Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Dua Ular Betina...


__ADS_3

<<<<<


Erlin pun menghela nafasnya dan berkata, "Banyak yang terjadi Ann, terutama pada saat ulang tahunku, dan ini semua gara-gara si OB j*lang Zuy.."


"Apa kamu bilang, gara-gara si j*lang Zuy..!!"


Anne langsung terkejut mendengar perkataan dari Erlin, lalu ia mendudukan dirinya di tepi ranjang.


"Lin, coba kamu ceritakan padaku, apa yang di lakukan oleh si j*lang Zuy itu..!!" titah Anne.


Erlin lalu menarik kursi yang tak jauh dari tempat tidurnya, menghadapkannya ke arah Anne, dan kemudian ia pun menduduki kursi itu.


"Apa kamu tahu Ann, pada saat hari ulang tahunku, harusnya aku yang paling cantik, dan di puji semua para tamu yang datang ke acara ulang tahunku, memang awalnya mereka memujiku, mereka bilang aku paling cantik dan menawan bagaikan Putri, namun semua itu hanya sementara, lalu si j*lang Zuy datang dan mengha ...," jelas Erlin, namun..


"Tunggu Lin, kamu bilang Zuy datang ke acara ulang tahunmu, apa kamu mengundang dia?" tanya Anne yang memotong penjelasan dari Erlin.


Erlin pun menggelengkan kepalanya, "Tentu saja tidak, untuk apa aku mengundang si j*lang itu, kenal juga tidak, yang ada malah bikin tamu pada kabur gara-gara dia."


"Lantas, kenapa dia bisa datang di cara ulang tahunmu?" tanya Anne kembali.


"Tentu saja Tuan Ray yang mengajaknya, memang siapa lagi, orang dia datang bersama Tuan Ray, udah gitu pakai gaun yang mewah lagi, duit dari mana dia bisa beli gaun semahal itu, secara gitu pekerjaannya hanya OB, gajinya juga gak seberapa kan," papar Erlin.


"Ya paling juga dia merayu Tuan Ray, atau mungkin menjual tubuhnya pada Tuan Ray atau pria lain agar bisa membeli gaun mewah itu, secara gitu dia kan j*lang, perebut milik orang," celetuk Anne memanas-manasi Erlin.


Mendengar celetukan dari Anne, Erlin mendengus kesal, ia pun mengepalkan tangannya.


"Kalau benar seperti itu, berarti dia benar-benar wanita tidak tahu malu, udah j*lang, pelakor juga, aku jadi kasihan pada Tuan Ray sudah di manfaatin oleh si j'*lang Zuy." umpat Erlin.


Melihat Erlin seperti, Anne menyunggingkan senyum smirknya dalam hatinya pun berkata, "Heh, gampang banget terhasut omonganku, dasar bodoh."


"Oh iya Lin, lalu kelanjutan ceritanya gimana?" tanya Anne yang masih penasaran


"Yaitu, setelah ia datang semua orang yang tadinya memujiku, sekarang malah memuji si j*lang OB, bilang dia cantik kaya Putri lah, kaya ini lah, Aaah pokoknya bikin kesal, lalu pas pemotongan kue, aku kan sengaja memberikan potongan kue untuk Tuan Ray, supaya dapat perhatiannya, eeh malah kue yang aku kasih itu di suapkan pada si j*lang OB. Benar-benar bikin emosi, harusnya itu semua milikku, bahkan perhatian Tuan Ray juga harusnya jadi milikku Ann," kata Erlin, tanpa sadar ia meneteskan air matanya.


Anne langsung memeluk Erlin kembali dan berkata, "Kan aku sudah pernah bilang padamu Lin, bahwa si j*lang itu pasti memakai sesuatu agar semua orang perhatian padanya termasuk Tuan Ray milikmu itu."


"Kamu benar Ann, kayaknya dia memakai sesuatu, aku jadi kasihan pada Tuan Ray sudah terjebak oleh si OB j*lang itu, gak bisa di biarin pokoknya aku harus menyadarkan Tuan Ray, bahwa hanya aku yang tulus mencintainya," ujar Erlin dengan yakinnya.


"Bagus, tapi sebelum itu buatlah mereka bertengkar terlebih dahulu," tutur Anne


Erlin lalu melepaskan pelukan Anne, dan menatap Anne, "Buat mereka bertengkar, maksudmu Ann?" tanya Erlin yang penasaran.


"Besok malam acara ulang tahun Perusahaan CV kan, kamu minta ikut saja sama Om Wildan, lalu habis itu ...,"


Anne pun mendekat ke telinganya Erlin, lalu kemudian ia membisikan sesuatu pada Erlin. Raut wajah Erlin pun berubah seketika, senyuman smirk terukir di wajahnya, sesaat kemudian Anne pun menjauhkan wajahnya dari telinga Erlin.


"Bagaimana?" tanya Anne


Erlin pun menganggukkan kepalanya, "Ide bagus, akan aku coba nanti, terimakasih Ann," ucap Erlin.


Anne pun tersenyum, lalu kemudian mereka melanjutkan obrolan mereka.


******************


Rumah Bi Nana


Sementara itu, Zuy dan Bi Nana masih berada di kamar Bi Nana, ia terus memeluk Bi Nana begitu juga dengan Bi Nana, air mata terus mengalir membasahi pipi Zuy dan Bi Nana. Sesaat kemudian Bi Nana melepaskan pelukan dari Zuy.


"Zuy, ayo kita keluar, Tuan Muda pasti sudah menunggu," tutur Bi Nana sambil menyeka air mata yang mengalir di pipi Zuy.


"Iya Bi Nana," balas Zuy sembari mengangguk.


"Yaudah kalau gitu, cuci wajahmu Zuy, jangan sampai Tuan Muda tau kalau kamu menangis, bisa-bisa nanti dia menginterogasi Bi Nana," papar Bi Nana.


Mendengar itu, Zuy pun langsung terkekeh, "Hihihi, ada-ada saja Bi Nana, Tuan Muda gak seperti itu Bi," ujar Zuy


Lalu ia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar mandi yang berada di kamar Bi Nana.


"Ya siapa tahu aja Zuy..." seru Bi Nana.


Tak lama kemudian, setelah selesai mencuci wajahnya, Zuy dan Bi Nana pun segera keluar dari kamarnya, lalu mereka menuruni tangga dan berjalan menuju ke ruang depan di mana Ray dan Davin berada di sana sedang bermain dengan Nara. Sesampainya...


"Tuan Muda, Pak Davin, maaf sudah menunggu lama" ucap Zuy sembari mendudukan dirinya.


"Ah, tidak apa-apa Kak, lagian kita juga lagi main dengan Nara," ujar Ray.


"Iya Kakak, Nara lagi asik bermain dengan Paman dan Om ganteng," timpal Nara.

__ADS_1


Zuy pun tersenyum. Lalu ia melihat ke arah jam tangan yang berada di lengannya.


"Ternyata sudah malam," lirih Zuy.


"Ada apa Zuy?" tanya Bi Nana


Zuy menggelengkan kepalanya, "Euum, tidak ada apa-apa Bi, oh iya Bi Paman mana?"


"Pamanmu ada di Resto, mungkin bentar lagi pulang," jawab Bi Nana.


Lalu Nara menghampiri Bi Nana, "Mami, Nara ngantuk.."


"Oh anak Mami sudah mengantuk ya, pasti saking asiknya main sama Om-Om ganteng ini," ujar Bi Nana.


"Bukan Om-Om Mamih, yang itu namanya Paman putih," kata Nara sambil menunjuk ke arah Davin,


"Aku, Paman putih?!!" tanya Davin menunjuk dirinya sendiri


Nara pun mengangguk, "Iya, Paman putih, soalnya wajah Paman memang putih," ucap Nara dengan polosnya


Mereka yang mendengarnya langsung tertawa karena ucapan polos dari Nara.


"Nara.., yaudah Bi Nana antar Nara ke kamar dulu ya.." kata Bi Nana. Lalu..


"Euum, Bi Nana.. kita pamit pulang aja Bi, soalnya sudah malam," ucap Zuy


"Oh, yaudah kalau begitu, Bibi kira kalian mau menginap,"


"Tidak Bi Nana," ujar Zuy.


"Yaudah, kalian hati-hati ya," tutur Bi Nana


Zuy segera mencium tangan Bi Nana, Ray dan Davin pun juga melakukan hal yang sama, kemudian mereka langsung berjalan keluar, Bi Nana mengantar mereka sampai pintu.


Setelah berada di luar mereka langsung masuk ke dalam mobil, Davin segera menyalakan mobilnya, Ray pun membuka kaca mobilnya, Zuy dan Ray melambaikan tangannya ke Bi Nana, Bi Nana pun membalasnya.


Davin segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Bi Nana. Bi Nana yang berada di depan pintu pun terus melambaikan tangannya, setelah mobil tak terlihat, Bi Nana kembali masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya.


***********


Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di jalan, selama perjalanan Zuy hanya terdiam, pandangannya mengarah ke kaca jendela mobil yang di sebelahnya, tak dapat di pungkiri, air matanya pun terus mengalir membasahi pipinya dan sesekali ia mengusapnya.


"Kakak.." panggil Ray


Zuy menoleh ke arah Ray, "Iya Tuan Muda," sahutnya.


Ray terkejut melihat mata Zuy yang sudah menampung air mata dan hampir mengalir di sudut matanya, kemudian Ray memegang pipi Zuy.


"Kak, apa Kakak menangis? apa yang terjadi Kak? apa ada yang menyakiti Kakak?" banyak pertanyaan yang di lontarkan Ray karena paniknya melihat mata Zuy itu.


Zuy lalu menurunkan tangan Ray dari pipinya, "Tuan Muda, siapa yang menangis, Zuy hanya mengantuk makanya air mata Zuy mengalir," ujar Zuy yang berbohong.


Ray merengkuh tubuh Zuy dan memeluknya, Zuy merasa heran dengan kelakuan Ray yang tiba-tiba memeluk, lalu ia pun mendongakkan kepalanya sehingga pandangannya tertuju pada wajah Ray.


"Sudah jangan melihat Ray seperti itu, kalau Kakak mengantuk maka tidurlah di pelukan Ray, namun jika Kakak ingin menangis, maka menangislah di pelukan Ray..!!" tutur Ray yang terus mendekap Zuy.


Zuy tertegun mendengar tuturan Ray, ia pun segera membenamkan wajahnya di dada Ray yang bidang itu, tanpa terasa air matanya kembali mengalir.


"Ternyata Kakak memang menangis bukannya mengantuk, apa Kakak gak mau cerita pada calon suami Kakak ini?" tanya Ray yang berharap agar Zuy menceritakan padanya.


"Maaf Tuan Muda, Zuy hanya merasa bahagia saja atas pilihan Zuy saat ini," jelas Zuy.


"Maksud Kakak?" tanya Ray kebingungan dengan penjelasan Zuy.


Lalu Zuy menjelaskan pada Ray tentang apa yang tadi ia bicarakan pada Bi Nana, setelah selesai menjelaskan..


"Oh seperti itu Kak, menurut Ray keputusan Kakak memilih Bi Nana memang tepat, kalau posisi Ray kaya Kakak juga pasti Ray akan melakukan hal yang sama Kak, memilih orang yang sudah membesarkan dengan kasih sayang dari pada orang yang meninggalkan kita," ujar Ray.


"Benar apa kata Tuan Ray, aku juga merasakan hal yang sama sepertimu Zuy, di mana keluarga ku membuangku, tapi untung saja aku bertemu dengan Mr Michael dan Mrs Candika, mereka mengadopsi ku dan merawatku selayaknya anak sendiri, makanya aku akan selalu mengabdi pada mereka, terutama pada Tuan Rayyan," ungkap Davin. (Ada di Bab.28-29)


"Maaf Pak Davin, Zuy gak bermaksud.." ucap Zuy


"Hahaha Nggak apa-apa Zuy, lagian itu hanya cerita masa lalu ku saja," balas Davin.


"Nah sekarang Kakak mengertikan, udah Kakak jangan sedih lagi, nanti Ray bakal bantu Kakak untuk mencari Mamah," kata Ray mengusap air mata Zuy dan mengelus rambutnya.


Zuy pun menyunggingkan senyumannya dan berucap, "Terimakasih Tuan Muda."

__ADS_1


*************


Rumah Ray


Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di rumah, setelah pagar terbuka secara otomatis, Davin pun segera melajukan mobilnya ke dalam, setelah di depan rumah Ray dan Zuy turun dari mobil duluan, sedangkan Davin langsung menuju ke garasi.


Zuy dan Ray lalu berjalan menuju pintu utama, sesampainya Ray langsung memencet tombol pintunya, dan dari dalam rumah Bu Ima langsung membukakan pintunya.


Cekleeek


"Tuan Ray, Nak Zuy selamat datang.." sambut Bu Ima. Lalu mereka pun masuk ke dalam rumah.


"Bu Ima, kenapa belum tidur?" tanya Zuy


"Ibu belum mengantuk Zuy, kalian mau di buatin minuman apa?" tanya Bu Ima.


Ray pun menggelengkan kepalanya, "Tidak usah Bu Ima, kita sudah minum tadi, Bu Ima istirahat saja ya, Ray juga mau langsung ke kamar mau bebersih."


"Oh baiklah Tuan Ray," balas Bu Ima sambil mengangguk.


"Yaudah kalau gitu, Ray ke atas dulu ya," ucap Ray sembari berjalan ke arah tangga menuju ke kamarnya.


Zuy dan Bu Ima pun berjalan menuju ke kamarnya masing-masing.


°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°


Tak terasa malam sudah berlalu, pagi pun menyapa, Bu Ima yang sedari tadi sudah bangun langsung menjalankan aktivitasnya yaitu menyiapkan sarapan untuk Tuan Rumah. Lalu kemudian Ray pun datang dan mendekat ke Bu Ima


"Pagi Bu Ima.." sapa Ray sembari mengambil gelas


"Pagi juga Tuan, apa anda butuh sesuatu?" tanya Bu Ima.


Ray pun menggeleng pelan, "Tidak Bu, Ray hanya ingin minum, soalnya di kamar air minum Ray habis," ujar Ray sembari menuangkan air minum ke gelasnya, kemudian ia meneguknya. Setelah itu...


"Zuy belum bangun ya Bu?" tanya Ray.


"Sepertinya belum Tuan," jawab Bu Ima.


"Oh, biarkan saja Bu, kalau dia sudah bangun, jangan lupa buatkan su-su untuknya, terus kalau Zuy tanya Ray, bilang saja Ray ada di ruang Gym," titah Ray.


Bu Ima pun menganggukkan kepalanya, "Baik Tuan Ray."


Ray pun pergi ke ruang Gym miliknya. Selang beberapa saat kemudian, Zuy terbangun dari tidurnya dan ia pun keluar dari kamarnya, kemudian ia langsung ke dapur.


"Pagi Bu, maaf Zuy baru bangun, jadi gak bantuin Ibu bikin sarapan" ucap Zuy.


"Ah Nak Zuy, pagi juga Nak, tidak apa-apa Nak Zuy," tutur Bu Ima, "Oh iya Ibu bikinin su-su ya, tadi Tuan Ray menyuruh Ibu untuk membuatkanmu su-su," sambungnya


"Hmmm, lalu Tuan Muda di mana?" tanya Zuy.


"Tadi dia bilang, kalau dia ada di ruang Gym," jawab Bu Ima.


"Oh... euum.. Bu Ima biar Zuy saja yang buatin su-sunya ya, Bu Ima tolong siapakan makanan ke piring, nanti biar Zuy yang akan mengantarkanya pada Tuan Muda," kata Zuy.


Bu Ima pun mengangguk, Zuy segera membuatkan Minuman, ia lalu mengambil nampan, kemudian ia menaruh gelas minumannya beserta piring makanan di atas nampan, setelah selesai, Zuy pun membawa nampan tersebut dan berjalan menuju ke ruang Gym.


Ruang Gym


Setelah sampai di ruang Gym, Zuy langsung terpaku saat melihat Ray sedang berolahraga dengan menggunakan alat olahraga yang berada di ruangan itu.


"Pantas saja badannya kekar seperti itu, setiap akhir pekan ia selalu melatih otot-ototny itu.." batin Zuy, ia pun terus berdiri sembari melihat Ray.


Ray yang menyadari akan hadirnya Zuy, ia langsung menghentikan aktivitas olahraganya.


"Kakak ngapain berdiri di situ, masuklah..!!" titah Ray.


"Ah iya Tuan Muda," ucap Zuy, ia pun berjalan masuk ke ruangan itu, dan kemudian menaroh nampan di atas meja yang berada di ruangan itu.


Kemudian Ray meletakkan alat olahraga yang ia gunakan itu, keringatnya pun bercucuran di wajahnya, namun karena ia lupa membawa handuk, lalu Ray menaikan kaos yang di kenakannya untuk menyeka keringat di wajahnya, otomatis perut sixpack ala roti sobek rasa Vanilla miliknya terlihat jelas.


Mata Zuy pun langsung membulat sempurna saat melihat perut roti sobek milik Ray itu, mulutnya pun sedikit terbuka. Lalu kemudian...


"Ro-roti sobek..!!"


***Bersambung....


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏

__ADS_1


Salam Author...♥🙏♥🙏


__ADS_2