Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Membuatku Sangat Cemburu..


__ADS_3

<<<<<


Pak Randy langsung mengelus perut Bi Nana, "Waah bentar lagi aku punya anak lagi, mudah-mudahan yang ini perempuan, jadi punya sepasang," ucap Pak Randy


"Ya semoga saja yang ini perempuan."


"Oh iya Na, terus gimana keadaan Zuy?" tanya Pak Randy


"Zuy, dia sekarang baik-baik saja," jawab Bi Nana sembari menyandarkan kepalanya.


"Oh Syukurlah kalau begitu, yaudah aku mau ke kamar Nara dulu, udah kangen sama My hero," Pak Randy pun langsung berdiri dari tempat duduknya.


Bi Nana lalu memegang baju Pak Randy, "Eh nanti dulu, sebelum ke kamarnya Nara, lebih baik Papi mandi dulu sana..!!" titah Bi Nana


"Huu, baiklah.." Pak Randy berjalan menuju ke kamar mandi.


"Hmmm, tadinya besok ingin ke rumah Tuan Muda, untuk mempertanyakan masalah hubungan mereka, tapi Papinya Nara pulang, jadi mungkin aku kesananya kapan-kapan aja deh," kata Bi Nana, lalu ia melihat ke arah jam yang terpampang dinding.


"Udah jam setengah 12 malam toh, Aries kemana ya, tadi dia pamit mau keluar sebentar, tapi kok belum pulang juga ya," lirih Bi Nana yang khawatir dengan Aries,


Lalu ia pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah tangga menuju ke kamarnya.


***********


Sementara itu, orang yang sedang di khawatirkan Bi Nana yaitu Aries sekarang tengah berada di suatu tempat, ia sedang berdiam di dalam mobilnya, pandangannya menuju ke arah rumah besar yang tak lain adalah rumah milik Ray.


Sepertinya Aries menunggu seseorang yang di harapkannya keluar dari rumah Ray. Aries tidak mengetahui bahwa rumah Ray sekarang ini sepi tidak ada orang sama sekali.


"Zuy, kenapa kamu lebih memilih tinggal disini daripada tinggal dengan Tante Nana, aku benar-benar khawatir Zuy, aku gak mau kamu terlalu dekat dengan Pria dingin itu, karena itu sangat menggangguku dan membuatku sangat cemburu padanya. Zuy andai kamu bisa mengerti apa yang sedang aku rasakan saat ini," ungkap Aries sambil mencengkram erat setir mobilnya. Lalu tiba-tiba..


Kliiing..


Suara pesan masuk dari hpnya Aries, lalu Aries langsung mengambil hpnya dari saku, dan ia pun langsung membaca isi pesan tersebut.


[ Pesan... ]


Tante Nana


πŸ“² Ris, kamu dimana? cepat pulang, Om Randy udah ada di rumah...πŸ“±


πŸ“±Aries lagi di luar Tan, Oh Om Randy udah datang ya, yaudah Aries langsung pulang sekarang.. πŸ“² (balas Aries)


Aries pun menaroh kembali hpnya dan segera menyalakan mobilnya, setelah itu ia langsung melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


*************


Rumah Sakit HR


Sementara itu, Ray terus saja menjaga Zuy yang tengah tertidur, sesekali melihat ke arah Botol berisi cairan infus yang hampir habis.


"Hmmmm, tinggal sedikit lagi ya," lirih Ray, lalu kemudian..


"Tuan Muda..."


Mendengar suara Zuy yang memanggilnya, ia pun langsung menoleh, "Hmmm, iya Kak.." sahutnya


"Apa ini masih di rumah sakit?" tanya Zuy sambil mengangkat tubuhnya dan mengganti posisinya menjadi duduk menyandar.


"Iya Kak, kita masih di rumah sakit," jawab Ray, "Kakak mau minum?"


Zuy pun mengangguk, Ray mengambilkan Air minum kemasan botol, lalu ia membuka tutupnya dan memberikannya pada Zuy. Zuy pun segera meminumnya, setelah selesai ia memberikan botol minuman tersebut kepada Ray lagi.


Lalu Davin dan Dokter Arif beserta susternya datang dan menghampiri. Dokter Arif langsung mendekati Zuy dan memeriksanya. Setelah itu..


"Nampaknya sudah membaik dari sebelumnya," ujar Dokter Arif.


"Apa saya boleh pulang sekarang?" tanya Zuy.


"Iya boleh, lagian cairan infusnya juga sudah habis, jadi kamu di bolehin pulang," jelas Dokter Arif, "Suster, tolong cabut jarum selangnya...!!" imbuhnya


"Baik Dokter, "


Suster pun segera mencabut jarum yang terpasang di tangan Zuy. Suster itu lalu menempelkan plester di tangan Zuy yang bekas di infus tadi.


"Terimakasih.." ucap Zuy.


"Lain kali harus hati-hati, jangan sampai terulang lagi, ini masih mending gak kaya waktu itu," papar Dokter Arif


"Waktu itu?" Ray penasaran apa yang di katakan Dokter.


Dokter menoleh ke Ray, "Iya waktu itu, dia hampir tak tertolong karena sesak nafas gara-gara makan Seafood terutama udang," ujar Dokter Arif membuat Ray dan Davin terkejut.


"Apa separah itu Alergi Zuy?" batin Davin


Lalu Ray menatap Zuy sekilas, dan langsung kembali melihat ke Dokter Arif.


"Apa separah itu Dok?" tanya Ray


"Iya, karena Alerginya benar-benar sudah akut, makanya sebisa mungkin dia jangan sampai makan- makanan yang memacu alerginya," tutur Dokter

__ADS_1


"Dan buktinya kaya sekarang kan keluar bintik merah, tenggorokan panas dan di susul bibirnya juga agak bengkak dan merah," sambung Dokter,


Mendengar itu wajah Zuy dan Ray langsung memerah karena malu.


"Hmmmm Dokter, sepertinya anda salah menduga soal Bibirnya Zuy yang bengkak itu, itu bukan karena alergi," ceplos Davin membuat mereka langsung melihat ke arah Davin.


"Kalau bukan alergi, lantas kenapa bibirnya bisa agak bengkak begitu?" Dokter pun penasaran.


"Itu karena Zuy ...," belum sempat menjelaskan, Ray tiba-tiba mencubit pinggang belakang Davin sehingga membuat Davin meringis kesakitan, lalu Ray menatap tajam ke arah Davin.


"Awww.. sakit Tuan..!!" rintih Davin


Dokter Arif menoleh ke arah Davin, "Anda kenapa Tuan?"


"Ahahaha.. tidak ada apa-apa Dok, mungkin pinggangnya geser, sama kaya otaknya juga ikutan geser," celetuk Ray


"Tuan Ray, anda benar-benar kejam, huhuhu," batin Davin.


"Oh begitu ya," lalu Dokter pun melihat kembali ke arah Zuy, "Zuy, untuk kejadian hari ini, apa aku harus memberitahu pada Bibimu?"


Mendengar pertanyaan Dokter, Zuy langsung menggelengkan kepalanya.


"Dokter Arif, Zuy mohon jangan beritahu Bi Nana, Zuy gak mau kalau sampai dia khawatir lagi gara-gara Zuy, Dokter kan tahu kalau Bi Nana sekarang sedang hamil," pinta Zuy sambil menangkupkan kedua tangannya


"Yaudah kalau begitu, ini resep obatmu Zuy," kata Dokter Arif sambil memberikan kertas resep obat untuk Zuy.


"Terimakasih banyak Dok.."


"Iya sama-sama, nah Tuan Muda tolong ya...!!" titah Dokter sambil memegang pundak Ray.


Seakan mengerti apa yang di maksud Dokter, ia pun menganggukkan kepalanya. Lalu Dokter Arif langsung keluar dari ruangan tersebut bersama dengan susternya.


"Tuan Muda, ayo pulang..!!" ajak Zuy sambil mengangkat selimut yang menutupinya, lalu ia menurunkan kakinya hingga menyentuh lantai, ia pun duduk di tepi ranjang.


"Iya sebentar Kak," kata Ray, lalu mengambil kertas resep obat itu dan memberikannya pada Davin, "Kak Davin tolong ya..!!" perintah Ray.


"Baik Tuan Ray," Davin pun langsung bergegas pergi untuk menebus obat milik Zuy.


Lalu Ray tiba-tiba berjongkok membelakangi Zuy. Melihat Ray seperti itu, membuat Zuy kebingungan.


"Hmmm, ada apa Tuan Muda, kenapa tiba-tiba anda berjongkok seperti itu?"


"Kak, ayo naik ke punggungku..!!" ajak Ray


Mendengar ajakan Ray matanya langsung terbelalak, dalam hatinya berkata, "Apa Tuan Muda mau menggendongku?"


"Kakak kenapa diam, ayo naik," Ray lagi-lagi mengajak Zuy untuk naik ke punggungnya.


Mendengar penolakan dari Zuy ia pun langsung memutar badannya menghadap ke Zuy dengan posisi masih berjongkok.


"Kenapa Kakak menolak, apa Kakak ingin Ray gendong dengan gaya tadi lagi?" tanya Ray


Zuy lalu menggelengkan kepalanya dan melambaikan tangannya secara bersamaan.


"Bu-bukan seperti itu Tuan Muda, tapi bukannya berat kalau gendong Zuy, lagian juga pasti kita jadi pusat perhatian lagi," papar Zuy sambil memalingkan wajahnya dan mengembungkan Pipinya.


"Hihihi, kenapa suka lucu kalau dia memasang wajah seperti itu," batin Ray, ia pun memegang tangan Zuy.


"Kakak, kan Ray sudah bilang ke Kakak, jangan pedulikan orang lain, biarkan saja kita jadi pusat perhatian, berarti kita adalah pasangan serasi dong," ujar Ray


"Ta-tapi Tuan Muda.."


"Hmmm, yaudah kalau Kakak gak mau di gendong, kita gandengan saja ya," ucap Ray sambil mengulurkan tangannya.


Zuy pun menganggukkan kepalanya dan membalas uluran tangan Ray, ia langsung turun dari ranjang tersebut, lalu mereka berdua pun berjalan menuju keluar. Setelah berada di luar ruang IGD, lagi-lagi mereka jadi pusat perhatian oleh orang-orang yang masih terjaga di sana. Zuy yang merasa tidak enak karena menjadi pusat perhatian langsung menundukkan kepalanya.


"Untung saja gak jadi di gendong," batin Zuy. Mereka pun terus berjalan menuju ke arah pintu luar.


Sesampainya di luar rumah sakit, mereka pun menunggu Davin, tak lama kemudian Davin datang dan menghentikan mobilnya di depan Ray dan Zuy, ia langsung menurunkan kaca mobilnya.


"Maaf telat Tuan Ray," ucap Davin dari dalam mobil.


Ray lalu membuka pintu mobilnya, "Kakak duluan masuk..!!"


"Iya Tuan Muda," Zuy lalu masuk ke dalam mobil, lalu di susul Ray.


Setelah berada di dalam mobil, Ray pun langsung menutup kembali pintu mobilnya, lalu Davin segera melajukan mobilnya dan meninggalkan rumah sakit.


************


Rumah Ray


Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di rumah, Ray dan Zuy pun langsung dari mobil dan bergegas menuju masuk ke dalam rumah. Sedangkan Davin langsung memarkirkan mobilnya.


Setelah berada di dalam rumah dan di ruang tengah, Zuy pun langsung melepaskan jas milik Ray yang di pakai olehnya.


"Tuan Muda.."


"Iya Kak, apa perlu sesuatu?" tanya Ray

__ADS_1


"Tidak Tuan, euum tapi Tuan Muda, anda lebih baik istirahat di kamar Tuan, besok kan kerja," titah Zuy.


"Lalu bagaimana dengan Kakak? Maksud Ray takutnya Kakak kenapa-napa, jadi biar Ray tidur bareng sama Kakak eh salah maksudnya jagain Kakak," kata Ray sambil menggaruk pipinya.


Mendengar itu, Zuy langsung memicingkan matanya ke arah Ray.


"Tuan Mudaaaaaaa..." seru Zuy, lalu ia menarik tangan Ray menuju anak tangga.


"Tuan Muda, anda lebih baik tidur ke kamar anda sana, jangan lupa bebersih dulu baru tidur..!!" titah Zuy, lalu Zuy bergegas menuju ke kamarnya. Melihat sikap Zuy seperti itu, membuat Ray menyunggingkan senyuman di bibirnya.


"Hmmm, Good night my beloved nanny," ucap Ray sambil menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.


Sementara itu, setelah selesai memarkirkan mobil, Davin pun segera masuk ke dalam rumah. Setelah berada di dalam rumah, ia langsung mengunci pintunya dan berjalan menuju ke ruang tengah. Saat berada di ruang tengah...


"Lho kok sepi, apa mereka sudah ke kamarnya masing-masing ya, yaudah kalau gitu aku juga mau ke kamar, mau perawatan wajah.. Tuttututttu," Davin pun langsung menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.


β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’


Tak terasa hari cepat berlalu, sekarang waktu menunjukan pukul 05.45 Am, dan Zuy pun terbangun dari tidurnya, ia segera mengganti posisinya menjadi duduk, pandangannya menuju ke arah jam yang terpampang di dinding.


"Udah pagi lagi ya, aku harus siap-siap," lirih Zuy,


Lalu ia segera beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke arah keluar kamarnya. Setelah berada di luar kamarnya, ia berjalan menuju ke dapur.


Dapur


Saat berada di dapur, Zuy pun langsung mengambil air minum, lalu menuangkannya ke dalam gelas dan ia pun meminumnya. Setelah itu Zuy langsung berjalan menuju ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, setelah selesai mengerjakan semuanya, Zuy pun langsung segera menaiki tangga menuju ke kamar Davin dan Ray.


Kamar Davin


Setelah berada di kamar Davin, Zuy langsung mengetuk pintu kamarnya.


Tok... Tok.. Tok...


"Pak Davin, Pak Davin..." seru Zuy


Lalu Davin pun membuka pintunya, "Iya Zuy ada apa?"


"Oh Pak Davin sudah bangun ya? gak Zuy cuma ngasih tahu kalau sarapan sudah Zuy siapin, soalnya Zuy mau siap-siap berangkat," jelas Zuy


"Lho memangnya sudah sembuh Zuy?" tanya Davin


"Udah mendingan Pak, yaudah kalau gitu Zuy ke kamar Tuan Muda dulu," ujar Zuy.


"Tunggu sebentar Zuy," Davin lalu masuk ke kamarnya, tak lama kemudian, ia keluar lagi dan memberikan sesuatu pada Zuy.


"Hmmm, Concealer?" tanya Zuy yang kebingungan


"Iya itu untuk menutupi bintik merah di wajah dan lehermu itu Zuy," jelas Davin, "Ada sih masker, tapi jangan deh..."


"Hmmm, terimakasih banyak Pak Davin, kalau gitu Zuy ke kamar Tuan Muda ya."


"Iya, aku juga mau siap-siap juga," Davin pun menutup kembali pintu kamarnya, sedangkan Zuy berjalan menuju ke kamar Ray.


Kamar Ray


Tok.. Tok... Tok..


"Tuan Muda.. Tuan Muda..." seru Zuy.


Namun tidak ada jawaban apa-apa, lalu Zuy menarik handle pintu kamar Ray, ternyata pintunya tidak terkunci, ia pun lalu masuk ke kamarnya Ray.


"Tuan Muda maaf Zuy masuk ya," lalu ia melihat ke tempat tidurnya Ray, akan tetapi Ray tidak ada di tempat tidurnya.


"Tuan Muda kemana, kok gak ada di tempat tidurnya, apa dia sudah bangun?" tanya Zuy pada dirinya sendiri, saat ia akan melangkahkan kakinya menuju ke luar kamar Ray, tiba-tiba...


"Kakak ada apa?!!" tanya Ray yang baru keluar dari kamar mandi.


Zuy langsung menoleh, akan tetapi mata Zuy seketika langsung terbelalak saat melihat Ray hanya memakai handuk yang melingkar di pinggangnya saja, sehingga perut sixpack ala roti sobek rasa Vanilla milik Ray terlihat sangat jelas, di tambah dengan cucuran air mengalir di tubuhnya. (karena belum di seka)


Aaaaaaah...


Sontak Zuy pun segera memutar badan dan menutup matanya, "Ma-maaf Tuan Muda, Zuy gak sengaja masuk ke kamar anda," ucap Zuy.


Deeeg


Jantungnya berdegub seperti gendang yang sedang di tabuh.


Melihat gelagat Zuy seperti itu, Ray pun menyunggingkan senyum jahilnya, lalu ia segera mendekati Zuy. Setelah tepat berada di belakang Zuy, Ray pun langsung mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy.


"Kak Zuy, nanti kalau kita sudah menikah, Kakak juga bakalan lihat ini setiap hari," bisik Ray dengan niat menggoda Zuy.


Benar saja, mendengar bisikan Ray membuat wajah Zuy langsung memerah, jantungnya semakin bedegub kencang, lalu kemudian...


"Aaaaah... Tuan Mudaaaaaa, anda benar-benar mesum..!!!"


***Bersambung...

__ADS_1


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. πŸ™πŸ™πŸ™


Salam Author... βœŒπŸ˜‰πŸ˜‰βœŒ


__ADS_2