sini aja ya!"
"Hmmm, baiklah."
Lalu Zuy melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu. Sesampainya di sana, Zuy tercengang melihat beberapa orang bertubuh kekar tengah berdiri di depan pintu, perlahan ia melangkah mendekat ke arah pintu.
"Ka-kalian siapa?"
***Bersambung....
Ray: "Halo semuanya, maaf untuk episode ini aku gak muncul! Untuk yang kangen mungkin Next Time. Jadi terimakasih banyak yang sudah menunggu cerita Absurd dari kami... 🙏🙏"
Davin: "Oh iya sampai lupa, nih ada pesan penjelasan dari Author tentang mertua anda, Tuan."
Ray: "Oh iya? Penjelasan apa itu Kak?"
Davin:
Ray: "Memang gak ada akhlak tuh Maria, sama kaya Authorny."
Davin: "Bener banget tuh Tuan Ray."
Sementara itu....
Hatchuuuuu....
Me: "(Snift) sepertinya demam ku kambuh!"
See You Next Time.... 😉
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌