Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Pernah Bertemu....


__ADS_3

<<<<<


Zuy yang masih memeluk Ibu Panti pun langsung menengadah melihat ke arah Pria tersebut, begitu juga dengan Ray dan lainnya.


"Siapa?"


Zuy bertanya seraya menukikkan kedua alisnya pada si pria yang saat ini sudah berdiri di depannya dengan membawa nampan berisi minuman.


Pria itu pun menghela nafasnya sejenak lalu berkata, "Ternyata kamu memang tidak ingat dengan ku ya Zuy? Aku sakit hati lagi lho."


Sehingga membuat Zuy mengernyit heran saat mendengar perkataannya. Begitu pula dengan Ray yang langsung menggeser tubuhnya sedekat mungkin dengan pujaan hatinya.


Sedangkan Ibu Panti melepaskan pelukannya lalu beralih melihat ke pria tersebut.


"Lho Nak, kenapa kamu yang bawa minumannya? Memangnya Ina sama Aydan kemana?" tanya Ibu Panti.


"Mereka berdua masih di dapur Bu lagi nyiapin kuenya Bu." jawabnya.


Ibu Panti manggut-manggut.


"Oh.... Yaudah taruh aja minumannya di atas meja!" titahnya.


"Iya Bu." Pria itu mengangguk patuh, ia pun kembali berjalan menuju ke meja yang berada tak jauh darinya dan meletakkan minuman yang di bawanya itu di atas meja.


"Oppa-Oppa saranghe," Airin menepuk-nepuk punggung Davin.


"Apa." sahut Davin.


Airin mendekat ke telinga Davin.


"Pria tampan itu ..., perasaan kita pernah bertemu dengannya deh." bisik Airin.


"Benarkah?"


Airin mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya benar Pak, tapi aku lupa di mana tempatnya."


"Hmmm...."


Sekilas Davin melirik ke arah Pria tersebut lalu beralih kembali ke Airin.


"Gimana Pak? Apa Pak Davin udah ingat kalau kita pernah bertemu dengan pria tampan itu?" tanya Airin (berbisik)


Davin menggeleng. "Tidak Rin, aku tidak ingat kalau kita pernah bertemu dengannya." ujarnya.


"Tapi ...."


"Mungkin itu hanya perasaan mu aja Rin-Rin. Dan lagi ...." Davin mencubit pipi Airin membuatnya meringis kesakitan.


Aaah....


"Kenapa mencubit pipiku sih Pak? Sakit tau." pekik Airin.


"Habisnya kamu gemesin banget sih singa betina." ujar Davin melepaskan cubitannya. "Dan entah kenapa aku juga sedikit kesal saat singa betina ini bilang kalau si pria itu tampan, tapi giliran sama aku aja selalu bilang Oppa-Oppa saranghe. Huh!" sambung batinnya.


"Iya aku memang gemesin, tapi jangan asal cubit dong Pak! jadi tambah melar deh pipiku ini." Airin menggerutu sembari memegangi pipinya yang bekas di cubit Davin.


"Iya-iya maaf singa betina yang manis!" ucap Davin.


"Humph."


Setelah selesai meletakkan minumannya, pria itu pun mendudukkan dirinya di samping Ibu Panti.


"Terimakasih Nak." ucap Ibu Panti.


"Sama-sama Bu." balasnya.


"Oh iya, semuanya kenalkan pemuda ini namanya Elvan dan dia ini seringkali membantu Ibu di sini." Ibu Panti mengenalkan pria tersebut.


Pria yang bernama Elvan itu pun tersenyum seraya mengangguk sopan pada Ray dan lainnya begitu pula sebaliknya.


"Dan untuk Nak Elvan, kenalkan ini anak Ibu namanya Zuy, dulu saat usianya menginjak satu tahun, dia pernah tinggal di sini. Di sebelahnya namanya Ray dan dia adalah suami dari Zuy. Lalu yang ini namanya Davin dan Airin, mereka berdua juga keluarga dari Zuy dan suaminya." lanjut kata Ibu Panti yang memperkenalkan Zuy dan lainnya pada Elvan.


"Iya Bu, tapi sebenarnya saya sudah tau siapa mereka karena beberapa bulan sebelumnya saya pernah bertemu mereka di Kota ini juga tapi dengan tempat yang berbeda." ujar Elvan.


Seketika membuat Zuy, Davin dan Airin terkejut mendengarnya begitu pun dengan Ibu Panti. Akan tetapi berbeda dengan Ray yang nampak biasa saja.


"Tuh kan benar apa kataku tadi, kalau sebelumnya aku pernah bertemu dengan pria ini," batin Airin.


Lalu....


"Maaf Tuan Elvan, apa benar kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Zuy memastikan.


Elvan mengangguk. "Iya kita memang pernah bertemu sebelumnya. Kalau kamu gak percaya, kamu bisa tanya langsung sama suami kamu, Zuy! Sepertinya Tuan Ray masih mengingatnya."


Zuy pun mengalihkan pandangannya ke arah Ray.


"Ray, apa benar yang di katakan Tuan Elvan itu?"


Ray tersenyum dan menempatkan tangannya di atas kepala Zuy.


"Iya dia benar sayangku, kita memang pernah bertemu sebelumnya." ujarnya.


"Kapan?"


"Waktu sayangku di rawat di Puskesmas Kota ini gara-gara pingsan di makam Papah. Dan Tuan Elvan inilah Dokter yang merawat sayangku." jelas Ray membuat Zuy tercengang.


"Apa! Jadi maksud mu Tuan Elvan ini Dokter yang waktu itu?"


Ray mengangguk. "Iya sayangku, dia Dokter yang waktu itu."


"Kenapa gak bilang dari tadi sih?"


"Ya kamu kan gak nanya sayangku." Ray mengelus lembut pipi pujaan hatinya.


"Humph dasar."


Lalu Zuy beralih kembali ke arah Elvan.


"Maaf ya Dokter Elvan! Saya benar-benar gak ingat kalau anda adalah Dokter yang waktu itu ngerawat saya sewaktu saya pingsan dulu." ucap Zuy.


Lagi-lagi Elvan menyunggingkan senyumnya pada Zuy.


"Tidak apa-apa Zuy, aku ngerti kok. Oh iya apa mereka berdua anak-anakmu?" Elvan menunjuk ke arah stroller di mana si kembar tengah tertidur.


"Iya mereka berdua anak kami. Yang ini Kakaknya namanya Rayner dan di sebelahnya adiknya Rayner namanya Zeanra." jelas Zuy.


"Jadi kalian dapat kembar sepasang ya?"


Ray dan Zuy pun menganggukkan kepalanya secara bersamaan.


"Iya Dok." balas Ray.


"Wah.... Kalau gitu selamat ya untuk kalian berdua karena mendapatkan kembar sepasang yang ganteng dan cantiknya sama seperti kedua orang tuanya." ucap Elvan sembari mengulurkan tangannya ke arah Zuy.


"Terimakasih Dok." Zuy menjabat tangan Elvan.


Melihat Zuy bersalaman dengan pria lain, sontak membuat Ray sedikit kesal bahkan nampak garis di antara kedua alisnya itu.


"Rin-Rin!" bisik Davin.


"Apa." Airin menoleh ke arah Davin.


"Kenapa tiba-tiba bau cuka panas ya? Apa kamu menciumnya Rin?" cecar Davin.

__ADS_1


Airin pun mengangkat satu alisnya. "Hmmm, bau cuka panas? Maksud Pak Davin?!"


"Tuh!" Davin menunjuk ke arah Ray, Zuy dan Elvan dengan menggunakan mulutnya.


Airin mengalihkan pandangannya ke arah Davin menunjuk dan seketika membuatnya langsung menyemburkan tawa kecilnya.


Pffft....


"Hihihi.... Iya anda benar Pak, sepertinya di sini memang ada cuka yang tumpah bahkan baunya aja sampai menyengat di hidung." lontar Airin.


Keduanya pun sama-sama tertawa kecil.


Sebenarnya Airin dan Davin sedang menggoda Ray yang sedang cemburu.


Mendengarnya pun sontak membuat Ray memalingkan wajahnya ke arah Davin dan Airin dengan tatapan matanya yang tajam dan menyala, sontak keduanya langsung menghentikan tawanya dan tertunduk diam.


Lalu....


"Maaf Ray, tadi kamu bilang Zuy pernah pingsan di makam Papahnya? Memangnya waktu itu apa yang terjadi pada anak Ibu sampai pingsan di sana?" cecar Ibu Panti pada Ray.


Sebab Ibu Panti baru tahu bahwa Zuy pernah pingsan di makam Papahnya.


(Kisahnya sudah ada di Bab 185-187. Dan kehadiran Elvan juga ada di Bab tersebut!)


Sebelum menjawabnya, Ray terlebih dahulu melihat pujaan hatinya serta lainnya secara bergiliran, sesaat kemudian ia pun kembali ke Ibu Panti seraya membuang nafasnya.


"Sebenarnya waktu itu Mamahnya anak-anak hanya kelelahan aja karena kondisinya yang sedang hamil, makanya ia pingsan di makam Papahnya itu." Ray terpaksa berbohong pada Ibu Panti, sebab ia tidak ingin membuat Ibu Panti sedih.


Setelah mendengar jawaban dari Ray, perasaan Ibu Panti pun langsung lega, lalu di peluknya kembali tubuh Zuy oleh Ibu Panti membuat senyum Ray dan lainnya mengembang sempurna.


"Zuy, sebenarnya aku juga ingin memberitahumu bahwa dulu kita pernah satu sekolah yang sama saat kita duduk di bangku SMA. Tapi aku malah merasa gak enak sama suami kamu yang posesif ini. Hmmm, nanti aja deh ngasih taunya pas acara reuni tiba dan semoga aja Zuy di izinin sama suaminya untuk ikut acara reuni tersebut." batin Elvan yang terus memandangi Zuy.


Setelah lama bercengkrama, kini Ray dan Zuy membagikan barang-barang yang mereka bawa pada anak-anak di Panti tersebut. Kebahagiaan pun terpancar di wajah anak-anak saat menerima pemberian dari mereka, sehingga membuat Zuy terharu bahkan tak henti-hentinya ia menitihkan air mata karena ikut bahagia seperti adik-adiknya itu.


"Terimakasih banyak Kakak-kakak...." ucap dari anak-anak Panti asuhan.


"Iya sama-sama sayang."


Beberapa saat kemudian....


Cuaca mulai kembali cerah karena langit sudah menghentikan tangisnya bahkan sang matahari pun sudah keluar dari tempat persembunyiannya.


Selesai berpamitan dengan Ibu Panti, Elvan dan juga anak-anak panti asuhan, Ray, Zuy beserta lainnya pun langsung meninggalkan tempat tersebut menuju ke arah pemakaman untuk berkunjung ke makam Papah Jordhan.


Lima menit perjalanan, mereka pun sampai di tempat, mereka berjalan masuk ke dalam area pemakaman.


Saat berada di makam Papahnya, Zuy pun duduk di samping pusara Papahnya itu.


"Pah, maafin Zuy ya! Karena baru bisa datang menjenguk Papah. Bukannya Zuy gak ingat atau gak kangen sama Papah, hanya saja Zuy menunggu mereka berdua agar bisa di bawa ke sini untuk menemui Kakeknya. Iya Pah, mereka berdua anak-anak Zuy yang berarti juga cucu Papah. Hmmm, andai Papah masih ada pasti Papah akan sangat bahagia karena memiliki cucu seperti Rayner dan Zeanra. Bahkan Papah juga akan selalu bermain dan menggendong mereka." Zuy mengusap air matanya yang mengalir.


"Pah, jujur Zuy sangat memimpikan hal ini, bagaimana Zuy melihat Papah tersenyum dan tertawa bahagia saat bermain bersama anak serta cucu-cucu Papah. Tapi sayangnya itu hanya mimpi Zuy yang selamanya tak pernah menjadi nyata karena Papah sudah lama pergi dan gak akan kembali lagi. Doain Zuy ya Pah! Supaya Zuy selalu bahagia bersama orang-orang yang menyayangi Zuy. Selain itu juga, Zuy ingin sekali Mamah bisa menyayangi ku dengan tulus tanpa ada tujuan apapun." lanjut ucap Zuy di susul isak tangisnya yang pecah.


Ray yang berada di sampingnya pun langsung merengkuh dan memeluk erat tubuh pujaan hatinya itu seraya menenangkannya.


******************************


Rumah Bi Nana


Sementara itu di dalam kamarnya, Bi Nana nampak tengah mengompres bagian dadanya dengan menggunakan kantong kompres dingin sesuai pesan dari Dokter.


"Sampai kapan aku harus seperti ini, rasanya benar-benar sulit untuk bisa bernafas lega dan panjang seperti sebelumnya. Huft, kalau lagi kaya gini, pasti selalu saja ke inget sama Papihnya anak-anak." lirih Bi Nana sembari menghela nafasnya dengan perlahan.


Dan di saat ia masih mengompres dadanya, tiba-tiba....


"Mamih...." seru Nara dari luar kamarnya.


Seketika membuat Bi Nana tersentak dan langsung menyimpan kompres es tersebut di bawah ranjangnya, setelah itu Bi Nana bangkit dari posisinya dan duduk di tepi ranjangnya.


"Masuk sayang! Pintunya gak di kunci." kata Bi Nana.


"Mamih, Mamih sedang apa di kamar? Apa Mamih sakit?" tanya Nara seraya mendudukkan dirinya di kursi dekat ranjang.


Bi Nana pun menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Nggak, Mamih gak sakit. Mamih cuma lagi ganti seprei aja sayang, soalnya tadi pagi adik kamu ngompol di ranjang Mamih." jawab Bi Nana yang terpaksa berbohong pada anaknya.


"Oh...." lirih Nara.


"Terus Nara ngapain ke kamar Mamih? Bukannya tadi Mamih udah nyuruh Nara buat nemenin adik Rana main. Hm!" cecar Bi Nana sembari merapikan rambut Nara.


"Adik Rana udah tidur Mih, makanya Nara langsung ke kamar Mamih buat ngasih tau Mamih. Sekalian juga Nara mau minta sesuatu," ujar Nara.


Bi Nana mengerenyit. "Sesuatu? Memangnya Nara mau minta apa?"


"Mih, besok kan hari libur."


"Jadi...."


"Boleh ya Mih kalau malam ini Nara nginep lagi di Villanya Om ganteng sama Kak Aries!" kata Nara dengan nada memohon.


Sehingga membuat Bi Nana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Iya tentu boleh sayang. Tapi ingat pesan Mamih, jangan bandel, jangan nyusahin Kakak Zuy, Nara harus selalu nurut sama perkataan Kak Zuy, om ganteng dan lainnya! Bukan untuk sekarang aja, tapi seterusnya juga Nara harus seperti itu ya!" tutur Bi Nana.


"Iya Mamih, Nara akan selalu ingat pesan Mamih." balas Nara.


"Yaudah, nanti Mamih akan suruh Kak Aries datang kesini buat jemput Nara. Jadi Nara kesananya bareng sama Kak Aries ya!"


Nara mengangguk. "Iya, terimakasih Mamih."


Ia pun memeluk Mamihnya, begitu pula dengan Bi Nana yang langsung membalas pelukan anaknya itu.


"Mungkin lebih baik jika Nara sering bersama dengan Zuy ataupun Aries. Supaya nanti aku juga bisa tenang karena kedua anakku bersama dengan Kakak-kakaknya." batin Bi Nana mencium puncak kepala Nara.


...----------------...


Tak terasa hari berlalu begitu cepat, langit cerah pun kini sudah mengubah tampilannya menjadi langit malam yang indah dengan hiasan taburan bintang-bintang.


Villa Z&R


Sesaat setelah selesai menikmati makan malamnya, para penghuni Villa pun berkumpul di ruang keluarga sembari menonton televisi.


"Oh iya, Nara mau bobo di mana? Di kamar bareng dedek kembar apa mau bareng sama lainnya?" tanya Zuy.


"Nara mau bobo sama Paman putih aja Kak." jawab Nara.


Zuy pun menoleh ke arah Davin. "Gak apa-apa Pak, kalau Nara tidur bareng Pak Davin?"


"Ya gak apa-apa Zuy, justru aku senang kalau ada anak kecil ini. Jadi aku ada teman buat main game bareng." ujar Davin. "Iya gak anak kecil?"


Nara mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya Paman putih."


"Yaudah kalau maunya gitu. Emmm, terimakasih ya Pak Davin."


"Jangan berterimakasih! Aku udah anggap Nara seperti adik aku sendiri, ya meskipun aku sudah punya adik yang berwajah dingin melebihi es yang berada di Kutub Utara," cetus Davin seraya melirikkan matanya ke arah Ray.


Merasa di omongin, Ray langsung mengambil bantal kecil lalu melemparkannya ke arah Davin. Dan....


Bugh!


Bantal yang di lemparnya pun mendarat tepat mengenai wajah Davin yang glowing itu sehingga membuat Airin dan lainnya langsung menyemburkan tawanya.


"Tuan Ray, anda benar-benar ya!" pekik Davin.

__ADS_1


"Anggap aja itu bonus dari ku, karena sudah mengatai ku wajah dingin."


Lalu dari arah depan, Yiou datang bersama dengan Aries dan di tangannya nampak membawa sebuah kantong plastik besar.


"Malam semuanya...." seru Yiou menghampiri.


"Malam juga Kak." balas Zuy.


Yiou mendudukkan dirinya tepat di samping Zuy.


"Baby, apa anak-anak gembul ku udah pada tidur?" bisik Yiou.


"Iya mereka udah pada tidur Kak."


"Baguslah kalau mereka udah pada tidur, jadi kamu bisa temani aku."


"Hmmm, memangnya mau kemana Kak sampai minta di temani?" tanya Zuy.


"Gak kemana-mana sih, hanya saja Kakak ingin main kembang api, Baby."


"Hah! Kembang api?!"


Yiou lalu membuka kantong plastik yang ia bawa dan mengeluarkan isinya yang ternyata adalah berbagai macam jenis kembang api, sontak membuat Ray, Zuy, Davin serta Nara tercengang melihatnya.


"Wah.... Banyak banget kembang apinya, Mrs Yiou. Aku boleh ikutan nyalain kembang apinya?" lontar Airin.


"Tentu boleh dong Rin, kan ini sengaja beli banyak buat kita semua."


"Asiiiik...."


Sedangkan Zuy melihat ke Aries dengan tatapan penuh tanya.


"Lagi ngidam, katanya pengin main kembang api berbagai macam jenis. Yaudah jadi aku beliin aja semuanya, asal dia dan calon anakku bahagia." kata Aries.


Zuy manggut-manggut. "Oh...."


"Hmmm, ada-ada aja ngidamnya si Tante ini." gumam Ray menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ayo kita keluar! Kita nyalain semua kembang apinya." ajak Yiou.


"Ayo...." sorak Nara, Davin, Airin secara bersamaan.


"Kalian duluan ya! Soalnya aku mau lihat si kembar dulu." kata Zuy.


"Oke Baby, tapi jangan lama-lama ya!"


"Iya Kak."


Mereka pun langsung bangkit dari posisinya dan melangkah keluar. Sedangkan Zuy berjalan menuju ke arah kamar anak-anaknya.


Saat sudah di kamar si kembar, seperti biasa ia memandangi kedua anaknya yang tidur lelap dan saling berhadapan.


"Bobo nyenyak ya ganteng dan cantiknya Mamah," Zuy menepuk-nepuk pantat kedua anaknya itu.


Lalu tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangnya membuat Zuy terkejut dan menolehkan kepalanya.


"Ray...."


"Sayangku...."


"Kenapa kamu kesini Ray? Bukannya barusan kamu udah keluar bareng sama yang lainnya. Hm!"


"Aku kesini ya tentu saja karena sayangku masih ada di sini. Dan lagi aku juga pengen ...." ujar Ray sembari tangannya aktif memainkan Squishy kesukaannya.


"Rayyan!" pekik Zuy.


"Maaf sayangku, aku-nya refleks! Hahaha...." ucap Ray


Zuy memutar bola matanya dengan malas seraya menghela nafasnya, ia pun memutar badannya berhadapan dengan pria tampannya itu.


"Humph, yaudah ayo kita ke depan!" ajak Zuy.


"Baiklah sayangku, tapi ...."


"Tapi apa tampan-ku?"


Tanpa memberi aba-aba, Ray langsung menyambar bibir pujaan hatinya dan menyesapnya dengan buas hingga ke dalamnya.


"Dasar tampan-ku ini." batin Zuy yang membalas serangan pria tampannya.


Sedangkan yang sudah berada di luar Villa ....


"Zuy sama Tuan bos kenapa belum keluar ya?" tanya Airin.


"Hmmm, palingan juga mereka berdua sedang melakukan aktivitas misteri ranjang bergoyang dulu. Kalau sudah selesai juga pasti mereka keluar dari sarangnya." lontar Davin sembari menyalakan kembang apinya.


Duaaaar....


**************************


Apartemen


Sementara itu di Apartemen, Archo terlihat sedang duduk di sofa dan seperti biasa kalau setiap malam pasti selalu sibuk dengan urusan pekerjaannya itu.


Sedangkan Melan berada di dapur dan tengah membuatkan secangkir kopi untuk Archo. Setelah selesai ia pun berjalan menuju ke arah Archo sembari membawa kopi yang di buatnya itu.


Ketika berada di dekat suaminya, ia pun meletakkan kopi yang di bawanya itu di atas meja, kemudian Melan menepuk-nepuk pelan pundak Archo.


"Ada apa Mel?" tanya Archo menoleh ke Melan.


Melan tersenyum seraya menunjuk ke arah cangkir kopi tersebut.


"Oh, udah jadi ya kopinya? Terimakasih ya Mel." ucap Archo dan di balas anggukan kepala oleh Melan.


Melan pun kembali ke arah dapur untuk berbenah, Archo lalu mengambil cangkir kopi tersebut dan perlahan menyeruputnya.


"Hmmm, enak juga kopi buatan gadis kecil ini." ucap Archo.


Lalu saat tengah menikmati kopi buatan istrinya, tiba-tiba....


Kliing....


Mendengar suara chat masuk dari gawainya, sontak Archo langsung meletakkan cangkir yang di pegangnya di atas meja dan beralih menyambar hpnya.


"Cole!" lirih Archo.


Ia pun segera membuka chat masuk tersebut yang berasal dari Cole dan membacanya. Seketika senyumnya mengembang sempurna di wajahnya saat membaca isi chat tersebut.


"Akhirnya...."


***Bersambung....


•Hmmm, kira-kira apa ya? 🤔


See You Next Time.... 😉


Me: "Please hug me! Biar semangat updetnya.... 😌"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌

__ADS_1


__ADS_2