
<<<<<
Seketika membuat Ray kembali mengernyitkan keningnya dan mengepalkan tangannya, lalu....
Braaaak!
Dengan emosi yang tak bisa di tahannya setelah mendengar cerita dari Zuy, Ray langsung menggebrak meja di depannya dengan kuat sehingga membuat Zuy tersentak kaget bahkan minuman mereka yang ada di meja tumpah dan sampai mengenai laptopnya.
"Rayyan!" pekik Zuy.
"Maaf sayangku! Habisnya aku kesal dengan Mario, berani-beraninya si tua Mario merendahkan diri kamu seperti itu."
Zuy mendesah. "Haaa.... Aku pun sama kesalnya seperti kamu bahkan sangat kesal, Rayyan. Tapi ya tidak perlu sampai menggebrak meja seperti itu. Lihatlah! Semua minuman kita tumpah bahkan laptop kamu juga kena, untungnya kita lagi di balkon, coba kalau di dalam pasti anak-anak langsung pada bangun dan menangis," gerutunya sambil membereskan gelas minumannya.
Seketika Ray langsung tertunduk diam, kemudian Zuy bangkit dari posisinya.
"Sayangku, kamu mau kemana?" tanya Ray.
"Aku mau naroh gelas kotor sekalian mau ngambil pel lantai." jawab Zuy.
"Kenapa tidak suruh pelayan saja buat datang kesini dan bersihkan ini semua!"
"Udah gak apa-apa, biar aku aja yang beresin. Lagian ini udah malam Ray, waktunya mereka untuk beristirahat." papar Zuy.
"Sayangku, kamu adalah Nyonya di sini dan mereka juga sudah aku bayar, jadi sudah sepantasnya mereka mengerjakan apa yang harus mereka kerjakan!" cetus Ray.
Sesaat Zuy menghela nafasnya.
"Baiklah, aku akan menyuruh pelayan untuk membersihkannya."
Zuy pun melangkah menuju ke luar kamarnya, sedangkan Ray mengambil laptopnya dan membersihkannya.
Beberapa saat kemudian....
Setelah selesai membersihkan semuanya, pelayan pun bergegas keluar dari kamar Tuannya.
Lalu....
"Sayangku, ayo kita lanjut lagi nonton filmnya!" ajak Ray menepuk-nepuk tempat duduknya.
Zuy pun mendekat dan mendudukkan dirinya di samping Ray.
"Memangnya laptop kamu tidak apa-apa?" tanya Zuy.
"Laptop ku tidak apa-apa sayangku," balas Ray namun pandangannya fokus pada layar laptopnya.
"Tapi tadi kan laptop kamu terkena tumpahan capuccino milik kamu sendiri, Ray?"
"Ya memang terkena tumpahan, tapi hanya dikit doang kok, sayangku."
"Oh, Syukurlah kalau begitu." ucap Zuy dengan leganya.
Seusai memutar film di laptopnya, Ray langsung menyandarkan tubuhnya pada dinding sofa sambil merangkul pujaan hatinya itu.
"Sayangku...."
"Hmmmm...." Zuy mendongakkan kepalanya ke arah Ray.
"Maafin aku ya karena tidak bisa mengontrol emosi ku!" ucap Ray memasang wajah sendunya.
Zuy tersenyum dan menempatkan tangannya ke pipi Ray.
"Tidak apa-apa Ray, aku malah senang. Itu berarti tandanya kamu benar-benar sangat peduli dan sayang padaku."
"Ya tentu saja aku sangat peduli dan sayang sama kamu, sebab kamu adalah wanita yang berharga untukku dan kamu juga sudah memberikan kebahagiaan di dalam hidupku ini," ungkap Ray.
Sesaat Zuy menurunkan tangannya dari pipi Ray, lalu ia pun menundukkan kepalanya.
"Sayangku...."
Hiks....
Tiba-tiba terdengar suara isak tangis dari mulut Zuy, sontak membuat Ray tercengang.
"Sayangku kenapa kamu tiba-tiba menangis? Apa kamu terharu dengan ucapan ku barusan?" tanya Ray sembari menempatkan tangannya di dagu Zuy dan mendongakkannya sehingga pandangan mereka saling bertemu.
Zuy pun mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan.
"Iya aku sangat terharu dengan apa yang kamu ucapkan barusan dan lagi aku juga minta maaf sama kamu, Ray!" ucap Zuy terisak.
Ray mengerenyit. "Hmmmm! Kenapa kamu minta maaf sayangku?"
"Karena pada saat Mr Mario menceritakan tentang keadaan Kimberly, perasaanku mulai goyah bahkan aku sampai ingin melepaskan mu untuk Kimberly, Ray. Aku ...."
"Apa! Kamu ingin melepaskan ku untuk Kimberly?" Ray tersentak, lalu ia memegang kedua bahu Zuy. "Sayangku, apa kamu sudah tidak mencintai ku lagi? Apa kamu tidak kasihan padaku dan anak-anak? Sayangku, apa kasih sayang dan perhatian yang aku berikan padamu tidak cukup? Sampai kamu ingin melepaskan aku demi wanita lain." sambung cecarnya mengguncang tubuh Zuy.
"Rayyan, berhenti mengguncang ku!"
Seketika Ray langsung menghentikan aksinya, Zuy lalu meraih kedua tangan Ray yang berada di bahunya dan menggenggamnya dengan erat.
"Ray, aku minta maaf! Untuk sesaat aku menjadi orang yang bodoh karena mendengar cerita Mr Mario tentang keadaan Kimberly, aku benar-benar tidak tahu kenapa aku sampai berfikiran seperti itu, apa mungkin ini karena naluri ku sebagai seorang Kakak? Makanya aku jadi goyah seperti ini. Lalu untuk sesaat aku menyadari bahwa aku sudah benar-benar bodoh dan gila kalau sampai aku melepaskan mu untuk wanita lain," ujar Zuy.
Kemudian ia mengusap air matanya dan menatap lekat wajah pria tampan yang berada di depannya itu.
"Ray, aku mohon maafkan kebodohan ku ini! Aku benar-benar salah karena berniat ingin melepaskan mu untuk Kimberly, Aku sangat menyesal dan .... Humph!" ucap Zuy namun terhenti karena Ray langsung membungkam mulut Zuy dengan cara menciumnya dengan buas sampai Zuy sedikit kesulitan bernafas.
Dua menit setelah puas menikmatinya, Ray langsung melepaskan tautannya dan kembali memegang kedua bahu pujaan hatinya.
"Ray...."
"Sayangku, sekarang aku ingin bertanya sama kamu. Apa kamu mencintai ku?"
Zuy mengangguk cepat. "Iya aku mencintaimu, Ray."
"Apa kamu bahagia hidup bersama dengan ku?"
"Ya, tentu saja aku bahagia Ray, bahkan sangat bahagia. Apalagi dengan hadirnya Baby R dan Baby Z di tengah-tengah kita."
Ray menghela nafasnya. "Kalau kamu benar-benar mencintai ku dan bahagia hidup bersama dengan ku. Maka aku mohon padamu, sayangku! Tolong kamu pegang erat aku, pertahankan aku dan jangan sampai melepaskan ku untuk wanita lain walaupun dia adalah adik mu sendiri." pintanya.
__ADS_1
"Iya Ray, aku akan pegang erat kamu, pertahankan kamu dan aku juga tidak akan melepaskan mu. Karena aku ingin selalu hidup bersama dengan mu sampai maut memisahkan hubungan kita berdua," ucap Zuy dengan sungguh-sungguh.
Seketika senyum Ray langsung mengembang, lalu di dekatkan wajahnya ke wajah Zuy sehingga dahi dan caping hidung mereka menempel.
"Kalau begitu buktikan padaku! Kalau kamu tidak akan melepaskan ku, sayangku."
"Dengan cara apa aku membuktikannya Ray?"
"Terserah kamu, sayangku. Mau membuktikannya dengan cara apapun juga, yang penting buat aku percaya dengan ucapan kamu kalau kamu tidak akan pernah melepaskan aku!"
Sejenak Zuy terdiam sambil memikirkan cara untuk membuktikan ucapannya pada Ray, tiba-tiba ia bangkit dari posisinya lalu beralih duduk di pangkuan Ray dan mengalungkan tangannya ke leher Ray. Perlahan Zuy mendekatkan wajahnya ke telinga Ray.
"Ray, maaf kalau aku tidak bisa membuktikan ucapan ku itu. Tapi percayalah aku benar-benar tidak akan pernah melepaskan mu, sampai kapanpun karena kamu pria yang sangat aku sayangi." bisik Zuy di susul dengan hembusan nafasnya yang hangat menyambar ke telinga Ray.
Sehingga membuat telinga Ray nampak memerah bahkan wajahnya pun sama. Lalu Zuy mengalihkan wajahnya ke wajah Ray dan ....
Cup....
Sekarang giliran Zuy yang mendaratkan bibirnya ke bibir Ray sambil menyesapnya dengan lembut dan mendalam tanpa melepaskannya. Sedangkan Ray hanya bisa pasrah dan mengikuti permainan dari pujaan hatinya itu. Sampai lima menit kemudian mereka menghentikan aktivitasnya.
"Sayangku, kita pindah ke ranjang yuk! Biar bisa leluasa dan bisa puas mainnya," ajak Ray.
"Oke, tapi gendong ya! Soalnya kaki ku tiba-tiba kesemutan, Ray. Hihihi...." ujar Zuy meminta gendong.
"Pasti aku akan menggendong sayangku sampai ke ranjang, tapi tunggu sebentar ya!"
Zuy mengerenyit. "Hmmmm, memangnya kenapa Ray?"
"Soalnya kaki aku juga ikut kesemutan sayangku," kata Ray.
"Apa! Haaa.... Dasar kamu Ray, ikut-ikutan aja deh." gumam Zuy menggembungkan pipinya.
Sehingga membuat Ray terkekeh geli melihatnya, sesaat setelah sembuh dari kesemutan di kaki mereka, Ray langsung menggendong Zuy, lalu membawanya ke tempat tidur dan melanjutkan permainan mereka.
—Pukul 02.17am
Sementara itu di dalam kamar, Airin nampak terbangun dari tidurnya dan mengganti posisinya menjadi duduk.
"Lapar...." lirihnya sambil mengusap-usap matanya.
Sesaat setelah nyawanya terkumpul, Airin langsung beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan keluar dari kamarnya. Ketika sudah berada di luar kamarnya, ia kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur.
Setibanya di dapur, Airin langsung membuka kulkas dan melihat-lihat apa yang ada di dalamnya.
"Hmmmm, bikin apa ya?" lirih Airin.
Kemudian ia mengambil sayuran dan telor dari kulkas. Airin lalu mengambil mie instan rebus yang berada di dalam lemari dapurnya. Setelah selesai dengan semuanya, Airin langsung memasak mie instan tersebut.
Sambil menunggu mie-nya matang, Airin menuangkan air minum ke dalam gelas dan meneguknya. Namun tiba-tiba saja dari arah belakang, seseorang memegang bahu Airin.
"Sedangkan apa kamu Rin?" tanyanya.
Seketika Airin langsung membalikkan badannya, betapa terkejutnya ia melihat seseorang yang berada di belakangnya itu. Lalu tiba-tiba....
Buuuur....
Tanpa sengaja Airin langsung menyemburkan air yang berada di dalam mulutnya ke arah orang tersebut yang tak lain adalah Davin dengan masker mocinya.
"Ma-maaf Pak Davin, aku gak sengaja." ucap Airin sambil mengambil tissue di dekatnya dan mengusap wajah Davin yang terkena semburannya.
"Huuumph, dasar kamu ya Rin. Jadi luntur deh masker ku ini!" gumam Davin.
"Ahahaha, ya maaf Pak! Habisnya Pak Davin ngagetin aku sih dengan wajah Pak Davin yang mirip hantu putih itu."
Mendengar itu membuat Davin mendengus sambil menyilangkan kedua tangannya.
Sesaat....
"Euuum, ngomong-ngomong Pak Davin mau apa ke dapur?" tanya Airin sedikit canggung.
"Aku mau ambil air minum Rin, lalu kamu sendiri ngapain?" jawab Davin sekaligus bertanya kembali.
"Aku lagi masak mie Pak," jawab Airin.
"Masak mie?"
Airin mengangguk. "Iya Pak, soalnya aku lapar."
"Oh, kalau begitu sekalian buatkan satu untukku tapi yang spesial ya, pakai telor dua, sosis sama banyakin sayurannya dan gak pakai cabe!" pinta Davin.
"Baiklah Pak Davin, tapi nanti ya setelah mie punyaku udah matang." balas Airin.
"Yaudah aku tinggal bentar ke kamar mandi, mau bersihin sisa lunturan masker ku."
"Iya Pak Davin...."
Davin pun melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar mandi, sedangkan Airin melanjutkan aktivitasnya memasak mie.
Beberapa saat setelah Mie untuknya dan untuk Davin sudah matang, Airin langsung membawanya ke meja makan dan di sana juga Davin sudah menunggunya.
"Nih mie spesial pesanan Pak Davin," kata Airin memberikan mangkuk Mie milik Davin.
"Terimakasih singa betina yang manis, kamu memang layak jadi calon istri," ucap Davin.
Uhuk...
"Tadi Pak Davin bilang apa?" tanya Airin.
Davin menggeleng. "Tidak, aku tidak bilang apa-apa Rin. Ayo kita makan! Keburu mie-nya dingin lho."
"Apa aku barusan salah dengar kali ya? bodo ah, yang penting makan dulu biar tidur ku nyenyak." batin Airin.
Kemudian....
"Selamat makan!" ucap Davin dan Airin serempak sambil menangkup kedua tangannya.
Setelah itu, mereka berdua langsung menyantap mie rebusnya.
...----------------...
__ADS_1
Tak terasa malam panjang nan dingin kini berubah menjadi pagi yang cerah di iringi suara burung-burung berkicau saling bersahutan dan sang Surya yang sudah menampakkan cahayanya menemani semua orang yang sedang melakukan aktivitas paginya masing-masing.
Sementara itu di tempat lainnya, lebih tepatnya di tempat tinggal milik Noel Gallagher.
Noel dan lainnya nampak sedang menikmati sarapannya meskipun sedikit terlambat karena sekarang sudah pukul 08.37am.
"Seperti biasa masakan kamu memang sangat enak," puji Fan.
"Terimakasih Fan," ucap Desi.
"Des, apa Mrs Maria sudah kamu kasih makan?" tanya Noel.
Desi menggeleng. "Belum Bos, bentar lagi setelah saya menghabiskan makanan saya ini." jawabnya.
"Oh...." lirih Noel manggut-manggut.
Sesaat setelah selesai menghabiskan sarapannya, Desi langsung menempatkan makanan ke piring lalu meletakkannya di atas nampan.
"Bos aku antar makanan ini dulu ya," pamit Desi dan di balas anggukan kecil oleh Noel. "Oh iya Fan, setelah selesai makan, jangan lupa untuk membersihkan semuanya!" sambung perintahnya pada Fan.
"Lho kenapa harus aku?" Fan menunjuk hidungnya sendiri.
"Ya karena aku mau memberikan makanan ini untuk Mrs Maria. Oh apa jangan-jangan kamu mau menggantikan ku?" cetus Desi.
Dengan cepat Fan langsung menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak dan terimakasih. Lebih baik aku membersihkan meja aja daripada harus memberikan makanan pada wanita lumpuh itu."
"Hahaha.... Ternyata kamu masih trauma sama Mrs Maria ya Fan?" lontar Yon di barengi tawanya.
"Bukan trauma tapi malas saja." elak Fan membuang pandangannya ke arah lain.
"Haaa.... Yaudah kalau begitu aku tinggal mau ke atas dulu."
Desi menghentakkan kakinya menuju ke arah kamar di mana Maria berada. Sesampainya di kamar, ia pun membuka kunci pintu dan membukanya, lalu ia berjalan menghampiri Maria yang saat itu sedang menunduk di atas ranjangnya.
"Mrs Maria...." tegur Desi meletakkan nampan yang ia bawa di atas nakas.
Sekilas Maria menoleh ke arah Desi, sesaat ia menundukkan kepalanya kembali. Desi lalu mendudukkan dirinya di kursi samping ranjang Maria seraya mengambil piring makanannya.
"Mrs Maria, waktunya anda sarapan!" kata Desi menyodorkan sendok makan ke arah Maria.
Akan tetapi Maria enggan membuka mulutnya membuat Desi mengerutkan dahinya.
"Mrs Maria, anda harus makan supaya anda tidak sakit." tutur Desi.
Mendengar itu Maria kembali menoleh ke Desi.
"Aku tidak lapar dan aku tidak peduli mau aku sakit atau tidak, mati juga tak masalah bagiku. Dari pada aku tersiksa karena setiap hari aku di kurung di kamar seperti." pekik Maria.
"Oh jadi anda sudah mulai bosan dengan ini semua?" tanya Desi.
"Tentu saja aku bosan dan lagi orang mana yang sanggup jika di kurung berhari-hari seperti ini. Lalu kapan kalian mau membebaskan ku. Aku benar-benar sudah tidak sanggup di kurung terus-terusan seperti ini," cerca Maria.
"Ya makanya anda harus turuti semua keinginan Bos Noel, jadi anda akan secepatnya terbebas dari sini," papar Desi.
"Waktu itu aku sudah pernah bilang pada Noel bahwa aku akan mengabulkan semua keinginannya melalui Archo, akan tetapi Noel justru malah menolaknya." lontar Maria.
Desi membuang nafasnya kemudian berkata, "Ya itu karena Archo itu orang licik jadi wajarlah kalau Bos menolaknya."
Seketika membuat Maria menatap tajam Desi.
"Beraninya kamu mengatai anak kesayangan ku orang licik, apa kamu sudah bosan hidup, hah!" sentak Maria yang tidak terima dengan perkataan Desi.
"Aku tidak bermaksud mengatai anak anda seperti itu, aku hanya menyampaikan apa yang di katakan oleh Bos Noel saja," ujar Desi dengan santainya.
"Tsk...." Maria berdecak.
Lalu....
"Oh iya, semalam Bos Noel bilang padaku kalau dia akan menuruti perintah anda untuk menculik wanita yang mirip dengan Kimberly itu," lontar Desi.
Sontak Maria tercengang dan membulatkan matanya dengan sempurna.
"Hah! Noel akan menculik si anak durhaka itu? Apa kamu serius dengan perkataan mu ini?" cecar Maria.
Desi mengangguk. "Iya aku serius, semalam Bos yang bilang seperti itu."
Senyum Maria pun langsung mengembang mendengar perkataan Desi.
"Bagus, semoga Noel benar-benar menculiknya supaya aku secepatnya bebas dari sini," ucap Maria dengan sumringahnya.
Desi yang melihatnya hanya bisa tersenyum saja.
***********************
Villa Z&R
Zuy terlihat sedang berada di halaman Villa-nya bersama dengan si kembar, seperti biasanya setelah selesai mandi si kembar di bawa keluar untuk berjemur di bawah sinar matahari pagi.
"Gak kerasa anak-anaknya Mamah sudah sebesar ini bahkan sudah bisa duduk. Padahal kaya baru kemaren Mamah ngelahirin kalian berdua," ucap Zuy pada kedua anaknya itu dan langsung di balas ocehan oleh mereka.
Lalu kemudian nampak dua orang datang menghampiri Zuy.
"Permisi Nona!" ucap salah satu orang tersebut.
Sehingga membuat Zuy mengalihkan pandangannya ke arah mereka, sontak membuat Zuy membelalakkan matanya saat melihat kedua orang tersebut.
"Kalian?!!"
***Bersambung....
~Nah lho! Kira-kira siapa ya mereka? Orang baik kah? Penjahit eh penjahat kah? 🤔
See you next time.... 😉😉
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Salam Author... 😉✌😉✌